<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-636522176026931424</id><updated>2012-01-19T15:37:27.655+07:00</updated><category term='piece of frames'/><category term='piece of drafts'/><category term='piece of crafts'/><category term='piece of scenes'/><category term='piece of minds'/><category term='piece of words'/><category term='piece of sketches'/><category term='piece of voids'/><category term='piece of papers'/><title type='text'>pieces</title><subtitle type='html'>even if I pray, the flow of time is moving too fast</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://miss-worm.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miss-worm.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>windry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13072319767836551821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R85FBcecQ6I/AAAAAAAAAXw/dACfoIQUsWA/S220/she_was_buried_alive__by_cryptorchid.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>150</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-636522176026931424.post-6995147191554387121</id><published>2011-10-31T17:38:00.003+07:00</published><updated>2011-10-31T17:38:42.351+07:00</updated><title type='text'>(Issue) Pieces is Closing Soon</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Teman-teman, Pieces akan segera ditutup. Saya sedang menyiapkan blog baru dan untuk selanjutnya saya akan mempublikasikan tulisan-tulisan saya di sana. Alamat blog baru saya adalah &lt;b&gt;&lt;a href="http://www.windryramadhina.com./"&gt;www.windryramadhina.com.&lt;/a&gt;&lt;/b&gt; Jangan khawatir, sebagian besar tulisan di Pieces sudah dimigrasi ke blog baru tersebut, jadi teman-teman masih bisa menemukan arsip lama saya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya ingin berterima kasih kepada semua pembaca Pieces untuk empat tahun yang menyenangkan. Sampai bertemu di rumah baru :).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/636522176026931424-6995147191554387121?l=miss-worm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miss-worm.blogspot.com/feeds/6995147191554387121/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=636522176026931424&amp;postID=6995147191554387121&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/6995147191554387121'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/6995147191554387121'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miss-worm.blogspot.com/2011/10/issue-pieces-is-closing-soon.html' title='(Issue) Pieces is Closing Soon'/><author><name>windry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13072319767836551821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R85FBcecQ6I/AAAAAAAAAXw/dACfoIQUsWA/S220/she_was_buried_alive__by_cryptorchid.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-636522176026931424.post-7356941254406752770</id><published>2011-10-29T07:01:00.001+07:00</published><updated>2011-10-29T07:01:19.809+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of drafts'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of words'/><title type='text'>(Draft) Sakura Haru: Haru, Si Kepala Angin</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Butuh waktu satu minggu bagiku untuk melupakan rasa jengkel yang disebabkan Haru Enomoto. Beberapa hari aku tidak ke kampus. Ya, aku tahu itu bukan cara yang baik untuk memulai semester, tetapi siapa yang peduli? Aku jalan-jalan ke Kemang, ke JPC, toko kamera paling lengkap di Jakarta. Tidak ada yang kubeli. Selama beberapa jam aku hanya berputar-putar di dalam toko itu, membaur dengan puluhan maniak fotografi yang sama gilanya denganku–bedanya, mereka berduit.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Nikon D3 yang kuidam-idamkan masih tidak terjangkau. Well, selama aku masih kuliah dan belum bekerja, kamera SLR digital itu tidak akan pernah terjangkau. Masalahnya, menyelesaikan kuliah di Departemen Arsitektur tidak gampang, nyaris mustahil bagiku. Bukan berarti aku bodoh atau standar departemen tersebut terlalu tinggi. Aku tidak merasa ‘klik’ dengan arsitektur, itu sebabnya. Malah, kalau bisa, aku lebih memilih DO daripada menghabiskan dua tahun lagi bergelut dengan AutoCad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Omong-omong, kembali ke JPC di mana aku berdiri dungu memandangi D3 beberapa hari lalu, aku bertemu dengan Erod Matin di sana. Salah satu fotografer terbaik Asia itu memasuki toko tepat ketika aku hendak pergi. Dia duduk lama di hadapan salah satu meja panjang berbentuk boks kaca berisi bermacam-macam aksesoris kamera, ditemani seorang perempuan yang sedikit lebih muda. Mereka memilih dan mencoba ini-itu dan membeli semua yang terbaru, bikin aku iri. Tapi, bukan itu yang penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang penting adalah apa yang kudengar ketika itu. Dengan masuknya Erod Matin ke JPC, aku batal pergi dan malah duduk selang satu kursi darinya. Norak sih, tetapi bertemu dengan fotografer betulan dan, tidak tanggung-tanggung, Erod Matin pula merupakan kesempatan langka. Dengan jarak sedekat itu, aku bisa mendengar dengan jelas pembicaraan yang terjadi antara Erod Matin dan teman perempuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang benar, Bao?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersenyum puas melihat ekspresi Sube dan Bev. Keduanya terbelalak dan ternganga di hadapanku. Sementara itu Andre seperti biasa membuatku berpikir seluruh syaraf pada wajahnya sudah tidak berfungsi. Tolong, ya. Aku baru saja memberitahu dia bahwa Erod Matin akan menjadi dosen tamu di kampus kami pada semester ini, tetapi wajahnya tetap datar dan dia cuma berkedip–sekali. Ck!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menanggapi pertanyaan Sube dan Bev, aku mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampang Bev langsung berubah seperti ingin menangis. “Aduuuh, tahu begitu aku ikut mengulang Fotografi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sube mencibir, “Ya, ampun, Bev. Jangan ikutan norak, deh,” tapi aku tahu dia sama menyesalnya dengan Bev. Kelihatan kok dari sorot matanya yang berubah sendu. Dan, baru saja dia menghela napas dengan sedih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mending norak daripada tidak ikut kuliah Erod Matin,” Bev membela diri. “Masih bisa tidak ya untuk revisi IRS?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andre mengacungkan telunjuknya. Jari itu dia gerak-gerakkan ke kanan dan ke kiri seperti wiper. “Telat. Revisi IRS terakhir dua hari lalu, Bev,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yaaah.” Bev mendadak lemas. Kepalanya terkulai hingga bersentuhan dengan permukaan meja kantin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menepuk-nepuk bahu gadis itu. “Ngga perlu revisi IRS juga masih bisa ikut kuliah Fotografi, kan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bev mengangkat kepalanya. Kedua alis gadis itu berkerut. “Maksudmu, menyelinap, Ray? Memangnya tidak ketahuan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pasti ketahuan sih. Lo tahu sendiri, yang ikut kuliah Fotografi ngga banyak. Paling cuma sepuluh orang. Tapi memang kenapa kalau ketahuan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya malu lah, Ray. Aku bukan Matt Damon,” aku Bev.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sube ikut menimpali, “Iya, jangan, Bev. Itu bukan cuma norak, tapi norak banget.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Giliran aku yang mencibir Sube, “Bule, mending norak banget daripada ngga ikut kuliah Erod Matin.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah kami berempat mengikuti kelas Fotografi pada keesokan harinya. Aku tahu Bev adalah fans berat Erod Matin, maka, walaupun harus menanggung malu tujuh turunan, dia tidak akan melewatkan kesempatan ini. Andre dan Sube pun pada akhirnya mengekor lantaran Bev minta ditemani. “Lebih baik malu bertiga daripada malu sendirian,” begitu kata gadis itu. Masuk di akal. Lagipula, siapa sih yang tidak luluh hatinya melihat wajah mirip Natalie Portman merajuk manja?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai perkiraan, kelas Fotografi semester ini tidak jauh berbeda dengan sebelumnya. Selain aku dan gerombolan penyusupku yang mengambil tempat di barisan paling depan, hanya ada delapan mahasiswa lainnya yang duduk berpencar. Mereka semua adik kelas kami, sehingga Bev yang sejak tadi gugup setengah mati kini semakin tidak tenang di tempat duduknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bisa memahami perasaan dia. Malu di depan teman satu angkatan sih bukan hal baru, jumlah kepala yang sangat sedikit di tiap angkatan membuat kami hapal kejelekan setiap orang, tetapi lain hal jika jadi bahan tertawaan adik kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, well. Apa pun risikonya, sudah terlambat untuk mundur sekarang. Baru saja Erod Matin memasuki ruangan. Lelaki metroseksual itu muncul dari pintu yang ada di ujung belakang kelas. Dia berjalan dengan tenang dan agak angkuh. Langkahnya pelan tapi mantap, ekspresi wajahnya dingin, dagunya terangkat. Dia melirik kami sekilas saat melintas. Sorot matanya meremehkan, menciutkan nyali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menegakkan posisi dudukku. Jantungku berdebar, mewakili perasaanku yang campur aduk antara gugup dan antusias. Bev melakukan hal yang sama, bahkan gadis itu berulang kali menghela napas dan menggigit bibir untuk mengendalikan emosi. Sube terlihat lebih santai jika dibandingkan dengan Bev. Andre apalagi. Aku tahu keduanya juga gugup, tetapi, setidaknya, mereka masih bisa menyeringai dan berbisik satu sama lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu tiba di depan kelas, Erod Matin menghentikan langkahnya dan berbalik menghadapi kami seraya berkacak pinggang. Dia berdeham. “Selamat pagi. Saya Erod Matin,” ucapnya sebagai perkenalan. Suaranya tenang dan angkuh seperti sikapnya. “Saya yang akan mengajar kalian fotografi pada semester ini.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seisi kelas langsung kasak-kusuk. Yang pernah mendengar nama Erod Matin tentu saja mirip ABG ketemu Justin Bieber sementara yang tidak tahu apa-apa ikutan girang juga karena mereka tidak ingin ketahuan bodoh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mendengus. Tolong, ya. Kalau Erod Matin saja tidak tahu, untuk apa sih mereka sok-sokan ambil kuliah Fotografi. Ck!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mahasiswa di sini hobi telat atau memang yang ikut kuliah cuma segini?” pertanyaan itu membuat ruangan kembali senyap. Erod Matin menggapai map berisi daftar peserta kuliah yang tergeletak sejak tadi di atas meja pengajar. Dia membuka sampul yang terbuat dari kertas tebal itu, lantas menarik senyum sinis.&lt;br /&gt;Aku menelan ludah. Kulirik Bev, Sube, dan Andre. Inilah saatnya. Keberadaan mereka sebagai penyusup akan terungkap tidak lama lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, benar saja. Setelah menutup map di tangannya, Erod Matin menyapukan pandangan ke seluruh penjuru ruangan. Matanya bergerak cepat dari satu mahasiswa ke mahasiswa yang lain tanpa melewatkan seorang pun. Ya, dia sedang menghitung dan selesai dengan cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, dia kembali berdeham. Ekspresi wajahnya tidak berubah, sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda adanya kemarahan atau semacamnya. Alih-alih menuntut pengakuan, dia malah berkata, “Oke. Yang namanya tidak terdaftar, kalian boleh mengikuti kuliah saya, tetapi jangan harap dapat kredit. Saya juga tidak mau tanggung jawab kalau ada kuliah yang berantakan karena kalian kabur ke kelas ini.” Dia mengembalikan map yang tadi ke tempat semula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bev mengembuskan napas dengan lega. Bibirnya membentuk senyum lebar dan kedua pipinya berubah rona, kini agak kemerahan. Dia menyikut lenganku, lalu memamerkan deretan giginya yang putih dengan girang seperti anak kecil yang baru saja dibelikan cokelat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku membalas senyum gadis itu, lantas tatapanku beralih kepada Sube. “Apa gue bilang, Bule,” bisikku. Sube menyeringai mengakui kekalahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat setelah itu Erod Matin meletakkan setumpuk kertas berisi silabus di mejaku. Dia tidak berkata apa-apa, tetapi aku tahu maksud perbuatannya. Aku mengambil satu lembar, lalu mengoper sisanya ke Bev. Bev melakukan hal yang sama dan begitu seterusnya hingga semua peserta kuliah mendapatkan kertas tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena ini semester genap, kita cuma punya empat belas pertemuan. Tentu saja, saya tidak bisa membuat kalian jadi sehebat Arbein Rambey dalam waktu sesingkat itu. Tapi, paling tidak, pada akhir tahun nanti kalian bisa menggunakan SLR dengan benar,” kata Erod. Lagi-lagi, nada bicaranya terdengar meremehkan. Barangkali dikiranya, selain dia, tidak ada yang bisa memotret di ruangan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada yang bawa kamera?” tanyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengacungkan tangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Erod Matin menghampiriku. Dia memandangi kamera yang kuperlihatkan dengan kedua alis terangkat. Kedua tangannya dilipat di depan dada. “Ini era digital dan kau masih pakai F5?” sindirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajahku langsung memanas. Sial. Si Babe memang keluaran lama, tetapi F5 adalah raja ketika Nikon belum mengeluarkan seri D.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana dengan yang lain? Ada yang cukup beradab dan pakai DSLR?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seisi kelas diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Erod Matin pun mencibir. “Okelah, kalau memang kita akan pakai gaya kuno,” katanya. Dia memberi isyarat kepada kami untuk membaca kertas silabus masing-masing. “Saya berasumsi kalian sudah tahu cara kerja SLR. Jadi, kita akan langsung bicara bisnis: tugas pertama.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat ketika Erod Matin akan memberikan penjelasan, mendadak pintu kelas terbuka. Deriknya terdengar keras hingga mengalihkan perhatian semua orang, lalu sebuah kepala melongok ke dalam, menampakkan wajah mirip boneka kokeshi yang tidak asing bagiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haru Enomoto. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis aneh itu tidak bergerak di tempatnya, tidak pula bersuara, selama beberapa saat. Sisa tubuhnya masih bersembunyi di balik daun pintu. Sepasang matanya menjelajahi seluruh penjuru ruangan. Barulah setelah itu, dengan suara yang ragu-ragu, dia bertanya, “Apa ini kelas fotografi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masuk. Kau terlambat, Enomoto,” Erod Matin berkata kepada gadis itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haru tersenyum lebar. “Hai! Arigato!” Dia pun bergegas memasuki ruangan. Langkahnya kecil-kecil, namun cepat. Dalam sekejap dia sudah duduk tepat di sebelahku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, kuliah berlanjut. Erod Matin mulai memaparkan detail tugas pertama kami. Aku sempat mendengar tema yang dia berikan, yakni ‘kontras’, namun aku tidak menangkap sisanya. Masalahnya, boneka kokeshi di sampingku ribut sekali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua barang bawaannya; tas ransel kecil dari kulit, buku-buku kuliah, majalah arsitektur, foto-foto berukuran besar, dan kamera; dia letakkan secara sembrono di mejanya, sehingga dia kesulitan sendiri. Ketika hendak mengeluarkan alat tulis, buku-bukunya tersenggol oleh sikunya dan jatuh berdebum ke lantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia membungkuk untuk mengambil buku-buku itu, tetapi giliran beberapa isi tasnya yang berjatuhan; permen, kotak sumpit merah muda bergambar Hello Kitty, dan ponsel warna senada dengan hiasan figur My Melody yang mengilap –berapa sih umur dia? Lalu, dia menggeser meja demi memberi ruang kepada dirinya sendiri untuk menyelinap ke kolong, di mana butir-butir permen berserakan, dan kamera miliknya– &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hati-hati! Kameramu–” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mencondongkan tubuh dan mengulurkan kedua tangan dengan panik. Akibat pergerakan meja, kamera milik Haru bergeser ke tepi dan hampir celaka kalau saja aku tidak buru-buru menangkap benda itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana kelas berubah senyap. Kegiatan kuliah terhenti. Aku sadar suaraku barusan terlalu keras dan aksiku kelewat kentara. Kini semua orang memandangiku, termasuk Erod Matin yang sorot matanya semakin dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haru sendiri menatapku dengan mata berkaca-kaca. Ekspresi wajahnya antara terkejut, takut, tetapi juga lega. “Arigato,” ucap gadis itu dengan nada yang bikin aku merasa seperti pahlawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengangguk kikuk. Tepat setelah kamera yang nyaris tinggal kenangan itu berpindah tangan ke Haru, barulah aku sadar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kameramu– Kau pakai D3?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan jawaban Haru yang kudapatkan, melainkan kekesalan Erod Matin yang disuarakan dengan segepok kertas silabus yang menampar punggung kepalaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tawa Sube pecah sekali lagi. Bule sialan itu menjadikan aku sebagai guyonan sepanjang jam makan siang. Dia tidak henti-hentinya mengungkit kejadian memalukan yang berlangsung tadi pagi di kelas Fotografi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dapat tugas tambahan di pertemuan pertama. Ngga asyik banget, Bao,” ledeknya untuk kesekian kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bev memukul lengan Sube, mencoba membungkam teman kami yang satu itu, tetapi dia sendiri sesungguhnya sedang kesulitan menahan tawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sudah sejak tadi pasrah. Lagipula, saat ini kisah itu telah menyebar ke setiap telinga di Departemen Arsitektur. Apa yang ditakutkan oleh Bev, menjadi bahan tertawaan adik kelas, justru terjadi padaku dan ini gara-gara Si Kepala Angin, Haru Enomoto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andre mendadak mengacungkan tangannya. “Omong-omong,” dia angkat bicara, “sebenarnya, lo malah beruntung dengan tugas tambahan itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Untung bagaimana maksud lo? Bikin foto portrait ngga gampang tahu, Ndre,” aku membalas dengan sewot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andre tersenyum. Tipis sekali. Penuh arti. “Ya memang ngga gampang, tapi lo jadi punya kesempatan buat pamer kemampuan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini aku diam saja. Apa yang dikatakan oleh Andre ada benarnya juga. Setelah diremehkan berkali-kali dan dianggap tidak beradab oleh Erod Matin, aku gemas sekali ingin unjuk gigi di hadapan lelaki itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah ada ide siapa yang akan kau jadikan model?” giliran Bev yang bertanya kepadaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengernyit, mencoba memikirkan sebuah nama, namun kegusaranku membuat pikiranku buntu. Dalam keadaan setengah putus asa, aku mendesah, menyerah tanpa usaha, dan ketiga sidekick di hadapanku pun menatapku penuh rasa belas kasihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika itulah aku melihat Haru Enomoto di kejauhan. Gadis itu meninggalkan kantin dengan langkah-langkahnya yang cepat seperti sedang terburu-buru. Kontan aku bangkit dari tempat dudukku. Kusambar tas dan semua buku milikku yang berceceran di meja, lalu, setelah pamit sekadarnya kepada Sube dan yang lain, aku melesat mengejar Haru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku harus bikin perhitungan dengan gadis itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami memasuki gedung Departemen Arsitektur, menelusuri lorong yang di kanan-kirinya terdapat banyak majalah dinding. Aku yang berada beberapa meter di belakang Haru terus berusaha untuk menyusul. Gadis itu berjalan cepat sekali seolah-olah kedua telapak kakinya diberi roda. Saat jarak kami hanya tinggal satu-dua langkah saja, entah mengapa, mendadak dia berbalik dan kami pun bertabrakan. Buku-buku di tanganku terjatuh, begitu pula semua barang di genggamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haru terkejut dan panik. Sambil bergumam tidak jelas, sudah pasti dengan bahasa ibunya, gadis itu bergegas memunguti semua barang yang berceceran di lantai. Bukuku, bukunya, majalah pinjaman dari perpustakaan, foto hasil jepretannya; semua dia tumpuk menjadi satu. Lalu, dia menghampiriku yang tengah berdiri bengong memerhatikan segala tingkah lakunya dan memberi tumpukan buku-majalah-foto tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf, ya. Saya tidak maksud. Benar-benar maaf.” Haru membungkukkan badannya berkali-kali di hadapanku seraya berkata begitu. Setelah puas minta maaf, dia pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hei. Tunggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menatap tumpukan buku-majalah-foto di tanganku dengan terheran-heran, kemudian sepasang mataku beralih memandangi Haru yang menjauh. Tidakkah gadis itu melupakan sesuatu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat ketika aku berpikir demikian, Haru berbalik dan kembali kepadaku seperti ada yang terlupa. Dia menatapku. Senyum malu-malu menghiasi wajahnya yang putih bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau di kelas fotografi tadi, kan?” tanyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengangguk pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senyum Haru semakin lebar. “Terima kasih. Kau bantu saya tadi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengangguk lagi, mulai salah tingkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nama saya Haru Enomoto. Nama kau?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ha?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Na-ma. Namae. Name.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si-sialan gadis ini. Berani-beraninya dia memperlakukan aku seperti turis. Tentu saja aku mengerti apa yang dia tanyakan. Aku hanya tidak siap untuk adegan semacam ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nama saya Ra– Rayyi.” Saya? Kenapa cara bicaraku terbawa resmi begini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh! Rai i. Salam kenal, Rai i.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haru kembali membungkukkan badannya. Kali ini dengan gerakan yang halus dan perlahan. Sebagai balasan, aku membungkuk juga meski sempat ragu-ragu. Lalu, Haru pergi sambil melambaikan tangan dan tersipu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hei. Halo?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan buku dan foto-foto miliknya ini?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/636522176026931424-7356941254406752770?l=miss-worm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miss-worm.blogspot.com/feeds/7356941254406752770/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=636522176026931424&amp;postID=7356941254406752770&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/7356941254406752770'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/7356941254406752770'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miss-worm.blogspot.com/2011/10/draft-sakura-haru-haru-si-kepala-angin.html' title='(Draft) Sakura Haru: Haru, Si Kepala Angin'/><author><name>windry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13072319767836551821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R85FBcecQ6I/AAAAAAAAAXw/dACfoIQUsWA/S220/she_was_buried_alive__by_cryptorchid.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-636522176026931424.post-3549484078773494057</id><published>2011-10-19T14:38:00.000+07:00</published><updated>2011-10-19T14:41:24.689+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of drafts'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of words'/><title type='text'>(Draft) Sakura Haru: Sakura Dalam Bingkai</title><content type='html'>&lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;   &lt;m:dispdef&gt;   &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;   &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;   &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;   &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;   &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;   &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;  &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt;&lt;/m:wrapindent&gt;&lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Aku mendakiperpustakaan kampus yang masih setengah jadi sembari memanggul tripod. Talipoliester Nikon yang kumal membelit tubuhku sementara F5 bergelantung setinggidada dan berayun-ayun mengiringi gerak yang kulakukan. Kedua kakiku melangkahcepat dan lebar, melewati dua-tiga anak tangga sekaligus, menimbulkan kegaduhansetiap menapak di permukaan pelat baja yang biru terang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Segera setelahmencapai puncak gedung, aku mendirikan tripod di tepi atap beton yang datar,memasang kamera, lalu mengintip matahari di sebelah barat yang terik melalui &lt;i&gt;view finder&lt;/i&gt;. Jari-jariku mengaturdiafragma dan fokus lensa dengan gerakan memutar yang perlahan. Refleksi buramyang tertangkap pun berubah menjadi jernih. Aku meraih tombol &lt;i&gt;shutter&lt;/i&gt;, menekannya setengah, dan–&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Ck&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;!CPL belum terpasang. Baru aku ingat, Sube meminjam kamera ini dua hari yanglalu dan Jerman Makassar yang melankolis itu selalu melepas semua filter setiapkali dia selesai memotret.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Sambilmenggerutu, aku merogohkan tangan ke dalam tas kecil yang melingkar dipinggangku dan mengambil sebuah filter. Kutempelkan benda bulat pipih tersebutpada lensa. Ketika aku mengintip melalui &lt;i&gt;view finder&lt;/i&gt; sekali lagi, obyekyang ingin kupotret malah terlihat tidak berwarna.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Ah! Sedangmelancong ke mana pikiranku? Barusan aku mengambil BW, bukan CPL. Lekas kucopotfilter yang salah pasang itu, kemudian kuganti dengan yang seharusnya. Matakumengamati awan kelabu di kejauhan yang bergerak mendekat. Perasaanku pun mulai gelisah,takut kehilangan momen yang bisa berakhir setiap saat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Hujan turunkemarin sore dan tidak berhenti hingga menjelang pagi. Semalaman aku menggigildi balik selimut, dengan sweter dan kaos kaki membungkus tubuh. Beberapa tahunlalu, pada satu malam, Jakarta mengalami cuaca yang serupa, lalu pada keesokanharinya matahari muncul tidak biasa. Seperti siang ini. Sebuah cincin yangpendarnya menyerupai pelangi mengelilingi bintang raksasa itu. Pakar geografimenyebutnya Halo. Aku menamainya diamante.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Dahulu aku tidaksiap, tetapi kali ini tidak akan kubiarkan kameraku melewatkan kesempatan langka.Maka, aku mulai mengambil gambar. Suara &lt;i&gt;shutter &lt;/i&gt;yang membuka dan menutupmengiringi setiap jepretan. Iramanya begitu asyik di telinga, menyihir seperticandu yang bikin ketagihan. Rol film pertama habis dalam beberapa menit. Akubaru akan memasang film kedua ketika ponsel di saku celanaku berbunyi danbergetar.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Sial!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Aku buru-burumengeluarkan ponsel itu dari saku. Kutekan tombol hijau di bawah layar, kuletakkanponsel itu di tanah, kemudian aku kembali memotret. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Suara Subedengan logat Makassarnya yang khas terdengar samar-samar. “Bao! Di mana lo? Lodicari Pak Ii.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Aku tidakmenjawab. Perhatianku masih tertuju sepenuhnya kepada kamera dan obyek dihadapanku. Suara &lt;i&gt;shutter&lt;/i&gt;berkelanjutan. Aku mengubah &lt;i&gt;angle&lt;/i&gt;,diafragma, &lt;i&gt;zoom&lt;/i&gt;; mengambil gambardengan teknik yang berbeda-beda; bereksperimen.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Sementara itu,Sube terus saja menyerocos. “Bao! Kata Pak Ii, lo belum perwalian. Hari initerakhir. Lo harus nyerahin IRS lo sebelum jam empat. Bao? Lo dengar ngga?”Sube terdiam sejenak. “Itu suara &lt;i&gt;shutter&lt;/i&gt;,ya? Lo lagi &lt;i&gt;hunting&lt;/i&gt;?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Iya, Bule.Karena itu, diam!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;“Lo &lt;i&gt;hunting&lt;/i&gt; di mana? Gila, lo! Ini sudah setengahempat. Lo niat kuliah ngga sih?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Sejujurnya?Persetan dengan kuliah!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Oke, walaupunaku berkata begitu, pada akhirnya aku tetap menghadap Pak Ii, arsitek besar yangmerasa bertanggung jawab atas nasibku di Departemen Arsitektur UI, UniversitasIndonesia. Walau kusebut dia ‘arsitek besar’, sebenarnya dia bukan siapa-siapa.Maksudku, dia tidak pernah menang sayembara arsitektur atau nampang di majalah Trend,bahkan dia sama sekali tidak terkenal–kecuali di lingkungan kampus. Tetapi, badannyamemang luar biasa besar.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Dia sedangmalas-malasan di Ruang Dosen ketika aku menemuinya. Kami saling menyapa, “Halo,apa kabar?” hanya untuk basa-basi, kemudian dia melihat sekilas daftar matakuliah yang ingin kuambil, memberi paraf sebagai tanda persetujuan–atauketidakpedulian–dan–oh, &lt;i&gt;yeah&lt;/i&gt;–selesailahsesi perwalian yang mengharukan itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;“Parah lo! &lt;i&gt;Hunting &lt;/i&gt;ngga ajak-ajak.” Sube langsung menyemburbegitu aku bergabung dengannya di kantin. Penampakannya boleh saja seperti barangimpor: badan tinggi besar, rambut cokelat terang, kulit putih, hidung mancung;tetapi gaya bicaranya benar-benar mirip Yusuf Kalla. Hanya saja, Sube mencampurlogat Makassar miliknya dengan atribut Betawi lo-gue. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Dia tidaksendiri di kantin itu, omong-omong. Ada Andre dan Bev juga di meja yang sama.Keduanya satu angkatan dengan kami. Keduanya bertubuh kurus, berwajah tirus, danberambut panjang. Bedanya, Andre lelaki dan Bev perempuan. Bedanya lagi, Andrememakai jaket kuning berbahan parasut yang sama setiap hari selama satusemester sementara Bev punya koleksi sweter Mango aneka warna yang dipakaibergiliran sesuai &lt;i&gt;mood&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;“Lo tuh yangparah!” Aku membalas Sube, tidak kalah sengit. “Gue sudah bilang berkali-kali.Setelah pakai Si Babe, lo ngga perlu melepas semua filter. Gue hampir sajakehilangan momen gara-gara sibuk cari CPL.” Oh, ya. Si Babe adalah panggilansayang untuk kameraku.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;“Itu supayafilter lo awet, Bao. Harusnya, lo berterima kasih.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Ck. Memang susahberdebat dengan orang melankolis.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;“Memangnya kau &lt;i&gt;hunting &lt;/i&gt;ke mana, Ray?” Bev bertanyakepadaku. Gadis itu mirip Natalie Portman, atau begitulah menurutku. Dia punyatulang pipi yang menonjol, bibir yang seksi, dan sepasang alis tipis yangmeliuk indah ke atas.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Sambiltersenyum, aku mengedipkan mataku kepadanya. “Ada deh,” kataku dan Bevmemanyunkan mulut sebagai balasan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Bev adalah satudari sedikit temanku yang masih memanggil aku dengan nama asli: Rayyi.Sementara itu teman-temanku yang lain sudah murtad. Kini mereka menyebutku BaoBao. Mengapa? Akan kujelaskan, tetapi tidak sekarang. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;“Gimana perwalianlo?” Giliran Sube yang bertanya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Aku mengambiltempat duduk di samping Andre, di hadapan Sube dan Bev. Kamera dan tripod yangkubawa-bawa sejak tadi kuletakkan di atas meja. “Beres.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;“Ambil kelas apasaja?” Sube bertanya lagi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;“Apa, ya? Perkotaan,Lansekap, Fotografi. Sisanya, lupa.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Sube mengernyit,begitu juga Bev, sementara Andre datar-datar saja. Oh, &lt;i&gt;well&lt;/i&gt;, memangnya kapan sih Andre punya ekspresi?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;“Bukannyasemester lalu lo sudah ambil Fotografi?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;“Iya. Tapiboleh-boleh saja kan mengulang? Buat perbaikan nilai.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Andre mengangkattangan kanannya sembari mengacungkan telunjuk, seperti anak sekolahan yangminta izin bicara kepada guru di kelas. Tetapi, dia bukannya sedang minta izinbicara. Gayanya saja yang begitu. “Tidak puas dengan A?” sindirnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;He-he. Akutersenyum lebar memamerkan deretan gigiku. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Baiklah, akumengaku. Aku mengulang kelas Fotografi bukan untuk memperbaiki nilai, kecualimasih ada yang lebih baik dari A, melainkan karena aku suka. Bahkan, Fotografiadalah satu-satunya mata kuliah di Departemen Arsitektur yang masuk di akalbagiku. Sayangnya, dari sekian banyak mata kuliah pilihan yang ada, hanya adasatu Fotografi. Maksudku, tidak ada Fotografi Dasar, Fotografi Lanjutan, danseterusnya. Karena itulah aku terpaksa berbuat norak seperti ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;“Oh ya, Ray. Sudahada kabar mengenai ekshibisi yang kemarin? Foto-fotomu lolos seleksi, tidak?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Aku menghelanapas. Sebenarnya aku malas membahas ini. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Ekshibisi yangdimaksud oleh Bev adalah pameran fotografi berskala nasional yang diadakan olehGreen Peace. Pameran itu digelar dua tahun sekali dan lumayan bergengsi. Tidaksembarang fotografer bisa memamerkan karya mereka di ekshibisi tersebut. Ada batasanpeserta dan seleksi ketat yang bikin amatiran seperti aku selalu kalah bersaingdengan Arbain Rambei atau Eddy Hasby.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Tapi, tahun iniberbeda. Green Peace memilih lokasi di UI dan kampus kami mendapat satu tempat khususdalam pameran. Itu seperti angin segar yang bertiup kencang ke arahku.Maksudku, berapa banyak sih mahasiswa UI yang memiliki hobi fotografi? Dan, diantara mereka, berapa banyak yang punya pengalaman bertahun-tahun seperti aku?Aku yakin sekali akan memenangkan satu tempat itu. Seharusnya aku bisa, tetapi–&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Sube yang tahuaku tidak lolos seleksi buru-buru menyikut lengan Bev. Bev langsung bisamembaca situasi. Rona wajah gadis itu berubah miris seakan-akan dia ikutmenyesali kegagalanku. “Duh, aku ikut prihatin, Ray. Semoga lain kali kauberhasil.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Aku mengiyakanucapan Bev dengan senyuman masam walau aku tahu tidak akan ada ‘lain kali’.Kesempatanku hanya sekarang atau tidak sama sekali. Kenyataannya, tidak samasekali.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;“Kalau bukan loyang lolos, lalu siapa? Maksud gue, ada ya yang lebih jago motret dari lo diUI?” Andre bertanya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Aku hanyamengedikkan bahu, memberi isyarat bahwa aku tidak tahu dan juga tidak peduli. &lt;i&gt;Well&lt;/i&gt;, aku tidak sepenuhnya tidak pedulisih. Sebenarnya aku ingin tahu juga siapa yang mengalahkanku, tetapi akukhawatir jawabannya hanya akan mengarahkan aku kepada sakit hati danujung-ujungnya aku malah mendendam kepada orang malang yang seharusnyadiselamati.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;“Lo tahu Haru?”Sube yang menggantikan aku menjawab. “Dia tuh yang lolos.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;“Haru? HaruEnomoto, maksudmu?” Bev tampak terkejut sementara aku bengong.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Haru Eno–siapa?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;“MahasiswiJepang itu?” tanya Bev lagi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;“Iya, dia.Memangnya ada berapa Haru sih?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;“Wow. Gue barutahu dia bisa motret,” kata Andre.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;“Ya pastinya nggasekadar bisa, Ndre. Buktinya dia–”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;“Sebentar. Sebentar.”Aku menginterupsi ketiga temanku yang mulai ribut. “Haru itu siapa? Mahasiswidari departemen mana?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;“Ah, memang parahlo, Bao!” Sube memberiku tatapan penuh belas kasihan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Sementara itu,Andre meletakkan tangannya di bahuku seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. “Lokebanyakan bolos kuliah sih.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Aku makinbingung. Kutatap Bev yang kuyakini akan berbaik hati memberiku pencerahan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;“Dia mahasiswiarsitektur, Ray,” kata gadis itu, “Baru datang dari Jepang semester lalu. Satuangkatan kok dengan kita.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Oke. Itu tetap tidakmembantu. Aku benar-benar tidak tahu siapa yang sedang kami bicarakan. Memang,aku hanya mengambil sedikit SKS pada semester sebelumnya dan aku lebih banyakmenitip absen daripada duduk di kelas, tetapi masa sih aku bisa tidak sadar adamahasiswi asing di kelas kami.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Ada alasannyamengapa aku hanya mengambil sebelas SKS pada semester lalu, itu setengah daritotal jumlah SKS yang dijatahkan kepadaku. Selain aku sedang jenuh, aku sengajameluangkan banyak waktu untuk menyiapkan diriku dalam seleksi pameran GreenPeace. Menurut Sube, itu kelewat norak, bahkan untuk penggila fotografi sekalipun, tetapi memang sebegitu pentingnya hobi yang satu ini bagiku.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Akibatnya, akupunya jadwal kuliah yang luar biasa lengang, yang memungkinkan aku &lt;i&gt;hunting &lt;/i&gt;foto setiap hari. He-he. Dalamingatanku, ada lebih dari selusin tempat yang kudatangi dan beberapa diantaranya berada di luar kota. Aku ke Penjaringan, Pecinan, Onrust, Braga,Kauman, Batu, dan entah ke mana lagi. Aku memotret semua yang kutemui; gereja,klenteng, reruntuhan, suasana romantis kafe kopi, hiruk-pikuk stasiun; pokoknya,obyek apa pun yang berpotensi menjadi foto yang fantastis. Aku juga mencetakratusan foto sampai-sampai dosen mata kuliah Fotografi membenciku setengah matikarena aku menguasai kamar gelap setiap waktu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Intinya, akuberusaha sangat keras, sehingga wajar dong kalau aku kecewa ketika satu tempatkhusus yang disediakan oleh Green Peace itu tidak berhasil kumenangkan. Aku punlantas penasaran setengah mati. Foto seperti apa yang unggul dari fotobuatanku?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Itulah sebabnyamengapa aku datang juga ke pameran Green Peace di Pusat Studi Jepang UI padahari terakhir meskipun hatiku masih sakit akibat kekalahan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Hari itu pamerantidak banyak dikunjungi. Selain aku, hanya ada beberapa wartawan entah darimedia apa yang melihat-lihat secara sekilas, serta sepasang mahasiswa-mahasiswiyang mengira pameran fotografi adalah tempat kencan model baru.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Foto artistikkarya fotografer-fotografer profesional dipajang paling depan, dicetak besar-besardan dibingkai dengan pigura warna keemasan; disusul oleh foto jurnalistik yangdramatis dan foto mode yang elegan. Yang paling terakhir, yang digantung diujung aula, adalah foto milik para amatiran, termasuk hasil jepretan mahasiswi Jepangbernama Haru itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Aku agakterkejut ketika mendapati Haru Enomoto berdiri berdampingan dengan satu setfoto bernuansa merah jambu miliknya. Sikap gadis itu seperti penyambut tamubagi orang-orang yang datang untuk melihat karyanya. Dia membungkuk penuhhormat sambil tersenyum dan berkata, “&lt;i&gt;Arigatogosaimashu&lt;/i&gt;,” kepada wartawan yang lewat. Dia pun berbuat serupa kepadaku.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Gadis itu tampakkonyol, tetapi dia berhasil membuatku lupa akan tujuanku semula. Untuk beberapasaat lamanya, aku malah sibuk memerhatikan gadis itu dan bukannya foto-foto didinding.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Haru Enomotobertubuh mungil. Dia lebih mirip pelajar SMU ketimbang mahasiswi kuliahan.Tingginya, barangkali, tidak sampai seratus lima puluh sentimeter. Tubuhnya cenderungkurus dan tungkai kakinya bengkok membentuk huruf O seperti kebanyakan orangJepang lainnya. Dia memiliki wajah oval yang dibingkai rambut pendek sedaguyang hitam legam dan lurus seperti tirai air serta kulit putih bersih yang bersinarseperti porselen. Matanya bulat kecil, begitu pula bibirnya, sehingga pipinyayang bersemu merah tampak tembam dan menggemaskan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;“Silakan melihat-lihat.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Kalimat Haruyang pengucapannya tidak sempurna mengembalikan kesadaranku. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Sial. Dari manadatangnya kata ‘menggemaskan’ itu?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Aku buru-burumengambil jarak dari Haru Enomoto dengan menarik napas dalam-dalam. Setelahyakin bahwa pikiranku sudah kembali dingin, aku mengalihkan perhatikanku padaenam buah foto yang tergantung di dinding.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Beberapa menitlamanya aku membisu. Aku berjalan dengan langkah-langkah kecil seraya mengamatifoto pertama hingga yang terakhir satu per satu. Setelah selesai, akumengulanginya, kemudian mengulanginya lagi, dan lagi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Demi D3 yangkuidam-idamkan, itu semua hanya foto sakura! &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Oke, foto-fotoitu memang tampil prima; komposisinya pas, fokus dan saturasi warnanya sempurna,dan luar biasa tajam; tetapi apa yang digambarkan sama sekali tidak spesial. Maksudku,apa sih yang menarik dari sakura? Kok bisa candi eksotis di Batu kalah olehbunga mungil dari Jepang ini? &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;“Bagaimanamenurutmu?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Mendadak Harubertanya kepadaku. Gadis itu kini berdiri di sampingku. Kepalanya dia miringkanke kanan dan wajahnya dihiasi senyum lebar, mirip boneka kokeshi yang lehernya patah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Ck. Yang benar saja! Masa aku kalah bersaing dengan gadis liliput yanggerak-geriknya menggelikan ini?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/636522176026931424-3549484078773494057?l=miss-worm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miss-worm.blogspot.com/feeds/3549484078773494057/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=636522176026931424&amp;postID=3549484078773494057&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/3549484078773494057'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/3549484078773494057'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miss-worm.blogspot.com/2011/10/aku-mendakiperpustakaan-kampus-yang.html' title='(Draft) Sakura Haru: Sakura Dalam Bingkai'/><author><name>windry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13072319767836551821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R85FBcecQ6I/AAAAAAAAAXw/dACfoIQUsWA/S220/she_was_buried_alive__by_cryptorchid.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-636522176026931424.post-6229537763666779274</id><published>2011-10-17T21:21:00.000+07:00</published><updated>2011-10-19T14:41:46.751+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of drafts'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of words'/><title type='text'>(Draft) Sakura Haru: Prolog</title><content type='html'>&lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;   &lt;m:dispdef&gt;   &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;   &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;   &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;   &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;   &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;   &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;  &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt;&lt;/m:wrapindent&gt;&lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 40.2pt 0.0001pt 42.55pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Segoe Print&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;‘Hei, Rayyi. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 40.2pt 10pt 42.55pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Segoe Print&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Apakau masih mengingatku?’&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Surat Haru tibapada awal April, mengusik serpihan-serpihan kenangan yang selama ini kusimpanrapi dalam ruang khusus di benakku. Aku membaca surat itu sambil berimpitandalam bus yang mengantarku bermagang setiap hari, yang pada kali inikutinggalkan sebelum mencapai tujuan demi bertolak ke Tokyo dengan seluruhtabungan yang aku punya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Kini aku berdiridi tengah lobi Narita; termangu menatap keramaian dan kemewahan negeri pemakanikan mentah, tanah kelahiran Haru; berbekal sebuah ransel yang berisi beberapapakaian, kamera kesayanganku, dan surat yang hampir tidak pernah kulepaskansejak pertama kuterima. Ratusan orang berkulit kuning yang berlalu lalangmelintasi ruang gigantik bandara membuatku menelan ludah karena merasaterasing. Pintu keluar yang transparan berada di balik maha arus itu,berkilauan karena membiaskan cahaya yang menyerbu dari luar bangunan,membangkitkan emosi lembut dari dasar hatiku.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 40.2pt 10pt 42.55pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Segoe Print&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;‘Ogenki desuka?&lt;a href="http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=636522176026931424#_ftn1" name="_ftnref1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Segoe Print&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Segoe Print&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;Kau pasti terkejut menerima surat ini. Sudah lama sekali, ya, sejak kitaberpisah. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 40.2pt 10pt 42.55pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Segoe Print&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Apayang kau lakukan sekarang? Apa kau masih memotret? Pasti masih, kan? Atau,jangan-jangan, impianmu sudah terwujud?’&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Aku disambutoleh udara pagi Tokyo yang dingin begitu mencapai teras luar bandara. Disebelah timur matahari baru muncul, masih meninggalkan semburat-semburat jinggadi langit kota yang biru muda. Sebuah taksi berhenti di hadapanku dan akumengulurkan tangan untuk membuka pintu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;“&lt;i&gt;Ohaiyo&lt;/i&gt;!&lt;a href="http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=636522176026931424#_ftn2" name="_ftnref2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Seorang lelakiJepang berusia lanjut menyapaku dengan sopan dari balik kemudi. Kedua mata lelakiitu nyaris terpejam saat dia memberiku seulas senyum.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Aku membalassapaannya seraya memasuki kendaraan, kemudian memberitahu tempat tujuankudengan bahasa Jepangku yang seadanya, “Taito-ku, &lt;i&gt;onegaisimashu&lt;/i&gt;.&lt;a href="http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=636522176026931424#_ftn3" name="_ftnref3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;” Taksitersebut melaju segera setelah itu, menyusuri jalan-jalan Tokyo yang bersih danlapang, melewati bangunan-bangunan bernuansa kelabu satu persatu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Di sepanjangjalan menuju Taito-ku pikiranku sibuk mengenang setiap kejadian yang pernahkulalui bersama Haru. Kami bertemu dalam sebuah pameran foto berskala nasional diDepok; pada pertengahan tahun yang lembab dan tidak bersahabat, tepat ketikasemester keenam kuliahku yang membosankan baru dimulai. Haru adalah salahseorang mahasiswi yang karya-karyanya berhasil diikutsertakan dalam ekshibisitersebut sementara aku hanya satu dari sekian banyak pesaingnya yang tidaklolos seleksi dan merasa iri.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Aku masih ingatfoto-foto milik Haru. Foto-foto sakura.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr align="left" size="1" width="33%" /&gt;&lt;div id="ftn1"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=636522176026931424#_ftnref1" name="_ftn1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11pt;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;Bagaimanakabarmu?; apakah kau baik-baik saja?&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn2"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=636522176026931424#_ftnref2" name="_ftn2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11pt;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;Selamat pagi!&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn3"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=636522176026931424#_ftnref3" name="_ftn3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11pt;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;Partikeldalam bahasa Jepang yang dipakai untuk meminta sesuatu secara sopan.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/636522176026931424-6229537763666779274?l=miss-worm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miss-worm.blogspot.com/feeds/6229537763666779274/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=636522176026931424&amp;postID=6229537763666779274&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/6229537763666779274'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/6229537763666779274'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miss-worm.blogspot.com/2011/10/draft-sakura-haru-prolog.html' title='(Draft) Sakura Haru: Prolog'/><author><name>windry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13072319767836551821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R85FBcecQ6I/AAAAAAAAAXw/dACfoIQUsWA/S220/she_was_buried_alive__by_cryptorchid.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-636522176026931424.post-6484378165139286228</id><published>2011-10-17T21:18:00.000+07:00</published><updated>2011-10-19T14:40:12.091+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of minds'/><title type='text'>(Issue) Sakura Haru</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;[text in Bahasa Indonesia]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sakura Haru adalah proyek novel terbaru saya setelah Home (Anemone). Sambil menunggu keputusan penerbit mengenai Home, saya mencoba mengembangkan cerpen lama saya, Sakura di Bulan April, menjadi sebuah kisah yang jauh lebih panjang. Barangkali sekarang Jepang tidak sepopuler Korea, namun toh saya tidak pernah menulis mengikuti arus. Saya sempat berpikir untuk membuang bau-bau negeri asing dari cerita yang satu ini. Sayangnya, itu tidak memungkinkan karena ide dasar dari Sakura Haru adalah, well, sakura.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tentu teman-teman tahu sakura. Tumbuhan ini hanya berbunga selama satu-dua minggu. Memang singkat, tetapi karena itulah setiap tahun semua warga Jepang berkumpul beramai-ramai di taman kota untuk sekadar melihat sakura bermekaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam novel (wannabe) Sakura Haru, saya kembali mengangkat dunia arsitektur dan fotografi. Si tokoh utama merupakan mahasiswa Arsitektur yang jauh di dalam hati merasa bahwa dirinya tidak berada di tempat yang tepat. Dia anak pasangan arsitek ternama Indonesia yang sesungguhnya lebih mencintai fotografi ketimbang seni desain ruang. Tekanan dari orang tua membuat tokoh ini tidak sanggup melarikan diri hingga dia bertemu dengan Haru, mahasiswi pertukaran dari Jepang, yang membuatnya sadar bahwa hidup terlalu singkat untuk disia-siakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya. Ide kisah yang sederhana, namun saya suka sekali dengan semua tokoh yang muncul di Sakura Haru. Rayyi tipe mahasiswa yang sering menitip absen agar dia bisa dia berburu foto atau mendekam di kamar gelap berjam-jam. Sementara itu Haru merupakan gadis imut, periang, namun luar biasa ceroboh. Dia selalu mencerahkan suasana sekaligus bikin kesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain mereka, ada tiga sahabat Rayyi: Sube, Andre, dan Bev yang terinspirasi dari tiga teman saya semasa kuliah.&lt;span id="fullpost"&gt; Sube blasteran Jerman-Makassar yang penampilannya bule, namun logat bicaranya persis gaya Yusuf Kalla. Andre terkenal tanpa ekspresi dan dia selalu memakai jaket yang sama setiap waktu. Bev gadis menarik yang sering dapat nilai A karena mirip Natalie Portman.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Lalu, ada juga Erod Matin. Pembaca Orange pastinya tidak asing dengan fotografer ternama Asia ini. Di Sakura Haru, Erod hadir sebagai pembuka jalan bagi Rayyi di dunia fotografi. Yang membuat saya bersemangat, porsi Erod di novel ini akan jauh lebih dari porsi Erod di Orange. Sejak awal saya mengembangkan karakter Erod, saya sudah jatuh hati. Karena itu ketika ada kesempatan untuk menampilkan dia lagi, saya tidak pikir panjang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Secara keseluruhan, Sakura Haru akan menjadi novel roman. Rentang waktu yang cukup besar (mungkin 2008-2012) dalam garis cerita mengharuskan semua karakter berkembang sesuai usia dan pengalaman mereka. Satu lagi yang saya gemari adalah menampilkan perkembangan itu. Bagaimana satu tokoh mempengaruhi tokoh lain, bagaimana kejadian-kejadian membuat mereka menentukan arah hidup, dan lain-lain.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, well. Semoga Sakura Haru bisa saya selesaikan segera. Saya akan tampilkan secara teratur bab demi bab di sini dan di kemudian.com (jangan lupa, ID saya miss worm). Selamat membaca!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/636522176026931424-6484378165139286228?l=miss-worm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miss-worm.blogspot.com/feeds/6484378165139286228/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=636522176026931424&amp;postID=6484378165139286228&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/6484378165139286228'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/6484378165139286228'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miss-worm.blogspot.com/2011/10/issue-sakura-haru.html' title='(Issue) Sakura Haru'/><author><name>windry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13072319767836551821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R85FBcecQ6I/AAAAAAAAAXw/dACfoIQUsWA/S220/she_was_buried_alive__by_cryptorchid.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-636522176026931424.post-7906804555537711028</id><published>2011-09-22T23:22:00.006+07:00</published><updated>2011-09-22T23:50:14.053+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of minds'/><title type='text'>(Issue) Home</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-tWV8BMYIZUg/TntkYD1OzOI/AAAAAAAAA08/YwaxvnxY4Z4/s1600/4398502740_b7cc859286_b.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-tWV8BMYIZUg/TntkYD1OzOI/AAAAAAAAA08/YwaxvnxY4Z4/s200/4398502740_b7cc859286_b.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5655224121602002146" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;[Text in Bahasa Indonesia]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya! Saya menyelesaikan novel ketiga. Anemone, atau Home, atau apalah nanti judul novel ini. 52.373 kata. 154 halaman A4 spasi tunggal, ukuran huruf dua belas. ditulis dan diedit selama delapan setengah bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya benar-benar lega dan bangga. Lega karena ternyata, setelah rehat dua tahun lebih, saya masih bisa menyelesaikan satu karya utuh (Hore!). Bangga karena saya menulis sambil mengurus suami dan mengasuh bayi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini saya sedang menyiapkan novel tersebut untuk dikirim ke penerbit. Novel sudah saya print, tinggal dijilid besok, kemudian langsung dititipkan kepada Mas JNE. Setelah itu, hem, berdoa tentu saja. Oh, betapa saya rindu melalui proses penyuntingan dan persiapan dengan penerbit.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/636522176026931424-7906804555537711028?l=miss-worm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miss-worm.blogspot.com/feeds/7906804555537711028/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=636522176026931424&amp;postID=7906804555537711028&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/7906804555537711028'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/7906804555537711028'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miss-worm.blogspot.com/2011/09/issue-home.html' title='(Issue) Home'/><author><name>windry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13072319767836551821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R85FBcecQ6I/AAAAAAAAAXw/dACfoIQUsWA/S220/she_was_buried_alive__by_cryptorchid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-tWV8BMYIZUg/TntkYD1OzOI/AAAAAAAAA08/YwaxvnxY4Z4/s72-c/4398502740_b7cc859286_b.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-636522176026931424.post-5791837931002869598</id><published>2011-07-08T09:22:00.002+07:00</published><updated>2011-07-08T09:27:07.801+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of drafts'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of words'/><title type='text'>Eisenman</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kurasa sudah jelas, pada akhirnya aku menggagalkan proyek rumah itu. Pernyataanku yang idealis dijawab dengan penuh harga diri oleh Oom Regulus dan Tante Renata. Pasangan suami-istri itu tidak menunjukkan sikap marah, tersinggung, atau semacamnya. Mereka hanya berkata, ‘Sayang sekali. Ini kesempatan yang baik untuk MOSS,’ kemudian meeting kami berakhir setelah Tante Renata menghabiskan tehnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang sulit dihadapi justru adalah Simon dan sikap dinginnya yang membekukan suasana di antara kami sepanjang perjalanan kembali ke MOSS. Lelaki itu bungkam cukup lama. Ketika akhirnya dia bersuara, yang diucapkannya kepadaku adalah tudingan bernada sinis.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;“Apa-apaan kau tadi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jeep yang kami naiki berhenti bergerak hanya seratus meter dari MOSS, terjebak lalu lintas Pakubuwono yang luar biasa padat menjelang akhir jam kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menghela napas panjang sebelum menjawab, mempersiapkan diri sendiri, karena aku tahu pembicaraan ini tidak akan menyenangkan. Kemudian, kataku, “Untuk urusan desain, aku tidak mau kompromi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat Simon mengernyit. “Kompromi? Mendesain rumah mediteran untuk klien kita kau sebut kompromi?” tanyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau punya sebutan lain?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita arsitek, Mahoni. Kita mendesain sesuai harapan klien. Itu yang kita lakukan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menggelengkan kepala. “Bukan begitu cara kerjaku di Virginia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, oke. Jadi, semua arsitek di Virginia senang menolak klien seperti dirimu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau ya, lalu kenapa? Aku tidak melihat ada yang salah dengan itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simon tertawa mencemooh. “Kau tidak melihat ada yang salah dengan itu,” ledeknya seraya membeo perkataanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya. Apa artinya mendesain sesuatu yang tidak sesuai dengan hati kita?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa yang peduli? Ini bukan tentang kau, Mahoni. Bukan rumahmu yang sedang kau desain dan bukan kau yang akan tinggal di dalamnya. Keinginanmu sama sekali tidak penting.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mendesah. Tidak ada titik temu dalam perdebatan ini, aku menyadari itu. Kulempar pandanganku keluar melalui jendela. Kulihat barisan kendaraan di sebelah kiriku mulai bergerak, kemudian mobil kami ikut melaju secara perlahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang membuat aku kesal bukanlah kata-kata Simon yang tajam, melainkan pola pikirnya yang tidak bisa kupahami. Simon yang dahulu kukenal sangat idealis. Dia tidak menyukai kompromi, sama seperti aku, dan dia tidak pernah takut untuk berkata tidak meski itu kerap menciptakan lawan. Tetapi, lelaki yang berada di sebelahku saat ini benar-benar berbeda. Aku tidak lagi dapat mengenalinya dan itu membuatku...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kecewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*taken from Anemone, chapter "Eisenman".&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/636522176026931424-5791837931002869598?l=miss-worm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miss-worm.blogspot.com/feeds/5791837931002869598/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=636522176026931424&amp;postID=5791837931002869598&amp;isPopup=true' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/5791837931002869598'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/5791837931002869598'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miss-worm.blogspot.com/2011/07/eisenman.html' title='Eisenman'/><author><name>windry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13072319767836551821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R85FBcecQ6I/AAAAAAAAAXw/dACfoIQUsWA/S220/she_was_buried_alive__by_cryptorchid.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-636522176026931424.post-325393590042832426</id><published>2011-07-08T09:10:00.004+07:00</published><updated>2011-07-08T09:18:40.034+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of drafts'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of words'/><title type='text'>Rute Yang Sama, Kali Kedua</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perjalanan pulang ke rumah Papa tidak selama dan serumit seperti yang kami tempuh ketika berangkat. Aku sempat mengira Sigi sengaja mengambil rute yang berbeda, yang lebih dekat dan sederhana, tetapi sepertinya tidak. Kami melewati blok yang sama, yang memiliki barisan rumah seragam dengan nuansa warna pastel dan bak tanaman di bawah setiap jendela, juga sebuah tanah kosong yang digunakan sebagai tempat bermain oleh anak-anak kecil, serta polisi tidur yang dicat selang-seling putih-kuning.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Benar. Itu rute yang sama, yang semula terkesan membingungkan. Kini jalur tersebut telah menjadi familier.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali memang seperti itu. Kali kedua selalu terasa lebih ringan.&lt;br /&gt;Sama halnya dengan aku dan Sigi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali kedua kami berada di satu ruangan yang sama, yakni ketika aku mengajaknya makan malam dan memaksanya menelan salad sayur di hadapanku, aku tidak merasa begitu gusar lagi. Dia pun tidak sekikuk sebelumnya. Seolah-olah, bagian yang paling sulit telah berhasil kami lewati, yaitu memulai, dan –entah bagaimana– aku belajar menerima keberadaannya. Bukan berarti aku telah menganggapnya sebagai adik –itu tidak akan pernah terjadi. Katakan saja, aku bisa bernapas di sebelahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski demikian, hubungan kami tidak sesederhana itu. Tidak, apa yang terjadi di antara kami tidak akan pernah sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang disebut sebagai ‘jarak’ tetap ada, tidak dapat hilang. Aku duduk di ruang makan sementara Sigi menyantap pastanya di ruang keluarga, di hadapan televisi. Kami juga tidak banyak bicara. Lebih tepatnya, kami tidak bicara sama sekali kecuali, “Gue ngga suka sayur,” dan, “Aku tidak peduli.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kuingat-ingat kembali, seperti itu pula di sepanjang jalan ke Indomart tadi. Aku berjalan tiga meter di belakangnya dan mengatur kecepatan langkahku sedemikian rupa agar jarak di antara kami tetap terjaga. Jika dia mempercepat gerak, aku tidak bergegas mengejarnya. Jika dia melambat, aku pun melangkah lebih pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya. Demi Mae, jarak itu harus tetap ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*taken from Anemone, chapter "Rute Yang Sama, Kali Kedua".&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/636522176026931424-325393590042832426?l=miss-worm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miss-worm.blogspot.com/feeds/325393590042832426/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=636522176026931424&amp;postID=325393590042832426&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/325393590042832426'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/325393590042832426'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miss-worm.blogspot.com/2011/07/rute-yang-sama-kali-kedua.html' title='Rute Yang Sama, Kali Kedua'/><author><name>windry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13072319767836551821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R85FBcecQ6I/AAAAAAAAAXw/dACfoIQUsWA/S220/she_was_buried_alive__by_cryptorchid.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-636522176026931424.post-216706463529891430</id><published>2011-05-16T16:05:00.003+07:00</published><updated>2011-05-16T16:19:21.844+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of minds'/><title type='text'>Blabbering: Some Stuffs and Twitterland</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;[text in bahasa]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini Mei dan draf buku ketiga saya belum selesai. Ternyata tidak mudah menulis sambil menjadi seorang ibu. Saya tidak sedang mengeluh, hanya mengutarakan apa yang sedang ada di pikiran saya. Saya ingat betapa cepatnya saya menulis dua novel sebelumnya: Orange dan Metropolis. Kini, setelah empat bulan, Anemone atau Home atau entah apa judul yang paling tepat untuk buku ini, baru di titik enam belas ribu kata.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kabar baiknya, Anemone bukanlah satu-satunya buku yang sedang saya tulis. Saya berencana mengembangkan cerpen lama "Sakura Di Bulan April" menjadi novel (dan memang sudah dilakukan). Sejujurnya, ada beberapa cerpen saya yang sudah direncanakan demikian. Misalnya, Singin' In The Rain. Kucing Hitam, Lelaki Asing, dan Hujan Setempat. Lalu, masih ada rencana meneruskan "The Boy In Yellow Sweater" yang akan dirombak bersetting Indonesia dan ditulis dengan dua sudut pandang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, kabar baiknya, saya punya begitu banyak rencana. Sisi lain kepingan uang, saya belum bisa mewujudkan itu dalam waktu dekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak, ini bukan penyesalan atau keluhan. Menulis bukanlah satu-satunya dunia yang saya miliki. Balerina telah mencuri porsi yang demikian besar, sehingga untuk sementara menulis menjadi sesuatu yang bukan prioritas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus diakui, ada sejumput perasaan tidak sabar setiap melihat draf yang berkembang teramat lamban, namun saya selalu percaya: segala hal selalu terjadi tepat pada waktunya, tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat, dengan demikian hal itu menjadi sangat indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NB: akhirnya saya bermain juga di dunia twitter. Sebagai @windryramadhina.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/636522176026931424-216706463529891430?l=miss-worm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miss-worm.blogspot.com/feeds/216706463529891430/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=636522176026931424&amp;postID=216706463529891430&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/216706463529891430'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/216706463529891430'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miss-worm.blogspot.com/2011/05/blabbering-some-stuffs-and-twitterland.html' title='Blabbering: Some Stuffs and Twitterland'/><author><name>windry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13072319767836551821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R85FBcecQ6I/AAAAAAAAAXw/dACfoIQUsWA/S220/she_was_buried_alive__by_cryptorchid.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-636522176026931424.post-2144934743189117403</id><published>2011-05-16T15:45:00.003+07:00</published><updated>2011-05-16T15:48:37.888+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of drafts'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of words'/><title type='text'>Ketukan Palu dan Aroma Pelitur</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dahulu ketukan palu kerap membangunkan aku pada pagi hari. Bunyi dua logam yang saling bertumbuk itu terdengar berulang-ulang dengan irama yang tetap dan perlahan-lahan merenggut aku keluar dari mimpi. Biasanya, tanpa menunggu kesadaran terkumpul sepenuhnya, aku akan langsung turun dari tempat tidur, lalu berjalan keluar kamar dengan langkah yang gontai dan menuruni tangga sambil menguap. Di depan ruang makan aku berbelok. Sepasang kakiku yang telanjang melintasi halaman belakang, membawaku ke bengkel kerja Papa, dari mana ketukan-ketukan berasal.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;‘Pagi, Mahoni,’ begitu Papa akan menyapaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seringkali dia masih mengenakan pakaian tidur, sama seperti aku, dan rambutnya berantakan. Meski demikian Papa selalu tampak segar di hadapan semua papan dan balok kayu yang akan dibentuknya menjadi mebel. Wajahnya berseri-seri, matanya berbinar, dan senyumnya merekah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai balasan, aku mengangguk dan menyapa balik, meskipun terkadang omonganku tertahan di dalam mulut atau malah tertelan lagi karena aku tidak juga berhenti menguap. Setelah itu aku menaiki tempat dudukku yang biasa, sebuah kotak kayu besar di dekat pintu, dan bersandar malas pada dinding bambu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setengah sadar aku menemani Papa. Ketukan-ketukan palu memanjakan pendengaranku dan aroma pelitur menggantikan wangi potpourri pemberian Mae yang biasa menemani aku tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&lt;span style="font-style: italic;"&gt;taken from Anemone, chapter Ketukan Palu dan Aroma Pelitur&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/636522176026931424-2144934743189117403?l=miss-worm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miss-worm.blogspot.com/feeds/2144934743189117403/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=636522176026931424&amp;postID=2144934743189117403&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/2144934743189117403'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/2144934743189117403'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miss-worm.blogspot.com/2011/05/ketukan-palu-dan-aroma-pelitur.html' title='Ketukan Palu dan Aroma Pelitur'/><author><name>windry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13072319767836551821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R85FBcecQ6I/AAAAAAAAAXw/dACfoIQUsWA/S220/she_was_buried_alive__by_cryptorchid.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-636522176026931424.post-4113388698797107806</id><published>2011-05-16T15:38:00.006+07:00</published><updated>2011-05-16T21:32:50.974+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of drafts'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of words'/><title type='text'>Semburat Merah dan Sepiring Pancake Pastrami</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku menatap perempuan itu seraya tersenyum tipis. Ada sejumput rasa kecewa di hatiku ketika mendengar perkataannya barusan. Jadi, benar. Simon dan Sofia memiliki hubungan khusus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah sejauh apa hubungan mereka? Apa mereka tinggal bersama? Pertanyaan itu kembali melintas di benakku. Sofia memang tidak menyambutku dengan piyama atau kemeja milik Simon yang kebesaran di tubuhnya, melainkan tunik ungu berpayet yang benar-benar cantik, tetapi perempuan itu tahu letak semua barang di pantri dan aku tidak melihat ada mobil lain di pelataran.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;“Sejak dulu dia memang jagonya makan mi instan,” aku memberi tanggapan setelah sempat terdiam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Giliran Sofia yang menatapku. “Oh ya, kau teman kuliah Simon di UI.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, kami satu kelas.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seperti apa dia dulu?” tanya Sofia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak jauh beda dengan sekarang. Berantakan dan sinis,” jawabku, “Kurasa dalam dua hal itu dia tidak akan berubah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sofia tertawa, membenarkan perkataanku. “Tapi, justru karena itu dia menarik,” katanya, “Setidaknya, bagiku.” Rona wajah Sofia bersemu merah. Meski hanya sedikit dan tampak samar karena polesan dadu keungu-unguan di pipinya, tetapi cukup untuk menggambarkan perasaannya dengan jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak menanggapinya. Lagi-lagi ucapan Sofia membuatku merasa tidak nyaman, sama halnya dengan senyum dan sikap malu-malu yang tengah dia perlihatkan. Buru-buru kualihkan pandangan keluar jendela, lalu kuhirup minumanku dalam diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika itulah pintu depan terbuka dan sang pemilik rumah menampakkan diri. Lelaki itu muncul sambil menenteng tas plastik hitam. Dia tertegun beberapa saat di batas ruangan. Sepasang matanya tertuju ke arahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei,” sapa Sofia, “dari mana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simon menunjukkan plastik di tangannya. “Beli sarapan,” jawabnya. Dia memasuki ruangan, lalu ikut duduk bersama kami. Pandangannya belum beranjak dariku. “Hai, Mahoni.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menjawab sapaan itu dengan senyum hambar, canggung berada dalam situasi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Beli apa?” tanya Sofia. “Padahal, aku masak untukmu.” Sofia mengambil alih plastik yang dibawa oleh Simon dan mengeluarkan kotak berbahan stirin dari dalam plastik itu. Dia membuka wadah tersebut, lalu aroma kelapa dan daun salam pun menyeruak keluar. “Ini nasi uduk mana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nasi uduk yang biasa,” jawab Simon. Dia mengalihkan perhatiannya kepada Sofia. “Aku tidak tahu kau akan masak. Bukannya kau ada meeting pagi? Sudah ambil mobil di bengkel?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Belum.” Sofia melirik jam di tangannya. “Aku jalan sekarang, kalau begitu.” Dia bangkit berdiri dan meraih tas Guess ungu yang sejak tadi tergeletak di dekat meja. Setelah memberi Simon kecupan perpisahan di pipi dan pamit sekadarnya kepadaku, perempuan itu menghilang di balik pintu. Bunyi sepatu yang beradu dengan anak tangga besi mengiringi kepergiannya, semakin lama terdengar semakin samar, lalu menyisakan senyap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simon berdeham. “Pagi amat kau datang,” sindirnya. “Adikmu tidak apa-apa ditinggal sendiri?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sigi? Dia baik-baik saja,” aku menjawab acuh tak acuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lawan bicaraku tidak menanggapi balik, hanya mengangguk-angguk sambil membawa piring di hadapannya mendekat. Dia mengambil selembar pancake dan menumpuk beberapa potong pastrami di atasnya. Setelah menaburkan bubuk merica dalam jumlah yang sangat banyak, dia menggulung kue dadar itu hingga menyerupai kebab berisi pastrami, lalu melahap habis makanan di tangannya hanya dengan beberapa gigitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi,” aku mengubah topik pembicaraan, “kau tidak makan mi instan lagi sekarang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, begitulah. Kenapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sepertinya Sofia mengurusmu dengan baik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simon menatapku. Dahinya berkerut dan sorot matanya penuh selidik. Aku tahu dia sedang mencoba membaca pikiranku. “Kami tidak seperti yang kau pikirkan,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memangnya apa yang kupikirkan?” tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku dan Sofia tidak tinggal bersama,” jawab Simon. “Kami memang punya hubungan khusus tapi ini Jakarta, Mahoni, bukan Virginia. Sofia sering datang pagi-pagi, membangunkan aku, memasakkan sarapan. Dia juga bermalam sesekali kalau ada deadline. Itu saja, tidak lebih.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tertawa pahit. “Hubungan kalian lebih dari itu juga tidak apa-apa. Serius, Simon. Kau tidak perlu mengklarifikasi apapun.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memang tidak, tetapi barusan kau ‘bertanya’, maka kujawab.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bertanya apa? Aku tidak–.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masa? ‘Sepertinya Sofia mengurusmu dengan baik’ bukan pertanyaan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terdiam, tidak bisa menyangkal lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, okelah. Kuakui, aku memang bertanya secara tersirat. Aku menginginkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang tengah memenuhi benakku, pertanyaan-pertanyaan yang hadir karena Sofia, seakan-akan aku terusik oleh keberadaan perempuan itu di dalam kehidupan Simon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, penjelasan Simon barusan sama sekali tidak membuatku merasa lebih baik, justru memperbesar kekecewaan yang sebelumnya telah ditorehkan oleh Sofia melalui semburat merah di wajahnya dan sepiring pancake pastrami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang tidak kupahami, mengapa aku harus merasa kecewa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;*taken from Anemone, chapter Sisa Selada di Piring&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/636522176026931424-4113388698797107806?l=miss-worm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miss-worm.blogspot.com/feeds/4113388698797107806/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=636522176026931424&amp;postID=4113388698797107806&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/4113388698797107806'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/4113388698797107806'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miss-worm.blogspot.com/2011/05/semburat-merah-dan-sepiring-pancake.html' title='Semburat Merah dan Sepiring Pancake Pastrami'/><author><name>windry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13072319767836551821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R85FBcecQ6I/AAAAAAAAAXw/dACfoIQUsWA/S220/she_was_buried_alive__by_cryptorchid.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-636522176026931424.post-2193138688907716507</id><published>2011-03-11T09:36:00.003+07:00</published><updated>2011-03-11T09:41:51.951+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of drafts'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of words'/><title type='text'>Sigi, Kayu Damar</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sigi lahir enam belas tahun yang lalu, sekitar satu tahun setelah Papa dan Mae berpisah serta tidak lagi saling bicara, apalagi bertemu. Aku tahu lewat sepucuk surat yang dikirimkan oleh Papa. Surat itu kutemukan terserak di depan pintu rumah Mae di Bandung, ketika aku pulang dari sekolah dan Mae sedang keluar untuk menyiapkan peluncuran novel terbaru miliknya.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sesekali, memang, Papa menghubungiku. Jika tidak mengirimkan surat, dia akan menelepon untuk menanyakan kabar terbaru mengenai diriku yang dia lewatkan. Meskipun situasi telah berbeda dan ada kecanggungan yang tidak dapat dihindari, ketika itu aku selalu menunggu-nunggu telepon dan surat Papa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, surat itu datang.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;‘Mahoni sayang,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ada kabar gembira. Sekarang kau punya adik lelaki. Papa memberinya nama Sigi, seperti sebutan orang-orang Sumatera untuk kayu damar. Dia kecil sekali, lebih kecil darimu ketika kau lahir. Rambutnya halus dan tipis. Matanya mirip mata Grace.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Papa ingin mengajakmu bertemu dengannya.'&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;*taken from Anemone, chapter 'Sigi'.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/636522176026931424-2193138688907716507?l=miss-worm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miss-worm.blogspot.com/feeds/2193138688907716507/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=636522176026931424&amp;postID=2193138688907716507&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/2193138688907716507'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/2193138688907716507'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miss-worm.blogspot.com/2011/03/sigi-kayu-damar.html' title='Sigi, Kayu Damar'/><author><name>windry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13072319767836551821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R85FBcecQ6I/AAAAAAAAAXw/dACfoIQUsWA/S220/she_was_buried_alive__by_cryptorchid.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-636522176026931424.post-8593612204041231122</id><published>2011-03-06T22:41:00.002+07:00</published><updated>2011-03-06T22:44:43.089+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of drafts'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of words'/><title type='text'>JPC, Di Mana Aku Berdiri Dungu Memandangi D3 Beberapa Hari Lalu</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Butuh waktu satu minggu bagiku untuk melupakan rasa jengkel yang disebabkan Haru Enomoto. Beberapa hari aku tidak ke kampus. Ya, aku tahu itu bukan cara yang baik untuk memulai semester, tetapi siapa yang peduli? Aku jalan-jalan ke Kemang, ke JPC, toko kamera paling lengkap di Jakarta. Tidak ada yang kubeli. Selama beberapa jam aku hanya berputar-putar di dalam toko itu, membaur dengan puluhan maniak fotografi yang sama gilanya denganku –bedanya, mereka berkantong tebal.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Nikon D3 yang kuidam-idamkan masih tidak terjangkau. Well, selama aku masih kuliah dan belum bekerja, kamera SLR digital itu tidak akan pernah terjangkau. Masalahnya, menyelesaikan kuliah di Departemen Arsitektur tidak gampang, nyaris mustahil bagiku. Bukan berarti aku bodoh atau standar departemen tersebut terlalu tinggi. Aku tidak merasa ‘klik’ dengan arsitektur, itu sebabnya. Malah, kalau bisa, aku lebih memilih DO daripada menghabiskan dua tahun lagi bergelut dengan AutoCad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Omong-omong, kembali ke JPC di mana aku berdiri dungu memandangi D3 beberapa hari lalu, aku bertemu dengan Erod Matin di sana. Salah satu fotografer terbaik Asia itu memasuki toko tepat ketika aku hendak pergi. Dia duduk lama di hadapan salah satu meja panjang berbentuk boks kaca berisi bermacam-macam aksesoris kamera, ditemani seorang perempuan yang sedikit lebih muda. Mereka memilih dan mencoba ini-itu dan membeli semua yang terbaru, bikin aku iri. Tapi, bukan itu yang penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang penting adalah apa yang kudengar ketika itu. Dengan masuknya Erod Matin ke JPC, aku batal pergi dan malah duduk selang satu kursi darinya. Norak sih, tetapi bertemu dengan fotografer betulan dan, tidak tanggung-tanggung, Erod Matin pula merupakan kesempatan langka. Dengan jarak sedekat itu, aku bisa mendengar dengan jelas pembicaraan yang terjadi antara Erod Matin dan teman perempuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;* taken from Sakura Haru, chapter 'Haru, Si Kepala Angin'.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/636522176026931424-8593612204041231122?l=miss-worm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miss-worm.blogspot.com/feeds/8593612204041231122/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=636522176026931424&amp;postID=8593612204041231122&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/8593612204041231122'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/8593612204041231122'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miss-worm.blogspot.com/2011/03/jpc-di-mana-aku-berdiri-dungu.html' title='JPC, Di Mana Aku Berdiri Dungu Memandangi D3 Beberapa Hari Lalu'/><author><name>windry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13072319767836551821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R85FBcecQ6I/AAAAAAAAAXw/dACfoIQUsWA/S220/she_was_buried_alive__by_cryptorchid.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-636522176026931424.post-8150424657343194412</id><published>2011-03-06T22:34:00.001+07:00</published><updated>2011-03-06T22:37:38.382+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of drafts'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of words'/><title type='text'>Jendela Putih di Kejauhan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jendela itu terlihat cukup jelas dari kamar ini. Bingkainya putih. Letaknya di seberang sungai kecil yang membentang di sebelah barat rumah Papa, di muka sebuah hunian bergaya mediteran yang dindingnya hijau telur asin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahulu sepasang suami istri dan seorang anak mereka, anak perempuan yang sebaya denganku, kerap berkumpul di baliknya, di ruangan berdinding warna mentega dan bertegel merah muda. Mereka duduk bersama di satu set sofa berlapis kain bunga-bunga; mengobrol, menonton televisi, membaca majalah, mengupas dan memakan apel, atau terkadang bertengkar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasangan suami istri itu kini sudah tidak ada, tersisa anak mereka yang telah dewasa, menikah, serta memiliki dua balita kembar. Dia mengganti warna dinding ruangan menjadi serupa dengan dinding luar, sofa bunga-bunga menjadi perabot kayu, dan lantai semen menjadi lantai keramik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski demikian, yang terlihat di balik jendela putih itu masih sama: sepasang suami istri dan anak mereka duduk bersama di meja makan; mengobrol, menikmati makanan rumahan, mengoper piring lauk, berebut semangka, dan bertengkar karena itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka menjadi keluarga, sesuatu yang tidak pernah benar-benar kumiliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;* taken from Anemone, chapter 'Jendela Putih Di Kejauhan'.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/636522176026931424-8150424657343194412?l=miss-worm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miss-worm.blogspot.com/feeds/8150424657343194412/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=636522176026931424&amp;postID=8150424657343194412&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/8150424657343194412'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/8150424657343194412'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miss-worm.blogspot.com/2011/03/jendela-putih-di-kejauhan.html' title='Jendela Putih di Kejauhan'/><author><name>windry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13072319767836551821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R85FBcecQ6I/AAAAAAAAAXw/dACfoIQUsWA/S220/she_was_buried_alive__by_cryptorchid.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-636522176026931424.post-2374725155954506736</id><published>2011-02-23T00:27:00.003+07:00</published><updated>2011-02-23T00:35:48.258+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of drafts'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of words'/><title type='text'>Halo</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku mendaki perpustakaan kampus yang masih setengah jadi sembari memanggul tripod. Tali poliester Nikon yang kumal membelit tubuhku sementara F5 bergelantung setinggi dada dan berayun-ayun mengiringi gerak yang kulakukan. Kedua kakiku melangkah cepat dan lebar, melewati dua-tiga anak tangga sekaligus, menimbulkan kegaduhan setiap menapak di permukaan pelat baja yang biru terang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera setelah mencapai puncak gedung, aku mendirikan tripod di tepi atap beton yang datar, memasang F5, lalu mengintip matahari di sebelah barat yang terik melalui &lt;span style="font-style: italic;"&gt;view finder.&lt;/span&gt; Jari-jariku mengatur diafragma dan fokus lensa kamera dengan gerakan memutar yang perlahan. Refleksi buram yang tertangkap pun berubah menjadi jernih. Aku meraih tombol &lt;span style="font-style: italic;"&gt;shutter&lt;/span&gt;, menekannya setengah, dan....&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ah, sial! CPL belum terpasang. Sube meminjam kamera ini dua hari yang lalu dan Jerman Makassar yang melankolis itu selalu melepas semua filter setiap kali dia selesai memotret.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menggerutu, aku merogohkan tangan ke dalam tas kecil yang melingkar di pinggangku dan mengambil sebuah filter. Kutempelkan benda bulat pipih tersebut pada lensa. Ketika aku mengintip melalui &lt;span style="font-style: italic;"&gt;view finder&lt;/span&gt; sekali lagi, obyek yang ingin kupotret malah terlihat tidak berwarna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya ampun! Demi D3 yang kuidam-idamkan, ini B+W! Lekas kucopot filter yang salah pasang itu, kemudian kuganti dengan yang seharusnya. Mataku mengamati awan kelabu di kejauhan yang bergerak mendekat. Perasaanku pun mulai gusar, takut kehilangan momen yang bisa berakhir setiap saat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan turun kemarin sore dan tidak berhenti hingga menjelang pagi. Semalaman aku menggigil di balik selimut, dengan sweter dan kaos kaki membungkus tubuh. Beberapa tahun lalu, pada satu malam, Jakarta mengalami cuaca yang serupa, lalu pada keesokan harinya matahari muncul tidak biasa –seperti siang ini. Sebuah cincin yang pendarnya menyerupai pelangi mengelilingi bintang raksasa itu. Pakar geografi menyebutnya Halo. Aku menamainya diamante.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahulu aku tidak siap, tetapi kali ini tidak akan kubiarkan F5-ku melewatkan kesempatan langka. Maka, aku mulai mengambil gambar. Suara &lt;span style="font-style: italic;"&gt;shutter&lt;/span&gt; yang membuka dan menutup mengiringi setiap jepretan. Iramanya begitu asyik di telinga, menyihir seperti candu yang bikin ketagihan. Rol film pertama habis dalam beberapa menit. Aku baru akan memasang film kedua ketika ponsel di saku celanaku berbunyi –dan bergetar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengganggu saja!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku buru-buru mengeluarkan ponsel itu dari saku. Kutekan tombol hijau di bawah layar, kuletakkan ponsel itu di tanah, kemudian aku kembali memotret.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara Sube dengan logat Makassarnya yang khas terdengar samar-samar. “Bao! Di mana lo? Lo dicari Pak Ii.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak menjawab. Perhatianku masih tertuju sepenuhnya kepada F5 dan obyek di hadapanku. Suara &lt;span style="font-style: italic;"&gt;shutter&lt;/span&gt; berkelanjutan. Aku mengubah sudut pandang, diafragma, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;zoom&lt;/span&gt;; mengambil gambar dengan teknik yang berbeda-beda; bereksperimen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Sube terus saja menyerocos. “Bao! Kata Pak Ii, lo belum perwalian. Hari ini terakhir. Lo harus nyerahin daftar mata kuliah lo sebelum jam empat. Bao? Lo dengar ngga?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sube terdiam sejenak. “Itu suara &lt;span style="font-style: italic;"&gt;shutter&lt;/span&gt;, ya? Lo lagi hunting?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iya, Bule. Karena itu, diam!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lo hunting di mana? Gila, lo! Ini sudah setengah empat. Lo niat kuliah ngga sih?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejujurnya? Persetan dengan kuliah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*taken from Sakura Haru, chapter 'Sakura Dalam Bingkai'.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/636522176026931424-2374725155954506736?l=miss-worm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miss-worm.blogspot.com/feeds/2374725155954506736/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=636522176026931424&amp;postID=2374725155954506736&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/2374725155954506736'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/2374725155954506736'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miss-worm.blogspot.com/2011/02/halo.html' title='Halo'/><author><name>windry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13072319767836551821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R85FBcecQ6I/AAAAAAAAAXw/dACfoIQUsWA/S220/she_was_buried_alive__by_cryptorchid.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-636522176026931424.post-2238478893360780941</id><published>2011-02-23T00:18:00.004+07:00</published><updated>2011-02-23T00:26:37.758+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of drafts'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of words'/><title type='text'>Seorang Gehry</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selama di Amerika aku menghabiskan hampir seluruh akhir mingguku di Aula Konser Walt Disney dan EMPISFM. Aku bukan penggemar Los Angeles Philharmonic, Jimi Hendrix, apalagi George Lucas. Aku ke sana untuk menikmati setiap ruang dan bentuk, sembari mengambil beberapa foto atau membuat sebuah sketsa.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ron, aku terobsesi dengan Frank O. Gehry, lelaki eksentrik yang mendesain dua bangunan tersebut. Barangkali Ron benar, tetapi memangnya siapa yang tidak tergila-gila dengan Gehry? Dia arsitek paling spektakuler saat ini. Dia mendapat Pritzker Price dan karya terbesarnya, Guggenheim, merupakan ‘momen langka dalam dunia arsitektur’, ketika kritikus, akademisi, dan orang awam memiliki pendapat yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Omong-omong, Guggenheim adalah sebuah museum yang terletak di tepi Sungai Nervion di Bilbao, Spanyol. Wujudnya seperti sculpture raksasa dari lempengan-lempengan logam setinggi balasan meter yang dilekuk-lekukkan, lalu disusun menjadi satu kesatuan secara intuitif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arsitek-arsitek terbaik dunia setingkat I.M. Pei dan Norman Foster memperebutkan tender bangunan itu belasan tahun yang lalu. Mereka menyiapkan maket berskala kecil yang memperlihatkan setiap detail dan puluhan lembar gambar komputer. Sementara itu, Gehry datang pada penghujung hari membawa maket studi yang dibentuknya dari potongan-potongan karpet. Maket itu mirip gumpalan kain sisa industri garmen, namun justru Gehry yang berhasil memenangkan tender.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, impresif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lucunya, selalu ada satu atau dua orang yang seperti Gehry di dekat kita –jumlahnya tidak akan banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;*taken from Anemone, chapter 'Seorang Gehry'.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/636522176026931424-2238478893360780941?l=miss-worm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miss-worm.blogspot.com/feeds/2238478893360780941/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=636522176026931424&amp;postID=2238478893360780941&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/2238478893360780941'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/2238478893360780941'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miss-worm.blogspot.com/2011/02/seorang-gehry.html' title='Seorang Gehry'/><author><name>windry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13072319767836551821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R85FBcecQ6I/AAAAAAAAAXw/dACfoIQUsWA/S220/she_was_buried_alive__by_cryptorchid.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-636522176026931424.post-4528852123208191252</id><published>2011-01-19T23:38:00.004+07:00</published><updated>2011-01-19T23:45:42.345+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of drafts'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of words'/><title type='text'>Dari Balik Pintu Mahoni</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Melalui kaca jendela yang diselimuti titik air, dari dalam taksi yang bergerak lambat memasuki pelataran, aku melihat rumah masa kecilku tidak banyak berubah. Hunian dua lantai itu nyaris sama seperti ketika kutinggalkan dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dinding bangunan masih bercat salem muda, meski kini warna itu sedikit memudar, sementara atapnya beton terakota. Di sisi muka terdapat pintu dua daun berwarna jingga yang dilengkapi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;door knocker&lt;/span&gt; klasik dari perunggu. Di sisi lain sejumlah kusen jendela dipelitur tipis kecokelatan, menampakkan urat jati tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu-satunya hal yang berbeda hanyalah nama-nama yang tertera pada pagar bata yang melingkari halaman. Namaku –dan nama Mae– tidak lagi ada di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*taken from &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Anemone&lt;/span&gt;, chapter 'Dari Balik Pintu Mahoni'.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/636522176026931424-4528852123208191252?l=miss-worm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miss-worm.blogspot.com/feeds/4528852123208191252/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=636522176026931424&amp;postID=4528852123208191252&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/4528852123208191252'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/4528852123208191252'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miss-worm.blogspot.com/2011/01/dari-balik-pintu-mahoni.html' title='Dari Balik Pintu Mahoni'/><author><name>windry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13072319767836551821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R85FBcecQ6I/AAAAAAAAAXw/dACfoIQUsWA/S220/she_was_buried_alive__by_cryptorchid.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-636522176026931424.post-3164091391379127245</id><published>2010-09-04T09:00:00.002+07:00</published><updated>2010-09-04T09:01:41.399+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of minds'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of papers'/><title type='text'>Rahasia Si Burung Kecil</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;[text in bahasa]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika anda adalah saya, atau anda suka berkarya pada waktu luang anda, atau anda tergila-gila dengan pita, atau anda hobi merajut dan menjahit, atau anda suka memasak apa saja yang baru, atau anda seorang scrapbooker,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mainlah ke &lt;a href="http://littlebirdiesecrets.blogspot.com/"&gt;sini&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*note: this post is part of 30 Days of MEME.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/636522176026931424-3164091391379127245?l=miss-worm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miss-worm.blogspot.com/feeds/3164091391379127245/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=636522176026931424&amp;postID=3164091391379127245&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/3164091391379127245'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/3164091391379127245'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miss-worm.blogspot.com/2010/09/rahasia-si-burung-kecil.html' title='Rahasia Si Burung Kecil'/><author><name>windry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13072319767836551821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R85FBcecQ6I/AAAAAAAAAXw/dACfoIQUsWA/S220/she_was_buried_alive__by_cryptorchid.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-636522176026931424.post-7374647960722134100</id><published>2010-09-04T08:58:00.000+07:00</published><updated>2010-09-04T08:59:50.366+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of minds'/><title type='text'>Matematika Kue Kering</title><content type='html'>[text in bahasa]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sejak kecil, saya sudah hapal aroma vanili dan butter yang berasal dari oven berisi kue kering. Setiap menjelang Hari Raya Ied, keluarga besar kami berkumpul di kediaman Mbah selama beberapa hari. Kami membuat kue kering bertoples-toples: rasa keju, kenari, cokelat, gula halus, nanas, dan oh pokoknya banyak!&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Semua resep kue berasal dari buku mungil bersampul merah milik Mbah, tertulis dalam bahasa Belanda campur Jawa. Hanya Mbah yang mengerti dan hanya beliau pula yang hapal seluruh isi buku itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berpuluh-puluh tahun membuat kue kering tidak membuat para Bude dan Bulek ikut hapal komposisi bahan masing-masing jenis kue kering. Ketika Mbah meninggal dan buku bersampul merah mendadak tidak dapat ditemukan, mereka semua kelimpungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lantas dijadikan narasumber baru adalah saya, gara-gara saya pernah tiga tahun bisnis kue kering saat masih duduk di bangku SMP dan karena saya dianggap satu-satunya yang masih hapal semua resep kue Mbah. Ya, dahulu memang saya berjualan dengan berbekal resep milik Mbah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka tidak tahu bahwa sesungguhnya saya tidak pernah menghapal resep-resep itu. Saya hanya paham matematika kue kering. Ada perbandingan tertentu yang lumayan baku -setidaknya bagi saya- dalam komposisi bahan kue kering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1kg tepung terigu berbanding 4 butir kuning telur (untuk beberapa resep, putih telur juga dipakai) berbanding 325gr margarin berbanding 175gr butter/mentega berbanding 2sdm susu bubuk berbanding 1/4sdt garam. Bahan-bahan khusus seperti keju, kenari, gula, dll biasanya mengambil perbandingan 1/5 komposisi tepung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sederhana, kan? Tapi, biar saja mereka tetap tidak tahu. Menyenangkan rasanya ditelepon banyak kerabat menjelang Ramadhan untuk memberi mereka resep -yang tidak pernah mereka catat secara betul setiap kali mendapatkannya, sehingga tahun berikutnya mereka terpaksa menelepon saya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat memasak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*note: this post is part of 30 Days of MEME.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/636522176026931424-7374647960722134100?l=miss-worm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miss-worm.blogspot.com/feeds/7374647960722134100/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=636522176026931424&amp;postID=7374647960722134100&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/7374647960722134100'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/7374647960722134100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miss-worm.blogspot.com/2010/09/matematika-kue-kering.html' title='Matematika Kue Kering'/><author><name>windry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13072319767836551821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R85FBcecQ6I/AAAAAAAAAXw/dACfoIQUsWA/S220/she_was_buried_alive__by_cryptorchid.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-636522176026931424.post-176777168276628654</id><published>2010-08-27T20:53:00.001+07:00</published><updated>2010-08-27T20:55:25.800+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of minds'/><title type='text'>Shopaholic</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;[text in bahasa]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam banyak kuisioner, ada pertanyaan mengenai hobi. Biasanya pilihan yang diberikan adalah: membaca, menonton, mendengarkan musik, atau -barangkali saja pilihan klise ini masih ada- filateli. Betapa membosankannya, tidak hanya ketika mendapatkan pertanyaan itu, tetapi juga saat saya harus memberikan jawaban.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Saya akui menonton dan membaca merupakan dua dari beberapa yang akan saya centang. Namun, sewaktu Bodyshop memberi pilihan 'belanja' sebagai jawaban atas pertanyaan yang sama, barulah saya merasa benar-benar dipahami. (Okelah, saya tahu itu hanya trik marketing -supaya mereka tahu harus meng-sms member yang mana ketika ada sale- tapi tetap saja itu membuat senang seorang shopaholic).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah sejak kapan, belanja telah menjelma hobi bagi saya. Saya senang window shopping dan sangat lemah terhadap tawaran sale. Setiap ada sale dan saya mengungkapkan itu kepada Gendut, Gendut akan bertanya, "Memangnya kalau ada sale, maka kamu harus beli?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jawab, "Tentu saja. Kapan lagi beli dengan harga dipotong sekian persen?" Akhir-akhir ini saya tahu, sejak saya punya toko online sendiri, 'sale' hanyalah sebutan belaka. Sesungguhnya tidak pernah ada sale. Itu hanya -sekali lagi- trik marketing.  Bahkan, saya sangat sering menerapkannya di toko saya. Luar biasa besarnya omzet toko saya ketika saya gelar 'sale' dan saya sama sekali tidak rugi, bahkan untung besar. Tapi, tetap saja, kegemaran yang tidak sehat ini tidak juga berhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, penyakit!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*note: this post is part of 30 Days of MEME.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/636522176026931424-176777168276628654?l=miss-worm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miss-worm.blogspot.com/feeds/176777168276628654/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=636522176026931424&amp;postID=176777168276628654&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/176777168276628654'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/176777168276628654'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miss-worm.blogspot.com/2010/08/shopaholic.html' title='Shopaholic'/><author><name>windry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13072319767836551821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R85FBcecQ6I/AAAAAAAAAXw/dACfoIQUsWA/S220/she_was_buried_alive__by_cryptorchid.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-636522176026931424.post-3188787108484273974</id><published>2010-08-26T22:12:00.003+07:00</published><updated>2010-09-26T18:35:24.078+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of minds'/><title type='text'>Kalau Memang Bakat itu Ada</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;[text in bahasa]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bisa banyak hal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum saya lanjutkan ocehan kali ini, mohon pahami bahwa saya tidak sedang menyombong. Bisa bukan berarti mahir. Saya sekadar dapat melakukannya saja. Ini dikarenakan saya mudah tertarik pada hal baru dan tidak pernah segan-segan mencoba -saya juga mudah sekali bosan setelahnya.&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bisa memasak berbagai varian spaghetti, kue kering, puding, serta kue pai. Saya juga bisa menulis: novel, skenario, esai. Saya bisa menggambar, membuat komik, mengarang cerita, mendesain ruang, menyutradarai operet dan film pendek, membuat berbagai bentuk jepit bayi, dan banyak lagi. Sekali lagi, bukan berarti saya mahir, bahkan tidak satu pun dari kemampuan yang disebutkan itu dapat disebut bakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bakat barangkali hanya dimiliki oleh Pavlova, Shakespeare, Urasawa, Burton, atau Mozart, jika memang bakat itu ada. Saya pribadi sudah sejak lama tidak memercayai keberadaan bakat. Bakat kerap dijadikan dalih, terutama oleh mereka yang gagal mencapai sesuatu. Banyak orang menyerah atas nama (tidak) berbakat, mundur secara mengherankan setelah menjelek-jelekkan diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pavlova melegenda pastinya bukan karena bakat, melainkan latihan yang keras secara terus menerus dalam waktu yang lama -disebut juga sebagai usaha atau kerja keras. Tentu sama halnya dengan nama-nama terkenal yang saya sebutkan tadi. Tidak ada manusia yang terlahir mahir memainkan musik atau berpuisi atau menggambar. Semua melalui proses panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau barangkali yang dimaksud dengan bakat adalah kerja keras. Jika memang begitu, jawaban saya untuk pertanyaan MEME kali ini adalah tidak ada. Saya tidak punya satu kebisaan yang diiringi dengan kerja keras setimpal usaha Pavlova.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*note: this post is part of 30 Days of MEME.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/636522176026931424-3188787108484273974?l=miss-worm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miss-worm.blogspot.com/feeds/3188787108484273974/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=636522176026931424&amp;postID=3188787108484273974&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/3188787108484273974'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/3188787108484273974'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miss-worm.blogspot.com/2010/08/kalau-memang-bakat-itu-ada.html' title='Kalau Memang Bakat itu Ada'/><author><name>windry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13072319767836551821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R85FBcecQ6I/AAAAAAAAAXw/dACfoIQUsWA/S220/she_was_buried_alive__by_cryptorchid.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-636522176026931424.post-1481513292958990329</id><published>2010-08-25T21:23:00.002+07:00</published><updated>2010-08-25T21:48:35.208+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of frames'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of minds'/><title type='text'>Ballerina, Donald, and Daisy</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;[text in bahasa]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang percaya bahwa apa yang kita sukai ketika hamil sesungguhnya adalah apa yang anak kita sukai kelak. Ada yang tiba-tiba saja harus makan telur asin setiap pagi padahal sebelumnya dia sama sekali tidak suka, itu semenjak dia hamil. Ketika si bayi dilahirkan, lalu tumbuh besar, anak itu menjelma penyuka telur asin. Dan, masih banyak cerita serupa yang menjadi bukti empiris teori di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang akan saya ceritakan ini juga bukti empiris&lt;span id="fullpost"&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika perut saya besar, kecintaan saya kepada buku teks menguap begitu saja. Saya lebih suka membaca buku cerita bergambar yang jauh lebih ringan dan tidak menambah mual harian. Secara spesifik, saya mendadak menggemari majalah Donal Bebek langganan Gendut dan tiada hari tanpa Donal, Kwik-Kwek-Kwak, Desi, juga Gober.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Maka, ketika Balerina sudah lancar merangkak dan keterampilan tangannya meningkat pesat (menjamah, meremas, menyobek) serta memasuki fase oral (mengunyah apa pun yang dia temukan), majalah-majalah milik ayahnya menjadi korban. Kami mempunyai kotak majalah di sisi tempat tidur. Ada Rumah Ide di sana, pun Mother &amp;amp; Baby, buku-buku dongeng Erlangga, Manjali dan Cakrabirawa, Kompas, Donal Bebek, dan lain-lain. Balerina senang mengambil sesuatu dari kotak itu, namun Donal Bebek adalah pilihan utamanya. Ya, dia menyingkirkan yang lain, membuangkan ke lantai jika apa yang diraih oleh tangannya bukan Donal Bebek.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Barangkali kebetulan saja, mungkin itu disebabkan Donal Bebek penuh warna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu lalu kami mengajak Balerina ke Depok Town Square, Mall padat yang mirip ITC, yang saya datangi hanya karena di sana ada toko penjual keperluan scrapbook. Ketika melewati penjual boneka, Balerina tampak senang. Jelas sekali, dia menginginkan sesuatu. Ada boneka Donal dan Desi di sana. Saya ambilkan Desi untuk Balerina, karena boneka Donal terlalu besar ukurannya sementara Desi hanya setinggi dua puluh lima centi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Balerina tertawa geli ketika dihadapkan dengan Desi. Saya coba tawarkan boneka lain, seperti kucing, teddy bear, ulat, dan lain-lain, namun Balerina tidak suka. Saya sodorkan kembali Desi dan dia kembali tertawa. Maka, kami belikan dia Desi Bebek yang kemudian bulu matanya habis digerogoti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat, tidakkah keduanya mirip sekali? Seperti saudara kembar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/THUs9LZK_gI/AAAAAAAAAzY/_kBDDLQ_5hw/s1600/lala.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 256px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/THUs9LZK_gI/AAAAAAAAAzY/_kBDDLQ_5hw/s320/lala.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5509359148699680258" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;*note: this post is part of 30 Days of MEME.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/636522176026931424-1481513292958990329?l=miss-worm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miss-worm.blogspot.com/feeds/1481513292958990329/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=636522176026931424&amp;postID=1481513292958990329&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/1481513292958990329'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/1481513292958990329'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miss-worm.blogspot.com/2010/08/ballerina-donald-and-daisy.html' title='Ballerina, Donald, and Daisy'/><author><name>windry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13072319767836551821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R85FBcecQ6I/AAAAAAAAAXw/dACfoIQUsWA/S220/she_was_buried_alive__by_cryptorchid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/THUs9LZK_gI/AAAAAAAAAzY/_kBDDLQ_5hw/s72-c/lala.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-636522176026931424.post-6866614999241724527</id><published>2010-08-17T02:35:00.004+07:00</published><updated>2010-08-17T07:30:08.507+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of voids'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of sketches'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of minds'/><title type='text'>Hege's Art Pieces</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;[text in bahasa]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh,wow! Berapa hari saya berapa hari saya bolos MEME? Hampir seminggu -atau barangkali sudah seminggu? Ramadhan seharusnya menjadi bulan yang khusyuk dan tenang untuk saya. Dengan tujuan itulah saya menutup sementara Little Faye shop. Namun, sebuah order wholesale pada detik-detik terakhir menyita perhatian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Okelah, mari kita lewati sesi curhat dan kembali ke MEME. Hari ini saya diminta membahas sebuah karya seni. Agak bingung juga apa yang ingin saya tunjukkan kali ini. Saya sempat buka-buka folder picture untuk mencari sesuatu. Lalu, saya menemukan ini:&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/TGmTkN5XfuI/AAAAAAAAAzI/OxkPLBj7D18/s1600/boys+wall+art.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5506094269851991778" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/TGmTkN5XfuI/AAAAAAAAAzI/OxkPLBj7D18/s320/boys+wall+art.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/TGnW9eGYSQI/AAAAAAAAAzQ/gyMJlMifhDo/s1600/girls+wall+art.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5506168370977327362" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 240px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/TGnW9eGYSQI/AAAAAAAAAzQ/gyMJlMifhDo/s320/girls+wall+art.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dua karya Hege yang kami (Jendela Putih Studio) pergunakan sebagai wall art. Lukisan-lukisan itu dibuat pada 2008 (jika saya tidak salah mengingat), ketika klien kami meminta dinding kamar anak mereka dipenuhi gambar. Saya berpikir, dari pada kami mencomot gambar Winnie The Pooh atau Little Mermaid -yang klise dan membosankan, lebih baik membuat gambar baru yang eksklusif dan hanya dipakai dalam proyek tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hege menjadi pilihan pertama. Sempat terpikir meminta bantuan Malia, namun saya sudah kadung tertarik dengan gaya Hege. Dan, memang pada akhirnya dia tidak mengecewakan. Hasilnya seperti yang terlihat dalam foto-foto di atas. Orisinal, imajinatif, dan bikin ketagihan.Ingin rasanya ada klien serupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*note: this post is part of 30 Days of MEME.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/636522176026931424-6866614999241724527?l=miss-worm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miss-worm.blogspot.com/feeds/6866614999241724527/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=636522176026931424&amp;postID=6866614999241724527&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/6866614999241724527'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/6866614999241724527'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miss-worm.blogspot.com/2010/08/heges-art-pieces.html' title='Hege&apos;s Art Pieces'/><author><name>windry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13072319767836551821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R85FBcecQ6I/AAAAAAAAAXw/dACfoIQUsWA/S220/she_was_buried_alive__by_cryptorchid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/TGmTkN5XfuI/AAAAAAAAAzI/OxkPLBj7D18/s72-c/boys+wall+art.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-636522176026931424.post-6390759144174699868</id><published>2010-08-12T21:24:00.004+07:00</published><updated>2010-08-12T22:40:55.323+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of minds'/><title type='text'>You</title><content type='html'>MEME asks me the song that makes me cry. And it's You by Ten2Five but I will not tell you the reason. See you tomorrow with another MEME blog post.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*note: this post is part of 30 Days of MEME.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/636522176026931424-6390759144174699868?l=miss-worm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miss-worm.blogspot.com/feeds/6390759144174699868/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=636522176026931424&amp;postID=6390759144174699868&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/6390759144174699868'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/6390759144174699868'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miss-worm.blogspot.com/2010/08/you.html' title='You'/><author><name>windry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13072319767836551821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R85FBcecQ6I/AAAAAAAAAXw/dACfoIQUsWA/S220/she_was_buried_alive__by_cryptorchid.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-636522176026931424.post-3509706939683655991</id><published>2010-08-11T15:01:00.000+07:00</published><updated>2010-08-12T21:36:36.138+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of words'/><title type='text'>Again: Hydeist</title><content type='html'>Click &lt;a href="http://miss-worm.blogspot.com/2008/02/hydeist.html"&gt;here&lt;/a&gt; to read the fan fiction.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*this post is part of 30 Days of MEME.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/636522176026931424-3509706939683655991?l=miss-worm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miss-worm.blogspot.com/feeds/3509706939683655991/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=636522176026931424&amp;postID=3509706939683655991&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/3509706939683655991'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/3509706939683655991'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miss-worm.blogspot.com/2010/08/again-hydeist.html' title='Again: Hydeist'/><author><name>windry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13072319767836551821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R85FBcecQ6I/AAAAAAAAAXw/dACfoIQUsWA/S220/she_was_buried_alive__by_cryptorchid.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-636522176026931424.post-6690508211743367488</id><published>2010-08-10T16:51:00.001+07:00</published><updated>2010-08-11T19:39:47.713+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of minds'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of papers'/><title type='text'>Architecture in Transition: Between Deconstruction And New Modernism</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;[text in bahasa]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara kumpulan review buku saya di Goodreads, saya menemukan buku ini. Sesungguhnya saya tidak ingat sama sekali mengenai Architecture in Transition. Kemudian, untuk mengingatkan diri kembali, saya lirik review yang pernah saya tulis (entah kapan). Bunyinya begini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dekonstruksi: aksi mempreteli ponsel Anda sampai baut terakhir lalu menyusunnya kembali dan menghasilkan PDA.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Nu Modernisme: saya tidak habis pikir kenapa sms Esia kini dihargai satu rupiah per karakter.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hem. Entah apa yang saya bicarakan dalam review itu. Ada yang bisa membantu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*note: this post is part of 30 Days of MEME.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/636522176026931424-6690508211743367488?l=miss-worm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miss-worm.blogspot.com/feeds/6690508211743367488/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=636522176026931424&amp;postID=6690508211743367488&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/6690508211743367488'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/6690508211743367488'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miss-worm.blogspot.com/2010/08/architecture-between-deconstruction-and.html' title='Architecture in Transition: Between Deconstruction And New Modernism'/><author><name>windry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13072319767836551821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R85FBcecQ6I/AAAAAAAAAXw/dACfoIQUsWA/S220/she_was_buried_alive__by_cryptorchid.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-636522176026931424.post-913501489841859868</id><published>2010-08-09T21:23:00.006+07:00</published><updated>2010-08-09T21:33:17.670+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of minds'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of papers'/><title type='text'>Sekali Lagi: Pak Tua yang Membaca Cerita Cinta</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Yang saya sukai dari sebuah buku luar (yang dialihbahasakan dengan baik) adalah taburan kalimat-kalimat bertingkat super panjang yang kaya akan detil menggelitik, yang miskin dimiliki oleh tulisan-tulisan dalam negeri.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Saya ingat obrolan ringan Yusi dan Sulak pada satu sore seusai kelas, bahwa sesungguhnya kalimat bertingkat sanggup menyulap tulisan menjadi jauh lebih menarik, namun struktur bahasa kita tidak cukup fleksibel untuk mengembangkan varian konsep tersebut, sehingga yang terjadi adalah keterbatasan bentuk kalimat atau malah kerancuan arti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, sering terjadi kesulitan dalam penerjemahan kalimat-kalimat asing ke dalam bahasa kita, seperti yang terjadi dalam buku terjemahan Catcher in The Rye (Banana Publisher), di mana kalimat-kalimat bertingkat dipecah menjadi beberapa kalimat tunggal. Karena itu juga, mendadak saya Memuja Ronny Agustinus, yang mempertahankan bentuk kalimat-kalimat Sepulveda dalam Pak Tua yang Membaca Cerita Cinta dan membuat batin saya terpuaskan (tentu saja, ini hiperbolis), kendati saya mempertanyakan sejumlah peletakan tanda baca yang dia lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepulveda sendiri, menurut saya, jenius. dia tidak perlu menulis setebal Twilight untuk membuat novel yang lebih kaya, lagi-lagi menurut saya. Novel buatannya tidak sampai 100 halaman; luar biasa padat. Setiap kata yang dia tulis, barangkali, tidak bisa dipangkas lagi. Jika bisa memberi dia gelar, akan saya panggil dia dengan sebutan samurai (tapi bukan Kenshin Himura karena batosai tidak bisa memotong dengan pedang terbaliknya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah dalam Pak Tua yang Membaca Cerita Cinta (terkesan) sederhana, tentang Antonio Jose Bolivar yang menyepi di desa kecil di tengah rimba raya Equador dan gemar membaca novel cinta picisan, dipadu dengan polemik lingkungan yang diusik oleh peradaban, dan menampilkan karakter-karakter unik yang bercokol kuat di kepala pembaca. Selain Antonio Jose Bolivar yang suka cerita cengeng, ada dokter gigi yang membenci pemerintah, serta pak walikota yang kerjanya keringatan dan mengatur jatah bir di El Idilio.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gaya tutur Sepulveda penuh ironi, sinis sekaligus lucu, sesuatu yang tampaknya ingin diajarkan oleh Yusi dan Sulak kepada murid-murid mereka (karena itu kami dikompori membaca buku ini). Dia meledek siapa saja. Dia menjadikan tokoh-tokohnya guyonan tanpa terkecuali. Dan itu menyenangkan untuk dibaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*note: this post is part of 30 Days of MEME.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/636522176026931424-913501489841859868?l=miss-worm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miss-worm.blogspot.com/feeds/913501489841859868/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=636522176026931424&amp;postID=913501489841859868&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/913501489841859868'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/913501489841859868'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miss-worm.blogspot.com/2010/08/sekali-lagi-pak-tua-yang-membaca-cerita.html' title='Sekali Lagi: Pak Tua yang Membaca Cerita Cinta'/><author><name>windry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13072319767836551821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R85FBcecQ6I/AAAAAAAAAXw/dACfoIQUsWA/S220/she_was_buried_alive__by_cryptorchid.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-636522176026931424.post-6311516395986484153</id><published>2010-08-07T22:55:00.000+07:00</published><updated>2010-08-08T00:58:55.912+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of minds'/><title type='text'>Eight Months Old Balerina</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;[text in bahasa]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam beberapa hari Balerina akan berusia delapan bulan. Waktu benar-benar berjalan cepat. Rasanya baru kemarin dia kesulitan tengkurap sendiri, sekarang dia sudah sok mau berdiri. Ya, delapan bulan dari hari ini dia berdiri empat detik tanpa berpegangan apapun.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Balerina suka makanan manis. Selain jeruk, dia suka pepaya, beras merah, wortel kukus, dan camilan gerber rasa sweet potato. Dia tidak terlalu suka bayam, apalagi brokoli. Seminggu yang lalu dia saya bawa ke pengajian keluarga besar kami. Utinya menyuapi dia nagasari, semangka, dan cincau buatan sendiri, dan dia suka. Dia juga kesenangan ketika hari ini mengicip sawo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat lapar, dia menunjukkan tanda-tanda yang jelas: cemberut atau membanting-banting mainannya sambil teriak-teriak. Kadang saya bingung, sifat liar ini menurun dari siapa. Dia menggerutu dalam gumaman ketika mengantuk, terkadang harus mengomel dahulu sebelum lelap tertidur. Sehari-hari dia tidak bisa diam. Pegal sekali menjagainya supaya tidak menggelinding terlalu sering dari kasur. Syukurlah kini kasur kami tanpa dipan dan di bawahnya ada matras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rambut Balerina saat ini tidak jauh berbeda dengan ketika dia baru lahir, masih tipis. Selain itu, rambutnya berdiri seperti mohawk. Anak laki-laki akan iri melihatnya. Pipinya juga masih cempluk, begitu dominan pada wajahnya. Hidungnya yang pesek tidak dapat diselamatkan. Dan, dagunya tetap dua lapis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beratnya tujuh kilo, tidak bertambah banyak sejak dia bisa merangkak dan berubah menjadi seperti bola bekel. Tingginya hampir tujuh puluh centi. Dahulu dia hanya dua setengah kilo dan empat puluh delapan centi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap hari selalu ada hal baru yang dia ciptakan sebagai hadiah untuk saya. Setiap hari bersama dia begitu magical.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*note: this post is part of 30 Days of MEME.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/636522176026931424-6311516395986484153?l=miss-worm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miss-worm.blogspot.com/feeds/6311516395986484153/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=636522176026931424&amp;postID=6311516395986484153&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/6311516395986484153'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/6311516395986484153'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miss-worm.blogspot.com/2010/07/eight-months-old-balerina.html' title='Eight Months Old Balerina'/><author><name>windry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13072319767836551821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R85FBcecQ6I/AAAAAAAAAXw/dACfoIQUsWA/S220/she_was_buried_alive__by_cryptorchid.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-636522176026931424.post-425177561041764726</id><published>2010-08-06T22:15:00.000+07:00</published><updated>2010-08-06T22:15:28.867+07:00</updated><title type='text'>Kembali Seperti Semula, Sayangnya</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;[text in bahasa]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/TFwmXICYQSI/AAAAAAAAAzA/dqMS_lvQs0A/s1600/acara+natalie.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 232px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/TFwmXICYQSI/AAAAAAAAAzA/dqMS_lvQs0A/s320/acara+natalie.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5502315023476212002" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Menurut facebook, ini foto terbaru saya -setidaknya, inilah yang diunggah dan ditag paling akhir oleh teman-teman. Saya yang berada di ujung dengan kerudung dan baju oranye.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baju itu, hampir satu tahun yang lalu, ketika saya hamil enam bulan, tidak bisa saya kenakan. Perut saya sudah sangat buncit waktu itu, lingkar dada lebih lebar, dan pinggul membesar. Celana pasangan si baju pun hampir tidak bisa dikaitkan dan bagian paha begitu sesak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, well, sekarang saya bisa mengenakannya lagi. Heran juga. Ke mana gerangan larinya lemak-lemak dan daging dadakan yang dulu sempat menjadi sahabat ketika saya mengandung Balerina?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*note: this post is part of 30 Days of MEME.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/636522176026931424-425177561041764726?l=miss-worm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miss-worm.blogspot.com/feeds/425177561041764726/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=636522176026931424&amp;postID=425177561041764726&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/425177561041764726'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/425177561041764726'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miss-worm.blogspot.com/2010/08/kembali-seperti-semula-sayangnya.html' title='Kembali Seperti Semula, Sayangnya'/><author><name>windry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13072319767836551821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R85FBcecQ6I/AAAAAAAAAXw/dACfoIQUsWA/S220/she_was_buried_alive__by_cryptorchid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/TFwmXICYQSI/AAAAAAAAAzA/dqMS_lvQs0A/s72-c/acara+natalie.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-636522176026931424.post-3270982430688218040</id><published>2010-08-05T22:20:00.000+07:00</published><updated>2010-08-06T01:27:25.661+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of frames'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of minds'/><title type='text'>Kelas Para Pengacau</title><content type='html'>[text in bahasa]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://images.missworm.multiply.com/image/JLWrJwb0tr-meAsGiMUk1Q/photos/1M/300x300/592/n600381983-1250052-3933.jpg?et=yMqRExpwEUQ%2CBTKnOGr7fg&amp;amp;nmid=0"&gt;&lt;img src="http://images.missworm.multiply.com/image/JLWrJwb0tr-meAsGiMUk1Q/photos/1M/300x300/592/n600381983-1250052-3933.jpg?et=yMqRExpwEUQ%2CBTKnOGr7fg&amp;amp;nmid=0" style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 300px; height: 225px;" src="http://images.missworm.multiply.com/image/JLWrJwb0tr-meAsGiMUk1Q/photos/1M/300x300/592/n600381983-1250052-3933.jpg?et=yMqRExpwEUQ%2CBTKnOGr7fg&amp;amp;nmid=0" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Foto ini diambil (hampir) sepuluh tahun yang lalu, pada tahun pertama kuliah arsitektur saya. Judul mata kuliah yang waktu itu diambil adalah Perancangan Arsitektur 1. Dalam foto ini kami sedang merancang 'pemutus jalan'. Misi kami memutus jalan setapak dari gedung kuliah menuju kantin. Cara yang kami lakukan a la mafia, kasar. Kami letakkan bangku kayu di tengah jalan.Supaya bangku itu tidak dapat dipindahkan dan didekati, kami persangar dengan papan bekas, balok kayu dengan paku-paku pada permukaannya, serta bambu-bambu runcing. Tidak puas dengan pagar tanpa nilai seni itu, kami menyebar ratusan paku di sekeliling bangku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika melihat foto ini, mama saya bertanya, "Kamu susah-payah masuk UI hanya untuk ini?"&lt;br /&gt;Ha! Dia tidak tahu apa-apa lagi yang kami lakukan di UI. Kami main sandiwara, joged bebek, semedi bersama pantomim, dan teriak-teriak a la indian di taman kampus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yup! Seperti itulah kuliah arsitektur di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*note: this post is part of 30 Days of MEME.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/636522176026931424-3270982430688218040?l=miss-worm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miss-worm.blogspot.com/feeds/3270982430688218040/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=636522176026931424&amp;postID=3270982430688218040&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/3270982430688218040'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/3270982430688218040'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miss-worm.blogspot.com/2010/05/kelas-para-pengacau.html' title='Kelas Para Pengacau'/><author><name>windry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13072319767836551821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R85FBcecQ6I/AAAAAAAAAXw/dACfoIQUsWA/S220/she_was_buried_alive__by_cryptorchid.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-636522176026931424.post-3997033547327530585</id><published>2010-08-04T21:42:00.003+07:00</published><updated>2010-08-04T21:52:27.601+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of frames'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of minds'/><title type='text'>Pink Rotten Indis House</title><content type='html'>[text in bahasa]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://missworm.kemudian.com/files/2008/11/pink-house4.jpg"&gt;&lt;img src="http://missworm.kemudian.com/files/2008/11/pink-house4.jpg" style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 270px; height: 360px;" src="http://missworm.kemudian.com/files/2008/11/pink-house4.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Rumah tua bergaya Indis ini tidak sengaja saya temukan. Pada saat itu saya sedang mencari lokasi yang tepat untuk bekas pabrik coklat di Penjaringan yang disebut-sebut dalam bab kelima Metropolis. Bekas pabrik coklat itu tidak ketemu tapi syukurlah saya tidak pulang dengan tangan kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tempat ini kayaknya bagus untuk adegan ending film action,” kata teman saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tertegun. Benar apa yang dia katakan. Rumah tua di hadapan kami saat itu bisa menjadi lokasi yang tepat untuk adegan terakhir dalam novel Metropolis, adegan keempat pihak (Bram, Miaa, Johan, dan Blur) bertemu untuk menyelesaikan konflik mereka. Rumah ini tidak hanya tua dan rusak, tetapi juga memiliki karakteristik yang kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak tanaman merambati bangunan ini di bagian dalam dan luar. Pohon-pohon tumbuh di dalam bangunan, rumput tumbuh pada lantai, akar-akar mencengkeram dinding, dan tanaman liar menutupi jendela. Tidak hanya itu, sebagian atap bangunan sudah roboh sehingga cahaya dan udara berkeliaran bebas di dalam bangunan. Apalagi rumah ini luas dan memiliki langit-langit yang sangat tinggi. Sempurna!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*note: this post is part of 30 Days of MEME.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/636522176026931424-3997033547327530585?l=miss-worm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miss-worm.blogspot.com/feeds/3997033547327530585/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=636522176026931424&amp;postID=3997033547327530585&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/3997033547327530585'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/3997033547327530585'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miss-worm.blogspot.com/2010/08/pink-rotten-indis-house.html' title='Pink Rotten Indis House'/><author><name>windry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13072319767836551821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R85FBcecQ6I/AAAAAAAAAXw/dACfoIQUsWA/S220/she_was_buried_alive__by_cryptorchid.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-636522176026931424.post-300251567622623456</id><published>2010-08-03T22:14:00.000+07:00</published><updated>2010-08-04T07:25:30.642+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of frames'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of minds'/><title type='text'>Children of Gaza</title><content type='html'>&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5501342411167784354" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 234px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/TFixxo1yXaI/AAAAAAAAAy4/ueOuCkSgAxk/s320/8b8d0127fd16f01e56bdd0c9091cda70.jpg" border="0" /&gt; &lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/TFixZoLI5QI/AAAAAAAAAyw/ppLGexZSJS0/s1600/0d425_gaza_war_2009_98.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5501341998672045314" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 212px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/TFixZoLI5QI/AAAAAAAAAyw/ppLGexZSJS0/s320/0d425_gaza_war_2009_98.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/636522176026931424-300251567622623456?l=miss-worm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miss-worm.blogspot.com/feeds/300251567622623456/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=636522176026931424&amp;postID=300251567622623456&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/300251567622623456'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/300251567622623456'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miss-worm.blogspot.com/2010/08/children-of-gaza.html' title='Children of Gaza'/><author><name>windry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13072319767836551821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R85FBcecQ6I/AAAAAAAAAXw/dACfoIQUsWA/S220/she_was_buried_alive__by_cryptorchid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/TFixxo1yXaI/AAAAAAAAAy4/ueOuCkSgAxk/s72-c/8b8d0127fd16f01e56bdd0c9091cda70.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-636522176026931424.post-6007534426451832976</id><published>2010-08-02T12:54:00.000+07:00</published><updated>2010-08-04T07:26:34.889+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of frames'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of minds'/><title type='text'>Balerina</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/TFevP2IvBsI/AAAAAAAAAyg/v9rSNsdAOfA/s1600/aqila22.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5501058156621399746" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 200px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 150px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/TFevP2IvBsI/AAAAAAAAAyg/v9rSNsdAOfA/s200/aqila22.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: center"&gt;&lt;span class="insertedphoto"&gt;"A babe in a house is a well-spring of pleasure." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="insertedphoto"&gt;-Martin Farquar Tupper-&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*note: this post part of 30 Days of MEME &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/636522176026931424-6007534426451832976?l=miss-worm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miss-worm.blogspot.com/feeds/6007534426451832976/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=636522176026931424&amp;postID=6007534426451832976&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/6007534426451832976'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/6007534426451832976'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miss-worm.blogspot.com/2010/08/balerina.html' title='Balerina'/><author><name>windry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13072319767836551821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R85FBcecQ6I/AAAAAAAAAXw/dACfoIQUsWA/S220/she_was_buried_alive__by_cryptorchid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/TFevP2IvBsI/AAAAAAAAAyg/v9rSNsdAOfA/s72-c/aqila22.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-636522176026931424.post-2715262817446445038</id><published>2010-08-01T22:47:00.004+07:00</published><updated>2010-08-01T22:55:17.302+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of minds'/><title type='text'>Dogs are dogs, birds are birds, and cats are gods</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/TFWYZsBzdPI/AAAAAAAAAyQ/SsD9EWDPAbo/s1600/Teepu-4-by-angin-kering.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/TFWYZsBzdPI/AAAAAAAAAyQ/SsD9EWDPAbo/s200/Teepu-4-by-angin-kering.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5500470086985807090" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;[text in bahasa]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu saya kutip dari buku Utterly Adorable Cats. Tentu saja kucing bukan dewa, manusia menganggap mereka hewan peliharaan, tetapi tampaknya para kucing tidak tahu akan hal itu.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Saat ini saya memiliki lima kucing. Angel, yang tertua, makan seperti Aqila: harus disodori keripik bundar butir demi butir ke hadapannya. Jika keripik tersebut diletakkan terlalu jauh darinya, dia tidak akan repot-repot melangkahkan kaki depan untuk maju. Dia hanya akan menengadah dan memandangi saya, menunggu keripik selanjutnya. Dia tidak mau minum air kran, harus air mineral dari kemasan khusus dan tidak terlalu panas atau dingin. Jika ada debu di mangkuknya, dia juga menolak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Abu selalu mengusir siapa pun yang menempati sofa miliknya. Sasha tidak akan mau makan jika racikan makanannya tidak tepat. Bombi berbalik ketika satu sisi badannya selesai disikat, menagih sikatan untuk sisi lainnya. Uban berbeda. Barangkali dia tidak mengira dirinya dewa, melainkan preman. Saat lapar, dia akan meminta jatah dari setiap orang yang ada di rumah. Tidak satu orang pun luput. Siapa yang tidak memberi akan diteror dan tidak dibiarkan hidup tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percayalah, saya tahu betul bahwa kucing tidak pernah menganggap manusia sebagai majikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*note: this post is part of 30 Days of MEME.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/636522176026931424-2715262817446445038?l=miss-worm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miss-worm.blogspot.com/feeds/2715262817446445038/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=636522176026931424&amp;postID=2715262817446445038&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/2715262817446445038'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/2715262817446445038'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miss-worm.blogspot.com/2010/08/dogs-are-dogs-birds-are-birds-and-cats.html' title='Dogs are dogs, birds are birds, and cats are gods'/><author><name>windry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13072319767836551821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R85FBcecQ6I/AAAAAAAAAXw/dACfoIQUsWA/S220/she_was_buried_alive__by_cryptorchid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/TFWYZsBzdPI/AAAAAAAAAyQ/SsD9EWDPAbo/s72-c/Teepu-4-by-angin-kering.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-636522176026931424.post-3098954726967324504</id><published>2010-07-31T22:40:00.000+07:00</published><updated>2010-07-31T22:41:27.349+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of minds'/><title type='text'>From Oprah Winfrey:</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;"The biggest adventure you can ever take is to live the life of your dreams."&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*note: this post is part of 30 Days of MEME.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/636522176026931424-3098954726967324504?l=miss-worm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miss-worm.blogspot.com/feeds/3098954726967324504/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=636522176026931424&amp;postID=3098954726967324504&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/3098954726967324504'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/3098954726967324504'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miss-worm.blogspot.com/2010/07/from-oprah-winfrey.html' title='From Oprah Winfrey:'/><author><name>windry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13072319767836551821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R85FBcecQ6I/AAAAAAAAAXw/dACfoIQUsWA/S220/she_was_buried_alive__by_cryptorchid.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-636522176026931424.post-6528531319163690249</id><published>2010-07-30T22:54:00.001+07:00</published><updated>2010-07-30T22:55:30.817+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of minds'/><title type='text'>Million Dollar Baby</title><content type='html'>[text in bahasa]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setiap ada kesempatan, Mas Yusi selalu bertanya kepada saya: mengapa saya tidak menulis novel dengan latar belakang dunia arsitektur. Saya katakan saja: walau saya arsitek, bukan berarti saya harus menulis novel tentang arsitek. Padahal, itu hanya dalih karena sesungguhnya saya tidak punya gambaran sedikit pun mengenai apa yang harus ditulis. Tema tersebut memang sangat dekat dengan kehidupan saya, tetapi saya tidak melihat ada hal menarik di sana yang bisa saya ceritakan dalam bentuk novel.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sekitar dua tahun yang lalu, saya membaca Million Dollar Baby, kumpulan cerpen karya F.X. Toole. Seluruh kisah di dalamnya bertemakan tinju. Sang penulis memang seorang mantan pelatih tinju dan cutman. Yang menarik perhatian saya pada awal pembacaan adalah cerpen-cerpen Toole tidak hanya menampilkan petinju, tetapi juga cutman dan pelatih, dan sosok-sosok itu diceritakan dengan sudut pandang yang sangat intim -sesuatu yang memang hanya bisa dilakukan oleh orang yang benar-benar tahu dunia tinju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konflik yang dihadirkan sangat membuka wawasan. Sebelum membaca Millon Dollar Baby, saya tidak menyukai tinju -sama sekali. Saya heran mengapa manusia bisa bersorak menyaksikan dua manusia lain adu jotos. Barbar! Setelah membaca cerpen pertama, cara pandang saya langsung berbalik. Mendadak saya ingin tahu lebih banyak mengenai dunia tinju dan simpati kepada orang-orang di dalamnya. Bahkan, ada sedikit rasa kagum. Sungguh, itu pengalaman yang mengherankan dan barangkali begitulah afeksi sebuah karya cemerlang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentunya kisah yang menarik dapat tersampaikan dengan baik jika ditulis dengan baik pula. F.X. Toole punya cara berkisah yang bikin iri. Barangkali tanpa sadar saya menirunya karena suara tulisannya memengaruhi suara tulisan saya dalam Metropolis. Selain itu, buku ini diterjemahkan dengan sangat baik oleh Banana. Rasanya seperti membaca tulisan F.X. Toole yang dapat berbahasa Indonesia dengan baik (terima kasih, Mas Yusi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini pun lantas menjadi inspirasi. Saya menjadi tahu apa yang bisa saya kisahkan mengenai dunia saya. Ternyata banyak sekali hal menarik dalam arsitektur. Selama ini saya tidak dapat melihatnya. Berkat buku ini, kini saya sedang menulis novel ketiga dan itu mengambil tema arsitektur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*note: this post is part of 30 Days of MEME.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/636522176026931424-6528531319163690249?l=miss-worm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miss-worm.blogspot.com/feeds/6528531319163690249/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=636522176026931424&amp;postID=6528531319163690249&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/6528531319163690249'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/6528531319163690249'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miss-worm.blogspot.com/2010/07/million-dollar-baby.html' title='Million Dollar Baby'/><author><name>windry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13072319767836551821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R85FBcecQ6I/AAAAAAAAAXw/dACfoIQUsWA/S220/she_was_buried_alive__by_cryptorchid.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-636522176026931424.post-4968207934343029150</id><published>2010-07-29T16:11:00.001+07:00</published><updated>2010-07-29T17:17:52.259+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of minds'/><title type='text'>Restaurant Makeover</title><content type='html'>[text in bahasa]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sejak mengandung Balerina, tentunya setelah triwulan pertama yang mengerikan berlalu, saya rajin memantengi Asian Food Channel. Saya memang suka acara-acara kuliner, terutama yang berhubungan dengan masak-memasak dan bukannya sekadar icip-icip masakan orang. Program yang tidak pernah saya lewatkan adalah Restaurant Makeover, barangkali karena saya seorang arsitek.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pada setiap episode Restaurant Makeover, ada restauran yang nyaris tutup, pemilik dan koki yang butuh bantuan, perancang interior (atau terkadang arsitek), kontraktor, dan koki ternama. Selain kontraktor, peran-peran yang lain selalu berganti orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misi acara ini adalah menyelamatkan restoran tersebut atas permintaan si pemilik dengan cara mengubah fisik bangunan dan menu. Tentu saja, ada budget (biasanya sekitar USD 50.000) dan deadline (tujuh hari kerja). Si arsitek akan membuat rancangan interior baru yang kemudian direalisasikan oleh kontraktor, sementara si koki ahli mengajari koki restoran sekaligus membantu menciptakan menu-menu baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses perubahan selalu diawali dengan penghancuran kondisi eksisting. Saya selalu tertawa setiap melihat ekspresi si kontraktor ketika memalu dinding, merubuhkan langit-langit ruangan, atau mencabuti lantai kayu. Dia tampak sangat menikmati pekerjaannya. Barangkali dia vandalis. Pada momen ini, pemilik restoran sangat tidak disarankan berkunjung ke TKP. Ada juga yang nekad dan bisa dibayangkan reaksi sang pemilik ketika melihat restorannya dalam keadaan dipereteli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam seminggu itu, beberapa proyek berjalan lancar, sebagian  mengalami sedikit masalah seperti over budget, conflict of interest antara arsitek dan koki, atau kekurangan pegawai konstruksi sehingga renovasi bisa jadi tidak selesai pada waktunya. Mungkin konflik-konflik inilah yang menarik, meski tidak lebay seperti kebanyakan realiti show yang sedang marak di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian paling lucu yang saya ingat betul adalah ketika di arsitek memutuskan untuk mencat ulang dinding luar restoran. Setelah dicat, sang pemilik gedung (rupanya pemilik restoran hanya menyewa tempat) datang mendadak, lalu berkata, "Maaf, saya sudah katakan dulu di kontrak: tidak boleh mengubah tampak muka bangunan. Tolong, dikembalikan seperti semula." Padahal, kondisi dinding luar bangunan semula adalah ekspos bata merah. Dan, ketika itu deadline hanya tinggal satu hari lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dapur, masalah para koki tidak seberapa dibanding urusan renovasi fisik. Mereka hanya mereview menu yang ada, coret sana-sini (biasanya, semua menu akan dibuang), kemudian membuat menu baru yang lebih menarik, lebih fokus, mudah disiapkan, dan sesuai dengan imaji baru restoran. Agak tidak adil, memang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebesar apa pun tantangan tim Restaurant Makeover, mereka hampir selalu mengalami akhir yang menyenangkan. Terkadang pemilik restoran tidak menyukai perubahan yang dibuat (ini juga faktor yang menarik, tidak semua proyek berhasil), namun lebih sering mereka puas dan seolah memiliki harapan baru, bahwa bisnis kuliner mereka belum berakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*note: this post part of 30 Days of MEME&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/636522176026931424-4968207934343029150?l=miss-worm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miss-worm.blogspot.com/feeds/4968207934343029150/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=636522176026931424&amp;postID=4968207934343029150&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/4968207934343029150'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/4968207934343029150'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miss-worm.blogspot.com/2010/07/restaurant-makeover.html' title='Restaurant Makeover'/><author><name>windry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13072319767836551821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R85FBcecQ6I/AAAAAAAAAXw/dACfoIQUsWA/S220/she_was_buried_alive__by_cryptorchid.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-636522176026931424.post-8999757207714161435</id><published>2010-07-28T10:24:00.002+07:00</published><updated>2010-07-28T10:28:18.290+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of minds'/><title type='text'>Now I Will Come To Your Place, Edward</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;[text in bahasa]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai saat ini saya belum bisa memutuskan mana yang lebih saya sukai: Depp muda yang terampil memangkas tanaman dengan tangan guntingnya atau teru bozu yang digantung secara terbalik pada musim hujan, maka biarlah saya bahas keduanya hari ini.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, Edward Scissorhands.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menjadi pecandu Tim Burton berkat menyaksikan film ini.  Cara Burton menggambarkan Florida, masyarakat di dalamnya, kehidupan mereka, serta karakter yang ada –bagi saya– sangat menarik, unik. Idenya sendiri orisinal, aneh, sekaligus lucu, seperti ironi yang sengaja ditertawakan (atau sesekali ditangisi). Dan, saya begitu terkesan dengan setiap detil yang dihadirkan, seperti aneka rupa tanaman dan rambut hasil pangkasan Edward.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor lain yang membuat film ini berkesan, tentu saja, adalah Depp. Selain Depp adalah aktor kesukaan saya, Edward yang dia mainkan tampil simpatik dan saya memang selalu jatuh cinta dengan karakter utama yang tidak sempurna serta jauh dari ideal.&lt;br /&gt;Burton sendiri agak-agaknya juga menggemari Depp –dan barangkali begitu pula sebaliknya. Mereka berulang kali bekerja sama dalam satu film seolah itu menjadi kebiasaan. Sebut saja Sleepy Hollow, Charlie and The Chocolate Factory, Sweeny Todd, dan yang terakhir Alice in The Wonderland; daftar film yang mau tidak mau menjadi tontonan wajib karena saya selalu menyukai karya-karya mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, di antara semua karya bersama Burton dan Depp, saya tetap paling suka dengan Edward Scissorhands. Rasanya tidak ada yang bisa mengalahkan ide manusia buatan setengah jadi ditinggal mati penemunya, ditemukan dan dibawa pulang oleh agen Avon yang tidak punya pelanggan, menjadi terkenal karena tangan guntingnya, masuk TV, lalu tersengat listrik karena tidak sengaja menyentuh kabel microphone ketika siaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, Ima Ai Ni Yukimasu (Now I Will Come to Your Place) atau dikenal dengan titel Inggris Be With You.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film ini diangkat dari novel Ichikawa Takuji (yang kemudian juga menjadi kesukaan saya). Saya menemukannya tanpa sengaja dari sebuah CD data pemberian salah satu sahabat bernama Anjar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah yang diangkat sebenarnya sederhana, meski diperciki fantasi –satu hal yang sulit lepas dari fiksi Jepang: tentang pengalaman cinta pertama yang terjadi dua kali terhadap orang yang sama. Begitu pula dengan tokoh-tokoh yang diceritakan, mereka tidak ekstravaganza: keluarga kecil di suburban yang sepi. Lalu, apa yang membuatnya istimewa? Sama seperti Edward Scissorhands, film ini memiliki banyak detil unik yang orisinal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai film Jepang, Be With You dikemas secara sunyi, lembut dan cantik, tanpa melodrama berlebihan tapi tetap mampu membombardir perasaan. Saya selalu hanyut ketika menyaksikan film ini. Saya tersenyum pada setiap adegan, lalu menangis pada akhirnya. Jika ada film yang memengaruhi tulisan-tulisan saya, maka itu Be With You. Sampai saat ini saya masih ingin (dan memang belum berhasil) membuat karya selembut milik Takuji dan, ya, itu telah menjadi semacam obsesi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*note: this post is part of 30 Days of MEME.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/636522176026931424-8999757207714161435?l=miss-worm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miss-worm.blogspot.com/feeds/8999757207714161435/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=636522176026931424&amp;postID=8999757207714161435&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/8999757207714161435'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/8999757207714161435'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miss-worm.blogspot.com/2010/07/now-i-will-come-to-your-place-edward.html' title='Now I Will Come To Your Place, Edward'/><author><name>windry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13072319767836551821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R85FBcecQ6I/AAAAAAAAAXw/dACfoIQUsWA/S220/she_was_buried_alive__by_cryptorchid.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-636522176026931424.post-1154060330819064952</id><published>2010-07-27T01:47:00.006+07:00</published><updated>2010-07-27T02:01:00.439+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of minds'/><title type='text'>The Fourth Avenue Cafe</title><content type='html'>[text in bahasa]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"The season told me calmly about the end.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;I gather colorful memories and I say goodbye to them.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;That person who gave me love, was shaking in these eyes."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Hyde)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Saya selalu senang ketika diberi kesempatan melantur tentang lagu kesukaan saya. Seorang Cieler tidak selalu bisa melakukan itu. Jumlah kami sedikit -kecuali di Jepang- dan kami terbiasa menikmati lagu-lagu L'Arc-en-Ciel (baca: Laruku) seorang diri menggunakan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;earphone&lt;/span&gt; atau dalam kamar tertutup karena tidak banyak orang yang mengerti jika kami bicara.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ada ratusan lagu Laruku dalam i-Tunes saya. Yang menjadi kesukaan saya sering silih berganti tapi biasanya selalu kembali kepada The Fourth Avenue Cafe. Saya tidak punya alasan khusus mengapa begitu menyukai lagu ini, dan tidak ingin bersusah payah mencari-cari alasan, tapi pasti bukan karena liriknya karena saya sama sekali buta bahasa Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini lagu lama keluaran tahun 1996 yang hanya beredar sebentar di toko musik sebelum kemudian diboikot karena drummer Laruku ketahuan memakai obat terlarang. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Single&lt;/span&gt; ini lantas menjadi salah satu CD Laruku yang langka. Saya memiliki satu kopi, tapi bukan edisi asli, melainkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;reissue &lt;/span&gt;buatan 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam The Fourth Avenue Cafe muncul instrumen-instrumen asing yang jarang ada dalam musik rock, seperti piano dan terompet, yang -herannya- dimainkan secara riang meskipun sebenarnya lagu ini bercerita tentang akhir hidup. Tapi, piano dan terompet tidak seberapa aneh jika dibandingkan dengan tamborin dan harpa dalam What is Love. Lagi pula, para Cieler menyukai apa pun yang Laruku lakukan terhadap musik mereka karena kami cinta buta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingat dulu kerap menyanyikan lagu ini (baca: berkaraoke) bersama kakak saya. Kami duduk bersebelahan di depan komputer, menyalakan i-Tunes, dan mengiringi Hyde dengan suara pas-pasan yang sering gagal mencapai nada tinggi pun rendah. Itu lebih dari lima tahun yang lalu. Ketika kemarin MEME menanyakan lagu kesukaan saya, ternyata lirik The Fourth Avenue Cafe belum lepas dari ingatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*note: this post is part of 30 Days of MEME.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/636522176026931424-1154060330819064952?l=miss-worm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miss-worm.blogspot.com/feeds/1154060330819064952/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=636522176026931424&amp;postID=1154060330819064952&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/1154060330819064952'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/1154060330819064952'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miss-worm.blogspot.com/2010/07/fourth-avenue-cafe.html' title='The Fourth Avenue Cafe'/><author><name>windry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13072319767836551821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R85FBcecQ6I/AAAAAAAAAXw/dACfoIQUsWA/S220/she_was_buried_alive__by_cryptorchid.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-636522176026931424.post-4720557336358948982</id><published>2010-07-27T01:40:00.004+07:00</published><updated>2010-07-27T02:23:42.291+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of minds'/><title type='text'>30 Days of MEME</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;[text in bahasa]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir-akhir ini saya mulai rindu menulis. Berapa lama sudah saya rehat? Satu tahun, barangkali, dan itu masih akan berlanjut hingga lima bulan ke depan. Sesekali saya mencuri kesempatan mengintip draf Anemone yang masih segitu-segitu saja, namun tidak berani berbuat banyak karena saya sudah berjanji tahun ini milik Balerina, maka Mahoni terpaksa harus menunggu.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat yang lalu, Winna -yang juga mengaku sedang rehat- muncul dengan tantangan menulis tiga puluh &lt;span style="font-style: italic;"&gt;blog post&lt;/span&gt; dalam tiga puluh hari yang disebut sebagai Tiga Puluh Hari MEME. Ini mengingatkan saya kepada tantangan Gunawan Maryanto: menulis tiga puluh cerpen dalam tiga puluh hari. Aturan main mereka sama; harus ada satu tulisan setiap harinya dan dilarang membolos. Bedanya, Tiga Puluh Hari MEME memberikan tiga puluh tema tulisan, sehingga pesertanya tidak perlu menulis cerpen tidak jelas tentang tiga orang asing di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;foyer&lt;/span&gt; sebuah rumah lantaran kehabisan ide.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, saya berpikir barangkali Tiga Puluh Hari MEME akan menjadi obat rindu yang pas. Mengisi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;blog&lt;/span&gt; setiap hari tidak akan membahayakan hubungan saya dengan Balerina dan pastilah akan sangat menyenangkan (hampir semua tema yang ada adalah tentang diri sendiri -apa yang lebih menyenangkan dari itu?).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba kalian lihat daftar tema di bawah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Day 01- Your favourite song&lt;br /&gt;Day 02 - Your favourite movie&lt;br /&gt;Day 03 - Your favourite television programme&lt;br /&gt;Day 04 - Your favourite book&lt;br /&gt;Day 05 - Your favourite quote&lt;br /&gt;Day 06 - Whatever tickles your fancy&lt;br /&gt;Day 07 - A photo that makes you happy&lt;br /&gt;Day 08 - A photo that makes you angry/sad&lt;br /&gt;Day 09 - A photo you took&lt;br /&gt;Day 10 - A photo of you taken over ten years ago&lt;br /&gt;Day 11 - A photo of you taken recently&lt;br /&gt;Day 12 - Whatever tickles your fancy&lt;br /&gt;Day 13 - A fictional book&lt;br /&gt;Day 14 - A non-fictional book&lt;br /&gt;Day 15 - A fanfic&lt;br /&gt;Day 16 - A song that makes you cry (or nearly)&lt;br /&gt;Day 17 - An art piece (painting, drawing, sculpture, etc.)&lt;br /&gt;Day 18 - Whatever tickles your fancy&lt;br /&gt;Day 19 - A talent of yours&lt;br /&gt;Day 20 - A hobby of yours&lt;br /&gt;Day 21 - A recipe&lt;br /&gt;Day 22 - A website&lt;br /&gt;Day 23 - A YouTube video&lt;br /&gt;Day 24 - Whatever tickles your fancy&lt;br /&gt;Day 25 - Your day, in great detail&lt;br /&gt;Day 26 - Your week, in great detail&lt;br /&gt;Day 27 - This month, in great detail&lt;br /&gt;Day 28 - This year, in great detail&lt;br /&gt;Day 29 - Hopes, dreams and plans for the next 365 days&lt;br /&gt;Day 30 - Whatever tickles your fancy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyenangkan, bukan? (memasang senyum kucing).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, teman-teman, bersiap-siaplah menghadapi tiga puluh hari penuh tulisan narsis saya. Kalau tidak ingin kalah pamor, yuk ikutan!&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/636522176026931424-4720557336358948982?l=miss-worm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miss-worm.blogspot.com/feeds/4720557336358948982/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=636522176026931424&amp;postID=4720557336358948982&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/4720557336358948982'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/4720557336358948982'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miss-worm.blogspot.com/2010/07/30-days-of-meme.html' title='30 Days of MEME'/><author><name>windry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13072319767836551821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R85FBcecQ6I/AAAAAAAAAXw/dACfoIQUsWA/S220/she_was_buried_alive__by_cryptorchid.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-636522176026931424.post-9034070042143687934</id><published>2010-07-05T22:46:00.003+07:00</published><updated>2010-07-05T22:58:22.368+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of drafts'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of words'/><title type='text'>Lelaki yang Melukis di Permukaan Kayu</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Satu hal dari masa kecilku yang merekat kuat dalam ingatan adalah kelinci mungil bergaun merah. Kelinci itu kutemukan di setiap sudut kamarku; di permukaan pintu lemari, di meja belajar, di sandaran kursi, dan di kepala tempat tidur; dalam bentuk lukisan tangan yang dibuat dengan menggunakan cat air. Rambut di sekujur badannya cokelat susu, telinganya mengenakan pita kuning, dan lengannya mengayun keranjang apel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu aku jatuh cinta kepada lelaki yang melukis kelinci itu. Aku selalu terkagum-kagum setiap menyaksikan dia mengguratkan konte di permukaan kayu. Tangannya seperti menari; bergerak ke kanan, ke kiri, berputar, melompat; begitu lincah. Dalam beberapa menit saja lahir sebuah gambar, lalu dia mengganti pensilnya dengan kuas dan menyapukan warna-warna transparan, menyulap perabot-perabot polos menjadi seperti lembaran-lembaran buku cerita bergambar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Papa&lt;/em&gt;, demikian aku memanggil lelaki itu, sosok usang yang kusisikan dari hidupku selama belasan tahun.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*taken from &lt;em&gt;Anemone&lt;/em&gt;, chapter 'Lelaki yang Melukis di Permukaan Kayu'.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/636522176026931424-9034070042143687934?l=miss-worm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miss-worm.blogspot.com/feeds/9034070042143687934/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=636522176026931424&amp;postID=9034070042143687934&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/9034070042143687934'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/9034070042143687934'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miss-worm.blogspot.com/2010/07/lelaki-yang-melukis-di-permukaan-kayu.html' title='Lelaki yang Melukis di Permukaan Kayu'/><author><name>windry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13072319767836551821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R85FBcecQ6I/AAAAAAAAAXw/dACfoIQUsWA/S220/she_was_buried_alive__by_cryptorchid.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-636522176026931424.post-2773363929256466971</id><published>2010-07-04T21:19:00.003+07:00</published><updated>2010-07-05T23:07:28.352+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of drafts'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of words'/><title type='text'>Romantic Home</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/TDIDMJa625I/AAAAAAAAAyA/BTEqX31qU2A/s1600/a_piece_of_my_home_by_vallanthe.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5490454402940197778" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 133px; CURSOR: hand; HEIGHT: 200px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/TDIDMJa625I/AAAAAAAAAyA/BTEqX31qU2A/s200/a_piece_of_my_home_by_vallanthe.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;Beberapa arsitek menamainya &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;romantic home&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada perapian kecil di ruang duduk, juga jendela besar berlatar taman melati yang wangi. Di sebelah ruang makan yang simpel, dapur tampil apa adanya: memperlihatkan stoples pasta, sekeranjang tomat, dan cangkir-cangkir yang tidak seragam. Kamar tidur berisi benda-benda kesukaan yang diletakkan sesuka hati. Kamar mandi bernuansa masa lalu dengan &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;bath-tub&lt;/span&gt; berpinggiran bulat dan vas model kuno. Ruangan-ruangan diberi warna es krim yang sejuk: vanila, rum, mint, madu; dilengkapi dengan perabot sederhana, tirai tipis tembus cahaya, dua atau tiga tangkai krisan segar dalam gelas, sepatu satin di anak tangga, serta –tentu saja– corak bunga –karena tidak ada yang lebih romantis dari kain bunga-bunga di kamar tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cantik, memang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, bayangkan apa yang bisa kau lakukan di tengah-tengah itu semua. Kau dapat memamerkan kemahiranmu memasak &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;spaghetti&lt;/span&gt; kepada lelaki tampan incaranmu yang kau undang makan malam. Sementara kau mengiris-iris tomat, lelaki itu akan duduk manis di meja makan, memandangimu dan mengagumimu. Lalu, kalian menghabiskan &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;spaghetti&lt;/span&gt; itu berdua –barangkali langsung dari wajan– dan ketika itulah kau memberitahunya rahasia masakanmu, dari mana kau belajar membuat saus &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;bolognaise&lt;/span&gt; khas Italia yang bikin ketagihan. Sesudahnya, kalian duduk di hadapan perapian yang menyala, menikmati &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;tiramisu&lt;/span&gt; ditemani alunan musik lembut, kemudian malam berakhir sesuai keinginan: di ranjang atau di &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;bath-tub&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*taken from &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;Anemone&lt;/span&gt;, chapter 'Sepatu Satin di Anak Tangga'. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/636522176026931424-2773363929256466971?l=miss-worm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miss-worm.blogspot.com/feeds/2773363929256466971/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=636522176026931424&amp;postID=2773363929256466971&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/2773363929256466971'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/2773363929256466971'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miss-worm.blogspot.com/2010/07/romantic-home.html' title='Romantic Home'/><author><name>windry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13072319767836551821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R85FBcecQ6I/AAAAAAAAAXw/dACfoIQUsWA/S220/she_was_buried_alive__by_cryptorchid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/TDIDMJa625I/AAAAAAAAAyA/BTEqX31qU2A/s72-c/a_piece_of_my_home_by_vallanthe.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-636522176026931424.post-5913725577717912176</id><published>2010-06-21T22:39:00.008+07:00</published><updated>2010-06-22T00:34:45.754+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of papers'/><title type='text'>(Review) Moo Moo Kow Cloth Diaper</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://img705.imageshack.us/img705/6797/detailj.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 275px;" src="http://img705.imageshack.us/img705/6797/detailj.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[text in Bahasa]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua bulan belakangan, sejak balerina saya berusia empat bulan -dan jumlah popok kain miliknya menembus kepala tiga, saya berhenti berbelanja popok kain. Entah bagaimana, agak-agaknya saya berhasil menghilangkan ketagihan saya terhadap popok kain, barangkali karena koleksi warna popok kain Si Balerina sudah lengkap atau karena akhir-akhir ini saya lebih tertarik mengumpulkan pita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah lama tidak membeli popok baru, saya mendapat kesempatan memiliki Moo Moo Kow cloth diaper. Popok ini buatan China, bertipe pocket diaper, memiliki dua pilihan closure (snap dan HL) serta pilihan warna yang menggiurkan; pink, ungu, kuning, putih, hijau apel, gading, biru bayi, dan mint; warna kesukaan si balerina (baca: saya). Moo Moo Kow milik Balerina berwarna ungu dengan closure HL.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Meski Moo Moo Kow diproduksi di China, saya ingin menekankan bahwa popok ini memiliki kualitas bahan yang berbeda dengan kebanyakan popok kain keluaran China yang banyak diobral di Alibaba dengan harga (luar biasa) murah. Poly Urethane Laminated (PUL) Polyester yang menjadi outer Moo Moo Kow jauh lebih lembut dan elastis. Inner Moo Moo Kow berbeda, bukan microfleece, melainkan suedecloth -seperti inner Bumgenius, hanya saja suedecloth yang dipakai Bumgenius lebih halus. Serat microfiber insert Moo Moo Kow padat -seperti insert fuzzibunz. Dan, jahitan Moo Moo Kow rapi, sehingga popok ini cukup meyakinkan jika dilihat sekilas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu menerima popok ini, saya langsung melakukan prepping. Butuh tiga kali cuci untuk membuat suedecloth Moo Moo Kow dapat menyerap air. Ini masih normal. Saya pernah memiliki popok kain keluaran China yang perlu dicuci lebih dari sepuluh kali -popok itu kini sudah saya jual sebagian dan sisanya saya simpan di kardus. Yang saya sukai dari popok berbahan inner suedecloth adalah popok jenis ini cepat sekali kering. Karena itulah proses prepping hanya menghabiskan waktu selama dua hari meski saat ini musim hujan belum reda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk melihat kemampuan Moo Moo Kow, saya sengaja memakaikan popok ini pada pagi hari kepada Balerina, ketika dia sedang banyak-banyaknya pee. Untuk pemakaian pagi hari, biasanya, saya memilih Enphilia dengan insert bamboo ukuran besar atau popok minkee keluaran China dengan insert Fuzzibunz ukuran kecil; yang hanya bertahan tiga jam. Saat mencoba Moo Moo Kow pertama kali, saya hanya memasukkan satu insert kecil. Pagi itu saya membawa Balerina nge-mall dan masa pakai popok menjadi lebih panjang -sekitar lima jam. Balerina terpaksa baru bisa berganti popok di rumah -bukan karena saya tidak bawa ganti tapi karena saya lupa (:D). Ketika itu, insert sudah sangat kuyub, tentu saja, namun inner suedecloth si popok tetap kering. Kulit Balerina juga tidak lembab pun tidak merah. Dan, saya cukup puas!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang perlu menjadi catatan dari Moo Moo Kow adalah desain dan ukuran pola si popok. Pengaturan ukuran paha Moo Moo Kow seperti Rump A Rooz yang memiliki empat baris snap. Saat ini balerina menggunakan ukuran kedua paling besar (untuk informasi saja, usia balerina adalah enam bulan seminggu dan beratnya baru mendekati tujuh kilogram). Meski lingkar paha Moo Moo Kow tidak terlalu lebar, namun lingkar pinggang popok ini justru sebaliknya, kurang cocok untuk bayi berperut kecil seperti si balerina. Closure HL Moo Moo Kow bersembunyi di sisi dalam outer serta berukuran besar -seperti Happy Heinys. Hanya saja, HL Moo Moo Kow tidak serekat Happy Heinys, sehingga bagian perut si popok agak menganga dan saya sempat khawatir closure si popok lepas (entah bagaimana dengan Moo Moo Kow berclosure snap). Saya tidak menganjurkan popok ini untuk bayi baru lahir yang berukuran kecil dan kurus. Sebaliknya, Moo Moo Kow akan sangat cocok untuk bayi gemuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Saya cukup menyukai Moo Moo Kow -bukan karena saya mendapatkan popok ini secara gratis.&lt;br /&gt;2. Barangkali banyak orang tidak akan memahami isi tulisan ini -kecuali mereka yang tahu apa itu cloth diaper atau popok kain.&lt;br /&gt;3. Untuk mereka yang termasuk dalam 'banyak orang': direktori istilah seputar popok kain dapat dilihat di &lt;a href="http://diaperpin.com/"&gt;Diaper Pin&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;3. Untuk mereka yang tertarik dengan hal baru bernama popok kain dan ingin membuat keputusan bijak serta cerdas dengan memakaikan bayi mereka popok kain: Moo Moo Kow Cloth Diaper bisa didapatkan di &lt;a href="http://yumibabyshop.multiply.com/"&gt;Yumi Baby Shop&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/636522176026931424-5913725577717912176?l=miss-worm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miss-worm.blogspot.com/feeds/5913725577717912176/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=636522176026931424&amp;postID=5913725577717912176&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/5913725577717912176'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/5913725577717912176'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miss-worm.blogspot.com/2010/06/review-moo-moo-kow-cloth-diaper.html' title='(Review) Moo Moo Kow Cloth Diaper'/><author><name>windry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13072319767836551821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R85FBcecQ6I/AAAAAAAAAXw/dACfoIQUsWA/S220/she_was_buried_alive__by_cryptorchid.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-636522176026931424.post-3803538094185118356</id><published>2010-05-27T08:19:00.007+07:00</published><updated>2010-05-27T09:21:14.957+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of crafts'/><title type='text'>Ribbons and A Small Boutique Named 'Little Faye'</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://fc02.deviantart.net/fs70/f/2010/141/e/e/clips_by_angin_kering.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 284px; height: 213px;" src="http://fc02.deviantart.net/fs70/f/2010/141/e/e/clips_by_angin_kering.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;[text in Bahasa]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir-akhir ini, saya sedang demam pita. Berawal dari penemuan saya akan situs &lt;a href="http://madeit.co.au/"&gt;madeit.co.au&lt;/a&gt; yang berisi berbagai macam aksesoris rambut bayi buatan tangan para ibu di Australia. Sebuah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;non slip baby hair clip&lt;/span&gt; yang sederhana kemudian menginspirasi saya untuk membuatkan satu untuk si Balerina.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Maka, saya mulai mengumpulkan bahan-bahan yang dibutuhkan: pita (tentu saja), &lt;span style="font-style: italic;"&gt;aligator clip&lt;/span&gt; tanpa gerigi, perekat, dan lain-lain. Awalnya saya hanya mencoba. Saya membuat satu jepit bayi, dua, tiga, dan tahu-tahu saja saya sudah membuat satu stoples.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jepit ini sangat unik hingga saya terkagum-kagum sendiri. Rambut Balerina hanya tiga centi meter, namun si jepit dapat bertahan di kepala Balerina dan tidak melorot. Oh, wow! Saya pikir, balerina-balerina lain (terutama yang hampir tanpa rambut seperti Balerina saya) membutuhkan jepit ini. Lalu, muncullah ide membuka butik &lt;span style="font-style: italic;"&gt;online&lt;/span&gt;. Dan, saya menamakannya '&lt;a href="http://littlefayeshop.multiply.com/"&gt;Little Faye&lt;/a&gt;'.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/636522176026931424-3803538094185118356?l=miss-worm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miss-worm.blogspot.com/feeds/3803538094185118356/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=636522176026931424&amp;postID=3803538094185118356&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/3803538094185118356'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/3803538094185118356'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miss-worm.blogspot.com/2010/05/ribbons-and-small-boutique-named-little.html' title='Ribbons and A Small Boutique Named &apos;Little Faye&apos;'/><author><name>windry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13072319767836551821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R85FBcecQ6I/AAAAAAAAAXw/dACfoIQUsWA/S220/she_was_buried_alive__by_cryptorchid.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-636522176026931424.post-4595203598328722407</id><published>2010-03-05T20:42:00.009+07:00</published><updated>2010-03-05T21:52:26.783+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of minds'/><title type='text'>(Issue) Anemone</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/S5EX1uORlyI/AAAAAAAAAxw/uMz0N-A7zg8/s1600-h/wood+anemone.jpg"&gt;&lt;img src="http://3.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/S5EX1uORlyI/AAAAAAAAAxw/uMz0N-A7zg8/s200/wood+anemone.jpg" style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 134px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/S5EX1uORlyI/AAAAAAAAAxw/uMz0N-A7zg8/s200/wood+anemone.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5445159636176049954" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;[text in Bahasa]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu berita bahagia yang hadir pada April tahun lalu, bahwa saya akan segera memiliki seorang ballerina kecil, membuat saya memutuskan untuk istirahat sejenak dari kegiatan menulis. Sejumlah proyek novel dan kumpulan cerpen saya tangguhkan; sebagian batal ditulis, sebagian sekadar ditunda. Banyak workshop saya coret dari agenda; Ubud Writers and Readers Festival, Bengkel Novel DKJ 2009, dan kelas menulis naskah dengan Salman Aristo. Karena, bagi saya, menjadi ibu dan mempersiapkan diri untuk menjadi ibu adalah sebuah impian usang yang teramat istimewa. Satu tahun terakhir saya isi tidak dengan merangkai plot, mengembangkan karakter, atau riset -atau memaki-maki karya orang; walaupun saya masih pergi ke toko buku -untuk membeli jurnal kehamilan dan kamus nama bayi. Sebagai gantinya, saya mendesain kamar bayi, menjahit &lt;span style="font-style: italic;"&gt;bedding set&lt;/span&gt; untuk &lt;span style="font-style: italic;"&gt;baby crib&lt;/span&gt;, mempelajari 1001 tentang popok kain modern, dan hiperemesis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah si ballerina lahir dan -dalam hitungan hari- akan berusia tiga bulan, saya berpikir inilah waktunya saya akhiri masa cuti. Maka, saya segera memulai sebuah proyek novel baru: Anemone.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Anemone, diambil dari salah satu judul musik gubahan L'Arc-en-Ciel, adalah nama bunga yang diartikan secara negatif sebagai sosok yang ditinggalkan, namun sekaligus merepresentasikan cinta yang sangat dalam. Saya meminjamnya untuk menceritakan sebuah drama keluarga, mengenai Mahoni yang kehilangan, membenci, mengimpikan, dan mencari rumah tempat dia bisa kembali, kemudian mengucapkan, "Aku pulang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini akan menjadi salah satu novel yang sangat intim bagi saya, bukan karena saya kehilangan keluarga seperti Mahoni, tetapi karena di dalamnya akan saya kisahkan kepada pembaca mengenai arsitektur dan arsitek; mengenai rumah dan orang-orang yang mendesain rumah; mengenai dunia saya dan saya. Tapi jangan artikan ini sebagai curhat karena saya bukan tipe penulis yang seperti itu. Anemone adalah fiksi, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;totally.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/636522176026931424-4595203598328722407?l=miss-worm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miss-worm.blogspot.com/feeds/4595203598328722407/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=636522176026931424&amp;postID=4595203598328722407&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/4595203598328722407'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/4595203598328722407'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miss-worm.blogspot.com/2010/03/issue-anemone.html' title='(Issue) Anemone'/><author><name>windry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13072319767836551821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R85FBcecQ6I/AAAAAAAAAXw/dACfoIQUsWA/S220/she_was_buried_alive__by_cryptorchid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/S5EX1uORlyI/AAAAAAAAAxw/uMz0N-A7zg8/s72-c/wood+anemone.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-636522176026931424.post-8716206191087872511</id><published>2010-02-24T17:35:00.005+07:00</published><updated>2010-02-24T19:20:03.805+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of voids'/><title type='text'>Mrs Furna's Tiramisu Apartment</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://files.roxer.com/user/jendelaputih/54cb1af9ccf561600714a1b86f2e8849.jpg"&gt;&lt;img src="http://files.roxer.com/user/jendelaputih/54cb1af9ccf561600714a1b86f2e8849.jpg" style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 380px; height: 285px;" src="http://files.roxer.com/user/jendelaputih/54cb1af9ccf561600714a1b86f2e8849.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;The project handled on 2008, an old one. Apparently i haven't post it yet to my blog so here it is, i proudly present you, a tiramisu design (Yes, recently i am in mood to mention something with food name and i am not sure why).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This apartment unit is located in Jakarta Residence. It contains dining room, living room, three bedrooms, two bathrooms and a storage. The design concept was a mix of English classic and modern interior. I use a lot of light colors as white, cream, light brown, etc. The selected materials are wood with white color and dark brown finishing, glass, stripe wallpaper, furry sofa and carpet, and also mirror.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://files.roxer.com/user/jendelaputih/bf06fcdd3f0cffbc6ae9b0c557f70bff.jpg"&gt;&lt;img src="http://files.roxer.com/user/jendelaputih/bf06fcdd3f0cffbc6ae9b0c557f70bff.jpg" style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 380px; height: 285px;" src="http://files.roxer.com/user/jendelaputih/bf06fcdd3f0cffbc6ae9b0c557f70bff.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://files.roxer.com/user/jendelaputih/ab41fc6b549383fe01dfefe336dbce51.jpg"&gt;&lt;img src="http://files.roxer.com/user/jendelaputih/ab41fc6b549383fe01dfefe336dbce51.jpg" style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 284px; height: 380px;" src="http://files.roxer.com/user/jendelaputih/ab41fc6b549383fe01dfefe336dbce51.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://files.roxer.com/user/jendelaputih/4ea84df2cf788d3e987a2a64ded37300.jpg"&gt;&lt;img src="http://files.roxer.com/user/jendelaputih/4ea84df2cf788d3e987a2a64ded37300.jpg" style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 285px; height: 380px;" src="http://files.roxer.com/user/jendelaputih/4ea84df2cf788d3e987a2a64ded37300.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://files.roxer.com/user/jendelaputih/4be4fd647118d66c7848f733a564b35a.jpg"&gt;&lt;img src="http://files.roxer.com/user/jendelaputih/4be4fd647118d66c7848f733a564b35a.jpg" style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 285px; height: 380px;" src="http://files.roxer.com/user/jendelaputih/4be4fd647118d66c7848f733a564b35a.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://files.roxer.com/user/jendelaputih/bb09fc5fe134ba2bc93b92277a29b0ad.jpg"&gt;&lt;img src="http://files.roxer.com/user/jendelaputih/bb09fc5fe134ba2bc93b92277a29b0ad.jpg" style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 285px; height: 380px;" src="http://files.roxer.com/user/jendelaputih/bb09fc5fe134ba2bc93b92277a29b0ad.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://files.roxer.com/user/jendelaputih/1bf29e2c38a422c0b7a9ad186cb17fa3.jpg"&gt;&lt;img src="http://files.roxer.com/user/jendelaputih/1bf29e2c38a422c0b7a9ad186cb17fa3.jpg" style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 284px; height: 381px;" src="http://files.roxer.com/user/jendelaputih/1bf29e2c38a422c0b7a9ad186cb17fa3.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://files.roxer.com/user/jendelaputih/672f88f1629e2c866c89be7ea7ca0fc8.jpg"&gt;&lt;img src="http://files.roxer.com/user/jendelaputih/672f88f1629e2c866c89be7ea7ca0fc8.jpg" style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 380px; height: 304px;" src="http://files.roxer.com/user/jendelaputih/672f88f1629e2c866c89be7ea7ca0fc8.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://files.roxer.com/user/jendelaputih/137d61c10d29c87362affccab3f652f4.jpg"&gt;&lt;img src="http://files.roxer.com/user/jendelaputih/137d61c10d29c87362affccab3f652f4.jpg" style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 380px; height: 285px;" src="http://files.roxer.com/user/jendelaputih/137d61c10d29c87362affccab3f652f4.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/636522176026931424-8716206191087872511?l=miss-worm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miss-worm.blogspot.com/feeds/8716206191087872511/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=636522176026931424&amp;postID=8716206191087872511&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/8716206191087872511'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/8716206191087872511'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miss-worm.blogspot.com/2010/02/mrs-furnas-tiramisu-apartment.html' title='Mrs Furna&apos;s Tiramisu Apartment'/><author><name>windry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13072319767836551821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R85FBcecQ6I/AAAAAAAAAXw/dACfoIQUsWA/S220/she_was_buried_alive__by_cryptorchid.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-636522176026931424.post-7211311461280014625</id><published>2010-02-24T17:01:00.009+07:00</published><updated>2010-02-24T19:28:22.762+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of voids'/><title type='text'>Bubblegum Child Room</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/S4T54CL-FcI/AAAAAAAAAxQ/GgWNxJlu90w/s1600-h/KTA+%282%29.jpg"&gt;&lt;img src="http://1.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/S4T54CL-FcI/AAAAAAAAAxQ/GgWNxJlu90w/s320/KTA+%282%29.jpg" style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 282px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/S4T54CL-FcI/AAAAAAAAAxQ/GgWNxJlu90w/s320/KTA+%282%29.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5441748990825469378" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;The design was made by me and my husband as a part of our home interior project at Sentul. Our clients asked a room with two colors for their boy and girl, contain two single beds, closet, storage for chlidren toys, playing area, and study desk. Those are a lot of demands in a not too big space, therefore we had to plan a compact yet not too stuffed room.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As for the colors, in the begining, we chose orange and berry with light wood as compliment. Orange for the boy and berry for the girl. But in the end our clients prefered baby blue and baby pink with white as compliment. And as for the furniture shape, we designed it round shaped so it will be save for the children.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/S4T6geNv5tI/AAAAAAAAAxY/yp8gc_KfyNw/s1600-h/KTA+%283%29.jpg"&gt;&lt;img src="http://3.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/S4T6geNv5tI/AAAAAAAAAxY/yp8gc_KfyNw/s320/KTA+%283%29.jpg" style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 302px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/S4T6geNv5tI/AAAAAAAAAxY/yp8gc_KfyNw/s320/KTA+%283%29.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5441749685543888594" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/S4T6xrmkz6I/AAAAAAAAAxg/6fg5gZmH-sA/s1600-h/KTA.jpg"&gt;&lt;img src="http://1.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/S4T6xrmkz6I/AAAAAAAAAxg/6fg5gZmH-sA/s320/KTA.jpg" style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 206px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/S4T6xrmkz6I/AAAAAAAAAxg/6fg5gZmH-sA/s320/KTA.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5441749981195456418" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/636522176026931424-7211311461280014625?l=miss-worm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miss-worm.blogspot.com/feeds/7211311461280014625/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=636522176026931424&amp;postID=7211311461280014625&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/7211311461280014625'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/7211311461280014625'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miss-worm.blogspot.com/2010/02/bubblegum-child-room.html' title='Bubblegum Child Room'/><author><name>windry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13072319767836551821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R85FBcecQ6I/AAAAAAAAAXw/dACfoIQUsWA/S220/she_was_buried_alive__by_cryptorchid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/S4T54CL-FcI/AAAAAAAAAxQ/GgWNxJlu90w/s72-c/KTA+%282%29.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-636522176026931424.post-1131450426520233154</id><published>2010-02-24T15:03:00.006+07:00</published><updated>2010-02-24T15:26:59.950+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of voids'/><title type='text'>Mr Daniel's Blueberry Caramel Room</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/S4TgkRwgb8I/AAAAAAAAAwo/RXkSNcicwYw/s1600-h/kamar-utama-pak-daniel3.jpg"&gt;&lt;img src="http://4.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/S4TgkRwgb8I/AAAAAAAAAwo/RXkSNcicwYw/s320/kamar-utama-pak-daniel3.jpg" style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 290px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/S4TgkRwgb8I/AAAAAAAAAwo/RXkSNcicwYw/s320/kamar-utama-pak-daniel3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5441721163617169346" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Blueberry Caramel Room&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;I came up with this interior design during my writing break period -when i was expecting my first baby. The unusual room shape was quite a challenge and i was enjoying the creative process. I love the outcome also, especially the color scheme. Purple is rarely used in bedroom but surprisingly it looks nice with white and light wood.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/S4ThMGKohZI/AAAAAAAAAww/ogoL2VV_CsE/s1600-h/kamar-utama-pak-daniel7.jpg"&gt;&lt;img src="http://3.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/S4ThMGKohZI/AAAAAAAAAww/ogoL2VV_CsE/s320/kamar-utama-pak-daniel7.jpg" style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 305px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/S4ThMGKohZI/AAAAAAAAAww/ogoL2VV_CsE/s320/kamar-utama-pak-daniel7.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5441721847700293010" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Top View&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/S4ThrHyMFEI/AAAAAAAAAw4/nKxsPk96f40/s1600-h/kamar-utama-pak-daniel4.jpg"&gt;&lt;img src="http://3.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/S4ThrHyMFEI/AAAAAAAAAw4/nKxsPk96f40/s320/kamar-utama-pak-daniel4.jpg" style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 206px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/S4ThrHyMFEI/AAAAAAAAAw4/nKxsPk96f40/s320/kamar-utama-pak-daniel4.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5441722380710581314" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Working Desk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/S4TiKln3_AI/AAAAAAAAAxA/UUPS-A3wNA8/s1600-h/kamar-utama-pak-daniel5.jpg"&gt;&lt;img src="http://4.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/S4TiKln3_AI/AAAAAAAAAxA/UUPS-A3wNA8/s320/kamar-utama-pak-daniel5.jpg" style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 199px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/S4TiKln3_AI/AAAAAAAAAxA/UUPS-A3wNA8/s320/kamar-utama-pak-daniel5.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5441722921296329730" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Bed&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/S4Tijszel3I/AAAAAAAAAxI/r5IXTSyq1lw/s1600-h/kamar-utama-pak-daniel6.jpg"&gt;&lt;img src="http://3.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/S4Tijszel3I/AAAAAAAAAxI/r5IXTSyq1lw/s320/kamar-utama-pak-daniel6.jpg" style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 192px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/S4Tijszel3I/AAAAAAAAAxI/r5IXTSyq1lw/s320/kamar-utama-pak-daniel6.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5441723352720775026" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Walk In Closet&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/636522176026931424-1131450426520233154?l=miss-worm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miss-worm.blogspot.com/feeds/1131450426520233154/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=636522176026931424&amp;postID=1131450426520233154&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/1131450426520233154'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/1131450426520233154'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miss-worm.blogspot.com/2010/02/mr-daniels-blueberry-caramel-room.html' title='Mr Daniel&apos;s Blueberry Caramel Room'/><author><name>windry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13072319767836551821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R85FBcecQ6I/AAAAAAAAAXw/dACfoIQUsWA/S220/she_was_buried_alive__by_cryptorchid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/S4TgkRwgb8I/AAAAAAAAAwo/RXkSNcicwYw/s72-c/kamar-utama-pak-daniel3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-636522176026931424.post-4576772745843250525</id><published>2009-10-07T08:33:00.002+07:00</published><updated>2009-10-07T08:43:24.037+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of papers'/><title type='text'>Metropolis in Khatulistiwa Literary Award 2009</title><content type='html'>[text in bahasa]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khatulistiwa Literary Award kembali diselenggarakan. Setelah tahun lalu &lt;a href="http://orange-novel.blogspot.com"&gt;Orange&lt;/a&gt; menjadi finalis dalam kategori Penulis Muda Berbakat, kali ini, &lt;a href="http://metropolis-novel.blogspot.com"&gt;Metropolis&lt;/a&gt; masuk dalam longlist kategori Prosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;detail lebih lanjut, silakan main ke &lt;a href="http://khatulistiwaliteraryaward.wordpress.com/2009/10/06/10-besar-anugerah-sastra-khatulistiwa-ke-9-2009/"&gt;sini&lt;/a&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/636522176026931424-4576772745843250525?l=miss-worm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miss-worm.blogspot.com/feeds/4576772745843250525/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=636522176026931424&amp;postID=4576772745843250525&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/4576772745843250525'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/4576772745843250525'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miss-worm.blogspot.com/2009/10/metropolis-in-khatulistiwa-literary.html' title='Metropolis in Khatulistiwa Literary Award 2009'/><author><name>windry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13072319767836551821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R85FBcecQ6I/AAAAAAAAAXw/dACfoIQUsWA/S220/she_was_buried_alive__by_cryptorchid.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-636522176026931424.post-704238981443738001</id><published>2009-06-22T17:25:00.011+07:00</published><updated>2010-02-24T15:35:08.887+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of words'/><title type='text'>Koto dan Setumpuk Kartu Tahun Baru (ver 5.0)</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/Sj9gBadYlOI/AAAAAAAAAwg/4fiqcNIih3M/s1600-h/I_Am_Hurt_by_DrFaceyFace21.jpg"&gt;&lt;img src="http://3.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/Sj9gBadYlOI/AAAAAAAAAwg/4fiqcNIih3M/s200/I_Am_Hurt_by_DrFaceyFace21.jpg" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5350100459738141922" style="margin: 0px auto 10px; display: block; width: 200px; height: 165px; text-align: center;" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/Sj9gBadYlOI/AAAAAAAAAwg/4fiqcNIih3M/s200/I_Am_Hurt_by_DrFaceyFace21.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Aku menggunakan garpu makan berujung tumpul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurobek nadi di pergelangan tanganku, cepat dan tanpa pikir panjang. Darah memercik, merintik-rintik seperti hamburan butir-butir salju pada akhir Desember, membasahi baju tidur bercorak bunga matahari yang kukenakan, mengotori lantai tatami di bawah kakiku, dan berkubang di sana.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Garpu makan itu kukembalikan ke tempatnya semula, bersama nasi kare yang tidak kuhabiskan, piring bundar tanpa gambar, dan sendok pasangannya yang tergeletak di pojok kamar. Dari sudut yang sama aku menarik kursi ke samping jendela, lalu duduk di atasnya seraya menyandarkan wajah pada permukaan kaca yang sedingin es.&lt;br /&gt;Ada setumpuk kartu tahun baru di pangkuanku, setiap lembarnya terlihat usang. Kuambil satu dan kubaca isinya dalam diam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat Tahun Baru!&lt;br /&gt;Mari berlibur bersama lagi pada musim panas berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permukaan kartu itu bergambar kembang api dengan latar belakang langit malam yang biru, dilukis menggunakan cat air dengan detail yang rapi. Aku sangat menyukai kartu tahun baru itu. Seorang teman di sekolah yang mengirimkannya tapi aku lupa siapa. Nama pengirimnya sudah tertutup oleh bercak darah yang mengering dan berubah warna menjadi cokelat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuletakkan kartu itu di bibir jendela membelakangi langit berkabut di luar ruangan, kemudian aku memeriksa kartu-kartu yang lain satu persatu. Beberapa yang kusukai kupisahkan dari tumpukan dan kupajang seperti kartu bergambar kembang api tadi. Kukumpulkan sisanya yang berserakan di pangkuanku dan di lantai, kusatukan, kuikat dengan sehelai pita putih, kemudian kusimpan kembali ke dalam kotak sepatu di bawah tempat tidur, di mana selalu kusembunyikan semua barang berharga milikku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini aku duduk menghadap jendela, memandangi kartu-kartu kesukaanku seperti yang sudah-sudah, menunggu waktu yang melangkah tertatih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lambat sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Aku ingin mati saja.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa kartu-kartu ini tidak salah kirim?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petugas pos itu berdiri di luar pagar kayu rumah kami, di sebelah sepeda tua miliknya; berseragam biru, bertopi, dan berjaket tebal. Pada saat saya bertanya tadi, dia hanya tersenyum dan membiarkan saya memeriksa sendiri tumpukan kartu tahun baru di tangan saya. Kartu-kartu itu ditujukan untuk adik saya, Koto, karenanya dahi saya berkerut. Sudah lama sekali sejak terakhir kali petugas pos mengantarkan kartu tahun baru untuk Koto, bertahun-tahun yang lalu, sebelum Koto berhenti sekolah dan mengurung diri di kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana kabar Koto?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memerhatikan petugas pos itu dan baru menyadari ini kali pertama saya melihatnya. Dia bukan petugas yang biasa mengantarkan surat dari kantor pos, dia juga bukan salah satu warga yang tinggal di lingkungan kami, tetapi petugas itu bertanya seolah-olah dia mengenal dan mengetahui kondisi Koto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu kenal Koto?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petugas pos itu mengangguk. Dia melepas topi yang dikenakannya. “Mungkin Koto tidak mengingat saya,” katanya, “tapi dulu kami berada di kelas yang sama,” kemudian dia menyebutkan namanya: Yuji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada jeda yang cukup panjang setelah itu. Saya terbawa perasaan sentimentil yang tiba-tiba saja muncul, lalu hanyut dalam nostalgia pahit. Di sekeliling saya, salju pertama tahun ini turun memenuhi udara pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Dingin. &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Udara awal tahun membuatku menggigil pada saat matahari menghilang di balik deretan rumah bertingkat dua yang hampir seragam. Lampu-lampu di dalam rumah-rumah itu menyala satu persatu, begitu juga lampu-lampu yang berbaris di pinggir jalan. Orang-orang dewasa yang baru pulang bekerja melangkah dengan tergesa-gesa, anak-anak berlarian meninggalkan tempat bermain mereka, sementara aku memanyunkan mulut. Saat ini aku berjongkok di depan rumah, basah kuyub. Kakak belum pulang dan kunci yang biasa kubawa hilang bersama sebagian isi tasku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan salahku kunci itu hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&gt;&lt;em&gt;Apa yang harus kukatakan kepada kakak? &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koto berkata, “Aku terjatuh dan hampir hanyut di sungai belakang sekolah.”&lt;br /&gt;Saya masih ingat, pada suatu sore di awal tahun, Koto pulang dengan tubuh basah kuyub. Seragamnya penuh lumpur dan dia kehilangan sebelah sepatunya. Dia juga kehilangan sebagian isi tasnya, beberapa buku dan alat tulis, serta satu set kunci rumah yang saya berikan kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak bisakah kamu berhati-hati?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu saya memarahi Koto karena saya terpaksa harus membelikannya sepasang sepatu baru, padahal kami tidak punya banyak uang. Kedua orangtua kami sudah tidak ada, meninggalkan kami yang belum selesai sekolah dan rumah kecil yang cicilannya belum lunas. Koto kelihatan menyesal dan hampir menangis; matanya berkaca-kaca, hidungnya juga basah, dan dia tidak berkata apa-apa untuk membantah. Saya yakin betul, dia pasti jera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, selang beberapa hari kemudian dia kehilangan jam tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak tahu bagaimana bisa terjadi, tapi sepertinya seseorang menjambretku di kereta,” kata Koto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa kamu ceroboh sekali sih? Jam itu pemberian ayah kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koto tidak menjawab, sama seperti sebelumnya, tapi kali kedua itu dia menangis, sehingga omelan panjang yang sudah saya siapkan untuk anak itu terpaksa saya telan kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seolah berpola, kejadian serupa terus berulang setelah itu. Pernah satu kali Koto kehilangan buku sketsanya. Dia bilang anjing penjaga sekolah merebut dan membawa pergi buku itu. Dia mencoba mengejar anjing itu tapi buku sketsanya tidak bisa diselamatkan. Lain waktu dia kehilangan seragam olahraganya dan berdalih pakaian itu diterbangkan angin saat sedang dijemur di atap sekolah. Dia mengaku sudah mencari ke mana-mana tapi setelan kaos dan celana itu tidak ditemukan juga. Barang yang paling sering Koto hilangkan adalah kotak bekalnya. Alasan yang dia kemukakan bermacam-macam: kotak itu tertinggal di kelas, terbawa oleh teman saat mereka saling bertukar bekal, atau dia berikan kepada anak penjaga sekolah karena kasihan. Bahkan dia pernah bersikeras sudah membawa pulang peralatan makannya, padahal belum, dan malah mengatai saya pikun. “Kalau tidak percaya, ya sudah! Cuma kotak begitu saja, aku bisa ganti dengan uang jajanku,” begitu racaunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebiasaan baru Koto menghilangkan barang lama-kelamaan membuat saya kesal. Saya tahu Koto mengada-ada seperti remaja-remaja seusianya yang suka memberontak dan mencari perhatian dengan berbagai macam cara, termasuk saat dia meminta uang sakunya dinaikkan dua kali lipat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah uang sakumu selama ini tidak cukup?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Banyak yang harus kubeli.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang harus kamu beli?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koto tidak langsung menjawab. Dia tampak berpikir sejenak sambil menghindari tatapan mata saya, kemudian berkata dengan ragu-ragu, “Banyak sekali. Tidak bisa kusebutkan satu-satu. Pokoknya semua itu kebutuhan sekolah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi dia mengada-ada. Semua kebutuhan sekolahnya sudah saya siapkan: seragam, buku teks, alat tulis, les tambahan, studi wisata; semua. Karena itu, tidak saya berikan apa yang dia minta dan ekspresi yang muncul pada wajah Koto kemudian bukanlah kesal, kecewa, atau ekspresi remaja yang gagal mendapat uang tambahan untuk –misalnya– membeli aksesoris rambut yang sedang tren.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koto terlihat bingung dan takut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang mengganjal di hati saya kala saya melihat ekspresi Koto tersebut dan rupanya itu bukan firasat belaka. Beberapa hari kemudian pihak sekolah menghubungi saya, memberitahu bahwa Koto belum menyerahkan uang iuran studi wisata yang sesungguhnya sudah saya berikan kepadanya sejak lama. Malamnya kami bertengkar hebat karena masalah ini. Saya marah besar, sementara Koto menangis meraung-raung dan tidak mau memberitahu untuk apa uang tersebut dia pergunakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menjadi malas-malasan ke sekolah setelah kejadian itu. Awalnya dia berpura-pura sakit. Dalam seminggu, dia tidak masuk sekolah tiga sampai empat kali banyaknya. Senin dia bilang kepalanya pusing, mungkin dia anemia. Rabu dia sakit perut karena malam sebelumnya –akunya– dia salah makan. Kamis dia dehidrasi lantaran Rabu dia bolak-balik buang air. Dan begitu seterusnya selama beberapa minggu sampai kesabaran saya habis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya paksa Koto kembali pergi ke sekolah. Di luar dugaan, dia menolak dengan keras. Dia kembali meraung-raung. “Aku tidak mau sekolah! Aku tidak mau sekolah!” teriaknya, tetapi tidak saya gubris dan, setelah saya ancam dengan sedikit bentakan, keesokan paginya Koto berangkat sekolah. Langkahnya berat saat meninggalkan rumah. Matanya menatap saya dengan sorot penuh kemarahan seolah-olah saya sudah melakukan kejahatan besar terhadap dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Aku benci kakak!&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku capai menangis sampai air mataku kering dan suaraku habis, tetapi kakak tidak mengerti juga. Sudah kukatakan aku tidak ingin pergi ke sekolah, tetapi dia malah membentakku. Hari ini dia membuang selimutku dan menyeretku ke kamar mandi. Aku sempat meronta tapi badanku lebih kecil dari badan kakak. Sudah pasti aku kalah tenaga dan gara-gara itu kakiku terantuk daun pintu, betisku lebam dan nyeri.&lt;br /&gt;Tidak kusentuh sarapanku sebagai balasannya. Bekal makan siangku juga kubiarkan tertinggal di rumah. Biar saja nasi kepal itu basi! Aku tidak mau makan apapun yang dibuat oleh kakak. Kupelototi dia saat aku berangkat tadi dan aku tidak menyesali sikapku. Untuk apa menyesal? Aku mengalami kesialan yang sama di sekolah hari ini seperti hari-hari sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini gara-gara kakak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Dia tidak mengerti!&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap Koto semakin sulit untuk saya pahami. Dia berubah susah diatur. Adik saya itu sepenuh hati melakoni perannya sebagai remaja-remaja seusianya yang suka memberontak dan mencari perhatian, seolah-olah dia sedang melancarkan serangan balasan kepada saya. Atas dasar apa dia melakukan itu, saya tidak tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sibuk bertanya-tanya sendiri sampai pada satu saat saya teringat bahwa Koto memiliki buku harian. Sejak lancar menulis hiragana, dia rajin membuat jurnal. Saya mencari buku harian tersebut –atau tulisan-tulisan lain yang serupa– secara diam-diam. Buku itu saya temukan di dalam kotak sepatu miliknya yang dia sembunyikan di bawah tempat tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di salah satu halaman dia menulis: Kenapa senpai-senpai melakukan semua ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya membaca halaman-halaman selanjutnya. Koto menulis: Bagaimana agar mereka berhenti menggangguku? Saya membaca ini juga: Mungkin aku harus pura-pura sakit agar tidak perlu datang ke sekolah. Mungkin aku harus berhenti sekolah. Aku benci senpai-senpai. Pada halaman berikutnya dia menulis: Aku benci kakak. Dia tidak mengerti.&lt;br /&gt;Dan yang terakhir Koto tulis adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Aku ingin mati saja.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami duduk di beranda, saya dan Yuji, ditemani satu kotak kue mochi dan dua cangkir ocha hangat di hadapan kami. Wajah Yuji tertunduk. Petugas pos itu menatap kepulan uap panas dari cangkir miliknya. Ekspresinya sendu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia berkata, “Di sekolah, tidak perlu melakukan kesalahan untuk dikurung di dalam WC. Tidak perlu punya alasan untuk menenggelamkan temanmu di sungai. Itu yang terjadi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Para guru?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Guru tahu tapi diam saja,” Yuji berhenti sebentar, kemudian menambahkan, “Saya juga diam.” Kalimat terakhir itu diucapkannya dengan suara pelan yang menyiratkan penyesalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menanggapi Yuji hanya dengan seulas senyum pahit. Saya tidak ingin menyalahkannya. Siapa pun bisa menjadi penakut saat berhadapan dengan senpai-senpai mereka di sekolah. Mau bagaimana lagi? Mereka bisa bernasib sama jika berani mencoba menjadi pahlawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya membaca di internet tentang siswi bernama Komori,” kata Yuji lagi setelah hening yang cukup lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasumi Komori. Saya juga membaca kisahnya. Dulu sekali. Di banyak surat kabar. Apa yang dialami olehnya mirip dengan apa yang dialami oleh Koto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi kembali teringat, pada hari yang sama dengan hari saat saya mencuri baca buku harian Koto, adik saya itu membawa pulang luka-luka di lutut, siku, dan keningnya. Saya segera menghambur memeluknya begitu dia memasuki rumah, masih sambil memegang buku harian tersebut. Saya tidak tahu apakah luka-luka itu adalah akibat Koto dikerjai teman-temannya di sekolah atau hasil usahanya bunuh diri seperti yang saya takutkan. Yang jelas, pada hari berikutnya, saya tidak berani memaksa Koto berangkat ke sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu kamar Koto.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menunjuk sebuah pintu berwarna pastel di ujung selasar rumah kami, memberitahu Yuji. “Dua tahun Koto mengurung diri di dalam sana, duduk di tepi jendela sepanjang waktu, sambil membaca tumpukan kartu pos lama,” kata saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lambat laun Koto berubah seolah dirinya mengalami gangguan psikologis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu tidak saya katakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya takut apa yang menimpa Komori akan menimpa Koto juga, karenanya saya dan teman-teman di sekolah mengumpulkan kartu tahun baru. Kami berharap kartu-kartu itu bisa menyemangati Koto agar kembali ke sekolah.” Yuji memberi penjelasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kembali tersenyum. Kartu-kartu yang dimaksud oleh Yuji masih berada di tangan saya. Saya lepaskan pita yang mengikatnya. Saya baca kartu-kartu itu satu persatu. Pesan-pesan yang tertulis di permukaannya menghangatkan dada dan senyuman di bibir saya mengembang karena itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamar Koto sudah lama kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu juga tidak saya katakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengucapkan terima kasih kepada Yuji dan berkata akan meletakkan kartu-kartu itu di depan pintu kamar Koto agar pada saat dia keluar dari ruangan itu, untuk pergi ke ruang makan atau ke kamar mandi, dia akan menemukan dan membacanya. Saya juga berkata kepada Yuji, Koto pasti akan segera kembali ke sekolah, lalu kami menghabiskan ocha dalam cangkir kami masing-masing dan salju turun semakin lebat. &lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/636522176026931424-704238981443738001?l=miss-worm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miss-worm.blogspot.com/feeds/704238981443738001/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=636522176026931424&amp;postID=704238981443738001&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/704238981443738001'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/704238981443738001'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miss-worm.blogspot.com/2009/06/koto-dan-setumpuk-kartu-tahun-baru-ver.html' title='Koto dan Setumpuk Kartu Tahun Baru (ver 5.0)'/><author><name>windry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13072319767836551821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R85FBcecQ6I/AAAAAAAAAXw/dACfoIQUsWA/S220/she_was_buried_alive__by_cryptorchid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/Sj9gBadYlOI/AAAAAAAAAwg/4fiqcNIih3M/s72-c/I_Am_Hurt_by_DrFaceyFace21.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-636522176026931424.post-5962093104470443796</id><published>2009-06-22T16:05:00.009+07:00</published><updated>2010-02-24T15:39:46.804+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of words'/><title type='text'>Sakura (ver 2.0)</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/Sj9MXlbjeyI/AAAAAAAAAwY/uiJtI7sXTcA/s1600-h/Sakura_by_Blue_singing_monkeys.jpg"&gt;&lt;img src="http://3.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/Sj9MXlbjeyI/AAAAAAAAAwY/uiJtI7sXTcA/s200/Sakura_by_Blue_singing_monkeys.jpg" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5350078850407824162" style="margin: 0px auto 10px; display: block; width: 200px; height: 150px; text-align: center;" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/Sj9MXlbjeyI/AAAAAAAAAwY/uiJtI7sXTcA/s200/Sakura_by_Blue_singing_monkeys.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;‘Ne ... Rayyi, apakah kau masih mengingatku?’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat Chizuru tiba pada awal April, bersama serpihan-serpihan kenangan yang hingga saat ini masih kusimpan rapi dalam ruang khusus di benakku. Aku membaca surat itu sambil berimpitan dalam bus yang mengantarku bermagang setiap hari, yang pada hari itu kutinggalkan sebelum mencapai tujuannya demi bertolak ke Tokyo dengan seluruh tabungan yang aku punya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kini aku berdiri di tengah lobi Narita; termangu menatap keramaian dan kemewahan negeri pemakan ikan mentah, tanah kelahiran Chizuru; berbekal sebuah ransel berisi beberapa pakaian, kamera Nikon F5 kesayanganku, dan surat yang hampir tidak pernah kulepaskan sejak pertama kuterima. Ratusan orang berkulit kuning yang berlalu-lalang dalam ruang gigantik bandara membuatku menelan ludah karena merasa terasing. Pintu keluar yang transparan berada di balik maha arus itu, berkilauan karena membiaskan cahaya yang menyerbu dari luar bangunan, membangkitkan emosi lembut dari dasar hatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘O genki desu ka? Kau pasti terkejut menerima surat ini. Sudah lama sekali, ya, sejak kita berpisah.’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku disambut oleh udara pagi Tokyo yang dingin begitu mencapai teras luar bandara. Di sebelah timur matahari baru setengah muncul, masih menyisakan semburat-semburat Jingga di langit kota yang biru muda. Sebuah taksi berhenti di hadapanku dan aku mengulurkan tangan untuk membuka pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ohaiyo! ”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laki-laki Jepang berusia lanjut menyapaku dengan sopan dari balik kemudi. Kedua mata laki-laki itu nyaris terpejam saat dia memberiku seulas senyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku membalas sapaannya seraya memasuki kendaraan, kemudian memberitahu tempat tujuanku dengan bahasa Jepangku yang seadanya. “Taito-ku, onegaishimasu .” Taksi tersebut melaju segera setelah itu, menyusuri jalan Tokyo yang bersih dan lapang, melewati bangunan-bangunan bernuansa kelabu satu persatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Dua tahun berlalu. Apa yang sedang kau lakukan saat ini? Apa kau masih memotret? Pasti masih kan? Atau mungkin sekarang impianmu sudah terwujud?’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sepanjang jalan menuju Taito-ku, pikiranku sibuk mengingat ulang setiap kenangan yang pernah kulalui bersama Chizuru. Kami bertemu di sebuah pameran foto di Jakarta. Chizuru adalah salah satu fotografer profesional yang sejumlah karyanya diikutsertakan dalam pameran tersebut, sementara aku cuma mahasiswa fotografi yang baru belajar menggunakan F5.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih ingat foto-foto milik Chizuru. Foto-foto sakura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Rayyi, bukankah dulu kau berkata ingin melihat Sakura? Tidak lama lagi April tiba. Sakura bermekaran pada bulan itu. Bagaimana kalau sekali-kali kau mengunjungiku dan kita bisa menghabiskan waktu berdua seperti dulu?’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu yang kuhabiskan bersama Chizuru dulu tidaklah panjang, tetapi tidak satu detik pun kami sia-siakan. Hampir seluruhnya kami isi dengan berburu foto, bepergian dari satu tempat ke tempat lain untuk mencari gambar terbaik yang bisa kami temukan, atau berkutat berjam-jam dengan cairan developer di kamar gelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagiku, Chizuru adalah seorang guru, sahabat, dan juga kekasih yang sangat kucintai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengunjungi kenalan di Taito-ku?” pengemudi taksi di depanku tiba-tiba bertanya, membuyarkan lamunanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengangguk. “Ya,” jawabku. Bibirku mengulas senyum tipis. “Teman lama.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taksi yang kutumpangi berhenti beberapa waktu kemudian di depan salah satu perumahan di daerah Taito-ku. Aku turun dan menatap sebuah jalan di hadapanku yang tidak terlalu lebar, semacam gang, yang diapit dua baris rumah Jepang semi tradisional ukuran kecil bertingkat dua. Kebanyakan dari lantai bawah rumah-rumah tersebut digunakan untuk berjualan oleh pemilik-pemiliknya dan dihiasi berbagai spanduk bertulisan kanji dari bahan kain atau kayu tipis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengeluarkan surat kiriman Chizuru dari saku jaketku. Kucari alamat yang tertera di permukaan bagian belakang amplop.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Sekalian nanti kau bisa berkenalan dengan kedua orangtuaku. Kau pernah bertanya seperti apa mereka. Ibuku adalah perempuan sederhana yang menghabiskan hampir seluruh waktunya untuk menjaga toko keluarga, duduk berjam-jam menunggu pembeli tanpa mengeluh, sambil mengenakan celemek dan tutup kepala.’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang perempuan setengah baya yang persis seperti gambaran Chizuru dalam suratnya–perempuan sederhana yang mengenakan blus biru gelap bercorak bunga kecil, penutup kepala, dan celemek putih–terlihat di salah satu toko, di alamat yang kudatangi. Perempuan itu bertubuh pendek dan agak gemuk. Rambutnya dikuncir kuda dan garis wajahnya mirip dengan milik Chizuru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sumimasen ,” sapaku kepada perempuan itu. “Apakah ini rumah Enomoto-san?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai, desu yo ,” perempuan itu menjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bibirku segera mengulas senyum lebar. “Saya Rayyi, teman Chizuru dari Jakarta,” aku memperkenalkan diri sambil membungkukkan badanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah!” Perempuan itu berseru sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Sepasang mata kecilnya terbelalak menatapku. “Honto ni Rayyi-kun ka?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengangguk, mengiyakan pertanyaan itu, dan rona wajah perempuan itu–yang kini kuyakini sebagai Nyonya Enomoto–berubah merah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cho... chotto! ” Dia berlari masuk ke rumah. Lamat-lamat suara seraknya terdengar olehku dari arah luar, memanggil sang suami dengan gaduh, “A... anata! Anata !”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Dan ayahku? Ayahku hanya seorang pegawai negeri biasa yang tidak lama lagi pensiun.’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lama berselang, Nyonya Enomoto kembali. Suami perempuan itu, laki-laki seusianya yang bertubuh gempal dan berkepala pitak menyusul di belakang. Walau ini adalah pertemuan pertamaku dengan mereka, keduanya menyambutku dengan ramah–mereka menyalamiku serta memelukku–dan tiba-tiba saja dadaku merasa hangat sekaligus penuh kerinduan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Ne... Rayyi, tahukah kau apa arti sakura?’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuan Enomoto menuangkan segelas sake ke dalam gelas kecil di hadapanku, sementara istrinya menyuguhkan sepiring kue mochi yang dibungkus daun sakura. Kami bertiga duduk di atas tatami, mengelilingi sebuah meja pendek persegi empat yang terbuat dari kayu dan saling berbagi keramahan yang terbentuk begitu mudah, semudah Chizuru pergi meninggalkanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf. Kami belum sempat berterima kasih atas apa yang kau lakukan untuk Chizuru di Jakarta,” kata Tuan Enomoto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersenyum, kemudian menggelengkan kepala. “Justru saya yang harus minta maaf karena terlambat memberi kabar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sama sekali tidak terlambat,” Nyonya Enomoto ganti angkat bicara, “Kalau bukan karena Rayyi-kun, kami tidak bisa menemani Chizuru pada saat-saat terakhirnya.”&lt;br /&gt;Ucapan Nyonya Enomoto itu membuatku terdiam. Chizuru sakit. Karena itu dia harus kembali ke Jepang setelah baru beberapa bulan tinggal di Jakarta. Akulah yang kala itu menghubungi keluarga Chizuru dan menyiapkan segala keperluannya untuk kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Sakura mengekspresikan ikatan antarmanusia. Seperti ikatan keluarga atau ikatan persahabatan, atau seperti ikatan yang muncul di antara kita, juga seperti ikatan yang kau dan orangtuaku ciptakan tanpa sengaja.’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah surat Chizuru membuatmu terkejut?” Suara Nyonya Enomoto berubah pelan dan penuh kehati-hatian kala mengungkapkan pertanyaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak menjawab, hanya mengangguk sambil tersenyum. Surat yang membawaku ke Tokyo tiba dua tahun setelah kepulangan Chizuru, satu tahun setelah dia meninggal. Tuan Enomoto ikut mengulas senyum, bukan senyum sedih seperti yang kuperlihatkan, melainkan senyum lembut, seolah-olah dia sedang mengenang masa lalu yang indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Chizuru menulis surat itu pada hari-hari terakhirnya. ‘Hadiah perpisahan untuk Rayyi-kun,’ katanya,” jelas laki-laki tua itu seraya melepaskan tawa renyah yang senada dengan senyum yang tadi dia perlihatkan. “Tapi, entah kenapa dia meminta kami menunggu satu tahun untuk mengirimkan surat itu kepadamu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi aku tidak menjawab. Hanya senyumku saja yang kurasakan sendiri mengembang dan kusadari diriku semakin terhanyut dalam kerinduan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Pergilah melihat sakura, Rayyi. Bawalah sebotol sake dan sekotak mochi. Bawa serta juga semua kenangan yang selama ini masih kau simpan.’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuterima ajakan Tuan dan Nyonya Enomoto untuk mengunjungi Taman Ueno di dekat perumahan mereka, sebuah taman umum yang luasnya melebihi perumahan itu sendiri. Membawa sebotol sake dan sekotak kue mochi buatan sendiri, kami menggelar kain di salah satu sudut taman, di bawah pohon sakura yang sedang berbunga lebat dan mengisi udara di sekeliling kami dengan kelopak-kelopak putihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Pohon sakura berbunga setahun sekali. Kuncupnya mulai terlihat sejak awal tahun tapi baru akan mekar pada awal April. Dia tidak punya waktu cukup lama saat mekar. Keindahannya hanya sebentar tapi karena itulah sakura begitu berharga.’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menyapu pemandangan di sekelilingku. Entah ada berapa banyak orang yang berkumpul di Taman Ueno ini. Ada keluarga yang berkumpul bersama pada sedikit waktu luang mereka, kelompok sahabat yang sedang menguntai kenangan pada masa muda, pasangan kekasih yang masih saling memiliki, dan orang yang menghibur diri dalam kesendirian; masing-masing tertangkap menarik oleh mataku dan aku tergerak untuk mengeluarkan kamera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berdiri. Nikon F5 milikku siap di genggaman. Kubuka penutup lensa kamera tersebut, lalu aku mulai memotret.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Ne... Rayyi, apakah kau melihat apa yang kulihat melalui lensa kameraku?’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu frame. Dua frame. Tiga frame. Setelah itu pandanganku mulai kabur. Mataku basah kala air mata keluar mewakili perasaanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Sakura adalah ciri kehidupan yang tidak abadi.’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak sanggup lagi mengambil gambar. Kedua kakiku terpaku di tempatku berdiri. Kudapati kemudian diriku menangis sesunggukkan, sementara kelopak-kelopak sakura yang berjatuhan di sekitarku mengerubungi kepala dan pundakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;‘Karena itu, Rayyi, kenangan yang kau bawa serta bersama sebotol sake dan sekotak mochi tadi sudah saatnya kau lepaskan. Perlu waktu memang. Karena itu aku kirimkan surat ini setelah beberapa lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, kalau tangisanmu sudah berubah kembali menjadi senyuman, datanglah lagi mengunjungiku dan kita bisa melihat sakura bersama.’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;catatan penulis: cerpen asli ditulis pada 2007, menggunakan sudut pandang orang ketiga.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/636522176026931424-5962093104470443796?l=miss-worm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miss-worm.blogspot.com/feeds/5962093104470443796/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=636522176026931424&amp;postID=5962093104470443796&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/5962093104470443796'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/5962093104470443796'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miss-worm.blogspot.com/2009/06/sakura-ver-20.html' title='Sakura (ver 2.0)'/><author><name>windry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13072319767836551821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R85FBcecQ6I/AAAAAAAAAXw/dACfoIQUsWA/S220/she_was_buried_alive__by_cryptorchid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/Sj9MXlbjeyI/AAAAAAAAAwY/uiJtI7sXTcA/s72-c/Sakura_by_Blue_singing_monkeys.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-636522176026931424.post-4903499847432818767</id><published>2009-06-05T12:40:00.002+07:00</published><updated>2009-06-05T12:44:29.193+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of papers'/><title type='text'>Perkosakata 2009 Book Club</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;“…kau mencariku bukan untuk sindikat 12… kau melakukan ini untuk dirimu sendiri. Karena, aku membunuh ayahmu. Karena, kau adalah seorang Saada.” (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Metropolis&lt;/span&gt;, hal.126)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu peserta lomba Ulas Buku Perkosakata 2009? Penasaran siapa yang menang?&lt;br /&gt;Atau kamu sudah selesai membaca “Metropolis” dan  “Perasaan-perasaan yang Menyusun Sendiri Petualangannya”, tapi ada hal yang masih menjadi pertanyaan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Temukan jawabannya di acara ini!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadiri acara Bedah Buku “Metropolis” (Windry Ramadhina) dan “Perasaan-perasaan yang Menyusun Sendiri Petualangannya” (Gunawan Maryanto) yang bertempat di:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;MP Book Point&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jl. Puri Mutiara Raya 72, Jeruk Purut, Jakarta Selatan&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Minggu, 7 Juni 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mulai pukul 09.00 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama:&lt;br /&gt;Sapardi Djoko Damono&lt;br /&gt;Yusi A. Pareanom&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara ini &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;GRATIS&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;TERBUKA UNTUK UMUM&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai berjumpa di sana!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“di tempat ini kau tak perlu jam tangan&lt;br /&gt;hanya ingatan. sedikit ingatan”&lt;br /&gt;("Jarak", hal.15 – &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Perasaan-perasaan yang Menyusun Sendiri Petualangannya&lt;/span&gt;)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/636522176026931424-4903499847432818767?l=miss-worm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miss-worm.blogspot.com/feeds/4903499847432818767/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=636522176026931424&amp;postID=4903499847432818767&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/4903499847432818767'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/4903499847432818767'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miss-worm.blogspot.com/2009/06/perkosakata-2009-book-club.html' title='Perkosakata 2009 Book Club'/><author><name>windry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13072319767836551821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R85FBcecQ6I/AAAAAAAAAXw/dACfoIQUsWA/S220/she_was_buried_alive__by_cryptorchid.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-636522176026931424.post-4706900126979558816</id><published>2009-05-03T12:10:00.008+07:00</published><updated>2009-05-03T12:19:06.928+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of papers'/><title type='text'>Invitation</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/Sf0o5MspwKI/AAAAAAAAAwQ/xDRCbih_WWM/s1600-h/pamflet-tinggi-new.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5331462497002700962" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 209px; CURSOR: hand; HEIGHT: 400px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/Sf0o5MspwKI/AAAAAAAAAwQ/xDRCbih_WWM/s400/pamflet-tinggi-new.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;click and enlarge the picture to see the invitation &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/636522176026931424-4706900126979558816?l=miss-worm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miss-worm.blogspot.com/feeds/4706900126979558816/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=636522176026931424&amp;postID=4706900126979558816&amp;isPopup=true' title='9 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/4706900126979558816'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/4706900126979558816'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miss-worm.blogspot.com/2009/05/open-invitation.html' title='Invitation'/><author><name>windry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13072319767836551821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R85FBcecQ6I/AAAAAAAAAXw/dACfoIQUsWA/S220/she_was_buried_alive__by_cryptorchid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/Sf0o5MspwKI/AAAAAAAAAwQ/xDRCbih_WWM/s72-c/pamflet-tinggi-new.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-636522176026931424.post-7907402852315031742</id><published>2009-04-27T13:07:00.003+07:00</published><updated>2009-04-27T13:10:39.140+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of papers'/><title type='text'>Metropolis in Perkosakata 2009 Book Review Competition</title><content type='html'>[text in bahasa]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Suka mengkritik buku yang kamu baca? Ayo tuangkan penilaianmu atas novel terbaru Windry Ramadhina, &lt;strong&gt;Metropolis&lt;/strong&gt;, dalam bentuk resensi! Bekerja sama dengan &lt;a href="http://grasindo.co.id/"&gt;Grasindo&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://perkosakata2009.wordpress.com/"&gt;Perkosakata 2009&lt;/a&gt; mengadakan lomba ulas buku. Kesempatan ini terbuka luas dan dapat diikuti oleh siapa saja.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ketentuan Umum:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;1.Resensi harus karya asli, bukan bukan saduran atau jiplakan.&lt;br /&gt;2.Resensi ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik.&lt;br /&gt;3.Panjang resensi minimal 500 kata.&lt;br /&gt;4.Resensi mencantumkan keterangan umum maupun khusus tentang buku bersangkutan yang kamu ketahui dari sumber mana pun (yang wajib disebutkan demi kredibilitas) dan kamu anggap penting.&lt;br /&gt;Di samping itu kamu diharapkan mampu mengungkapkan pemahaman pribadi kamu, apa yang kamu dapatkan dari hasil membaca, yang dianggap tepat untuk mendeskripsikan inti buku tersebut.&lt;br /&gt;Kamu boleh berkomentar mengenai nilai-nilai positif dan negatif yang dimiliki buku tersebut sebagai sebuah karya tulis berdasarkan standar pribadi yang tidak bertentangan dengan kaidah berbahasa Indonesia yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ketentuan Khusus: &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;1Kamu harus punya blog.&lt;br /&gt;2.Resensi harus memuat gambar sampul buku dan banner Perkosakata 2009 yang dapat kamu peroleh dari blog Perkosakata 2009.&lt;br /&gt;3.Resensi diunggah di blog, lalu ditautkan dengan blog &lt;a href="http://perkosakata2009.wordpress.com/"&gt;Perkosakata 2009&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;4.Begitu resensi dipublikasikan, kamu harus mendaftarkan diri dengan cara mengirim e-mail ke Perkosakata (perkosakata@gmail.com) dengan judul “Lomba Ulas Buku” dengan format sebagai berikut:&lt;br /&gt;•Nama lengkap:&lt;br /&gt;•Alamat surat menyurat:&lt;br /&gt;•Nomor telepon:&lt;br /&gt;•URL resensi di blog kamu:&lt;br /&gt;•Resensi dilampirkan dalam bentuk data Microsoft Word.&lt;br /&gt;5.Batas akhir pengunggahan adalah 31 Mei 2009 pukul 23:59 WIB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hadiah:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Resensi terbaik akan mendapatkan hadiah paket buku dari Grasindo serta souvenir Kemudian.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Juri:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Mira Rainayati (Grasindo)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Lain-lain: &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;1.Resensi-resensi Unggulan akan diumumkan melalui blog &lt;a href="http://perkosakata2009.wordpress.com/"&gt;Perkosakata 2009&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://kemudian.com/"&gt;kemudian.com&lt;/a&gt;, dan e-mail pada 3 Juni 2009.&lt;br /&gt;2.Resensi terbaik akan diumumkan dalam acara Bedah Buku Perkosakata 2009 yang diselenggarakan pada 7 Juni 2009 di Jakarta.&lt;br /&gt;3.Hasil penjurian tidak dapat diganggu gugat.&lt;br /&gt;4.Lomba ini tertutup bagi panitia Perkosakata 2009.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/636522176026931424-7907402852315031742?l=miss-worm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miss-worm.blogspot.com/feeds/7907402852315031742/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=636522176026931424&amp;postID=7907402852315031742&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/7907402852315031742'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/7907402852315031742'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miss-worm.blogspot.com/2009/04/metropolis-in-perkosakata-2009-book.html' title='Metropolis in Perkosakata 2009 Book Review Competition'/><author><name>windry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13072319767836551821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R85FBcecQ6I/AAAAAAAAAXw/dACfoIQUsWA/S220/she_was_buried_alive__by_cryptorchid.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-636522176026931424.post-4863104931305371396</id><published>2009-04-21T13:20:00.003+07:00</published><updated>2009-04-21T13:32:00.662+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of papers'/><title type='text'>(News) Metropolis is Now Available at Online Bookstore</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;click one of the links below to grab my second novel from&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bukabuku.com/search/index?searchtype=title&amp;amp;searchtext=metropolis"&gt;Buka Buku&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/http//inibuku.com/display.php?d=cb-kbk&amp;amp;bkp=G04WRAM01"&gt;Ini Buku&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://perkosakata2009.wordpress.com/2009/04/14/buku-buku-ulas-buku/"&gt;Perkosakata 2009&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/636522176026931424-4863104931305371396?l=miss-worm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miss-worm.blogspot.com/feeds/4863104931305371396/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=636522176026931424&amp;postID=4863104931305371396&amp;isPopup=true' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/4863104931305371396'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/4863104931305371396'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miss-worm.blogspot.com/2009/04/news-metropolis-is-now-available-at.html' title='(News) Metropolis is Now Available at Online Bookstore'/><author><name>windry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13072319767836551821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R85FBcecQ6I/AAAAAAAAAXw/dACfoIQUsWA/S220/she_was_buried_alive__by_cryptorchid.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-636522176026931424.post-6999540770701407892</id><published>2009-04-06T15:25:00.018+07:00</published><updated>2009-04-13T16:45:09.014+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of papers'/><title type='text'>(Issue) Metropolis is Coming Out Soon</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/SeK_ZKQuGpI/AAAAAAAAAuw/pAgGqIHLH-8/s1600-h/metro-300.jpg"&gt;&lt;img src="http://3.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/SeK_ZKQuGpI/AAAAAAAAAuw/pAgGqIHLH-8/s320/metro-300.jpg" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5324028148477467282" style="margin: 0px auto 10px; display: block; width: 229px; height: 320px; text-align: center;" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/SeK_ZKQuGpI/AAAAAAAAAuw/pAgGqIHLH-8/s320/metro-300.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;release date:&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;April 27, 2009&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;click &lt;a href="http://metropolis-novel.blogspot.com/"&gt;here&lt;/a&gt; for further information &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/636522176026931424-6999540770701407892?l=miss-worm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miss-worm.blogspot.com/feeds/6999540770701407892/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=636522176026931424&amp;postID=6999540770701407892&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/6999540770701407892'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/6999540770701407892'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miss-worm.blogspot.com/2009/04/issue-metropolis-is-coming-out-soon.html' title='(Issue) Metropolis is Coming Out Soon'/><author><name>windry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13072319767836551821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R85FBcecQ6I/AAAAAAAAAXw/dACfoIQUsWA/S220/she_was_buried_alive__by_cryptorchid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/SeK_ZKQuGpI/AAAAAAAAAuw/pAgGqIHLH-8/s72-c/metro-300.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-636522176026931424.post-8939591386136432291</id><published>2009-03-30T21:55:00.002+07:00</published><updated>2009-03-30T22:02:09.974+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of papers'/><title type='text'>(Review) Cerpen Satu Ketika</title><content type='html'>[text ini bahasa]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resensi untuk &lt;a href="http://id.kemudian.com/node/96532"&gt;Kurasa, Tidak Ada Cinta yang Lebih Besar dari Milikku&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;oleh &lt;a href="http://ladangkata.com/"&gt;Lisa Febriyanti&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;dari &lt;a href="http://perkosakata2009.wordpress.com/"&gt;Perkosakata 2009&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya menyebutnya cerpen satu ketika. Ini karena penulis merangkai kisah yang terjadi pada satu momen yang pendek, bukan rentetan peristiwa panjang dengan awal dan akhir. Cerpen jenis ini kadang tak berawal, kadang membiarkan akhir lewat begitu saja tak terduga. Ia hanya punya momentum yang ingin dibagi kepada pembacanya. Sepanjang pengetahuan saya, Dewi ”Dee” Lestari piawai bermain dengan cerpen jenis ini.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Selain plot yang meliuk namun kokoh, kekuatan cerpen berdurasi pendek ini terletak pada settingnya. Deskripsi yang mengalir tentang kondisi saat itu, kelebatan yang menguar dari kepala si tokoh serta renik-renik lainnya yang melatari momentum, menjadi kekuatan agar pembaca terpaku dan tak cepat berpindah ke karya lainnya. Kekuatan visualisasi lewat kata harus mampu mencengkeram pikiran pembaca. Gaya bercerita monolog memang sangat pas untuk cerpen jenis ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mulai melihat kekuatan itu di cerpen berjudul Kurasa, Tidak Ada Cinta yang Lebih Besar dari Milikku. Ide ceritanya sederhana, berlandaskan kekuatan cinta yang sangat posesif. Sang tokoh adalah laki-laki yang dengan cintanya, memberikan kehidupan baru bagi seorang gadis kecil. Di tangannya, gadis itu disulap menjadi perempuan berkilap bintang. Di tangannya, perempuan itu menjadi seorang selebritis (biduanita, demikian penulis menyebutnya). Lelaki itu, dengan rasanya mengantar pembaca pada batas tipis benci dan cinta, hingga terpikir berbagai opsi untuk membunuh sang perempuan. Penulis kelihatannya sengaja membiarkan tokohnya anonim, demi memusatkan perhatian pembaca pada kisah, bukan pada nama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sederhana, dan banyak menjadi latar belakang kisah yang lain, namun cara bertutur penulis membuat karya ini menjadi renyah dan memiliki kesan mendalam. Salah satu hal yang membuat narasi menjadi kuat adalah keberanian penulis menggunakan perbandingan-perbandingan peristiwa, seperti di bawah ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Jika kau tidak bunuh diri di kamar mandi hotel murahan, maka akan kusewa pembunuh bayaran untuk menembak mati dirimu. Seperti kematian John Lennon, kematianmu akan kureka sempurna. Akan kusiapkan konser besar untukmu di Sarbini atau Senayan. Disiarkan langsung oleh stasiun-stasiun televisi dan dihadiri ribuan penggemarmu. Di puncak acara, kau akan menyanyikan lagu hit-mu yang terkenal dan saat itu lah penembakan itu terjadi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kali penulis menggunakan metode perbandingan dalam karya ini. Menurut saya, ini dibutuhkan cukup keberanian dan kejelian, karena harus mencari dan memilih perbandingan yang sejenis untuk menguatkan peristiwa. Perbandingan yang kurang tepat bisa menjerumuskan pembaca pada gambaran yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di akhir cerita, penulis berhasil menghenyak pembaca dengan penutup yang tak terduga. Dengan deskripsi yang penuh atas keinginan sang tokoh lelaki untuk menghabisi nyawa sang perempuan, namun ternyata dengan senyum dan racunnya, justru sang perempuan yang berhasil membunuh sang tokoh laki-laki. Bum! Begitu saja, tanpa diduga. Manis sekali menggiring pembaca terpusat pada sang lelaki, tetapi lakon utama justru muncul di akhir, sang perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya, karya ini akan makin kental mengeram di benak pembaca apabila setting tempat dan gambaran tokoh digambarkan dengan lebih detail. Demi untuk mengiring pembaca memiliki imaji niat pembunuhan dalam kepala laki-laki. Meski satu ketika, namun pembaca harus tetap didudukkan, seakan ada dan melihat kisah yang dituturkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pribadi menyukai cerpen jenis satu ketika ini. Ringan dan tak perlu berpanjang-panjang dalam peristiwa. Kekuatan narasi dan permainan kata-kata menjadi penyedot utama saat menikmati cerpen jenis ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;=======================================&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lisa Febriyanti, lebih suka disebut road warrior. Mengukir jalanan sebagai penulis independen dan Communication Specialist &amp;amp; Brand Activation di Otak Indonesia, sebuah lembaga yang disemai bersama rekan-rekannya. Kilas katanya bisa dilihat di http://ladangkata.com&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/636522176026931424-8939591386136432291?l=miss-worm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miss-worm.blogspot.com/feeds/8939591386136432291/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=636522176026931424&amp;postID=8939591386136432291&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/8939591386136432291'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/8939591386136432291'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miss-worm.blogspot.com/2009/03/review-cerpen-satu-ketika.html' title='(Review) Cerpen Satu Ketika'/><author><name>windry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13072319767836551821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R85FBcecQ6I/AAAAAAAAAXw/dACfoIQUsWA/S220/she_was_buried_alive__by_cryptorchid.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-636522176026931424.post-8309022980024955311</id><published>2009-03-16T10:17:00.002+07:00</published><updated>2009-03-16T10:24:07.683+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of papers'/><title type='text'>(Review) Resensi 'Gadis Kecil'</title><content type='html'>[text ini bahasa]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resensi untuk &lt;a href="http://www.kemudian.com/node/97850"&gt;Gadis Kecil&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;oleh &lt;a href="http://republikbabi.com/"&gt;Calvin Michel Sidjaja&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;dari &lt;a href="http://perkosakata2009.wordpress.com/"&gt;Perkosakata 2009&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tema cerita ini adalah realitas sosial yang ada di sekitar kita. Fenomena anak-anak jalanan yang dieksploitasi oleh orang tua mereka untuk mendapatkan simpati dari orang lain bukanlah hal baru, cerpen ini mengetuk lagi pembaca tentang mereka.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Alur cerita mengalir lancar dengan dialog yang singkat dan tidak ribet, seperti sebuah refleksi. Suasana cerita juga terbangun dengan rapi karena penggunaan kalimat-kalimat yang membantu penciptaan ruang visual di kepala seperti yang diperlihatkan pada kalimat ini: “Dia duduk sendiri di sudut bis tua. Tidak memakai alas kaki. Pakaiannya hijau tosca yang sudah kusam dan penuh noda tanah. Kulitnya menghitam, mungkin karena terbakar matahari atau justru karena daki. Kuku-kuku jarinya panjang dan kotor, tidak terawat, seperti rambut ikalnya yang memerah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karakterisasi pemeran utama juga diperlihatkan dengan baik, antara sebuah ironi atau sebuah refleksi. Sang pemeran utama diperlihatkan akhirnya cuma bisa berpikir “andaikan”, sama sekali tidak bisa menolong secara riil. Penulis memperlihatkan rasa kasihan dan rasa simpati hanya berakhir sebagai perasaan, bukan tindakan. Realitanya, tidak sedikit orang merasa jijik atau merasa bersyukur mereka tidak hidup melarat seperti itu, sehingga perasaan kasihan hanya berakhir sebagai janji muluk-muluk. Sama saja jika melihat orang melihat orang lain terkena kecelakaan, kata-kata pertama adalah “kasihan ya”, bukannya dibantu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhir cerita, penulis sudah berhasil menyampaikan pendapatnya pada kita. Konsistensi cerita berjalan dengan baik, tidak melenceng dari awal, di mana pemeran utama diperlihatkan hanya berakhir dengan mengasihani si anak kecil yang sama-sama anonim dengan dirinya. Ini kejadian yang terjadi setiap hari, karena banyaknya jumlah orang miskin yang kita temui tiap hari, kita tidak perduli mereka bernama siapa, mereka suka apa, mereka mau jadi apa. Ini adalah cerita sebuah kumpulan orang yang tidak lebih dari statistik: cerita tentang seorang anonim dan bertemu dengan anonim lain, hari ini terlupakan, lalu besok lupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dialog berjalan dengan lancar, tidak kaku, hal ini membuat cerita enak dibaca. Walau dalam percakapan sering kali tidak ada keterangan subyek adalah siapa, penulis telah membuat karakter-karakter dalam cerpen ini memiliki kepribadian walau tidak memiliki nama panggilan. Pembaca bisa membedakan subyek walau tidak disertai keterangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara keseluruhan, penulis memiliki potensi yang sangat baik untuk membuat cerita yang lebih panjang lagi dan tidak terbatas pada cerpen. Gaya penulisan yang mengalir lancar dan cukup visualistik tidak dimiliki semua orang, sehingga akan sangat baik kalau penulis mengembangkan teknik penulisannya jauh lebih lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Calvin Michel Sidjaja lahir di Makassar, 3 Maret 1986. Alumnus jurusan Hubungan Internasional Fakultas ilmu Sosial Politik Universitas Katolik Parahyangan, Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 2006, novelnya yang berjudul Jukstaposisi menjadi juara tiga Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta, yang kemudian diterbitkan oleh Gagas Media tahun 2007, dan menjadi finalis dalam Khatulistiwa Literary Awards 2008 untuk kategori penulis muda berbakat. Selain novel, dia juga menulis cerpen yang bisa dibaca di &lt;a href="http://republikbabi.com/"&gt;blog pribadinya&lt;/a&gt;.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/636522176026931424-8309022980024955311?l=miss-worm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miss-worm.blogspot.com/feeds/8309022980024955311/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=636522176026931424&amp;postID=8309022980024955311&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/8309022980024955311'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/8309022980024955311'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miss-worm.blogspot.com/2009/03/review-resensi-gadis-kecil.html' title='(Review) Resensi &apos;Gadis Kecil&apos;'/><author><name>windry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13072319767836551821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R85FBcecQ6I/AAAAAAAAAXw/dACfoIQUsWA/S220/she_was_buried_alive__by_cryptorchid.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-636522176026931424.post-2526011840458583265</id><published>2009-03-06T06:06:00.006+07:00</published><updated>2009-03-06T06:19:27.176+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of papers'/><title type='text'>(Issue) Official Site of Metropolis The Novel</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/SbBdC16zFDI/AAAAAAAAAsQ/4KI-_G4OyD4/s1600-h/metropolis2+copy.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5309846264084632626" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 101px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/SbBdC16zFDI/AAAAAAAAAsQ/4KI-_G4OyD4/s320/metropolis2+copy.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;div&gt;Click &lt;a href="http://metropolis-novel.blogspot.com/"&gt;here&lt;/a&gt; to visit the site. It contains all about my up coming novel: Metropolis.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/636522176026931424-2526011840458583265?l=miss-worm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miss-worm.blogspot.com/feeds/2526011840458583265/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=636522176026931424&amp;postID=2526011840458583265&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/2526011840458583265'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/2526011840458583265'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miss-worm.blogspot.com/2009/03/issue-official-site-of-metropolis-novel.html' title='(Issue) Official Site of Metropolis The Novel'/><author><name>windry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13072319767836551821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R85FBcecQ6I/AAAAAAAAAXw/dACfoIQUsWA/S220/she_was_buried_alive__by_cryptorchid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/SbBdC16zFDI/AAAAAAAAAsQ/4KI-_G4OyD4/s72-c/metropolis2+copy.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-636522176026931424.post-695354236086930194</id><published>2009-01-19T10:46:00.013+07:00</published><updated>2009-03-30T12:29:28.433+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of words'/><title type='text'>(Excerpt) Metropolis</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/SXP8sa1opcI/AAAAAAAAAqI/9yhdX-gf3Bo/s1600-h/cover+1-b+copy.jpg"&gt;&lt;img src="http://3.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/SXP8sa1opcI/AAAAAAAAAqI/9yhdX-gf3Bo/s200/cover+1-b+copy.jpg" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5292851827139192258" style="margin: 0px auto 10px; display: block; width: 138px; height: 200px; text-align: center;" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/SXP8sa1opcI/AAAAAAAAAqI/9yhdX-gf3Bo/s200/cover+1-b+copy.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;First Chapter&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kematian Leo Saada&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hari ini Leo Saada dikembalikan ke bumi. Jasadnya yang digosongkan api disembunyikan di dalam peti kayu, lalu diarak dari sebuah gereja kecil di daerah pinggiran Jakarta ke permakaman pribadi milik keluarga Saada. Pemakaman Leo dipimpin oleh seorang pastor tua yang pantas dikuburkan lebih dahulu. Seluruh keluarganya yang tamak menyaksikan, begitu pula teman-teman terdekatnya yang gemar berutang, relasi-relasi bisnis, dan anggota geng yang Leo pimpin sebelum mati.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Di sekitar lokasi pemakaman berjaga sejumlah polisi. Mobil-mobil mereka berbaris di pinggir tanah luas yang dipagari kamboja kuning dan tersaput rumput hijau yang terpangkas rapi. Bram yang memimpin polisi-polisi tersebut. Ia berdiri bersandar pada mobil dinasnya. Matanya memerhatikan kumpulan orang berpakaian serba hitam yang sedang berdoa di tengah permakaman. Di antara kumpulan itu ia mengenali Ferry, anak tunggal Leo. Ferry berdiri paling dekat dengan peti mati ayahnya dan laki-laki muda berdarah Sulawesi itu tampak sangat terpukul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak pernah melihat pemakaman. Ini yang pertama.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara lirih Erik terdengar tiba-tiba, membuat perhatian Bram teralih. Polisi wanita yang memiliki nama maskulin berkat keeksentrikan orang tuanya itu berdiri di sebelahnya sambil menunjukkan raut sedih dengan cara feminin, sementara mata perempuan itu menatap pemandangan yang sama dengan yang ia lihat barusan. Bram tidak heran jika apa yang dikatakan oleh Erik itu benar. Erik terhitung baru di kesatuan mereka dan sebelum ini dia lebih banyak mengerjakan tugas administratif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau begitu, kau beruntung,” Bram memberi tanggapan seraya mengeluarkan sebungkus sahabat dari saku, “karena ini bukan pemakaman biasa. Ini pemakaman Leo Saada, penguasa wilayah 10.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menyulut satu batang rokok. Orang-orang di tengah permakaman masih sibuk berpura-pura khusyuk dengan wajah tertunduk dan tangan menghapus air mata buatan. Mereka bisa menipu Ferry dengan cara seperti itu. Terkadang Ferry bisa menjadi sangat naif. Tapi, Bram seorang polisi. Ia dilatih untuk selalu berprasangka buruk, termasuk mencurigai alasan orang-orang tersebut menghadiri pemakaman Leo, dan ia sangat terlatih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ditemukan meninggal, usia Leo Saada tidak jauh dari 57 tahun. Sebagai salah satu pemimpin mafia narkotika di Jakarta, Leo sangat diperhitungkan. Wilayah yang dia miliki adalah wilayah terbesar dan terbaik. Bisnis yang dia kelola selama dua puluh tahun ini berkembang menjadi sangat besar. Leo memiliki jaringan yang luas: Bangkok, Hong Kong, dan Laos. Selain itu, organisasinya didukung oleh sistem pengelolaan keuangan yang rapi, terpercaya, dan tidak terlacak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang-orang itu, Erik, mereka datang bukan untuk menghadiri pemakaman.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan untuk menghadiri pemakaman?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bram mengangguk. “Begitulah kira-kira,” jawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengisap rokok di tangannya. Tidak sengaja, matanya menangkap sosok perempuan di kejauhan yang berdiri terpisah dari Geng Saada. Perempuan itu bertubuh tinggi, kurus, dan berkulit agak gelap seperti warna kulit yang terlalu sering menantang matahari. Wajahnya cukup cantik, tetapi bukan itu yang membuat Bram tertarik, melainkan dia yang sedang ikut memerhatikan pemakaman Leo dengan sikap sembunyi-sembunyi saat Bram pergoki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bram mengerutkan alis. Ia tidak mengenali perempuan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bram,” Erik memanggilnya sambil menunjuk ke arah dua mobil kapsul yang berhenti di tepi permakaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bram melihat sejumlah orang keluar dari mobil-mobil tersebut, sekitar tujuh atau delapan orang. Ia mengenali mereka, orang-orang dari Geng Gilli, dan menyadari harus ada yang mencegah geng itu memasuki permakaman atau akan terjadi pertumpahan darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Geng Gilli, atau biasa dikenal sebagai geng wilayah 11, sama seperti Geng Saada. Mereka baru saja kehilangan pemimpin. Maulana Gilli mati dibunuh penembak misterius satu bulan yang lalu. Kepalanya pecah dan pelaku penembakan itu belum tertangkap. Buruknya hubungan antara kedua geng menimbulkan kecurigaan di masing-masing kubu. Rumor beredar, Geng Saada terlibat dalam penembakan Maulana Gilli, dan kini rumor itu berbalik saat Leo Saada mati terpanggang dalam sebuah kecelakaan mobil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mundur, Gilli. Sedang ada pemakaman di sini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bram menghadang gerombolan yang baru datang itu sebelum mereka memasuki tanah milik keluarga Saada. Pasukan kecil polisi yang ia pimpin berjaga tidak jauh darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemimpin baru Gilli tertawa. Suaranya serak seperti orang yang sedang sakit tenggorokan. Laki-laki itu memiliki perawakan kurus kering. Penampilannya seperti aktor-aktor dalam film Mandarin keluaran tahun 90-an; necis dengan kemeja warna mencolok dan celana berbahan licin, klimis oleh minyak rambut, serta sanggup membuat orang menolak bernapas berkat wangi parfumnya. Kroco-kroco yang mengekor di belakangnya berpenampilan serupa sehingga mereka seperti gerombolan penggemar berat Andy Lau yang sedang melakukan pesta kostum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh ya, aku tahu. Justru untuk itu aku datang,” kata Gilli, “Tapi jangan khawatir, Pak Polisi. Aku tidak akan bikin keributan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bram mendengus. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Omong kosong&lt;/span&gt;, pikirnya. Terakhir kali Geng Gilli dan Geng Saada bertemu, terjadi baku hantam yang menjatuhkan banyak korban dari masing-masing kubu. Geng Saada harus menyewa pikap untuk mengangkut saudara-saudara mereka yang mati, lalu mereka membunuh sekalian orang yang menyewakan pikap itu agar tidak ada yang bicara. Geng Gilli lebih berengsek lagi. Mayat orang-orang mereka malah dibiarkan begitu saja di jalanan sementara mereka kabur sehingga pada akhirnya polisi yang harus membereskan itu semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya sudah terlambat untuk meminta Gilli angkat kaki dari permakaman itu. Ferry Saada telanjur mengetahui keberadaan Gilli dan kini anak satu-satunya Leo itu menghampiri tamu tak diundangnya bersama empat orang anggota Geng Saada yang bertubuh besar dan tegap. Mereka seperti petinju yang siap naik ring, tangan terkepal dan mata menatap tajam ke arah lawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mau apa kau?” ucap Ferry kepada Gilli begitu mereka bertemu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gilli tersenyum menyambut kedatangan Ferry. “Tenang, Ferry. Aku datang untuk berkabung, balasan atas kunjunganmu pada pemakaman kakakku bulan lalu,” ejeknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Puki!” Ferry menatap lawan bicaranya dengan curiga. “Katakan dengan jelas! Apa kalian yang bertanggung jawab atas kematian ayahku?” tanyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gilli menjawab, “Sekarang skor kita satu sama.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah Ferry berubah merah padam. Laki-laki itu mengeluarkan pistol dari balik baju. Dia menodongkan senjata itu ke muka Gilli, lalu dengan sigap orang-orang di belakang Gilli balas mengacungkan senjata, begitu juga dengan kelompoknya sendiri. Sejurus kemudian suasana di tepi permakaman itu berubah tegang. Kedua geng siap baku tembak, tetapi mereka masih menahan diri agar tidak menarik picu pistol mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada Bram dan pasukan kecil polisi di sekeliling mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Turunkan senjata kalian!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ferry dan Gilli mengalihkan perhatian kepada Bram. Sekilas keduanya terlihat ragu, tetapi kemudian mereka menuruti perintah Bram dan anak buah mereka mengikuti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seperti biasa, kau tidak suka melihat keributan, Pak Polisi?” ledek Gilli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pulanglah dan bawa gerombolanmu, Gilli, atau kubuat kau menginap di Polda malam ini,” ancam Bram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gilli menurut walau sambil berlagak. Sebagai polisi yang menyimpan banyak kartu as, Bram memang ditakuti oleh banyak mafia narkotika, termasuk Gilli dan Saada. “Yah, aku juga sudah cukup berkabung,” kata Gilli. Lalu, laki-laki itu beranjak pergi dari lokasi pemakaman Leo Saada bersama semua anak buahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepeninggal Gilli, Bram berkata kepada Ferry, “Aku yang tangani kasus ayahmu. Kurasa Gilli tidak terlibat dalam masalah ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ferry menolak ide itu mentah-mentah. “Omong kosong, Bram. Kalau ada yang diuntungkan dengan kematian ayahku, itu pasti Gilli.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bram mengenal Ferry bukan baru satu atau dua hari. Ia mengenal Ferry hampir selama masa bertugasnya di Sat Reserse Narkotika. Ia hafal sifat laki-laki itu dan ia tahu tidak ada gunanya berdebat saat penyakit keras kepala Ferry sedang kambuh. “Pemakaman ayahmu belum selesai. Lanjutkan sana,” kata Bram. Ia menambahkan, “Oh, ya. Aku menemukan petunjuk tentang penyelundupan yang kau lakukan di pelabuhan. Kali ini kau tidak akan lolos.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ferry tampak terkejut saat mendengar ucapan Bram yang terakhir, tetapi tidak berkata apa-apa untuk menanggapi itu. Laki-laki itu hanya menepuk bahu Bram, lalu melangkah kembali ke tengah permakaman untuk meneruskan pemakaman ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bram kerap merasa aneh saat menilai sendiri hubungannya dengan Ferry. Ia tidak tahu apakah mereka kawan atau lawan, tetapi ia paling senang berurusan dengan orang-orang Saada. Tidak seperti pengedar-pengedar narkotika yang lain, orang-orang Saada tidak suka menggunakan cara licik. Mereka berperang secara terbuka dan Bram menghargai itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemakaman Leo dilanjutkan dan berakhir tidak lama kemudian. Selain keributan kecil yang ditimbulkan Geng Gilli, hanya batuk berkepanjangan sang pastor yang sempat mengganggu jalannya pemakaman tersebut. Sebelum Bram meninggalkan lokasi, ia sempat mencari-cari perempuan cantik berkulit gelap yang ia lihat tadi. Perempuan misterius itu sudah pergi dan untuk sementara Bram tidak ingin ambil pusing. Ia masuk ke dalam mobilnya, lalu meminta kepada Erik yang sudah siap di balik kemudi untuk membawa mereka kembali ke kantor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AJUN Komisaris Besar Polisi Moris Greand pensiun pada hari yang sama. Bram baru ingat saat ia tiba di rumah malam itu dan menerima pesan suara yang Moris tinggalkan lewat telepon. Dalam pesannya Moris berkata, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Bagaimana pemakaman Leo? Terjadi sesuatu? Curut itu hidup lagi atau semacamnya? Ha ha ha. Aku tunggu sampai siang, tapi kau tidak juga kembali ke kantor. Hari ini aku pensiun, Anak Muda.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bram tersenyum mendengar pesan Moris. Moris adalah atasannya di Sat Reserse Narkotika selama enam tahun dan sudah seperti ayahnya sendiri. Laki-laki itulah yang membimbingnya serta mendukung kariernya di kepolisian sampai ia menjadi seperti sekarang. Bram sangat menyayangkan Moris harus pensiun, tetapi Moris memang sudah tua dan mulai besok ia tidak akan menemukan laki-laki itu lagi di kantor mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Oh, ya. Aku punya berita buruk untukmu. Penggantiku nanti adalah Burhan dari Reskrimsus.” &lt;/span&gt;Moris melepaskan tawa lagi. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Siap-siap saja, Anak Muda. Dia akan membuat perjalanan kariermu ke depan lebih berat. Dan satu lagi. Cepat kau bereskan kasus penyelundupan yang dilakukan Ferry. Sampai kapan kau akan menahan bukti itu?” &lt;/span&gt;Setelah itu pesan Moris berakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bram meninggalkan pesawat telepon. Ia melangkah menuju dapur untuk mengambil satu botol air mineral dari dalam kulkas. Ditenggaknya air itu sementara ia memikirkan perkataan Moris. Ia bukan tidak ingin menangkap Ferry, tetapi ia yakin bahwa kartu as yang sedang ia simpan ini akan berguna saat dibutuhkan. Selama ini Ferry telah menjadi lawan transaksi yang menguntungkan baginya. Laki-laki itu sering menawarkan informasi berharga kepadanya dan Bram harus selalu siap dengan sesuatu di genggaman untuk ditukar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ferry sangat dikenal di kalangan pelaku bisnis gelap Jakarta. Di dunia mafia Eropa, orang seperti Ferry biasa dijuluki Ginnetti, laki-laki flamboyan dengan koneksi tersebar luas. Ferry menjalani gaya hidup tinggi; memakai pakaian mahal dan mengendarai mobil mewah, beredar dari satu klub malam ke klub malam lainnya, dikelilingi perempuan-perempuan cantik; dan mengenal banyak orang. Akan tetapi, Ferry tidak bisa berbisnis sebaik Leo dan itu sangat disayangkan oleh banyak pihak di kalangan mafia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Leo mengalami kecelakaan mobil di salah satu tol dalam kota. Mobilnya terbakar habis. Leo mati di tempat bersama sopir dan dua orang anggota kelompoknya. Tim forensik kepolisian menemukan peluru di sekitar lokasi kejadian maka dengan mudah Bram mengambil kesimpulan: kematian Leo bukan kecelakaan. Tidak ada keraguan mengenai hal itu. Awalnya Bram menyangka kematian Leo adalah dampak dari perseteruan yang biasa terjadi antarmafia narkotika, tetapi kemudian ia mendapati fakta bahwa—selain Saada dan Gilli—ada lima orang pemimpin geng lain yang mati dalam satu tahun belakangan ini. Jumlah itu terlalu besar bagi Bram maka ia mulai menduga kasus yang sedang ia tangani ini tidak sesederhana yang ia pikirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bram kembali ke ruang tengah setelah selesai dengan satu botol air mineralnya. Ia membuka jendela di salah satu sisi ruangan dan membiarkan udara malam yang dingin masuk bersama suara kendaraan yang terdengar lamat-lamat. Diambilnya asbak dari atas meja, lalu ia duduk di bibir jendela, menyulut sebatang rokok, dan membiarkan dirinya larut dalam lamunan.&lt;br /&gt;Ia teringat kembali kepada perempuan misterius di permakaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Siapa perempuan itu&lt;/span&gt;?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/636522176026931424-695354236086930194?l=miss-worm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miss-worm.blogspot.com/feeds/695354236086930194/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=636522176026931424&amp;postID=695354236086930194&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/695354236086930194'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/695354236086930194'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miss-worm.blogspot.com/2009/01/excerpt-metropolis.html' title='(Excerpt) Metropolis'/><author><name>windry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13072319767836551821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R85FBcecQ6I/AAAAAAAAAXw/dACfoIQUsWA/S220/she_was_buried_alive__by_cryptorchid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/SXP8sa1opcI/AAAAAAAAAqI/9yhdX-gf3Bo/s72-c/cover+1-b+copy.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-636522176026931424.post-1293876719234997931</id><published>2009-01-16T10:10:00.008+07:00</published><updated>2009-01-16T11:46:26.981+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of papers'/><title type='text'>(Issue) Metropolis' Chapter List</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/SXAP_qfYLqI/AAAAAAAAAqA/b-qJy90elfk/s1600-h/metro.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 142px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/SXAP_qfYLqI/AAAAAAAAAqA/b-qJy90elfk/s200/metro.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5291747148572405410" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;[text in bahasa]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yang bisa kalian lihat dengan mengklik 'read more' di bawah ini adalah daftar bab naskah buku kedua saya. Buku tersebut (sampai saat ini) masih bertajuk Metropolis, sebuah novel drama kriminologi (yang jelas jauh berbeda dengan Orange).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengalami penyuntingan habis-habisan selama tiga bulan, Metropolis mengalami penambahan jumlah bab sebanyak enam, dari tujuhbelas menjadi duapuluh tiga (tadinya akan dibuat menjadi duapuluh empat tapi di akhir penyuntingan saya memutuskan untuk membuang salah satu bab). Tidak seperti Orange, dalam Metropolis saya menghilangkan pemakaian bahasa Inggris dan itu juga terlihat dari penamaan bab-bab yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam waktu dekat saya akan menampilkan petilan dari salah satu bab tersebut.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;1. Kematian Leo Saada&lt;br /&gt;2. Bram&lt;br /&gt;3. 12&lt;br /&gt;4. Empat Orang yang Tersisa&lt;br /&gt;5. Petunjuk&lt;br /&gt;6. Miaa&lt;br /&gt;7. Sebuah Nama&lt;br /&gt;8. Perempuan yang Mengetahui Sesuatu&lt;br /&gt;9. Johan&lt;br /&gt;10. Juli 1991&lt;br /&gt;11. Seorang Saada&lt;br /&gt;12. Melarikan Diri&lt;br /&gt;13. Sekutu&lt;br /&gt;14. Celah&lt;br /&gt;15. Indira&lt;br /&gt;16. Menyapa Lawan&lt;br /&gt;17. Laki-laki Tanpa Nama&lt;br /&gt;18. Orang yang Menarik Pelatuk (I)&lt;br /&gt;19. Orang yang Menarik Pelatuk (II)&lt;br /&gt;20. tantowi_yahya13&lt;br /&gt;21. Kartu-kartu di Balik Meja&lt;br /&gt;22. 0-0&lt;br /&gt;23. Sebagian Petunjuk Datang Terlambat, Sebagian Lainnya Tidak Muncul Sama Sekali&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/636522176026931424-1293876719234997931?l=miss-worm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miss-worm.blogspot.com/feeds/1293876719234997931/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=636522176026931424&amp;postID=1293876719234997931&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/1293876719234997931'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/1293876719234997931'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miss-worm.blogspot.com/2009/01/issue-metropolis-chapter-list.html' title='(Issue) Metropolis&apos; Chapter List'/><author><name>windry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13072319767836551821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R85FBcecQ6I/AAAAAAAAAXw/dACfoIQUsWA/S220/she_was_buried_alive__by_cryptorchid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/SXAP_qfYLqI/AAAAAAAAAqA/b-qJy90elfk/s72-c/metro.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-636522176026931424.post-7697579807055859030</id><published>2009-01-05T08:56:00.004+07:00</published><updated>2009-01-05T09:25:40.703+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of papers'/><title type='text'>(Issue) Perkosakata 2009</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;on March - July 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;programs:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Opening (offline)&lt;br /&gt;Berani diResensi (online)&lt;br /&gt;Gauli Buku (online and offline)&lt;br /&gt;Workshop: Travel Writing (offline)&lt;br /&gt;Talk Show (offline)&lt;br /&gt;Writers Gathering (offline)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;by &lt;a href="http://kemudian.com"&gt;KEMUDIAN&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;visit &lt;a href="http://perkosakata2008.blogspot.com"&gt;perkosakata 2008&lt;/a&gt; for brief information about this program&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/636522176026931424-7697579807055859030?l=miss-worm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miss-worm.blogspot.com/feeds/7697579807055859030/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=636522176026931424&amp;postID=7697579807055859030&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/7697579807055859030'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/7697579807055859030'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miss-worm.blogspot.com/2009/01/issue-perkosakata-2009.html' title='(Issue) Perkosakata 2009'/><author><name>windry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13072319767836551821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R85FBcecQ6I/AAAAAAAAAXw/dACfoIQUsWA/S220/she_was_buried_alive__by_cryptorchid.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-636522176026931424.post-1226625397244530270</id><published>2008-11-01T14:10:00.011+07:00</published><updated>2008-11-01T14:31:21.945+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of papers'/><title type='text'>(Report) Orange in KLA 2008</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/SQwESsKpT8I/AAAAAAAAAcs/WUtsfltmwFo/s1600-h/cover+depan4s180.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5263586783629234114" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 136px; CURSOR: hand; HEIGHT: 200px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/SQwESsKpT8I/AAAAAAAAAcs/WUtsfltmwFo/s200/cover+depan4s180.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;[text in bahasa]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini adalah daftar judul yang lolos seleksi untuk Kategori Penulis Muda Berbakat Khatulistiwa Literary Award 2008 (disusun secara acak sehingga tak mencerminkan peringkat):&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Let’s Party&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Fadil Timorindo&lt;br /&gt;Gramedia Pustaka Utama, Maret 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Orange &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Windry Ramadhina&lt;br /&gt;GagasMedia, Juni 2008 &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Cari Aku di Canti &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Wa Ode Wulan Ratna&lt;br /&gt;Lingkar Pena, Juni 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Perempuan Lain &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Kristy Nelwan&lt;br /&gt;Grasindo, Juli 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Enthirea: Pertempuran Dua Dunia &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Aulya Elyassa&lt;br /&gt;Jagad Media, Mei 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Knitting Club &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Dessy Yasmita&lt;br /&gt;GagasMedia, Maret 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;A Very Yuppy Wedding &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Ika Natassa&lt;br /&gt;Gramedia Pustaka Utama, November 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Un Homme et Une Femme &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Stanley Dirgapradja&lt;br /&gt;Gramedia Pustaka Utama, Desember 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Jukstaposisi &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Calvin Michel Sidjaja&lt;br /&gt;GagasMedia, September 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Scrapbook &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Astari Nur Alina&lt;br /&gt;GagasMedia, November 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam Penganugerahan akan diadakan pada tanggal 13 November 2008 di Atrium Plaza Senayan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&lt;em&gt;from &lt;/em&gt;&lt;a href="http://khatulistiwaliteraryaward.wordpress.com/"&gt;&lt;em&gt;KLA 2008&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt; on Oktober 31, 2008 at 9:56 am &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/636522176026931424-1226625397244530270?l=miss-worm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miss-worm.blogspot.com/feeds/1226625397244530270/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=636522176026931424&amp;postID=1226625397244530270&amp;isPopup=true' title='9 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/1226625397244530270'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/1226625397244530270'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miss-worm.blogspot.com/2008/11/report-orange-in-kla-2008.html' title='(Report) Orange in KLA 2008'/><author><name>windry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13072319767836551821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R85FBcecQ6I/AAAAAAAAAXw/dACfoIQUsWA/S220/she_was_buried_alive__by_cryptorchid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/SQwESsKpT8I/AAAAAAAAAcs/WUtsfltmwFo/s72-c/cover+depan4s180.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-636522176026931424.post-3632892667970874179</id><published>2008-10-04T18:08:00.007+07:00</published><updated>2008-10-05T09:04:44.813+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of minds'/><title type='text'>(Report) Metropolis</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/SOdfwXycF7I/AAAAAAAAAb4/7tQOPSF6coE/s1600-h/cover-1-copy.jpg"&gt;&lt;img src="http://3.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/SOdfwXycF7I/AAAAAAAAAb4/7tQOPSF6coE/s200/cover-1-copy.jpg" style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/SOdfwXycF7I/AAAAAAAAAb4/7tQOPSF6coE/s200/cover-1-copy.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5253272774974904242" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;People are keep asking me if i write new pieces after i published &lt;a href="http://orange-novel.blogspot.com/"&gt;Orange&lt;/a&gt;. I think it's a common question coming from readers but some of them, best friends, noticed that i haven't post a new short story since three months ago and are wondering if i am loosing my pace. Actually, i was (and am) writing a new piece, a novel: Metropolis (click &lt;a href="http://miss-worm.blogspot.com/2007/07/metropolis.html"&gt;here&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://miss-worm.blogspot.com/2007/07/synopsis-metropolis.html"&gt;here&lt;/a&gt;, and &lt;a href="http://miss-worm.blogspot.com/2007/08/image-metropolis.html"&gt;here&lt;/a&gt; for brief information about this piece).&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;For some people, Metropolis is not a new issue. I posted five chapters of this piece at kemudian.com right after i finished &lt;a href="http://orange-novel.blogspot.com/"&gt;Orange&lt;/a&gt; and it was a year ago. The writing itself was stopped on the end of 2007 when i decided to give myself a break. I was back after four months but due to some reasons i wrote short stories instead of continue Metropolis draft.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This year, right after Gagasmedia gave me good news about &lt;a href="http://orange-novel.blogspot.com/"&gt;Orange&lt;/a&gt;, i got scholarship from &lt;a href="http://www.dkj.or.id/"&gt;Dewan Kesenian Jakarta&lt;/a&gt; to join in AS Laksana and Yusi Pareanom's writing class for about 12 weeks. In the end of the class, they asked me to write a novel and participate in Sayembara Novel DKJ 2008. I didn't have much time back then so i took Metropolis and continued the piece in three months. (This is one of reasons why i didn't give enough attention on &lt;a href="http://orange-novel.blogspot.com/"&gt;Orange&lt;/a&gt; launching and promotion).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, Metropolis was completely written on the end of August and now is in Juries' hands until the end of this year. And while waiting for the result, i can't propose the piece to publishers so i prefer taking my time to give it a further editing.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/636522176026931424-3632892667970874179?l=miss-worm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miss-worm.blogspot.com/feeds/3632892667970874179/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=636522176026931424&amp;postID=3632892667970874179&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/3632892667970874179'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/3632892667970874179'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miss-worm.blogspot.com/2008/10/report-metropolis.html' title='(Report) Metropolis'/><author><name>windry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13072319767836551821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R85FBcecQ6I/AAAAAAAAAXw/dACfoIQUsWA/S220/she_was_buried_alive__by_cryptorchid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Gstyb-2JaAM/SOdfwXycF7I/AAAAAAAAAb4/7tQOPSF6coE/s72-c/cover-1-copy.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-636522176026931424.post-3439924803796638347</id><published>2008-04-29T23:51:00.003+07:00</published><updated>2008-04-30T00:21:35.931+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of drafts'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of words'/><title type='text'>(Draft) Retak Rumah Baru Pak Jono</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/SBdW_eEbS0I/AAAAAAAAAaI/oY1O0rSqQ68/s1600-h/STOCK_crack_02_by_CDS_stock.jpg"&gt;&lt;img src="http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/SBdW_eEbS0I/AAAAAAAAAaI/oY1O0rSqQ68/s200/STOCK_crack_02_by_CDS_stock.jpg" style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/SBdW_eEbS0I/AAAAAAAAAaI/oY1O0rSqQ68/s200/STOCK_crack_02_by_CDS_stock.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5194716343598533442" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;RETAK itu seperti satu helai rambut tebal, meliuk di permukaan balok beton yang menjadi rangka bakal rumah Pak Jono. Kemarin sore, jejak sulur itu belum ada. Saat para pekerja bangunan pulang meninggalkan proyek, balok penyangga lantai atas itu masih kelihatan mulus tanpa cacat. Baru tadi pagi kehadiran retak itu disadari, waktu salah seorang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kenek&lt;/span&gt; akan mengaci dinding dan mendapati balok buatan mereka sudah cacat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Retak, Le?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Retak, Kang! Satu jengkal lebih.”&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Mandor mendekati &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kenek&lt;/span&gt; yang menemukan retak itu. Kepala Mandor mendongak, alisnya berkerut dan tangannya sibuk menggaruk-garuk kepalanya. Benar kata si &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kenek&lt;/span&gt; dan hatinya lekas disergap perasaan khawatir. Kalau retak itu berada di dinding, tidak mengapa. Dinding memang kerap retak saat masih beradaptasi setelah dibangun. Tetapi retak itu muncul di balok beton yang menjadi rangka utama bangunan. Itu jelas bermasalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kasih tanda, Le. Nanti sore kamu ukur lagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kenek &lt;/span&gt;yang ia beri suruhan buru-buru melakukan sesuai perkataannya. Mandor menghampiri tukang-tukangnya yang lain satu per satu, lalu ia memberitahu mereka apa yang harus dikerjakan sepanjang hari ini sampai sore nanti. Retak itu dilupakan dulu untuk sementara, begitu pikirnya. Kalau sampai sore retak tidak bertambah, maka tidak ada yang perlu ia khawatirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini genap tiga bulan proyek pembangunan rumah Pak Jono berjalan. Ia yang masih &lt;span style="font-style: italic;"&gt;seduluran&lt;/span&gt; dengan Pak Jono ditunjuk menjadi mandor. Pak Jono sendiri juga seorang mandor tapi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sedulur&lt;/span&gt;nya itu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ngantor&lt;/span&gt; hampir setiap hari di sebuah perusahaan konstruksi di daerah Kuningan, sehingga tidak sempat memandori sendiri pembangunan rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk membangun rumah Pak Jono, Mandor membawa serta empat orang anak buahnya. Mereka bekerja cepat, lebih cepat dari tukang-tukang lain jika membangun rumah. Mungkin orang lain melihat kerjanya seperti terburu-buru karena ia mengurangi usia kering beton beberapa hari, yang seharusnya tidak boleh ia lakukan. Tapi mau bagaimana lagi? Pak Jono ingin rumah itu jadi sebelum lebaran bulan depan dan dirinya sendiri beserta empat anak buahnya ingin merayakan hari besar bersama keluarga mereka di kampung. Karena itu, retak-retak semacam retak pada balok beton tadi memang besar kemungkinannya muncul, bahkan sering ia dapati dalam proyek yang dikerjakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Omong-omong, kata ‘proyek’ sebenarnya agak berlebihan. Ia hanya mandor kelas teri dan pekerjaan-pekerjaannya pun hanya sebatas membangun rumah-rumah kecil kelas teri juga. ‘Borongan’ lebih tepat untuk menyebut pekerjaan-pekerjaannya, walau bakal rumah Pak Jono juga tidak bisa ia kategorikan sebagai borongan. Ia cuma dibayar tenaga oleh &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sedulur&lt;/span&gt;nya itu sementara hampir semua bahan bangunan dibeli sendiri oleh Pak Jono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keuntungan borongan upah semacam ini tidak besar. Karena itu, ia harus mengakali setiap kesempatan untuk mendapatkan keuntungan tambahan. Seperti kemarin saat ia membelikan Pak Jono besi tulangan untuk pengisi kolom dan balok, ia memilih besi berdiameter delapan mili dibanding besi dua belas mili. Ukuran-ukuran kolom dan balok juga ia kurangi sedikit agar ia bisa menghemat pembelanjaan semen dan pasir. Tidak banyak tapi lumayan untuk membelikan istri dan anaknya di kampung sepasang daster baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang curang tapi lebaran kan hanya sekali dalam setahun. Tidak apa-apa mengambil untung sedikit dari sedulurnya. Tidak akan diketahui dan tidak akan berakibat apa-apa. Itu yang saat ini Mandor pikirkan dan bibirnya mengulas senyum tanpa ia sadari. Sudah terbayang olehnya, wajah gembira dan senyum sumringah istri dan anaknya saat menerima baju baru yang akan ia bawa nanti, meski cuma daster.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RUMAH Pak Jono yang lama memang dirasa sudah terlalu kecil. Walau berlokasi di dalam komplek perumahan Kostrad dekat daerah elit Pondok Indah, rumah Pak Jono menyempil di antara barisan rumah petak kecil milik komunitas pekerja kasar bangunan, kenek, tukang batu, tukang kayu, tukang besi dan yang paling tinggi mandor. Rumah Pak Jono hampir seragam dengan rumah-rumah lain yang beratap asbes dan berukuran kurang lebih hanya tiga kali delapan meter per segi. Sisi kanan dan kiri langsung menempel dengan rumah sebelah sehingga kalau Pak Jono dan keluarganya bicara keras sedikit, suara mereka kerap menjadi penghibur tetangga seperti sandiwara radio yang disiarkan RKM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panjang delapan meter tadi dibadi menjadi tiga ruangan, dipisahkan dengan papan kayu dan tirai kain. Bagian paling luar adalah ruang serbaguna. Disebut serbaguna karena di pagi hari Bu Jono menyiapkan katering pesanan pelanggannya di ruangan itu, siang hari digunakan untuk menjemur dan menyeterika pakaian, sore untuk &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ngerumpi&lt;/span&gt; bersama tetangga dan malam untuk Pak Jono beristirahat sepulang kerja serta untuk kedua anak mereka belajar atau, lebih seringnya, menonton artis-artis lokal di layar televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruang tidur berada tepat setelah ruang serbaguna. Pak Jono, istrinya dan kedua anak mereka tidur berempat di atas dua kasur yang digelar tanpa dipan di lantai ruangan tersebut. Mereka berdesak-desakkan di malam hari, saling menendang dan berebut bantal juga guling saat melindur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu satu ruangan terakhir adalah dapur yang dilengkapi kamar mandi semi terbuka. Mudah sekali mengintip ke dalam kamar mandi itu, cukup dengan satu kursi untuk dinaiki, tapi Pak Jono tidak punya kursi di dalam rumahnya. Ia tidak punya mebel satu pun kecuali lemari pakaian dan meja televisi. Di dapur juga Bu Jono tidak memiliki meja untuk memasak. Setiap hari, untuk menyiapkan makan satu keluarga dan seluruh pesanan kateringnya, Bu Jono harus berjongkok di atas lantai semen tanpa keramik selama berjam-jam. Nongkrong di hadapan kompor gas sampai pinggang dan lututnya nyeri, dan kalau sudah begitu, tinggal tunggu waktu, asam urat Bu Jono akan kambuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“GIMANA, Le?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Duh! Nambah, Kang. Satu senti.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mandor menggaruk-garuk kepalanya lagi. Kali ini lebih keras sampai, ia tidak sadar, rambutnya yang ikal dan gondrong menjadi berantakan. Sekarang wajahnya kusut, berlipat-lipat seperti kertas diremas. Kekhawatiran di dalam hatinya yang tadi pagi sempat ia singkirkan kembali hadir, bahkan lebih besar. Kalau dalam satu hari saja retak itu sudah bertambah satu senti, bagaimana dengan satu bulan ke depan? Lalu tiga bulan dan satu tahun selanjutnya? Celaka! Bisa rubuh bakal rumah itu sebelum selesai dibangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reaksi Pak Jono kalang kabut saat ia memberitahu perihal retak itu. Tidak, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sedulur&lt;/span&gt;nya itu tidak marah. Pak Jono terlalu baik untuk marah, apalagi menyudutkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kok bisa retak ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku juga bingung, Mas. Kalau diperhatikan, campurannya yang keliru, mungkin kurang rata saat diaduk.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Jono tidak berkomentar banyak. Raut miris di wajahnya sudah lebih dari cukup untuk mengungkapkan perasaan asan tak asan yang sedang berkecamuk. Mandor tidak tega melihat itu dan ia buru-buru menenangkan Pak Jono, meyakinkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sedulur&lt;/span&gt;nya bahwa semua akan baik-baik saja, walau sebenarnya tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEMILIKI rumah baru yang lebih luas merupakan impian terbesar Pak Jono saat ini. Sepulang kuliah di luar kota, Dwi, anak perempuan terkecilnya, sering protes saat harus tidur berempat di dalam satu ruangan. Sebelumnya Dwi tidak pernah mengeluhkan kondisi mereka, tetapi anak itu sudah pernah merasakan punya kamar sendiri sewaktu indekos. Dwi sering membangga-banggakan kamar kosnya, “Biar kecil tapi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ngga&lt;/span&gt; harus &lt;span style="font-style: italic;"&gt;desek-desekkan&lt;/span&gt;. Malah bisa pasang poster UNGU di dinding. Dindingnya juga dicat ungu, warna kesukaan Dwi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti iringan semut, satu keluhan memancing keluhan-keluhan yang lain. Setelah Dwi, giliran si kakak yang berkata, “Eka juga ingin Yah, sekali-kali mengajak teman-teman untuk &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ngaji&lt;/span&gt; di rumah. Selama ini, setiap dapat giliran, Eka selalu menolak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa menolak? Kalau ingin mengajak teman untuk &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ngaji&lt;/span&gt; di rumah kita, ya ajak saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak perempuan tertuanya tidak menjawab tapi Pak Jono tahu, anak itu malu mengajak teman-temannya ke rumah. Ruang serbaguna mereka terlalu kecil dan kondisi ruangan itu memang kerap membuat minder.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istrinya juga pernah mengungkapkan keinginan memiliki meja dapur, obat paling mujarab untuk penyakit lutut dan punggung yang selama ini wanita itu derita. Tidak berat bagi Pak Jono untuk membuatkan sebuah meja. Ia bisa mengumpulkan sisa-sisa bahan bangunan di proyek, tetapi malangnya, dapur mereka terlalu kecil untuk memuat meja itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka tidak bisa memperluas dapur mereka, seperti mereka juga tidak bisa memperluas ruangan-ruangan yang lain. Satu-satunya lahan tersisa di sekeliling rumah mereka hanyalah jalan setapak di bagian depan, sementara membangun lantai kedua di atas rumah papan mereka sudah pasti bukan pilihan. Maka, tampaknya, tidak ada solusi yang lebih tepat untuk memenuhi permintaan keluarganya selain membuat rumah baru yang lebih luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“SIAPA itu, Le?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Mandor mendapati seorang perempuan seumuran anak pertama Pak Jono mondar-mandir di proyek mereka. Perempuan itu berpakaian seperti orang-orang proyek dari kontraktor besar: kemeja dengan rompi, celana bahan licin dan sepatu bot dari karet. Tangannya sibuk mengukur tebal setiap kolom dan balok beton yang baru saja kering dengan meteran sambil sesekali mencatat hasil pengukurannya pada sebuah buku yang disisipkan pada salah saku rompinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Konsultan arsitektur, katanya, Kang,” bisik salah seorang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kenek&lt;/span&gt;, “Datang berdua. Yang satu lagi, bapak-bapak, saat ini sedang ngecek lantai atas.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria yang dimaksud oleh &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kenek&lt;/span&gt;nya muncul tidak lama kemudian, turun dari lantai atas menggunakan tangga monyet. Usia pria itu sama dengannya. Bersosok pendek dan gemuk. Kulitnya hitam, wajahnya bulat, berkumis tebal dan berpakaian seperti koboi modern, lengkap dengan topi kulit dan ikat pinggang bermata besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata mereka bertemu dan pria koboi itu langsung tahu, siapa yang berkuasa di lokasi proyek tersebut. Ia dihampiri lalu mereka berkenalan. Ia juga dikenalkan pada perempuan muda yang datang bersama pria koboi itu. Perempuan tadi, rupanya, seorang arsitek yang dimintai bantuan oleh Pak Jono, sementara si Koboi adalah seorang kontraktor yang biasa bekerja bersama perempuan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rumah sampeyan retak, Mas,” kata si Koboi sambil menunjuk balok beton penyangga lantai atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mandor sudah menduga, pastilah kedua orang itu datang sehubungan dengan retak tersebut. Ia menjawab seperti saat ia ditanya oleh Pak Jono. “Mungkin kurang rata saat diaduk.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh bukan, Mas. Ini bukan retak karena adukan,” si Koboi tidak setuju. Pria itu mengambil sebuah bangku lalu naik ke atas bangku tersebut untuk memeriksa retak yang mereka bicarakan. “Sudah berapa lama proyek sampeyan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tiga minggu,” salah seorang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kenek&lt;/span&gt;nya menjawab tanpa diminta dan Mandor bisa merasakan sendiri kedua matanya mendelik kesal ke arah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kenek&lt;/span&gt; itu. Tiga minggu bukan waktu yang wajar jika melihat perkembangan proyek mereka. Usia kering beton yang baik adalah dua minggu. Untuk bisa mulai membuat tiang penyangga lantai pertama, mereka harus menunggu sampai pondasi bangunan itu kering. Begitu juga dengan proses berikutnya. Untuk bisa mulai membuat balok dan plat lantai kedua, mereka harus menunggu sampai tiang-tiang penyangga di lantai pertama kering. Rumah Pak Jono saat ini sudah siap naik atap. Itu berarti, tiang penyangga serta balok di lantai kedua sudah dibuat. Jika proses pembangunan rumah itu benar, maka lama pengerjaan sampai tahap kini seharusnya adalah enam minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wow!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman kerja si Koboi berseru dengan nada penuh arti, tetapi perempuan itu tidak mengatakan apa-apa. Setelah memeriksa retak di balok, si Koboi memeriksa kolom. Dengan sebuah palu, pria itu membobol salah satu kolom sampai mereka bisa melihat tulangan baja yang mengisi beton tersebut. Diameter tulangan itu diukur lalu si Koboi memberi beberapa instruksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Naik atap boleh tapi jangan pasang ubin dulu. Balok sampeyan terlalu tipis. Kolom ini juga terlalu kecil dan tulangannya kurang besar. Minimal dua belas banci, Mas, bukan delapan banci.” Banci adalah sebutan untuk ukuran yang tidak sesuai. Jika sebuah tulangan besi disebut delapan banci, berarti diameter sesungguhnya penampang besi itu tidak sampai delapan milimeter, hanya mendekati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baloknya bagaimana?” &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kenek&lt;/span&gt; yang tadi kembali bersuara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si Koboi menjawab dengan tenang, “Balok ini sudah pasti akan bengkok. Nanti dinding di atasnya akan retak. Biarkan saja, jangan ditambal. Kalau balok ini sudah kembali lurus, baru sampeyan boleh tambal.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu cara meluruskannya?” tanya si &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kenek&lt;/span&gt; lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PAK Jono beruntung karena tidak jauh dari rumah lamanya, ada sepetak tanah kosong yang dijual. Tanah itu milik salah seorang tetangga  yang berprofesi sebagai tukang besi, berukuran lima kali dua belas meter per segi. Tanah warisan, dan tetangga Pak Jono itu tidak pernah bisa mengumpulkan cukup uang untuk membangun sesuatu di atasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia berhutang di sana sini agar bisa membeli tanah tersebut. Pekerjaannya di sebuah perusahaan kontraktor besar membuat Pak Jono berani melakukan itu. Pasalnya, sebagian besar bahan yang digunakan untuk membangun rumah barunya disumbangkan oleh perusahaan tempat ia bekerja. Ia hanya perlu membayar upah tukang. Dengan ditambah uang simpanan yang ia kumpulkan selama ini, serta uang hasil menjual rumah lama mereka, tanah itu ia dapatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada pembeli rumah lama mereka, ia meminta waktu dua bulan untuk mempersiapkan kepindahan. Tidak perlu dipertanyakan lagi, rumah baru mereka harus sudah selesai dibangun sebelum waktu itu habis. Tepatnya, sebelum lebaran. Ia tekankan hal ini kepada sedulurnya yang ia jadikan mandor dan semua tampak berjalan lancar selama ini, tetapi lalu retak itu muncul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“SATU-SATUNYA jalan keluar adalah membuat rangka baru untuk menyangga rangka yang sekarang.” Rumah Pak Jono sudah hampir jadi. Dinding-dinding sudah lengkap, tinggal dicat. Sebagian keramik sudah terpasang, jaringan listrik dan saluran air sudah siap. Tidak mungkin membongkar itu semua hanya untuk mengganti rangka beton yang saat ini tidak cukup kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak bisa kalau dipertebal saja, Mbak?” tanya Bu Jono pada arsitek muda yang didatangkan oleh suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arsitek itu menjawab, “Beton tidak bisa diperlakukan seperti itu, Bu. Beton berbeda dengan kayu. Saya sarankan, kalian pasang rangka tambahan. Dari baja. Dan harus secepatnya. Kalau tidak, rumah Bapak dan Ibu tidak akan bertahan lama.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bu Jono mengerutkan alis. Ia menatap pada sang suami yang duduk di sebelahnya. Tanyanya lagi, “Bisa rubuh, begitu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PAK Jono pernah membayangkan, rumah baru mereka selesai dibangun tepat pada waktunya. Ia membayangkan dirinya merayakan lebaran bersama istri dan kedua anaknya dalam ruangan luas berbau cat baru. Mereka duduk di atas perabot kayu yang juga baru. Teman-teman ngaji Eka datang berkunjung dan anaknya itu tidak perlu lagi merasa minder. Ia juga membayangkan, istrinya memasak opor ayam dan sayur lodeh di meja dapur mereka yang dilapis keramik bergambar. Ia membuatkan istrinya satu set lemari dapur di atas meja itu untuk menyimpan piring dan alat makan lainnya. Untuk Dwi, anaknya yang satu lagi, ia menyiapkan kamar tidur di lantai atas. Dinding kamar itu ia cat warna ungu dan melalui jendela di salah satu sisinya, mereka bisa melihat pemandangan komplek tempat tinggal mereka dari ketinggian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini Pak Jono duduk di hadapan rumah yang setengah jadi. Hari sudah sore, rumah itu berpendar jingga. Mandor &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sedulur&lt;/span&gt;nya sudah pulang, begitu juga empat anak buah yang ikut membantu. Dari arah luar, melalui lubang jendela yang masih kosong, ia bisa melihat retak di permukaan balok beton penyangga rumah itu. Ia mencoba memikirkan penyebab munculnya retak tersebut, tetapi ia tidak ingin menyalahkan siapa pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arsitek dan kontraktor itu berkata, perlu waktu sekitar dua minggu untuk membuat rangka tambahan. Biaya yang harus ia siapkan adalah tujuh juta rupiah. Ia tidak tahu, harus ke mana lagi ia meminjam uang sebanyak itu. Ia juga tidak bisa terlalu lama menunda karena rumah mereka taruhannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Impian mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 29 April 2008&lt;br /&gt;untuk Kinu Triatmodjo&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/636522176026931424-3439924803796638347?l=miss-worm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miss-worm.blogspot.com/feeds/3439924803796638347/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=636522176026931424&amp;postID=3439924803796638347&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/3439924803796638347'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/3439924803796638347'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miss-worm.blogspot.com/2008/04/draft-retak-rumah-baru-pak-jono.html' title='(Draft) Retak Rumah Baru Pak Jono'/><author><name>windry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13072319767836551821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R85FBcecQ6I/AAAAAAAAAXw/dACfoIQUsWA/S220/she_was_buried_alive__by_cryptorchid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/SBdW_eEbS0I/AAAAAAAAAaI/oY1O0rSqQ68/s72-c/STOCK_crack_02_by_CDS_stock.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-636522176026931424.post-60946173736262964</id><published>2008-04-28T11:18:00.007+07:00</published><updated>2008-04-28T14:01:29.528+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of drafts'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of words'/><title type='text'>(Draft) Surat Cinta untuk Ju</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/SBVTUuEbSzI/AAAAAAAAAaA/GwHCUI_yTE0/s1600-h/letter.jpg"&gt;&lt;img src="http://bp0.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/SBVTUuEbSzI/AAAAAAAAAaA/GwHCUI_yTE0/s200/letter.jpg" style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp0.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/SBVTUuEbSzI/AAAAAAAAAaA/GwHCUI_yTE0/s200/letter.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5194149360670821170" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Surat Pertama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ju,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sebelum kamu salah paham terhadap saya sehubungan dengan surat ini, saya perlu perjelas bahwa surat ini bukan surat pribadi, apalagi surat cinta (saya bukan satu dari sekian banyak gadis yang mengidolakanmu di kampus). Saya tulis lalu saya berikan padamu karena saya ingin menyampaikan satu hal.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Saya perhatikan, kamu sering membawa pulang sayur segar. Saya tahu kamu bekerja sambilan di pasar swalayan dan mungkin, sayur yang kamu bawa pulang adalah sayur sisa yang tidak terjual. Sayur itu sendiri tidak masalah, sayur baik untuk kesehatan. Yang menjadi masalah adalah, saat kamu tidak memasak habis sayur yang kamu bawa pulang itu lalu membuangnya ke tempat sampah (saya menemukan sayur sisa di tempat sampahmu hampir setiap hari).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, itu suatu pemborosan. Kamu harus tahu, tidak semua orang beruntung seperti dirimu bisa memakan sayur. Penjaga kantin di kampus kita misalnya, orang malang seperti dia, saya yakin, tidak setiap saat bisa menikmati sayur dalam menu makan sehari-harinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, saat membuang sayur itu ke tempat sampah, kamu tidak membedakannya sebagai sampah organik. Itu mempersulit kerja tukang sampah. Begini, di depan kamarmu ada tiga buah tempat sampah yang disediakan oleh pemilik flat bukan sekedar agar terlihat hebat. Masing-masing tempat sampah disiapkan untuk jenis sampah yang berbeda-beda. Dan tugas kita sebagai pemilik flat adalah membuang sampah dengan tepat dan saya yakin kamu bisa melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum surat ini saya akhiri, saya perlu perjelas juga bahwa saya tidak punya maksud menggurui. Saya hanya berniat baik dan berharap kamu akan menerima masukan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;An&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Surat Kedua&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ju,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;terima kasih atas surat balasanmu. Saya senang kamu menanggapi surat saya, walau saya tidak berharap kamu akan menyampaikan apa yang sudah kamu sampaikan dalam suratmu itu. Sejujurnya, tanggapanmu membuat saya kecewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah sudah saya katakan di akhir surat pertama? Saya tidak punya maksud menggurui dan ya, memang apa yang saya singgung itu sepenuhnya adalah hak pribadimu, tetapi kita tinggal di dalam satu flat, pada dua kamar yang bersebrangan dan saya harus jujur bahwa saya terganggu dengan kebiasaanmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi pula, apa sulitnya mengurangi pemborosan dan membuang sayur sisa ke tempat sampah yang tepat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;An&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Surat Ketiga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tertawa membaca surat balasanmu, tawa sinis tentu saja. Tidak ada yang mencari keributan di sini, Ju, kecuali kamu. Tapi baiklah, jika kamu ingin bertemu untuk menyelesaikan ini, saya harap kamu datang dengan kepala dingin dan dilengkapi akal sehat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu selesai kerja pukul delapan malam, kan? Saya tunggu kamu di kafe kecil dekat swalayan tempatmu bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;An&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Surat Keempat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Julian Dunn,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kali ini kamu benar-benar membuat saya kecewa. Tidak hanya kamu membuat saya menunggu selama dua jam, tetapi kamu juga tidak datang. Apa memang seperti ini caramu memperlakukan perempuan? Saya bukan satu dari sekian banyak pacar-pacamu, tetapi lelaki yang baik tidak membiarkan perempuan menunggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Annette&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Surat Kelima&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ju,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jangan surati saya lagi. Memang, saya lah yang dulu memulai surat ini, tetapi saat itu saya tidak tahu bahwa situasi akan berkembang menjadi seperti saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu kamu ketahui, saya tidak suka keributan, apalagi dengan teman satu flat. Ya, saya akui saya memiliki sifat perfeksionis yang akut dan mungkin standar kedisiplinan saya terlalu tinggi untuk dimengerti orang kebanyakan (termasuk kamu). Jadi mari kita lupakan saja masalah sayur itu. Silakan buang sisa sayurmu sebanyak yang kamu mau dan silakan saja pergunakan tempat sampah di depan kamarmu dengan semena-mena. Saya rasa, selain saya, tidak akan ada yang protes. Dan karena saya sudah memutuskan untuk menutup mata, maka tidak akan ada yang protes sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu bisa tenang sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;An&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Surat Keenam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah isi surat saya yang sebelumnya kurang jelas? Baiklah, anggap saja saya memohon. Saya sibuk dan saat ini saya sedang tidak berminat meladeni arogansimu, jadi tolong berhenti menyurati saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;An&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Surat Ketujuh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ju,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saya menulis surat ini di rumah sakit. Di sela-sela kepenatan merawat ayah saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama-tama, saya ingin berterima kasih padamu karena sudah mau menghentikan surat-suratmu. Saya sangat menghargainya. Kedua, saya ingin minta maaf karena justru saya yang menyuratimu lagi. Saya butuh teman bicara dan hanya kamu yang teringat oleh saya, tetapi tolong jangan disalah-artikan. Saya bukan ingin mengajakmu bertemu atau lalu merepotkanmu. Saya hanya ingin bercerita dan kamu boleh membuang surat ini tanpa perlu meneruskan membacanya jika kamu keberatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah saya baru beberapa minggu di rumah sakit tapi kondisi kesehatannya menurun dengan cepat. Dia seperti sudah kehilangan semangat untuk hidup dan saya rasa, usianya tidak akan lama lagi. Mungkin saya terlalu melebih-lebihkan, tetapi setiap saya melihat ayah saya, saya hanya bisa menangis. Saya merasa lemah. Sangat lemah sampai kadang saya berdoa agar semua ini cepat berakhir dan saya bisa melanjutkan hidup. Bagaimanapun, kesibukan saya di rumah sakit sudah mempengaruhi banyak hal, salah satunya adalah kuliah saya. Rasanya saya tertinggal cukup banyak dan bukan hal yang menyenangkan melihat nilai buruk di antara nilai-nilai sempurna saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, terdengar seperti ucapan seseorang yang tidak punya hati nurani. Di saat ayah saya terbaring sekarat, yang saya kuatirkan justru nilai-nilai saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya anak tunggal, Ju, karena itu saya menanggung beban ini sendirian. Ibu saya meninggal satu tahun yang lalu, kemungkinan besar, penyebab ayah saya jatuh sakit. Sesungguhnya tidak ada yang perlu saya khawatirkan jika ayah saya meninggal. Biaya hidup saya sehari-hari ditanggung oleh negara. Kuliah saya gratis dan begitu lulus, saya akan dikirim ke Jerman untuk mengambil gelar Master.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ayah saya, adalah satu-satunya teman hidup yang saya miliki. Saya tidak suka mengakui ini padamu, saya adalah perempuan menyedihkan yang kesepian. Saya tidak punya saudara, walau saudara jauh. Saya tidak dekat dengan siapapun di kampus, juga di gedung flat kita. Satu-satunya orang yang pernah saya surati adalah kamu. Itu pun untuk bertengkar (semoga surat saya kali ini tidak memicu pertengkaran lagi. Saya sudah memilih kata-kata saya dengan berhati-hati).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;An&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NB: kamu tidak perlu membalas surat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Surat Kedelapan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah saya meninggal. Sebelum menghembuskan napas terakhirnya, dia meminta dikuburkan di desa. Bisa saya minta bantuan? Ujian akhir dimulai minggu ini dan saya tidak akan sempat mengurus izin saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;An&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NB: tolong kabari saya secepatnya jika kamu tidak bisa membantu saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Surat Kesembilan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih. Berkat kamu, saya lulus dengan nilai yang baik. Tidak sempurna tapi nilai-nilai itu masih pantas untuk mahasiswi sepintar saya. Dengannya, saya masih bisa mendapatkan beasiswa ke Jerman. Bagaimana denganmu? Kalau tidak salah, kamu juga ikut ujian akhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, atau mari kita bertemu saja? Walau tinggal dalam satu flat, kita tidak pernah bertemu dalam beberapa minggu terakhir ini. Kamu masih bekerja di pasar swalayan itu? Bagaimana kalau kita minum kopi di kafe dekat tempat kerjamu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;An&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Surat Kesepuluh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ju,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;apakah kamu menerima surat saya yang sebelum ini? Kamu tidak membalas dan saya bertanya-tanya, apakah surat itu yang tidak sampai atau kamu keberatan bertemu dengan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;An&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Surat Kesebelas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak tahu alasanmu tidak membalas surat-surat saya, tetapi saya mencoba untuk menghargai sikapmu itu. Akhir bulan ini saya berangkat ke Jerman (untuk alasan yang sudah pernah saya beritahu). Saya tidak akan kembali dalam lima tahun. Atau mungkin sepuluh tahun. Saya belum tahu pasti. Jika kamu tidak keberatan, saya ingin sekali bertemu denganmu sebelum saya pergi. Saya ingin berterima kasih secara langsung dan juga ada satu hal penting yang ingin saya bicarakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;An&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Surat Terakhir&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ju,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ini adalah surat terakhir saya. Besok saya berangkat ke Jerman dan saya tidak akan menulis surat untukmu lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, saya ingin perjelas bahwa surat saya kali ini adalah surat pribadi dan ya, kamu boleh mengkategorikannya sebagai surat cinta. Saya tidak tahu bagaimana seharusnya isi sebuah surat cinta. Saya tidak pernah membaca juga tidak pernah menulis surat semacam itu sebelumnya. Jadi cukup kamu ketahui saja bahwa ini adalah surat cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak tahu sejak kapan dan bagaimana. Mungkin justru kamu yang menyadari lebih dahulu, karena itu kamu tidak membalas surat-surat saya. Saya mengerti. Cukup jelas bahwa perasaan saya bertepuk sebelah tangan. Selamat tinggal, kalau begitu, dan semoga kita tidak perlu bertemu lagi (atau surat menyurat lagi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;An&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NB: jangan membalas surat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 27 April 2008&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/636522176026931424-60946173736262964?l=miss-worm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miss-worm.blogspot.com/feeds/60946173736262964/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=636522176026931424&amp;postID=60946173736262964&amp;isPopup=true' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/60946173736262964'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/60946173736262964'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miss-worm.blogspot.com/2008/04/draft-surat-cinta-untuk-ju.html' title='(Draft) Surat Cinta untuk Ju'/><author><name>windry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13072319767836551821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R85FBcecQ6I/AAAAAAAAAXw/dACfoIQUsWA/S220/she_was_buried_alive__by_cryptorchid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/SBVTUuEbSzI/AAAAAAAAAaA/GwHCUI_yTE0/s72-c/letter.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-636522176026931424.post-3778714793302483963</id><published>2008-04-18T13:46:00.004+07:00</published><updated>2009-06-25T11:08:41.473+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of drafts'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of words'/><title type='text'>(Draft) Perempuan-perempuan Terjual</title><content type='html'>Hari ini aku melihat lelaki itu di pasar. Dia berdiri di tengah-tengah keramaian, menyebarkan selebaran kepada orang-orang yang berlalu lalang sepanjang tanah becek. Tujuh tahun berlalu membuat sosoknya hampir tidak bisa kukenali. Rambutnya kini putih tipis, tubuhnya berubah gemuk, dan pakaiannya necis: kemeja licin motif garis serta sepatu kulit mengkilat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ju, nama lelaki itu. Dia berdarah Jawa tapi lama tinggal di Kalimantan.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa tadi pagi di pasar, Mbok?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bertanya selepas merokok. Pada wanita seumuran ibuku yang tengah sibuk mencuci beras di sudut dapur. Aku duduk di sudut yang lain, di hadapan meja makan, di samping jendela yang terbuka lebar. Pandanganku tidak lepas menatap keluar ruangan sementara si Mbok menjawab panjang lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Biasa, Den. Orang kota bagi-bagi lowongan kerjaan. Katanya, ada produser dari Malaysia sedang cari banyak artis muda. Tidak perlu berpengalaman karena nanti akan dilatih. Syaratnya hanya jenis kelamin dan usia. Perempuan, lima belas sampai delapan belas tahun. Jumlah tidak dibatasi, asal benar-benar niat kerja. Dengar-dengar, akan dibayar lumayan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ujung bibirku menarik senyum sinis. Benar dugaanku. Lelaki itu masih melakukan bisnis yang sama. Aku berkata pada si Mbok, “Saya pernah mengenal lelaki itu, Mbok.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh ya, Den? Di mana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di desa ini juga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, si Mbok baru kali ini lihat tapi ya maklum saja, si Mbok kan jarang keluar rumah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia memang bukan orang desa ini, Mbok.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menyulut batang rokok baru, tidak peduli rokok itu adalah jatah nanti malam. Apa boleh buat, kehadiran Ju membuatku gelisah. Dadaku disesaki amarah dan kepalaku panas. Kalau saja aku membawa golok dan cukup gila, pasti sudah kubacok lelaki itu tadi di pasar. Kubacok tanpa ampun sampai tanah tergenang oleh darahnya dan tidak akan kubiarkan dia hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang. Aku tidak membawa golok dan aku masih waras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia pengusaha dari Kalimantan.” Kuhisap rokokku lalu kulepaskan asapnya ke udara. “Bisnis perempuan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Macam pencari bakat?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan. Macam makelar budak seks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang itu lah yang sebenarnya dilakukan oleh Ju. Aku pernah menjadi salah satu perempuan dagangannya. Ditipu mentah-mentah dengan iming-iming yang sama: pekerjaan bergaji tinggi di luar negeri. Siapa yang tidak tergiur? Desa kami kecil dan terpelosok, tanah kami tidak banyak memberi hasil, dan kerajinan tangan kami tidak dihargai tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepuluh tahun yang lalu, tidak hanya aku yang pergi meninggalkan desa. Ju berhasil membohongi tujuh orang perempuan. Satu mati di Kalimantan saat tahu apa yang sebenarnya terjadi, dibunuh karena mencoba lari. Satu ditinggal di perbatasan, dijadikan penghibur para tentara yang bersekongkol. Sisanya diselundupkan ke Malaysia, dijual lalu dipaksa melacur di negeri asing itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak tahu berapa harga jualku tapi kurasa cukup tinggi karena saat itu aku masih perawan. Pembeliku wanita Tionghoa pemilik rumah bordil. Mantan pelacur yang sudah terlalu tua untuk menjual diri. Mereka sepertinya sudah kenal lama, wanita itu dan Ju. Tidak terjadi nego harga saat Ju menyerahkan kami. Ju hanya berkata, “Lima satu sesuai pesanan. Barang bagus,” lalu dia menerima amplop tebal yang kuduga pasti berisi uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dan keempat perempuan yang lain ditinggalkan di sana oleh Ju dalam keadaan terbelit utang. Atas dasar itu, wanita Tionghoa yang membeli kami mendapat kebebasan penuh untuk memperlakukan kami sesuai kehendaknya. Mam, begitu kami memanggilnya, membuat kami mengerti perlahan-lahan posisi kami di tempat itu sebagai barang dagangan. Mam mengajari kami cara bertahan hidup dan juga cara memuaskan lelaki. Aku melayani ribuan lelaki di sana. Selama tiga tahun. Lelaki-lelaki yang bosan pada istri mereka atau justru tidak punya istri untuk melampiaskan dorongan berahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“An sedang apa, Mbok?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deretan rumah-rumah kayu di seberang jendelaku berubah kekuningan diterpa pendar senja. Kuperhatikan, orang-orang yang bekerja di ladang sudah kembali. Kuyu dan basah oleh peluh. Aku mematikan rokok di tanganku. Kusisakan setengah batang untuk nanti malam. Lalu aku menutup jendela dan beranjak dari sudut dapur untuk menyalakan lampu minyak. Beras yang tadi dibersihkan si Mbok kini tanak di dalam dandang. Uap panas mengepul menghangatkan ruangan, disertai suara letupan air mendidih yang mengundang lapar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masih tidur anak itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si Mbok menjawab, “Mungkin masih, Den. Tadi pulang sekolah agak sore. Makan, bikin PR, lalu langsung tidur.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak memberi tanggapan. Tanyaku lagi, “Masalah di sekolahnya bagaimana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya begitu-begitu saja, Den. Selama masih menunggak, sikap guru-guru tidak akan berubah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucapan si Mbok membuatku berdesis. Baru beberapa bulan saja uang sekolah An tertunggak, para guru mulai bersikap tidak masuk di akal dengan mengintimidasi anak kecil yang tidak tahu apa-apa. An disudutkan di sekolah, dipandang sebelah mata seperti pengemis kotor yang tidak berhak berkumpul dengan anak-anak lain. Padahal guru-guru itu sama miskinnya dengan kami. Utang mereka juga banyak menumpuk di setiap warung di desa. Kalau mereka menganggap kami pengemis, mereka sendiri pasti tikus comberan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuminta si Mbok memanaskan sayur untuk makan kami. Kutinggalkan wanita tua itu bekerja sendiri di dapur, sementara aku berpindah ke ruangan lain untuk mencari An. Kudapati An berada di dalam kamar. Tidur meringkuk di atas kasur yang terbentang tanpa dipan. Sepasang tangannya memeluk guling yang kempis. Wajahnya tersembunyi di balik guling tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;An tidak mengenal ayahnya. Begitu pula diriku. Aku mulai mengandung saat masih bekerja pada Mam. Sulit untuk memastikan siapa lelaki yang bertanggung jawab. Ada terlalu banyak kemungkinan karena setiap harinya, pada masa-masa itu, aku tidur dengan tiga sampai enam lelaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kala itu bukan untuk pertama kalinya aku mengandung dan seperti biasa, Mam menyuruhku menggugurkan kandungan. Aku menolak. Sudah terlalu sering dan aku tidak ingin membunuh bayiku lagi. Tentu saja perempuan yang hamil tidak bisa bekerja di rumah bordil, maka setelah bekerja lebih dari dua tahun, aku diberhentikan oleh Mam lalu dikembalikan pada Ju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ju sendiri yang mengantarku kembali ke desa. Dia memberiku pesangon dan sebuah tugas kecil: berpura-pura pada semua orang di desa bahwa selama aku pergi, aku bekerja sebagai buruh di Malaysia dengan gaji yang tinggi. Kedok ini akan mempermudah Ju saat dia ingin melakukan rekrutmen baru di desa. Kedok ini juga menyelamatkan mukaku setelah aku pulang dengan perut buncit. Aku memiliki suami di Malaysia, begitu yang orang-orang desa ketahui sampai saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mbok!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengganti pakaianku. Kubalut tubuh dengan baju hangat, bersiap diri menghadapi udara dingin di luar rumah. Si Mbok sudah berdiri di ambang pintu. Padanya aku berkata, “Nanti kalau An bangun, suruh mandi lalu makan. Saya pergi dulu. Ada urusan sebentar. Bilang pada An, jangan menunggu saya. Mungkin saya baru pulang menjelang tengah malam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si Mbok mengangguk mengerti lalu kutinggalkan rumah untuk mendatangi losmen kecil di tengah kota, satu-satunya rumah penginapan yang ada di desa kami. Di losmen itulah pasti kini Ju berada. Aku tidak membawa golok. Aku pergi menemui Ju bukan untuk membacok lelaki itu. Bagaimana pun, aku masih waras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang perjalanan ditemani remang lampu-lampu desa, yang bisa terpikirkan olehku hanyalah uang. Dingin membuat laparku semakin terasa, mengingatkan diriku pada setumpuk masalah keuangan yang kini sedang menggerogoti pelan-pelan. Saat kembali dari Malaysia, aku sempat kaya mendadak. Aku mendapati kedua orang tuaku sudah lama pergi dan meninggalkan sejumlah warisan. Uang pesangon yang diberikan oleh Ju juga tidak sedikit, tetapi tujuh tahun berlalu dan kini yang masih tersisa hanyalah uang tip yang kukumpulkan selama bekerja pada Mam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini aku butuh uang dan mungkin Ju bisa memberikannya padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“An? An siapa?” Di ambang pintu aku berdiri menghadapi lelaki itu. Mata Ju memperhatikanku dengan cermat sambil dirinya berusaha mengingat-ingat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kukatakan padanya, “An yang hamil saat kerja di rumah Mam lalu kau bawa kembali ke desa ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekspresi Ju berubah setelah aku mengatakan itu. Dia berseru, “An! Ya ya ya. An yang itu! Oh, sudah lama sekali.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memang,” tanggapku. “Boleh saya masuk?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tentu. Masuklah ke dalam!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melangkah memasuki kamar Ju yang cukup terang. Kamar itu adalah kamar terbaik yang dimiliki losmen tersebut. Selain tempat tidur yang lebar dan berdipan, ada dua kursi kayu berbantal empuk di salah satu sisi. Di antara dua kursi itu, sebuah jendela terbuka memasukkan udara dingin dan suara jangkrik. Ju menutup pintu di belakang kami lalu mempersilakanku duduk pada salah satu kursi sementara dia duduk di kursi satunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kataku tanpa basa-basi, “Saya butuh uang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ju tidak langsung menjawab. Dia tersenyum lalu mengulur waktu dengan menyulut sebatang rokok. Diberikannya rokok itu padaku. “Ayo, merokok dulu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuterima rokok pemberian Ju. Kuhisap aromanya dalam-dalam lalu kukatakan lagi, ”Uang pesangon darimu memang cukup besar dan saya punya simpanan selama di Malaysia, tetapi saya beranak satu. Semua habis begitu cepat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ju tertawa. Dia menanggapi, “Seharusnya kau dulu mendengarkan Mam. Kaugugurkan kandunganmu dan kau bisa terus bekerja di Malaysia. Gampang, tidak perlu repot mikirin anak. Tapi dasar kau keras kepala. Pakai sok bawa-bawa dosa segala. Memangnya kau kira melacur bukan dosa? Berapa kali kau melacur dalam sehari? Dosa sudah menumpuk, untuk apa pikir dosa lagi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku balas tertawa. “Ah, kalaupun saya turuti keinginan Mam waktu itu, paling-paling saya hanya bertahan satu atau dua tahun lagi, sampai Mam ganti stok dengan perempuan-perempuan baru yang lebih muda. Pekerjaan apa yang bisa dilakukan oleh pelacur yang tidak melacur lagi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi kau jadi tidak pusing karena urusan anak,” balas Ju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terdiam sejenak, kembali menghisap rokokku. “Benar,” ucapku pelan. Aku menyukai An. Ibu mana yang tidak menyukai darah dagingnya sendiri. Tetapi biaya membesarkan seorang anak sungguh tidak sedikit. Harus diakui, An membuatku bangkrut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anakmu perempuan apa laki-laki?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Perempuan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berapa umurnya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tujuh tahun.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ju mengangguk-anggukkan kepala. Dia bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri tas pakaian yang dia letakkan di atas tempat tidur. Tangannya merogoh ke dalam tas itu lalu keluar menggenggam segepok uang. “Hitung dulu!” Dilemparnya uang itu padaku. Aku mulai menghitung, sementara Ju berkata, “Begitu umurnya dua belas, anakmu ikut saya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucapan itu sempat membuatku terkejut, tetapi tidak lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulanjutkan kesibukanku menghitung uang. Kupikir, aku masih lebih baik dari perempuan-perempuan frustasi dalam berita nasional yang membunuh bayi mereka karena masalah yang sama. Jika aku bisa melewati masa-masa mengerikan di Malaysia, maka anakku juga pasti bisa bertahan. Nanti akan kunasihati dia bagaimana agar lelaki mau memberi uang tip yang banyak dan akan kusuruh dia melahirkan beberapa anak perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk tabungan masa tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 18 April 2008&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/636522176026931424-3778714793302483963?l=miss-worm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miss-worm.blogspot.com/feeds/3778714793302483963/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=636522176026931424&amp;postID=3778714793302483963&amp;isPopup=true' title='10 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/3778714793302483963'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/3778714793302483963'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miss-worm.blogspot.com/2008/04/draft-perempuan-perempuan-terjual.html' title='(Draft) Perempuan-perempuan Terjual'/><author><name>windry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13072319767836551821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R85FBcecQ6I/AAAAAAAAAXw/dACfoIQUsWA/S220/she_was_buried_alive__by_cryptorchid.jpg'/></author><thr:total>10</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-636522176026931424.post-6608085925928462366</id><published>2008-04-09T23:25:00.013+07:00</published><updated>2008-04-10T17:44:08.523+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of minds'/><title type='text'>Tentang Seorang Tokoh Antagonis</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R_z_fW13GII/AAAAAAAAAZw/V0g3j5p4ljA/s1600-h/strawberrycake.jpg"&gt;&lt;img src="http://bp2.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R_z_fW13GII/AAAAAAAAAZw/V0g3j5p4ljA/s200/strawberrycake.jpg" style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp2.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R_z_fW13GII/AAAAAAAAAZw/V0g3j5p4ljA/s200/strawberrycake.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5187301784996485250" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ada satu cerita lama tentang seorang tokoh antagonis di dalam sebuah film murahan buatan lokal. Tokoh ini bertanya menjelang akhir proses pembuatan film. "Apakah saya adalah si Jahat yang membawa apel?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sutradara menjawab, "Ya. Baru saja kau menyelesaikan adegan matinya tokoh protagonis."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Seperti adegan di dalam kisah Putih Salju?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bukan. Seperti adegan di dalam sebuah kafe, di mana satu meja berisi sepotong kek keju, kopi, dan air mineral."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;"Saya tidak tahu ada adegan seperti itu di dalam naskah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Babak kedua, adegan kelima. Silakan tanya pencatat adegan. Kita melakukan tujuh belas pengambilan gambar, dan demi Tuhan! Kau berbakat! Sungguh!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh antagonis terdiam sejenak. Kedua alisnya berkerut dan perasaannya diliputi kegelisahan. "Saya tidak ingat. Saya tidak tahu," gumamnya pelan sambil menggigit jari. Dia kembali bertanya, "Benarkah saya si Jahat yang membawa apel?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mengapa bertanya lagi?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apakah si Baik mati?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tentu saja! Kau yang membunuhnya. Dengan aroma stroberi dan pewarna merah muda. Kini hanya tersisa babak terakhir. Nah, rapikan riasanmu! Kita akan mulai mengambil gambar lagi." Sutradara kembali ke balik monitor, para kru dan kameraman bersiap diri, lalu pengambilan gambar dilanjutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu cerita lama tentang seorang tokoh antagonis di dalam sebuah film murahan buatan lokal. Dia memasuki studio yang salah, mengambil naskah yang salah, dan memainkan peran yang salah. Saat dia tersadar bahwa semua yang dia lakukan adalah salah, si Baik dalam naskah sudah mati dan tokoh antagonis tidak berani berbuat apa-apa selain menunggu air mineral kembali jernih dengan sendirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 9 April 2008&lt;br /&gt;untuk seorang teman kesayangan&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/636522176026931424-6608085925928462366?l=miss-worm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miss-worm.blogspot.com/feeds/6608085925928462366/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=636522176026931424&amp;postID=6608085925928462366&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/6608085925928462366'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/6608085925928462366'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miss-worm.blogspot.com/2008/04/tentang-tokoh-antagonis-yang-terlambat.html' title='Tentang Seorang Tokoh Antagonis'/><author><name>windry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13072319767836551821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R85FBcecQ6I/AAAAAAAAAXw/dACfoIQUsWA/S220/she_was_buried_alive__by_cryptorchid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R_z_fW13GII/AAAAAAAAAZw/V0g3j5p4ljA/s72-c/strawberrycake.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-636522176026931424.post-3849068829594327845</id><published>2008-03-19T23:12:00.002+07:00</published><updated>2008-03-19T23:19:29.645+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of drafts'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of words'/><title type='text'>(Draft) The Girl Behind the Lens: II</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R-E8uM9nRDI/AAAAAAAAAZo/OoZqyatMLb0/s1600-h/faye+from+ryoko+hirosue.jpg"&gt;&lt;img src="http://bp2.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R-E8uM9nRDI/AAAAAAAAAZo/OoZqyatMLb0/s200/faye+from+ryoko+hirosue.jpg" style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp2.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R-E8uM9nRDI/AAAAAAAAAZo/OoZqyatMLb0/s200/faye+from+ryoko+hirosue.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5179487810904081458" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hari ini kulihat seorang gadis duduk di atas dak rumah susun kami. Gadis itu bertubuh mungil, mengenakan celana jeans dan sweater hijau. Kulitnya kecoklatan, rambutnya merah seperti terbakar matahari. Dia memangku satu plastik jeruk mandarin. Sepasang tangannya menggenggam sebuah kamera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis itu duduk di sana selama berjam-jam. Hampir tidak melakukan apa-apa. Hanya diam di bibir dak sambil menghabiskan jeruk lalu sesekali dia mengambil gambar dengan kameranya. Dia juga tidak bicara,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tetapi sorot matanya bercerita banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Hari ini aku membawa kameraku menikmati pagi di atas dak sebuah rumah susun. Diyan masih tidur saat aku pergi. Aku keluar kamar dengan diam-diam. Kutinggalkan ponselku di rumah, agar tidak ada seorang pun bisa menghubungiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cahaya pagi ini tidak terlalu bagus, langit sedikit berawan. Jeruk yang kubeli di depan terminal juga asam. Sudah berjam-jam aku hanya duduk diam, hampir tidak mengambil gambar. Hanya beberapa kali tadi saat kulihat suami istri sarapan bersama di balik sebuah jendela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mataku masih menatap suami istri itu. Sambil aku bertanya, apakah dulu mereka melepaskan sesuatu saat memutuskan untuk hidup bersama?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami biasa menjemur pakaian di atas dak. Aku dan keluargaku. Kulakukan setiap pagi saat cuaca bersahabat. Kadang adikku atau ibuku yang melakukannya, tetapi sejak rematik ibu sering kumat, hanya aku dan adikku yang kerap bergantian melakukan tugas itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada yang menarik?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya kusapa gadis itu karena kurasa dia juga sudah menyadari kehadiranku di atas dak. Dia menoleh dan membalas sambil tersenyum lebar. Katanya, “Aku pinjam dak ini, ya. Ada yang ingin kuobrolkan dengan kameraku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku teringat pada Jo saat gadis itu menyapaku. Dia menenteng sebuah ember berisi pakaian basah yang baru selesai dicuci. Seperti Jo kala itu di bawah langit Hong Kong, dia menemaniku di bawah langit Jakarta sambil menjemur pakaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sepertinya mendung. Apakah kau tidak takut jemuranmu kehujanan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis itu memantau langit lalu dia menjawab dengan tenang, “Memang sedikit berawan, tetapi tidak akan turun hujan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban itu membuatku tertarik. “Oh ya? Bagaimana kau tahu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Perasaan saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tawa gadis itu lepas ke udara bebas. Dia mengambil sebuah jeruk dari kantong plastik di pangkuannya. Jeruk itu dia tunjukkan padaku. “Aku membeli terlalu banyak,” katanya sambil kembali mengulas senyum lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku diam beberapa saat dengan canggung, tidak tahu harus bersikap bagaimana. Senyuman di wajah gadis itu mengembang seakan membujukku. Kuhampiri dia di bibir dak. Kuterima jeruk yang dia berikan lalu aku duduk di sebelahnya. “Aku Faye.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“An,” jawabku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faye menyebut namaku. “Hai, An. Senang berkenalan denganmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengangguk lalu kami menghabiskan jeruk di dalam plastik berdua sambil menikmati pemandangan Jakarta dari atas dak yang sesungguhnya tidak indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu aku berkata kepada Diyan, aku rela membuang fotografi demi dirinya. Aku bersungguh-sungguh mengatakan itu. Bukan sekedar ucapan manis demi bisa hidup bersama dengannya. Rei sedang menyiapkan pernikahan kami. Tanggal itu semakin dekat dan kini aku membutuhkan sedikit waktu bersama kameraku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat matahari tenggelam, baru aku meninggalkan dak itu. Aku baru tahu begitu tiba di rumah,  semua orang sibuk mencariku. Tante Indra memarahiku, Rei tidak berhenti berkomentar pedas, tetapi Diyan tidak berkata apa-apa. Dia hanya memelukku dan memberi kecupan di kening.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diyan tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini aku menemukan gadis itu lagi di atas dak yang sama. Kali ini dia berdiri di salah satu sisi, mendirikan kamera yang dibawanya dengan alat berkaki tiga. Tidak jauh dari alat itu, tergeletak satu plastik jeruk yang masih segar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai, An!” Faye menyapaku dengan nada riang. Kubalas sekilas lalu aku mulai menjemur pakaian seperti biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini cuaca begitu cerah. Langit biru bersemburat putih. An datang saat aku baru akan mulai memotret. Kusapa dia sekilas lalu kubiarkan dia bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kameraku menemukan sesuatu yang menarik di bangunan sebelah di wilayah rumah susun yang sama. Di balik sebuah jendela, sepasang suami istri sarapan pagi bersama. Kemarin aku mencoba mengambil gambar mereka, tetapi hasil yang kudapatkan tidak terlalu baik. Langit berawan kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekerjaanku selesai dengan cepat. Aku duduk di dekat pintu sambil memperhatikan Faye. Pagi ini Faye terlihat sibuk sekali. Dia memotret begitu banyak. Entah berapa kali Faye mengganti rol filmnya dan yang membuatku bingung, dia hanya menyorot ke satu arah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faye berhenti memotret tepat pukul sepuluh saat matahari mulai tinggi. Aku bertanya padanya setengah berteriak, “Mengapa berhenti? Langit tidak berawan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia membalas sambil tertawa kecil, “Matahari sudah terlalu tinggi. Kameraku tidak suka panas.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ikut tertawa. Kuhampiri dia untuk membantunya merapikan peralatan lalu kami duduk di bawah bayangan gedung sebelah sambil menikmati jeruk. “Kau seperti temanku. Dia bernama Jo.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jo?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang aku kerap bertanya-tanya, bagaimana kabar Jo? Apakah dia masih di Hong Kong atau sudah kembali ke Indonesia? Aku ingin mengiriminya sebuah gambar. Gambar yang dulu kuambil di atas dak apartemen tempatnya tinggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang tadi kaupotret?” An bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak langsung menjawab. Pandanganku beralih pada jendela di gedung sebelah yang kini kosong. “Aku dan dia di masa depan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ha?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkataan Faye sedikit membingungkan untukku. Apakah dia melihat masa depan melalui lensa kameranya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai, An. Apakah kau punya seseorang yang kausukai?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku semakin bingung lalu Faye berkata, “Aku menyukai pemuda ini. Sangat suka. Melebihi kameraku.” Dia memeluk kamera miliknya erat-erat. Tidak kudengar lagi dia berbicara hari itu sampai kami berpisah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tetapi matanya bercerita banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami sedang berdiskusi, apa yang akan kulakukan padanya setelah dia kutinggalkan. Aku ingin menyimpannya, tetapi aku takut tidak bisa menahan diri saat keinginan bepergian di pagi hari muncul kembali. Bisa saja dia kusembunyikan di dalam kotak yang tertutup rapat, kutimbun di dalam gudang, tetapi aku tahu, itu tidak akan berarti banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamera itu tidak boleh ada saat cintaku pada Diyan berkurang di usia tua, atau saat masa lalu datang menggelitik, atau saat sisi egoisku bangun mengambil alih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berbicara cukup lama. Aku tidak ingin mengganggu, maka kutinggalkan mereka berdua di atas dak. Kulihat Faye keluar dari bangunan rumah susun kami saat matahari terbenam. Dia membawa serta kamera miliknya. Mereka menghampiriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini aku berpisah dengan kameraku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini Faye memberiku kameranya. Dia berkata, “Berdirilah di atas dan lihat ke arah bangunan sebelah. Ada aku dan dia di salah satu jendela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini aku memilih Diyan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 19 Maret 2008&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/636522176026931424-3849068829594327845?l=miss-worm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miss-worm.blogspot.com/feeds/3849068829594327845/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=636522176026931424&amp;postID=3849068829594327845&amp;isPopup=true' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/3849068829594327845'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/3849068829594327845'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miss-worm.blogspot.com/2008/03/draft-girl-behind-lens-ii.html' title='(Draft) The Girl Behind the Lens: II'/><author><name>windry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13072319767836551821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R85FBcecQ6I/AAAAAAAAAXw/dACfoIQUsWA/S220/she_was_buried_alive__by_cryptorchid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R-E8uM9nRDI/AAAAAAAAAZo/OoZqyatMLb0/s72-c/faye+from+ryoko+hirosue.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-636522176026931424.post-2919805849203360162</id><published>2008-03-18T21:50:00.005+07:00</published><updated>2008-03-18T22:12:31.451+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of drafts'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of words'/><title type='text'>(Draft) Tentang Sebuah Mimpi yang Tidak Berpola</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R9_ays9nQ_I/AAAAAAAAAZI/a-MsqT78Ntk/s1600-h/Dream____by_alienasoul.jpg"&gt;&lt;img src="http://bp2.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R9_ays9nQ_I/AAAAAAAAAZI/a-MsqT78Ntk/s200/Dream____by_alienasoul.jpg" style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp2.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R9_ays9nQ_I/AAAAAAAAAZI/a-MsqT78Ntk/s200/Dream____by_alienasoul.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5179098661097260018" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mimpi saya tentang kucing berkaki seribu semalam terpotong secara tiba-tiba oleh serpihan-serpihan gambar aneh yang hadir berantakan. Interupsi itu muncul di tengah-tengah, tepat saat saya hampir menemukan lubang persembunyian kucing siluman yang sedang saya kejar di lereng gunung berbatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Saya ingat berlari menapaki tanah terjal dengan kaki telanjang. Dunia di dalam mimpi saya bersuhu panas dengan tiga matahari berpijar di atas kepala. Ke mana pun saya memandang, hanya ada langit dan pegunungan tandus tanpa sebatang pun pohon. Dunia itu seperti gambar dalam layar komputer yang tingkat saturasinya sangat rendah. Hampir tidak tertangkap satu pun warna kecuali merah karena saya ingat, rok saya berwarna itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kucing berkaki seribu berlari di depan saya dengan gesit, melompat beberapa kali kala jalannya terhadang oleh bongkahan-bongkahan batu tajam. “Ikan asin!” Saya ingat berteriak seperti itu. Kalau tidak salah, begini lengkapnya, “Berhenti, Cipus! Saya punya ikan asin!” Si kucing berhenti lalu menoleh tapi hanya sesaat. Matanya bersinar merah, mulutnya menyeringai memamerkan taring-taring terasah. Seurat daging tersangkut di antara taring-taring itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengatakan sesuatu pada saya tapi saya tidak mendengar dengan baik. Telinga saya tersumbat bising televisi yang tidak berhasil mencapai frekuensi tertentu. Menyusul, layar semut televisi tersebut menutupi pandangan saya, lalu dunia berubah penuh warna dengan komposisi level yang tidak tepat. Musik kuno dari tahun tujuh puluhan mengalun menggantikan bising televisi, memenuhi udara yang sejuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adik saya berdiri di sebelah tiang ayunan. Bajunya baby doll polkadot putih-oranye. Rambutnya terkuncir dua, memakai pita warna senada. Saya berada di atas papan ayunan tunggal. Kedua tangan saya menggenggam erat rantai besi di sebelah kanan dan kiri. Saya sedang memainkan ayunan itu. Tertawa bahagia, sementara adik saya menangis keras-keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berada di sebuah taman bermain yang dipenuhi rumput hijau. Taman itu luas sekali dan jga tidak memiliki sebatang pun pohon pada permukaannya. Langit di batas cakrawala biru jernih tanpa awan dan tanpa matahari, bulan maupun bintang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayunaaan!” Adik saya histeris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Main yang lain dulu,” jawab saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudut pandang saya terhadap dunia itu tiba-tiba saja berubah seperti sorot sebuah kamera film yang ditarik mundur begitu jauh. Kamera itu diangkat tinggi belasan meter, sehingga saya bisa melihat diri saya sendiri, adik saya, taman rumput yang tanpa batas dan satu-satunya mainan yang ada di taman itu. Ayunan yang sedang saya naiki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayunaaan!” Adik saya semakin histeris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak menggubris, justru semakin kuat mengayun. Entah sekuat apa, tetapi saya melambung begitu tinggi, lebih tinggi dari kamera tadi, sampai saya bisa melihat ujung bumi. Lalu saya melayang, terbang seperti Wendy dalam Peter Pan. Saya melayang meninggalkan papan ayunan, adik saya, dan taman bermain yang tidak memiliki pohon. Saya melayang semakin tinggi dan cahaya mulai tidak bisa mengikuti saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lari!” Saya mendengar seseorang berseru dari dalam kegelapan. Saya menoleh ke arah sumber suara itu dan yang kemudian saya lihat hanyalah hitam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh saya jatuh perlahan-lahan mendarat di atas sebuah benda empuk yang memiliki permukaan berbulu. Cahaya muncul remang. Dunia dalam mimpi itu berubah seperti semula, hampir tanpa warna, tetapi bukan pegunungan tandus dan kucing berkaki seribu yang saya temui, melainkan kumpulan bola-bola bulu raksasa di dalam satu goa yang dindingnya memiliki tekstur seperti rangkaian sulur tanaman rambat. Saya tidak ingat betul ukuran bola-bola raksasa itu karena selalu berubah-ubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lari!” Suara itu terdengar lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak tahu alasannya tapi saya berlari menuruti perintah suara itu. Berlari dari satu bola ke bola yang lain. Tanpa arah, tanpa tujuan.  Saya berlari kencang, sekencang-kencangnya. Herannya, dunia itu lagi-lagi seperti tanpa batas. Sejauh apapun saya berlari, dinding goa di depan saya tidak juga bisa saya dekati. Seakan goa itu ikut berlari atau saya yang sesungguhnya tidak berpindah tempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mulai kecapaian. Napas saya memburu, tubuh saya berkeringat dan kaki saya lemas. “Lari! Lari!” Suara itu terus berseru tapi saya tidak kuat lagi. Saya tersungkur lalu tidak dapat bangkit kembali. Saat saya hampir kehilangan kesadaran, saya mendengar suara kucing berkaki seribu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kaki ik seribu. Apa jij bisa beri seribu ikan asin?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya! Saya ingat sekarang. Itu yang kucing siluman katakan kepada saya. Dia minta seribu ikan asin! Saya terbangun penuh antusias dan mendapati diri saya kembali berada di pegunungan tandus. Kucing berkaki seribu yang tadi sempat berhenti, kembali berlari. Saya pun bangkit berdiri dan melanjutkan pengejaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami mendaki gunung tanpa lelah. Rasanya perjalanan kami tidak ada habis-habisnya. Tiga buah matahari di atas kami sudah berkali-kali terbenam dan berkali-kali terbit. Kami melalui belasan hari dan belasan malam yang berganti begitu cepat. Tidak sampai satu jam, bahkan semakin lama semakin cepat. Hari dan malam berganti setiap menit. Membuat kepala saya pusing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ikan asin, Cipus!” Saya berseru. “Saya punya ikan asin.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kaki ik seribu. Apa jij bisa beri seribu ikan asin?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembicaraan kami terulang. Saya mengerutkan alis dengan bingung. Mengapa hanya karena kakinya berjumlah seribu, maka dia meminta seribu ikan asin? Mulutnya kan tetap satu? Dan saat saya sedang dilanda kebingungan, layar semut dan suara bising kembali muncul, tetapi tidak lama karena musik kuno dari tahun tujuh puluhan muncul lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adik saya berdiri di hadapan saya dengan latar belakang penuh warna. Dia masih mengenakan baby doll polkadot putih-oranye. Wajahnya basah oleh air mata dan ingus berleleran dari lubang hidungnya yang besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayunaaan!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teriakan histeris itu lagi. Saya tertawa bahagia. Oh! Bukan saya yang tertawa, tetapi seseorang berwajah seperti saya di atas papan ayunan yang tertawa. Dalam mimpi, saya melihat diri saya sendiri. Saya yang lain seperti Kara yang lain di dalam salah satu novel Ugoran Prasad yang pernah saya baca di dunia nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Main yang lain duluuu!” kata saya yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak! Saya tidak mau ambil pusing dengan mimpi yang ini. Saya ingin menangkap kucing berkaki seribu. Saya pejamkan mata saya rapat-rapat. Saya fokuskan pikiran saya sambil membayangkan diri saya kembali ke dunia monokrom berisi pegunungan tandus yang panas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cipuuus!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan satu teriakan saya berhasil berpindah ke dunia yang saya inginkan. Kucing berkaki seribu berlari-melompat di hadapan saya. Saya pun kembali mengejar. Hei, tunggu dulu. Ada yang aneh. Musik kuno dari tahun tujuh puluhan itu tidak hilang. Kucing siluman yang saya kejar juga berubah memakai kostum. Baby doll polkadot motif oranye.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang terjadi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kaki ik seribu. Apa jij bisa beri seribu ikan asin?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa hanya karena kakimu berjumlah seribu, maka kamu meminta seribu ikan asin? Mulutmu kan tetap satu?” Saya menyuarakan kebingungan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kaki ik seribu. Apa jij bisa beri seribu ikan asin?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya bertanya padamu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kucing berkaki seribu berhenti di kejauhan. Dia menoleh tapi hanya sesaat. Matanya masih bersinar merah, mulutnya menyeringai memamerkan taring-taring terasah, lalu dia melompat terjun ke dalam jurang yang tiba-tiba saja muncul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan lari!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ikut melompat. Kami berdua jatuh begitu dalam sampai cahaya tidak bisa mengejar lagi dan dalam kegelapan, saya merasakan tubuh saya perlahan-lahan mendarat di permukaan empuk yang saya kenal. Cahaya muncul kelap-kelip. Bukan seperti cahaya ruang disko, melainkan seperti saat hari dan malam berganti begitu cepat dan musik kuno dari tahun tujuh puluhan itu masih saja mengalun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kaki ik seribu. Apa jij bisa beri seribu ikan asin?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara itu terdengar lamat-lamat. Di kejauhan, si kucing melompat-lompat dari satu bola ke bola lain seperti bermain trompolin. “Lari! Lari!” kata kucing itu lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kaki ik seribu. Apa jij bisa beri seribu ikan asin?” Saya baru menyadari, kucing berbaju baby doll yang sedang melompat-lompat itu adalah adik saya. Sebenarnya, kucing atau adik saya itu tidak bisa lagi disebut kucing atau manusia, wujudnya tidak jelas. Bercampur aduk. Saya tidak bisa menjelaskan seperti apa rupa campuran itu karena saya sendiri lupa detilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayunaaan!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seekor kucing berkaki dua dan bertangan dua menangis keras-keras di sebelah sebuah ayunan. Kucing itu memakai pita di kedua telinganya. Ayunan yang dia tangisi tersangkut di dinding goa. Di papannya, saya yang lain berlari di tempat dengan keseimbangan menakjubkan. Begitu cepat. Saya yang lain berlari cepat sekali sampai gerakan kakinya tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. “Lari!” serunya sambil tertawa. “Lari!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang terjadi? Semuanya serba campur aduk dan sebelum saya terbangun keesokan paginya, saya melihat diri saya, bukan saya yang lain, berubah memiliki seribu kaki. Tapi tetap memakai rok berwarna merah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 18 Maret 2008&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/636522176026931424-2919805849203360162?l=miss-worm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miss-worm.blogspot.com/feeds/2919805849203360162/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=636522176026931424&amp;postID=2919805849203360162&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/2919805849203360162'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/2919805849203360162'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miss-worm.blogspot.com/2008/03/draft-tentang-sebuah-mimpi.html' title='(Draft) Tentang Sebuah Mimpi yang Tidak Berpola'/><author><name>windry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13072319767836551821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R85FBcecQ6I/AAAAAAAAAXw/dACfoIQUsWA/S220/she_was_buried_alive__by_cryptorchid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R9_ays9nQ_I/AAAAAAAAAZI/a-MsqT78Ntk/s72-c/Dream____by_alienasoul.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-636522176026931424.post-2721808895722966425</id><published>2008-03-17T18:51:00.003+07:00</published><updated>2008-03-18T13:16:42.928+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of drafts'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of words'/><title type='text'>(Draft) Obrolan Selepas Santap Malam</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R95d1c9nQ-I/AAAAAAAAAZA/nKp7GQ3fUQM/s1600-h/Max_is_on_my_Porch.jpg"&gt;&lt;img src="http://bp0.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R95d1c9nQ-I/AAAAAAAAAZA/nKp7GQ3fUQM/s200/Max_is_on_my_Porch.jpg" style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp0.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R95d1c9nQ-I/AAAAAAAAAZA/nKp7GQ3fUQM/s200/Max_is_on_my_Porch.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5178679794411717602" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di satu malam, saya melakukan perbincangan kecil dengan sebongkah batu dan seekor kucing. Hanya obrolan santai biasa yang kerap orang-orang lakukan selesai santap malam. Tidak ada yang penting dan sama sekali bukan hal serius untuk diceritakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami bertiga jongkok di beranda. Saya sedang menghisap sebatang rokok lokal yang ringan. Kucing di sebelah saya sibuk mangasah kuku pada pintu kayu dan Batu nyaris tertidur di bibir tangga. Langit kala itu cerah. Bintang berpesta pora, membakar kambing dan menuang Bir Zero. Angin bersepeda dengan santai tapi lupa mengenakan helm dan jangkrik-jangkrik bernyanyi Keroncong Kemayoran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Saya memejamkan mata menikmati lagu itu sambil berkomentar, “Lawas tapi saya suka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kucing bertanya, “Apa? Musiknya?” Bulu kucing itu tiga warna, perutnya buncit. Tidak lama lagi dia akan melahirkan. Empat ekor bayi kecil. Dua hidup, sisanya mati beberapa hari kemudian, tetapi itu cuma dugaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab saya, “Iya, Cik. Kalau di kota, sudah tidak ada lagi jangkrik yang bernyanyi keroncong.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh ya, jelas. Di kota sampeyan, kucing saja mandi di salon. Keroncong Kemayoran pasti dianggap sudah kuno sekali.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benar. Sekarang era-nya pop-rock.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benar. Musiknya anak budayawan yang menjadi musisi modern, kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengangguk lalu kembali menghisap rokok. Asap rokok itu saya lepaskan ke udara dingin. Berbentuk kapal selam, makanan kesukaan saya. Lagu Keroncong Kemayoran yang dinyanyikan jangkrik-jangkrik itu sudah habis. Mereka menggantinya dengan Bengawan Solo, lagu lama yang juga jarang saya temui di kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, lagu ini!” seru saya girang. “Bukan main! Lawas betul! Saya kenal Gesang. Anak yang lucu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkataan saya membuat Batu terbangun. Dia tertawa. Suaranya parau, pembawaannya tenang. Usianya sudah tua sekali. Dulu tubuhnya gagah dan besar seperti tempurung penyu. Kini ukurannya tidak lebih besar dari sebutir telur puyuh. Warnanya juga sudah tidak jelas, apakah merah atau hijau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu dulu,” komentar Batu. “Sekarang Gesang sudah tua.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ikut tertawa. “Ya. Ya. Saya lupa. Saat saya tinggal di Surakarta, Gesang masih kecil. Tingginya hanya segini.” Saya mengangkat tangan saya melebihi kepala. “Masih lucu. Senang berlari-lari di halaman rumahnya. Saya sering memperhatikan anak itu dari atas atap. Kadang saya temani bermain, kadang saya biarkan sendiri sampai dia menangis dan ibunya datang.” Kenangan lama itu menarik seulas senyum di bibir saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tahun berapa itu dulu?” tanya Batu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tahun Dua puluhan, mungkin. Saya lupa.” Lalu saya menghisap rokok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batu kembali tertawa. Dia berkata, “Tahun dua puluhan? dan tahun berapa saat ini? 2008? Ya. Ya. Kita memang sudah tua.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengangguk. “Kita memang sudah tua, Mbah.” Di antara kami bertiga, sayalah yang paling tua. Saat Daendels belum tiba di Batavia, saya sudah cukup dewasa untuk melakukan perjalanan sendiri mengelilingi pulau. Saya sudah menjelajahi hampir semua kota di pulau ini. Pesisir utara, pesisir selatan, barat, timur. Saya selalu berpindah-pindah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi belakangan ini Sampeyan menetap di Ibukota, tho?” tanya Kucing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya. Sudah sejak Soekarno belum menjadi presiden.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sampeyan kerasan sekali.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukannya betah, Cik. Banyak yang pakai.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya. Bisa terlihat dengan jelas,” tanggap Kucing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maksudnya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kucing menjilati kuku-kukunya yang sudah tajam satu per satu. Pintu di ujung beranda penuh jejak-jejak cakarnya. Dia menjawab, “Sampeyan dan manusia sudah susah dibedakan. Tampang sampeyan sekarang saja mirip dengan manusia. Gaya hidup sampeyan sudah seperti gaya hidup manusia. Sampeyan merokok, baca koran, naik pesawat. Sampeyan juga pakai kartu kredit. Tidak lama lagi, jangan-jangan, sampeyan kawin dengan manusia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya kan juga harus mengikuti perkembangan zaman. Lagipula, manusia tidak ada yang cantik, Cik. Mereka tidak punya ekor,” dalih saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batu kembali tertawa lalu menanggapi setengah bercanda, “Kalau dia kawin sama manusia, ya biarkan saja, Lek.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami bertiga tertawa. Suasana berubah sunyi. Tidak ada lagi musik. Jangkrik-jangkrik tadi sudah menuntaskan pertunjukan mereka. Batu melemparkan sebiji jagung kepada mereka sebagai tanda balas jasa, lalu serangga-serangga itu pergi meninggalkan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau saja jangkrik-jangkrik itu bisa saya bawa ke Ibukota.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sampeyan menetap saja di sini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan saya yang memutuskan, Cik. Saya cuma ikut orang. Di kota ada komputer dan mp3. Lagu Keroncong Kemayoran dan Bengawan Solo, sebenarnya, saya juga punya, tetapi suaranya berbeda karena yang menyanyikan lagu-lagu itu manusia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jelas beda. Cuma jangkrik yang bisa bernyanyi seperti tadi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya setuju dengan pendapat Kucing. “Ada, Mbah? Kenalan jangkrik di kota yang bisa bernyanyi keroncong?” tanya saya pada Batu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batu tidak langsung menjawab. Dia berpikir sejenak. Cukup lama. “Tidak ada,” jawabnya kemudian, membuat saya lesu. Hilang sudah harapan saya untuk mendengarkan jangkrik bernyanyi keroncong setiap hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah saya bilang, Sampeyan menetap saja di sini,” Kucing bersikeras. Saya tidak menjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Udara bertambah dingin saat malam semakin larut. Angin lewat di hadapan kami. Sudah kesekian kalinya. Bel sepedanya meninggalkan bunyi denting. “Malam, Mbah! Cik!” dia menyapa, “juga Tamu Jauh!” Kami membalas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada berita apa, Lek?” tanya Batu pada Angin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Besok hujan deras. Mungkin akan badai. Siapapun yang ingin keluar rumah, sebaiknya berpikir lagi,” kata Angin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batu menatap pada saya, “Kapan rencanamu kembali ke kota?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Besok pagi. Majikan saya mengepak koper tadi sore.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebaiknya dibatalkan saja, Tamu Jauh. Berbahaya melakukan perjalanan besok.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menjawab, “Katakan itu pada Majikan saya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Majikanmu manusia?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau begitu, semoga arwahnya diterima Tuhan.” Selesai berkata seperti itu, Angin pamit pada kami. Dia mengayuh kembali sepedanya dan pergi menghilang di kejauhan bersama denting bel miliknya yang melamat sampai tidak terdengar lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baguslah jika besok badai,” kata Kucing. “Semoga majikan sampeyan tidak membatalkan perjalanan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Doamu, Cik, buruk sekali,” protes saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kucing menatap saya dengan matanya yang menyala. “Untuk kebaikan sampeyan, kan? Kalau majikan sampeyan hilang di tengah badai, sampeyan bisa terlepas darinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika majikan saya mati, saya hanya akan berpindah ke pundak manusia yang lain.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memangnya sampeyan tidak bisa hidup sendiri tanpa pundak manusia?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sulit. Sudah pernah saya coba.” Saya kembali bercerita pada Kucing dan Batu. Kali ini tentang majikan saya yang mati karena sakit malaria dan apa yang terjadi setelahnya saat saya tidak lagi hidup di pundak manusia. Saya tidak menjelaskan dengan detil bagaimana keadaan saya saat itu. Cukup agar mereka tahu, saya menderita jika hidup tanpa manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menyedihkan sekali sih nasib sampeyan?” komentar Kucing. Tatapannya pada saya berubah iba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengangguk. “Begitulah,” jawab saya singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rokok di antara jari-jari tangan saya sudah habis. Saya buang puntungnya jauh-jauh lalu saya mengeluarkan satu batang rokok baru dari bungkusan di saku kemeja saya. Nasib saya memang menyedihkan, tetapi setidaknya saya tidak akan impoten dan tidak akan juga terkena serangan jantung walau saya terlalu banyak merokok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya toh bukan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 17 Maret 2008&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/636522176026931424-2721808895722966425?l=miss-worm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miss-worm.blogspot.com/feeds/2721808895722966425/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=636522176026931424&amp;postID=2721808895722966425&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/2721808895722966425'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/2721808895722966425'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miss-worm.blogspot.com/2008/03/draft-obrolan-selepas-santap-malam.html' title='(Draft) Obrolan Selepas Santap Malam'/><author><name>windry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13072319767836551821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R85FBcecQ6I/AAAAAAAAAXw/dACfoIQUsWA/S220/she_was_buried_alive__by_cryptorchid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R95d1c9nQ-I/AAAAAAAAAZA/nKp7GQ3fUQM/s72-c/Max_is_on_my_Porch.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-636522176026931424.post-3915724068022254592</id><published>2008-03-16T09:45:00.005+07:00</published><updated>2008-03-16T20:36:33.952+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of drafts'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of words'/><title type='text'>(Draft) Mikael</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R9yKl89nQ9I/AAAAAAAAAY4/F0mWeNobn84/s1600-h/Dead_Cat_by_plushrooms.jpg"&gt;&lt;img src="http://bp0.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R9yKl89nQ9I/AAAAAAAAAY4/F0mWeNobn84/s200/Dead_Cat_by_plushrooms.jpg" style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp0.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R9yKl89nQ9I/AAAAAAAAAY4/F0mWeNobn84/s200/Dead_Cat_by_plushrooms.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5178166056193573842" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kucing milik An sanggup menelan batu sebesar bola bekel dan tidak mati. Batu itu ditelan bulat-bulat lalu dimuntahkan kembali beberapa hari kemudian menjadi sebuah intan. An mengira, kucing miliknya pasti seekor siluman. An tidak pernah memiliki kucing siluman sebelumnya. Dia girang sekali, maka dia menceritakan hal ini kepada teman-temannya di sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Si Baba pernah menelan bola bekel sungguhan dan besoknya muntah darah.” Seorang temannya menanggapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Temannya yang lain berkata, “Cipus tidak mau menelan apapun selain keripik ikan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu An membalas, “Karena Baba dan Cipus cuma kucing biasa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baba dan Cipus bukan siluman?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, jelas bukan. Baba dan Cipus tidak menelan batu dan muntah intan kan?” tanya An.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua temannya menggeleng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nah!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;An mengajak kedua temannya bermain ke rumah. Dia ingin menunjukkan kucing miliknya yang sanggup menelan batu sebesar bola bekel dan tidak mati. Kata mamanya, kucing itu mungkin sudah berusia lebih dari empat tahun. Beratnya empat kilo dan bulunya hitam legam. An mendapatkan kucing itu dari sepupunya yang tinggal di luar kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cipus! Sini, Cipus!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hush! Namanya bukan Cipus. Mikael.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seperti nama malaikat?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seperti nama malaikat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berkumpul bertiga di dalam kamar An, jongkok di atas lantai berlapis karpet. Mikael di tengah-tengah mereka. An mengeluarkan sebuah batu yang dia ambil di jalan dari saku kemeja sekolahnya. Batu itu hampir sebesar bola bekel, disodorkannya ke hadapan Mikael. Mikael mengendus-endus batu tersebut. Kedua teman An memperhatikan dengan tegang dan saat Mikael membuka mulut lalu menelan batu itu bulat-bulat, mereka menahan nafas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana di dalam kamar An sunyi untuk sejenak. Mikael mendengkur lalu tidur melingkar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mikael makan batu, An!” seru kedua teman An kemudian dengan panik. “Nanti Cipus mati!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;An menjawab dengan tenang, “Mikael tidak akan mati. Dia siluman. Tunggu saja beberapa hari. Nanti dia akan memuntahkan intan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka mereka menunggu. Mereka berkumpul lagi di rumah An keesokan harinya, keesokannya lagi dan keesokannya lagi. Mereka menunggu hampir selama seminggu dan Mikael bersendawa di hari keenam, lalu kucing itu memuntahkan intan sebesar biji jagung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cipus An muntah intan!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak mati!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cipus siluman!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;An semakin girang. Dia berhasil menunjukkan kepada kedua temannya, kucing miliknya adalah seekor siluman. Rahasia ini mereka simpan bertiga. Cukup mereka yang tahu dan kedua teman An kini memiliki kebiasaan baru: berkumpul di rumah An sepulang sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah Mikael pernah menelan karet penghapus, An?” Suatu hari, muncul pertanyaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Belum.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau Mikael menelan karet penghapus, apa dia juga akan memuntahkan intan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan itu terus berputar di dalam kepala An sepanjang malam. An tidak bisa tidur. Dia menjadi penasaran, apakah kucing miliknya juga sanggup menelan karet penghapus? Maka dibelinya karet penghapus keesokan harinya. Disodorkannya karet penghapus itu pada Mikael. Mikael mengendus-endus. Kucing itu membuka mulut  lalu menelan karet penghapus di hadapannya bulat-bulat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mikael menelan karet penghapus semalam,” lapor An kemudian pada kedua temannya, “dan tidak mati.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu Cipus muntah apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Belum tahu. Dia belum muntah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita tunggu saja lagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi Mikael jadi aneh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aneh?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;An mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak menelan karet penghapus yang diberikan An, mulut Mikael tidak mau menutup. Mulut kucing itu menganga lebar-lebar. Perutnya menggembung seperti kucing hamil, tetapi Mikael tidak mungkin hamil karena dia adalah kucing jantan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;An mengajak kedua temannya berkumpul lagi di rumahnya sepulang sekolah hari itu. Mereka jongkok melingkari Mikael. Memperhatikan setiap gerak-gerik kucing itu sambil berharap Mikael segera memuntahkan sesuatu. Mereka melihat, perut Mikael semakin menggembung dengan bertambahnya waktu. Setelah kira-kira perut Mikael mencapai diameter tiga puluh centi, kucing itu mulai terangkat ke udara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh! Dia terbang!” seru mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mikael melayang begitu tinggi sampai menyentuh langit-langit kamar. Perut kucing itu masih terus menggembung dan mulutnya semakin besar menganga. Saat mulut itu menganga begitu besar dan seperti tidak bisa menganga lebih besar lagi, Mikael mulai memuntahkan balon-balon karet bulat sebesar genggaman tangan orang dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Balon! Cipus muntah balon!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu balon. Dua balon. Tiga balon. Empat balon. Begitu banyak balon, di dalam kamar An seperti terjadi hujan balon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siluman balon!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;An dan kedua temannya berjingkrak-jingkrak kegirangan melihat itu. Mereka berlarian berputar-putar di dalam kamar sambil tertawa-tawa. Semakin banyak balon dimuntahkan, semakin mengecil pula perut Mikael. Lalu perlahan-lahan kucing itu kembali turun ke lantai. Saat perut kucing itu sudah kembali pada ukuran normal dan tidak ada satu balon lagi dimuntahkan, kucing itu kembali menginjak lantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini mereka tahu, Mikael juga sanggup menelan karet penghapus dan tidak mati. Alih-alih memuntahkan intan setelah menelan benda itu, Mikael memuntahkan balon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“An. An. Apakah menurutmu Mikael juga bisa menelan gulungan benang wol?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benang wol?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo kita coba, An!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diam-diam An mengambil satu gulung benang wol dari laci mesin jahit milik mamanya. Dia meletakkan benang wol itu di hadapan Mikael. Kucingnya itu mengendus-endus, membuka mulut, lalu menelan benang wol yang An berikan bulat-bulat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ha!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kucing milik An juga sanggup menelan benang wol dan tidak mati. Beberapa hari kemudian, kucing itu memuntahkan gumpalan-gumpalan kapas tidak berbentuk. Banyak sekali kapas yang Mikael muntahkan, sampai-sampai seluruh permukaan lantai kamar An tidak terlihat karena tertutup oleh kapas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seperti di awan. Kamarku seperti surga,” kata An pada teman-temannya keesokan harinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hebat! Hebat!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo kita coba benda yang lain!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mikael menjadi mainan baru yang mengasyikkan bagi An dan kedua temannya. Satu hari mereka memberi kucing itu notes kecil lalu Mikael memuntahkan kayu berbentuk dadu. Mereka memberi bongkahan batu es, Mikael memuntahkan salju. Mereka memberi baso depan sekolah, Mikael memuntahkan seekor tikus hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga anak sekolah itu menahan nafas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka memperhatikan tikus yang dimuntahkan Mikael dengan tatapan ngeri. Tikus itu mencicit, mengendus-endus, lalu berlari cepat ke sudut kamar An dan bersembunyi di balik lemari baju. An dan kedua temannya saling memandang. Mereka berteriak histeris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siluman!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 16 Maret 2008&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/636522176026931424-3915724068022254592?l=miss-worm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miss-worm.blogspot.com/feeds/3915724068022254592/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=636522176026931424&amp;postID=3915724068022254592&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/3915724068022254592'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/3915724068022254592'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miss-worm.blogspot.com/2008/03/draft-mikael.html' title='(Draft) Mikael'/><author><name>windry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13072319767836551821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R85FBcecQ6I/AAAAAAAAAXw/dACfoIQUsWA/S220/she_was_buried_alive__by_cryptorchid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R9yKl89nQ9I/AAAAAAAAAY4/F0mWeNobn84/s72-c/Dead_Cat_by_plushrooms.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-636522176026931424.post-7352404045419915253</id><published>2008-03-14T12:16:00.010+07:00</published><updated>2008-03-14T13:08:05.991+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of minds'/><title type='text'>(Report) Orange</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R9oP489nQ8I/AAAAAAAAAYw/ZVDcl7eK8WE/s1600-h/orange-web.jpg"&gt;&lt;img src="http://bp2.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R9oP489nQ8I/AAAAAAAAAYw/ZVDcl7eK8WE/s200/orange-web.jpg" fix="tofix" style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp2.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R9oP489nQ8I/AAAAAAAAAYw/ZVDcl7eK8WE/s200/orange-web.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5177468192727450562" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;The call was yesterday and a publisher gave me good news about this old novel draft (not so old, anyway. i wrote it in the middle of 2007). And because of that, Orange now is in further editing (again).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;It was funny when the news came. I had this reaction, as i'm no longer interest to publish the novel. The editor asked, "Why do you sound unhappy?" and i had to lie to her by saying that i was sick and having a bed rest (sigh).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orange was my first draft. It was categorized as metropop. And what made me uncertain is, that now at this moment, i am struggling on a different path. I don't know where i will stand a side in the future but i thought the novel was a good experience and that's all.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It was a silly thought, i agree. I wasn't thank properly while not every writer could publish their writings. And yes, i feel bad for the attitude. In the end, i was (and am) thankful for this good news and i decide to move as it was planned to be. Orange will going to be published (it will need some time, anyway). And as Ucu Agustine's or Lan Fang's, let it shows to the readers, who the writer was and where she moves from.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Now, i am busy rebuilding &lt;a href="http://orange-novel.blogspot.com/"&gt;orange's site&lt;/a&gt; (which's i deleted just a few weeks ago, darn). And after this, i will keep walking the (hopefully) different path with determination (wew, sounds so ambitious hahaha)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/636522176026931424-7352404045419915253?l=miss-worm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miss-worm.blogspot.com/feeds/7352404045419915253/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=636522176026931424&amp;postID=7352404045419915253&amp;isPopup=true' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/7352404045419915253'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/7352404045419915253'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miss-worm.blogspot.com/2008/03/report-orange.html' title='(Report) Orange'/><author><name>windry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13072319767836551821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R85FBcecQ6I/AAAAAAAAAXw/dACfoIQUsWA/S220/she_was_buried_alive__by_cryptorchid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R9oP489nQ8I/AAAAAAAAAYw/ZVDcl7eK8WE/s72-c/orange-web.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-636522176026931424.post-203376441878289238</id><published>2008-03-12T21:54:00.005+07:00</published><updated>2008-03-16T14:00:03.149+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of drafts'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of words'/><title type='text'>(Draft) Foyer: II</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R9fvRs9nQ4I/AAAAAAAAAYU/mti_15HQRFM/s1600-h/foyer_by_somethingw1cked.jpg"&gt;&lt;img src="http://bp2.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R9fvRs9nQ4I/AAAAAAAAAYU/mti_15HQRFM/s200/foyer_by_somethingw1cked.jpg" style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp2.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R9fvRs9nQ4I/AAAAAAAAAYU/mti_15HQRFM/s200/foyer_by_somethingw1cked.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5176869384092074882" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Memang Sampeyan sudah berapa lama menunggu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga orang pria berjongkok di lantai foyer. Ketiganya merokok. Yang satu berbadan gemuk dan berdasi. Yang satu lagi berbadan kurus dan berkaos oblong. Yang terakhir berkumis tebal dan berseragam satpam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menunggunya sih baru dua jam. Tapi saya sudah datang lebih dari sepuluh kali ke rumah ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lebih dari sepuluh kali?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bapak belum pernah bertemu dengan Tuan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tuan rumah ini tidak pernah punya waktu untuk menemui saya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lha, lalu kok Sampeyan mau nunggu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;“Bagaimana lagi? Ada surat yang harus saya sampaikan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa tidak Bapak titipkan saja surat Bapak pada saya? Nanti saya sampaikan pada Tuan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf, bukan saya tidak mempercayai Mas, tetapi surat ini harus saya sampaikan sendiri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiganya diam sejenak. Mereka menghisap rokok masing-masing. Rokok mereka sama. Rokok lokal yang ringan. Pria berbadan gemuk dan berdasi melepaskan asap rokok dari mulutnya. Berbentuk donat. Pria berbadan kurus dan berkaos oblong melepaskan asap rokok dari hidungnya. Pria berkumis tebal dan berseragam satpam merokok biasa-biasa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sampeyan bilang, Sampeyan sudah lebih dari sepuluh kali datang ke rumah ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya. Saya lupa jumlah pastinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi perasaan saya, baru kali ini saya lihat sampeyan, deh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh ya? Memangnya Mas sering ke rumah ini juga?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lha, saya kerja di sini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia tukang kebun, Pak. Tapi baru kerja dua hari.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh ya pantas saja. Kalau Mas satpam yang ini pasti sudah hapal pada saya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rokok milik pria berkumis tebal dan berseragam satpam habis paling cepat. Pria berbadan gemuk dan berdasi menawarinya rokok baru tapi dia menolak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak, Pak. Terima kasih. Satu saja cukup. Khawatir istri saya tahu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, Mas sudah berkeluarga?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah, Pak. Anak saya satu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau Mas?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Keluarga ada di kampung. Rokok, saya tidak nolak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka rokok itu diambil oleh pria berbadan kurus dan berkaos oblong. Rokok itu tidak disulut, melainkan diselipkannya di telinga kiri. Rokok yang sedang dihisapnya dia matikan lalu diselipkannya di telinga kanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau Sampeyan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya belum berkeluarga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masak sih? Perasaan saya, umur sampeyan sudah hampir empat puluh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya. Saya kira, Bapak sudah punya dua anak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria berbadan gemuk dan berdasi tidak langsung menjawab. Bibirnya mengulas senyum masam. Dia menyulut rokok baru untuk dirinya sendiri. Lalu dia mulai bercerita dengan nada bicara sedih. Raut wajahnya tidak kalah lesu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Biarpun saya berdasi begini, Mas, penghasilan saya tidak seberapa sementara biaya hidup saya besar. Bayar kontrakan, listrik, makan, cicilan mobil, bensin, pulsa. Saya ingin berkeluarga pun harus mikir-mikir lagi. Mau diberi makan apa anak dan istri saya nanti. Kalau Mas-mas berdua kan enak, makan dan tempat tinggal ditanggung majikan. Mas tidak bayar listrik. Tidak mengeluarkan uang untuk transport juga. Tiap bulan begitu terima gaji, tinggal kirim ke kampung.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua pria yang lain mengangguk-angguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benar itu. Di sini makan bisa puas, asal pintar main mata dengan tukang masak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, tapi jenuh juga, Pak. Tiap hari jaga pos satpam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya potong rumput. Tiap sore, siram tanaman. Kalau saya sih tidak jenuh. Lha, tanahnya Tuan luas sekali. Tapi capai, Pak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria berbadan gemuk dan berdasi tersenyum lagi. Sama masamnya dengan senyum sebelumnya. Dia menghisap rokoknya. Ekspresi wajahnya masih lesu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sampeyan sebenarnya kerja apa tho?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang jelas kantoran. Ya, Pak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebenarnya, tuan rumah ini ada di rumah atau tidak, Mas?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tuan? Tuan ...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jelas ada. Lha, mobilnya yang Merci itu masih di garasi kok. Tiap hari juga sebenarnya Tuan ada di rumah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu mengapa susah sekali untuk bertemu dengan beliau, ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin Tuan sedang sibuk, Pak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, kalau itu saya tidak mengerti. Kenapa tidak sampeyan telpon saja? Sampeyan pasti kan punya handphone.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya cuma punya nomor telpon rumah ini saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau telpon rumah sih, pasti Art yang menerima.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya. Saya kenal Art.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lho? Sampeyan kenal Art tho?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria berbadan gemuk dan berdasi tertawa mendengar pertanyaan teman mengobrolnya. Dia meniupkan asap rokok dari mulutnya. Berbentuk donat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya sudah sepuluh kali datang ke rumah ini, Mas. Setiap kali saya datang, Art yang membukakan pintu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria berbadan kurus dan berkaos oblong ikut tertawa. Lalu pria berkumis tebal dan berseragam satpam melirik jam di tangan kanannya. Ekspresi wajahnya tampak terkejut. Dia bangkit berdiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, sudah hampir jam empat. Waktunya ganti shift.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Langsung pulang sampeyan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya jelas. Istri saya galak. Telat sedikit, saya dimarahi. Permisi, Pak. Saya tinggal dulu. Semoga hari ini Bapak bisa menemui Tuan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih, Mas. Salam untuk keluarga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, Pak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu pria berkumis tebal dan berseragam satpam melangkah keluar ruangan dan kini hanya tinggal dua orang di dalam foyer. Mereka masih berjongkok di lantai. Rokok yang dihisap pria berbadan gemuk dan berdasi sudah habis lagi. Kali ini dia tidak menyulut rokok baru. Bungkusan di kantong kemejanya sudah kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya kerja di perusahaan asing, Mas. Yang punya orang Jepang. Peraturannya keras sekali.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria berbadan kurus dan berkaos oblong mendengarkan lawan bicaranya baik-baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya bekerja di sana belum lama. Baru satu bulan dan saya terancam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sampeyan terancam bagaimana? Disakiti gitu, maksud sampeyan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan. Begini, Mas. Perusahaan-perusahaan besar, apalagi milik orang asing, selalu memberi target kepada pegawai mereka. Tujuannya, agar pegawai mereka bekerja keras. Kalau target tidak terpenuhi, pegawai itu akan mereka pecat dan diganti dengan yang baru, yang lebih bagus.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu sampeyan sendiri diberi target juga?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya jelas. Dan hari ini saya harus bertemu dengan majikan Mas. Tidak boleh tidak. Karena hari ini ...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembicaraan itu terputus. Mereka mendengar langkah sepasang kaki mendekat. Langkah yang sangat dikenal oleh pria berbadan gemuk dan berdasi. Art muncul dari balik pintu foyer lalu kepala pelayan itu berhenti di hadapan mereka. Mereka bangkit berdiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana, Art?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Art menghela nafas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf, Pak. Tuan tidak bisa menemui Bapak hari ini. Silakan datang lain kali ...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi saya tidak punya lain kali, Art! Harus hari ini!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekspresi wajah pria berbadan gemuk dan berdasi begitu mengibakan. Matanya memerah dan dia hampir menangis. Pria itu menatap Art, memohon tanpa kata-kata, tetapi Art hanya bisa membalas dengan senyuman pahit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf, Pak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala pelayan itu meninggalkan foyer dan suasana di dalam ruangan menjadi hening. Terdengar suara isakan tangis yang tertahan. Lalu menyusul suara tangan menepuk bahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah. Sampeyan kan bisa datang lagi besok. Ayo, saya traktir Sampeyan ngopi di depan komplek. Kita lanjut ngobrol di sana saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 11 Maret 2008&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/636522176026931424-203376441878289238?l=miss-worm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miss-worm.blogspot.com/feeds/203376441878289238/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=636522176026931424&amp;postID=203376441878289238&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/203376441878289238'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/203376441878289238'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miss-worm.blogspot.com/2008/03/foyer-ii.html' title='(Draft) Foyer: II'/><author><name>windry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13072319767836551821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R85FBcecQ6I/AAAAAAAAAXw/dACfoIQUsWA/S220/she_was_buried_alive__by_cryptorchid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R9fvRs9nQ4I/AAAAAAAAAYU/mti_15HQRFM/s72-c/foyer_by_somethingw1cked.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-636522176026931424.post-8485746134769175051</id><published>2008-03-11T00:15:00.002+07:00</published><updated>2008-03-16T13:59:30.495+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of drafts'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of words'/><title type='text'>(Draft) Salju Turun di Malam Hari</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R9Vv6M9nQ3I/AAAAAAAAAYM/T9lwfOpjc7A/s1600-h/Snow_by_GeorgeHarrison.jpg"&gt;&lt;img src="http://bp2.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R9Vv6M9nQ3I/AAAAAAAAAYM/T9lwfOpjc7A/s200/Snow_by_GeorgeHarrison.jpg" style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp2.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R9Vv6M9nQ3I/AAAAAAAAAYM/T9lwfOpjc7A/s200/Snow_by_GeorgeHarrison.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5176166392435000178" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di malam hari, kami terbangun karena tiba-tiba saja udara berubah beku. Saat itu tepat jam satu. Lewat lubang jendela kami melihat, salju turun di luar sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salju! Salju!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami melompat turun dari tempat tidur. Berlarian menghampiri jendela dengan langkah-langkah kaki kami yang kecil. Kaki kami berjinjit di bibir jendela itu, hidung kami menempel pada kaca. Lihat! Itu salju! Kami berseru dengan antusias. Benarkah salju? Bu Guru bilang, salju tidak turun di negara kita. Kami berdebat. Tapi itu salju! Seperti yang kita lihat di dalam film-film. Tapi Bu Guru bilang ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diam dulu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Mata kami memperhatikan bintik-bintik putih yang memenuhi langit di balik jendela. Sambil tangan kami menggaruk-garuk kepala sendiri. Bintik-bintik putih itu memang seperti salju di dalam film-film yang sering diputar oleh ibu. Mereka jatuh perlahan di udara, melayang-layang ke kanan dan ke kiri seperti bulu ringan yang terbawa angin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berarti Bu Guru salah, ya? Ternyata, salju turun di negara kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman-teman Ju di sekolah tertawa terpingkal-pingkal. Ju memberitahu mereka, dia melihat salju turun di malam hari. “Si Ju ngayal! Si Ju ngayal!” ejek mereka beramai-ramai. Mereka mengelilingi Ju, berkacak pinggang dan menjulurkan lidah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak, kok! Ini sungguhan. Salju turun di luar jendela kamar kami! Ju berusaha keras membela diri tapi teman-temannya tetap tidak percaya. Tawa mereka justru semakin keras. Aku gemas melihat Ju yang lugu tidak berkutik, maka aku maju membelanya. Dengan tinju, seperti yang sering kulihat di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang anak jatuh tersungkur. Pipinya yang tembam memar. Anak itu menatapku dengan mata berkaca-kaca, lalu lepaslah tangisannya yang keras dan manja. “Aku aduin ke Bu Guru!” seperti itu raungnya. Dia bangkit berdiri lalu buru-buru lari meninggalkan aku dan Ju. Teman-temannya mengekor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat, Ju menggigiti kuku jarinya dengan cemas. Bu Guru akan memarahi kita. Dia berbisik. Aku mendengus. Coba saja kalau mereka berani mengadu. Akan ku¬jotos lagi! Aku tidak takut. Bukan aku dan Ju yang memulai keributan ini, tetapi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Bu Guru tidak memarahi Ju. Ju juga tidak dipanggil ke ruang guru. Tidak terjadi apa-apa sampai jam pelajaran sekolah berakhir. Mungkin anak-anak itu tidak punya nyali untuk mengadukan kejadian tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hei! Jangan tertidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berbaring di kamar kami. Malam semakin larut dan kantuk mulai menguasai. Aku tidak tertidur, kok. Kita tidak boleh tertidur. Apakah salju sudah turun? Belum. Apakah masih lama? Kurasa sebentar lagi. Sebentar lagi, ya? Iya, makanya jangan tertidur. Aku tidak akan tertidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu sunyi. Kamar kami sunyi senyap. Kami menunggu bersama dalam diam, bersembunyi di balik selimut sambil sesekali mengintip lubang jendela di seberang kamar. Tepat jam satu, salju turun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salju! Salju!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salju berjatuhan dari langit. Bergoyang-goyang di udara seperti malam sebelumnya. Aku ingin menyentuh salju! Kami berlarian menuju jendela. Kami buka daun jendela itu. Tangan-tangan kecil kami terjulur keluar menggapai udara malam. Apakah dingin? Apakah dingin? Kami tangkap salju-salju yang melayang-layang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak dingin. Tidak dingin? Tapi Bu Guru bilang, salju itu dingin seperti es. Dia akan meleleh saat menyentuh tangan kita. Tidak meleleh. Tidak meleleh? Berarti Bu Guru salah lagi, ya? Iya, Bu Guru salah lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu aku menemani Ju berdiri cukup lama di bibir jendela. Ju mengumpulkan bintik-bintik putih yang tidak dingin dalam genggamannya. Di antara bintik-bintik itu, ada sebercak cairan merah yang hangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa ini? Ju bertanya dengan nada takut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memperhatikan bercak merah yang mengotori telapak tangannya. Bercak itu seperti darah, kental dan bau amis, tetapi tidak kuberitahukan itu pada Ju. Ju penakut. Dia akan menangis semalaman kalau tahu, adalah bercak darah yang menetes bersama salju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin itu salju merah. Kubohongi dia. Salju merah? Apakah salju ada yang berwarna merah? Tidak tahu. Mungkin ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami terus menerka-nerka. Bercak-bercak merah di udara semakin banyak, memancing rasa takut dari diri kami dan ketakutan itu semakin kuat saat kami mendengar suara-suara aneh di antara hening malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami mendengarkan baik-baik. Itu suara musik. Terdengar suara musik mengalun. Musik lembut. Rasanya kami kenal musik itu. Rasanya begitu akrab di telinga. Dan suara-suara orang berbicara. Aku tidak mendengar suara orang-orang berbicara. Kau tidak mendengar baik-baik. Dengar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, ya. Orang-orang itu seperti sedang bertengkar. Ya. Dari mana arahnya? Dari luar. Dari luar? Kami melongokkan kepala keluar lubang jendela. Mencari ke kanan, ke kiri, ke bawah dan ke atas. Dari kamar di atas kita. Benarkah? Kami melongok sekali lagi. Benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu suara itu berhenti. Hujan salju juga berhenti dan suasana kembali senyap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami saling memandang, menangkap kengerian di mata kami sendiri. Jendela kami tinggalkan terbuka, kami terlalu takut untuk menutup daunnya. Sementara kami kembali bersembunyi di balik selimut dan kami tidak berani tidur sampai pagi datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Julian!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bu Guru memanggil Ju di akhir pelajaran sekolah hari ini. Guru itu menyuruh Ju duduk di hadapannya di dalam ruang guru. Dia bertanya, “Bagaimana perasaanmu hari ini, Ju?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ju menjawab: baik. Bu Guru bertanya lagi, “Bagaimana kabar Ibumu di rumah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ju menjawab sama: baik. Lalu Bu Guru bertanya lagi, “Teman-temanmu bercerita, Ju, salju turun di luar kamar tidurmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, Bu Guru. Ju menjawab. Tapi teman-teman tidak percaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, sepertinya begitu. Apakah benar, salju yang kamu lihat?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, Bu Guru. Kami benar-benar melihat salju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu dan ibumu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu tidur di kamar atas. Kami melihat salju itu sendiri dari dalam kamar kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuperhatikan, Bu Guru terdiam. Ekspresinya berubah, aku tidak bisa membaca emosi yang guru itu perlihatkan. Dia berkata untuk terakhir kalinya pada Ju, “Katakan pada ibumu, Ibu akan datang menemuinya di rumah kalian sore ini. Bisa kamu menyampaikan itu, Ju?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ju mengangguk lalu kuikuti dia beranjak pergi dari ruang guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa Bu Guru ingin datang ke rumah kita? Aku tidak tahu. Apakah aku dalam masalah? Tidak, tenanglah. Aku takut. Mungkin teman-teman mengadu tentang kejadian kemarin. Tenang, kubilang. Tidak akan terjadi apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore itu, Bu Guru datang menemui ibu kami. Mereka mengobrol di ruang tamu. Kami dilarang ikut dengar tapi diam-diam kami melanggar. Kami menyelinap keluar dari dalam kamar kami, berjingkat menghampiri ruang tamu, dan mengintip dari sela-sela pintu ruang itu yang sedikit terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ju memukul temannya di sekolah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya. Seorang murid pipinya lebam. Ju meninju wajah anak itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan aku yang memukul, Bu. Kami segera protes tapi hanya sebatas bisikan. Ya! Aku yang memukul anak-anak menyebalkan itu. Ya, Bu. Dia yang memukul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah Bu Guru tahu alasannya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sepertinya hanya pertengkaran kecil. Ju bercerita pada teman-temannya, dia melihat salju turun di malam hari. Teman-temannya tidak percaya dan akhirnya mereka bertengkar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Salju? Ju melihat salju?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anak kecil biasa berimajinasi, tetapi ...” Bu Guru diam sebentar. Dia menatap ibu kami, menarik nafas dalam-dalam, lalu melanjutkan kata-katanya. “Hari ini saya berbicara dengan Ju di sekolah. Dia memanggil dirinya sendiri dengan sebutan ‘kami’.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami tinggal berdua,” kata ibu kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bu Guru melanjutkan lagi, “Dan itu bukan dia maksudkan sebagai dirinya dan Anda.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ibu kami menahan nafas. Lalu hadir sebuah sunyi yang panjang. Lalu kami lupa apa lagi yang mereka bicarakan. Kami seperti tertidur tiba-tiba dan saat kami tersadar, kami sudah berada di dalam kamar kami. Hari sudah malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah kita ketahuan? Kami mencoba mengingat-ingat. Ketahuan apa? Ketahuan mengintip. Tidak, kita tidak ketahuan. Kami diam sebentar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aneh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aneh? Kata-kata Bu Guru membingungkan. Ya, membingungkan memang. Apakah ibu marah pada kita? Tidak. Apakah ibu melihatmu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu sunyi. Kamar kami sunyi senyap. Lamat-lamat, muncul suara musik mengalun. Musik! Dari arah luar. Kami buru-buru menggapai jendela, tangan kami membuka daunnya dan suara musik menjadi jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami kenal musik itu. Ah, bukan. Aku mengenal musik itu. Bersama musik itu, terdengar juga suara orang-orang bertengkar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kapan kamu mau berhenti?” Suara perempuan dewasa. Berteriak dengan nada tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Diamlah, sayang.” Suara laki-laki yang bicaranya tidak jelas, seperti bergumam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Buang jauh-jauh barang itu! Barang itu akan membunuhmu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami kenal suara-suara itu. Ah, bukan. Aku kenal suara-suara itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sssh ... Kamu bisa membangunkan Ju, sayang. Sini, ikut menghisap bersamaku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu suara ibu dan ayah. Ayah tertawa panjang. Tawanya kemudian berubah menjadi teriakan. Lalu salju turun di luar jendela kamarku. Bintik-bintik putih yang tidak dingin melayang-layang di udara seperti bulu yang ringan. Bercampur dengan bercak-bercak merah kental yang berbau amis. Lalu ada bayangan hitam jatuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melihat ... !!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ju?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ju!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juuu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Ju menghilang! Kupanggil-panggil dia, terus menerus tapi percuma. Ju tidak menjawab. Aku panik. Jangankan menjawab, keberadaannya juga tidak kurasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ju!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupanggil sekali lagi, tetap tidak ada jawaban. Gawat! Gawat! Ju pasti teringat kejadian malam itu. Gawat! Ju pasti teringat semuanya. Gawat! Aku harus bilang pada ibunya. Kami harus segera mencari Ju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu! Aku menghambur keluar kamar, berlari kencang menghampiri kamar ibu Ju di lantai atas. Kami harus segera menemukannya. Ju anak yang penakut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia pasti bersembunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 10 Maret 2008&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/636522176026931424-8485746134769175051?l=miss-worm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miss-worm.blogspot.com/feeds/8485746134769175051/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=636522176026931424&amp;postID=8485746134769175051&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/8485746134769175051'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/8485746134769175051'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miss-worm.blogspot.com/2008/03/salju-turun-di-malam-hari.html' title='(Draft) Salju Turun di Malam Hari'/><author><name>windry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13072319767836551821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R85FBcecQ6I/AAAAAAAAAXw/dACfoIQUsWA/S220/she_was_buried_alive__by_cryptorchid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R9Vv6M9nQ3I/AAAAAAAAAYM/T9lwfOpjc7A/s72-c/Snow_by_GeorgeHarrison.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-636522176026931424.post-5788070192577024946</id><published>2008-03-06T23:49:00.006+07:00</published><updated>2008-03-16T14:00:45.016+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of drafts'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of words'/><title type='text'>(Draft) Surat dari Delft</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R9Cs2MecQ7I/AAAAAAAAAX4/j40j8_KqCj4/s1600-h/Letter_by_bryanomatic.jpg"&gt;&lt;img src="http://bp2.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R9Cs2MecQ7I/AAAAAAAAAX4/j40j8_KqCj4/s200/Letter_by_bryanomatic.jpg" style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp2.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R9Cs2MecQ7I/AAAAAAAAAX4/j40j8_KqCj4/s200/Letter_by_bryanomatic.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5174826018910520242" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;‘Hei, An.’&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suratmu datang pada sore hari. Terbungkus amplop jingga seperti biasa. Aku meraba ujungnya, merobek sisi yang kaurekat dengan lem. Surat yang kau kirim kali ini, Ju, jauh lebih tipis dari biasanya. Hanya terdiri dari satu lembar kertas berserat yang kaulipat menjadi tiga bagian. Berisi beberapa baris kata yang samar kulihat dan menebarkan aroma tembakau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang kautulis, Ju?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;An.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu bungkus rokok tidak juga bisa membuat saya tenang. Satu bungkus rokok yang saya sembunyikan darimu di bawah kasur. Puntung-puntungnya menumpuk di asbak. Di sebelahnya: sepucuk surat dari Delft yang tiba kemarin sore. Tergeletak berjam-jam di sana dan saya diam memandanginya. Mencoba merangkai kata yang tepat untuk memberitahumu sebuah berita tapi kepala saya seperti kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ju.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pintu depan rumah berderit. Kamu muncul dari baliknya. Berjalan perlahan sambil meraba-raba ruang sempit. Tubuhmu berbalut baju hangat tipis, tanganmu menenteng plastik belanjaan. Saya bergegas bangkit dari sofa panjang yang berdebu, mengulurkan tangan untuk membantumu mendekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah saya bilang. Biar saya saja yang datang ke tempatmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu tidak menjawab, hidungmu mengendus aroma ruangan. “Kau merokok ya?” ucapmu dengan nada kesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Giliran saya yang tidak menjawab, menghadirkan hening yang ganjil, lalu kamu bertanya, “Ada apa, Ju?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;‘Saya menulis surat ini di tengah himpitan kardus-kardus, di sudut apartemenku. Salju turun lebat di Delft, An. Langit malam dipenuhi bintik-bintik putih.’&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau bilang, hanya cintaku saja sudah cukup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya tidak akan pergi. Akan saya tulis surat balasan pada mereka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajahmu baur dalam tatapanku. Kau mengulas senyum masam. Ada sedih yang kausembunyikan dariku, aku tahu. Kuulurkan kedua tangan, merengkuh wajahmu dan aku berbisik. “Kita sedang membicarakan Delft, Ju.” Kau memimpikan Delft setiap saat. Bertahun-tahun sejak kita masih kuliah kau selalu berkata, kau akan terbang ke kota itu. Menaklukkan Eropa. Menaklukkan Koolhas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau menjawab, “Tidak semua yang kita inginkan bisa kita dapatkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tertawa. Pedih. Bukan karena mendengar keputusanmu, tetapi karena aku tahu betul alasan di baliknya. Kutarik tanganku, kuciptakan jarak dengan melangkah mundur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“An ...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuraba ruangan, berjalan secepat yang aku bisa untuk keluar dari rumahmu. Kau buru-buru mengikutiku, tanganmu menuntunku sambil kau berusaha mengatakan sesuatu untuk memperbaiki situasi. “Saya tidak butuh Delft, An. Saya punya kamu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tentu saja kau membutuhkan Delft. Hanya di sana kau bisa meraih apa yang kau inginkan. Kau sendiri yang selalu berkata, kau ingin berubah. Kau tidak ingin terus-menerus terjebak dalam situasi seperti saat ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya punya kamu,” kau mengulangi ucapanmu. Kau bilang, hanya cintaku saja sudah cukup. Tapi aku tahu, itu tidak benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;‘Besok saya akan meninggalkan Delft. Saya akan pergi ke New York. Koolhas mengirim saya ke sana.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;An.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mengapa semakin jauh saja saya pergi darimu?’&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menatap selembar kertas putih di hadapan saya. Tangan kanan saya sudah sejak tadi menggenggam pena, tetapi tidak satu kata pun saya tuliskan di permukaan kertas itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pergi saja, Ju.” Kamu berkata memecah keheningan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita duduk bersama di ruang tengah rumahku yang sempit. Cahaya masuk dari jendela yang kamu buka. Di luar sana, langit biru cerah. Beberapa awan menggumpal di kejauhan. Dua buah layangan berkejaran dikendalikan senar tipis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pergilah ke Delft, walau sendiri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya terdiam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan kuatir. Aku akan baik-baik saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya masih terdiam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;An.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah kamu sadar? Suaramu bergetar mengatakan semua itu. Pundakmu berguncang. Kamu duduk membelakangiku, tetapi aku tahu. Berhenti menangis, An.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak mengantarmu pergi hari ini. Aku tidak suka perpisahan. Kutuliskan surat sebagai gantinya dan tulislah surat sebagai balasan untukku dari Delft. Di luar jendela kamarku, kudengar suara dengung pesawat di udara, begitu jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah itu pesawatmu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak melihatmu di bandara hari itu walau saya ingin melihat wajahmu untuk terakhir kalinya. Kamu hanya menitipkan surat. Selembar kertas dalam amplop jingga, bertuliskan serangkaian kalimat dalam dua baris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengirimimu surat dari Delft, sesuai permintaanmu. Surat yang panjang dan berisi ribuan kata. Saya tulis besar-besar agar kamu mudah membacanya. Saya mengirimimu surat setiap bulan, setiap minggu. Saya mengirimimu banyak surat. Dan masih akan terus saya kirimi, sampai saya kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat-surat saya, An, kamu membacanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat-suratmu, Ju, kuterima hampir setiap bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbungkus amplop jingga dan banyaknya berlembar-lembar. Kau menulis dengan huruf-huruf yang besar, mungkin agar mudah kubaca Aku masih menyimpan semua surat yang kau kirim. Kutata rapi dalam kotak rotan di samping tempat tidurku. Kubuka saat aku rindu di pagi atau sore hari. Kuraba permukaannya yang berserat dan kuhirup aroma tembakau yang selalu menyertainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat-suratmu, Ju, sudah sejak lama tidak terbaca olehku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang kautulis?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;‘Saya ingin kembali.’&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 6 Maret 2008&lt;br /&gt;dari Kiss Me Good-bye, musik pop Jepang yang dinyanyikan oleh Angela Aki&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/636522176026931424-5788070192577024946?l=miss-worm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miss-worm.blogspot.com/feeds/5788070192577024946/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=636522176026931424&amp;postID=5788070192577024946&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/5788070192577024946'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/5788070192577024946'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miss-worm.blogspot.com/2008/03/surat-dari-delf.html' title='(Draft) Surat dari Delft'/><author><name>windry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13072319767836551821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R85FBcecQ6I/AAAAAAAAAXw/dACfoIQUsWA/S220/she_was_buried_alive__by_cryptorchid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R9Cs2MecQ7I/AAAAAAAAAX4/j40j8_KqCj4/s72-c/Letter_by_bryanomatic.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-636522176026931424.post-4908126741733492665</id><published>2008-03-04T12:37:00.010+07:00</published><updated>2008-03-16T14:01:55.793+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of drafts'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of words'/><title type='text'>(Draft) Garong</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R8zjLkMYQCI/AAAAAAAAAXc/3eKrAkNzkEM/s1600-h/Wheel_protection_by_bupo.jpg"&gt;&lt;img src="http://bp0.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R8zjLkMYQCI/AAAAAAAAAXc/3eKrAkNzkEM/s200/Wheel_protection_by_bupo.jpg" style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp0.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R8zjLkMYQCI/AAAAAAAAAXc/3eKrAkNzkEM/s200/Wheel_protection_by_bupo.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5173759859775520802" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berikut &lt;span style="font-style: italic;"&gt;headline&lt;/span&gt; sebuah koran nasional hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;‘GARONG MENUNTUT SEORANG NENEK KE PENGADILAN. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ibukota, Koran Nasional – Senin (3/2) siang, tim hukum yang mewakili Garong secara resmi mengajukan surat tuntutan ke pengadilan. Seorang nenek (63) terancam hukuman dua tahun penjara atau denda sebesar dua puluh lima juta rupiah karena melawan saat digarong. Nenek tersebut dianggap telah melakukan tindak kriminal dengan melanggar Kitab Undang-undang Penggarongan (KUHPe) pasal kesekian ayat kesekian tentang kebebasan menggarong.’&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Headline &lt;/span&gt;itu membuat ibukota gempar. Setiap mulut membicarakannya di setiap sudut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah baca berita hari ini? Berita Garong dan Nenek itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kudengar pengadilannya akan diadakan minggu depan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kudengar juga, akan disiarkan lewat televisi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tentu saja. Ini peristiwa bersejarah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sangat bersejarah!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seperti yang dulu pernah terjadi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh ya! Dulu sekali.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu sekali pernah terjadi hal serupa, seorang tukang becak melawan saat digarong di tengah malam. Tukang becak itu memukul, menggigit dan memaki Garong. Garong tidak terima, maka dia menuntut Tukang Becak ke pengadilan dan sesuai Undang-undang yang berlaku, tukang becak itu dijatuhi hukuman lima tahun penjara. Di dalam penjara dia dipukuli, digigit dan dimaki oleh penghuni-penghuni lain, sehingga saat dibebaskan, dia berubah menjadi orang yang sama sekali berbeda dan dia memutuskan untuk berganti profesi menjadi garong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menurutmu, siapa yang akan menang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Garong.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benar. Bagaimanapun, garong adalah profesi yang legal.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan dihormati.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sama legalnya seperti dokter.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sama terhormatnya seperti mentri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nenek pasti kalah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nasibnya akan sama seperti Tukang Becak. Masuk penjara dan berubah menjadi garong saat keluar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, penduduk-penduduk ibukota membicarakan berita itu tanpa henti sampai hari pengadilan tiba. Hari itu mereka datang berbondong-bondong menyesaki ruang pengadilan, membawa keluarga mereka: anak, saudara dan orang tua. Mereka duduk berdesak-desakan di deretan bangku-bangku panjang, siap dengan alat perekam di genggaman masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ujung ruangan dekat meja hakim, seorang perempuan tua duduk sendiri di kursi terdakwa. Dialah nenek berusia enam puluh tiga tahun yang dituntut oleh Garong. Sudah pasti rambutnya putih, kulitnya keriput dan tubuh kurusnya hampir bungkuk, tetapi perempuan tua itu jauh dari kesan lemah. Dia terlihat kuat dan berani, matanya berapi-api. Pada media dia berkata, “Garong. Saya tidak takut. Saya yang dirugikan, jadi seharusnya saya yang menuntut!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Garong tidak terlihat di dalam ruangan itu, hanya tim hukumnya yang berkerumun di meja penuntut sebagai perwakilan. Para &lt;span style="font-style: italic;"&gt;audience &lt;/span&gt;di deretan bangku-bangku panjang mulai bergunjing. Mereka sibuk bertanya-tanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah Garong tidak hadir?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tampaknya begitu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah dia takut?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mana mungkin? Hukum berpihak padanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Garong orang penting. Orang penting punya banyak urusan di mana-mana.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka sidang itu dimulai tanpa kehadiran Garong. Dipimpin oleh hakim senior bertubuh gempal, yang dulu pernah menangani kasus serupa dan menjebloskan seorang tukang becak ke dalam penjara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saudara Garong menuntut Saudari Nenek atas hal-hal yang disebutkan sebagai berikut.” Salah seorang ahli hukum yang mewakili Garong berkata. “Mempermalukan, merendahkan dan menyakiti Garong, baik individu maupun profesi yang sama di seluruh negeri, dengan melakukan perlawanan, pemukulan, penendangan dan pencakaran saat digarong. Melalui sidang ini, Saudara Garong menuntut Nenek dijatuhi hukuman penjara selama dua tahun, sesuai dengan KUHPe pasal kesekian ayat kesekian.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana tanggapan Saudari Nenek?” tanya Hakim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya tidak bersalah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Audience&lt;/span&gt; ribut mendengar jawaban Nenek. Hakim mengetuk palu di tangannya untuk menenangkan mereka, lalu dia berkata pada tim hukum Garong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Silakan kalian bacakan kronologis kejadian sesuai dengan yang Saudara Garong laporkan melalui surat tuntutannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang tim hukum Garong berdiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rabu, 29 Januari, pukul 19.30 WIB. Saya melihat seorang Nenek hendak menyeberang jalan raya. Jalanan itu ramai dan Nenek kesulitan menyeberang. Saya menawarkan bantuan pada nenek itu dan dia menerima. Saya bantu dia menyeberang jalan raya lalu setelah kami tiba di sisi seberang, saya merampas tasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar dugaan saya, Nenek melawan saat tasnya saya rampas. Dia memanggil nama saya, Garong. Dia memukuli badan saya dengan tongkat yang dibawanya, menendang kaki saya dengan sepatu&lt;span style="font-style: italic;"&gt; boot&lt;/span&gt;-nya dan mencakar wajah saya sampai berdarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengeluarkan telpon genggam saya lalu sebelum saya pergi meninggalkan nenek itu, saya foto dia dan saya laporkan dia ke polisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai catatan, dalam kamus bahasa kita, kegiatan merampas digolongkan sebagai salah satu bentuk menggarong.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Audience&lt;/span&gt; kembali ribut. Sekali lagi, Hakim mengetuk palu untuk menenangkan mereka. Hakim itu mengangguk-anggukkan kepala. Dia mengucapkan terima kasih pada tim hukum Garong lalu beralih pada Nenek seraya bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saudari Nenek. Ada sanggahan atas laporan Saudara Garong?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nenek berpikir sejenak, mencoba mengingat-ingat. Dia menjawab, “Seingat saya, kejadiannya memang persis seperti itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berarti Saudari Nenek mengaku telah melakukan tindak kriminal terhadap Saudara Garong?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, tidak. Saya tidak bersalah, kok. Lha Saya yang digarong!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Audience&lt;/span&gt; ribut lagi. Mereka mulai kesal melihat sikap Nenek. Berbagai komentar miring pun mereka lontarkan untuk menyudutkan Nenek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nenek itu pasti tidak mengerti hukum. Sudah jelas bersalah, masih tidak mau mengaku juga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia pantas masuk penjara.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hukum saja dia, Bapak Hakim!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jebloskan ke penjara!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hakim mengetuk palu keras-keras sambil berusaha menenangkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;audience&lt;/span&gt;. “Tenang! Tenang!” seru Hakim dengan lantang. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Audience&lt;/span&gt; mematuhi seruan Hakim. Suasana ribut itu mereda, ruangan pengadilan kembali tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ehm.” Hakim mengambil alih. “Dalam laporan yang diajukan kepada saya, tim hukum Saudara Garong melampirkan sejumlah foto. Foto-foto ini menunjukkan bukti penganiayaan Saudari Nenek kepada Saudara Garong, yaitu bekas luka memar di kaki dan badan, serta bekas luka cakar di wajah Saudara Garong. Menurut tim dokter, bekas-bekas luka tersebut sesuai dengan tongkat kayu, sepatu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;boot&lt;/span&gt; dan kuku tangan Saudari Nenek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan berdasarkan bukti-bukti ini, maka saya sebagai hakim memutuskan bahwa Saudari Nenek bersalah atas segala tuduhan yang diajukan oleh Saudara Garong. Sesuai hukum yang berlaku dan setelah mempertimbangkan usia terdakwa, saya menjatuhkan hukuman satu tahun penjara atau membayar denda sepuluh juta rupiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sidang selesai. Sekian.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keputusan Hakim itu disambut dengan sorak-sorai. Semua orang bertepuk tangan dan saling berpelukan, merayakan penegakan hukum yang baru saja mereka saksikan sendiri secara langsung. Reporter-reporter media segera mengerubungi Nenek. Mereka menanyakan tanggapan perempuan tua itu terhadap keputusan Hakim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hukum negara ini benar-benar absurd!” teriak Si Nenek. “Tidak masuk di akal dan kalian semua sudah gila!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teriakan itu tertelan oleh sorak-sorai yang bergemuruh di dalam ruang pengadilan. Dua orang petugas mengapit kedua lengan Nenek. Nenek diseret keluar ruangan dan dibawa pergi untuk dijebloskan ke dalam penjara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya dan untuk satu minggu berikutnya, media-media dipenuhi berita seputar pengadilan hari itu. Nenek terlalu miskin untuk membayar denda sepuluh juta rupiah, maka perempuan tua itu terpaksa terkurung selama satu tahun di dalam penjara. Entah apa yang dia alami di dalam sana, tetapi kabar burung berkata, Nenek berganti profesi menjadi garong setelah dia dibebaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan satu hari, sebuah koran nasional memasang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;headline&lt;/span&gt; sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;‘SEORANG NENEK MENUNTUT GARONG KE PENGADILAN.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ibukota, Koran Nasional – Jumat (5/4) pagi, Nenek (63), berprofesi sebagai garong, resmi mengajukan surat tuntutan ke pengadilan. Garong terancam hukuman lima tahun penjara atau denda sebesar lima puluh juta rupiah karena melawan saat digarong. Garong dianggap telah melakukan tindak kriminal dengan melanggar Kitab Undang-undang Penggarongan (KUHPe) pasal kesekian ayat kesekian tentang kebebasan menggarong.&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tuntutannya, Nenek mengaku dimaki, dipukuli dan ditendang saat dia mencoba menggarong Garong. “Seorang garong sekaliber Garong seharusnya memahami betul KUHPe dengan baik. Garong telah membuat malu rekan-rekannya satu profesi di seluruh tanah air,” ungkap Ketua Komite Garong tingkat nasional saat diwawancara. “Kami berharap kejadian ini tidak terulang lagi.”’&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Headline&lt;/span&gt; itu membuat ibukota gempar. Setiap mulut membicarakannya di setiap sudut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dulu ini pernah terjadi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh ya! Satu tahun yang lalu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menurutmu siapa yang akan menang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nenek.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benar. Bagaimanapun, garong adalah profesi yang legal.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan dihormati.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sama legalnya seperti dokter.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sama terhormatnya seperti mentri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Garong pasti kalah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nasibnya akan sama seperti Tukang Becak dan Nenek. Masuk penjara dan berubah menjadi garong saat keluar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lho! Tapi dia kan memang seorang garong?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benar juga. Baru kali ini seorang garong dipenjara.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini peristiwa besar!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Peristiwa bersejarah!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita tidak boleh melewatkannya. Akan menjadi apa nanti Garong setelah keluar dari penjara?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 3 Maret 2008&lt;br /&gt;untuk Farah, Yana dan Intan&lt;br /&gt;remembering our old days with Ionesco's piece&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/636522176026931424-4908126741733492665?l=miss-worm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miss-worm.blogspot.com/feeds/4908126741733492665/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=636522176026931424&amp;postID=4908126741733492665&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/4908126741733492665'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/4908126741733492665'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miss-worm.blogspot.com/2008/03/garong.html' title='(Draft) Garong'/><author><name>windry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13072319767836551821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R85FBcecQ6I/AAAAAAAAAXw/dACfoIQUsWA/S220/she_was_buried_alive__by_cryptorchid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R8zjLkMYQCI/AAAAAAAAAXc/3eKrAkNzkEM/s72-c/Wheel_protection_by_bupo.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-636522176026931424.post-4216633732320052060</id><published>2008-02-26T02:38:00.007+07:00</published><updated>2008-03-16T14:03:39.553+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of drafts'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of words'/><title type='text'>(Draft) Hydeist</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R8MdgSVtggI/AAAAAAAAAXU/Wn_Bmp84UFs/s1600-h/Vampire_HYDE_by_Jessy_Scarlet.jpg"&gt;&lt;img src="http://bp3.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R8MdgSVtggI/AAAAAAAAAXU/Wn_Bmp84UFs/s200/Vampire_HYDE_by_Jessy_Scarlet.jpg" style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp3.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R8MdgSVtggI/AAAAAAAAAXU/Wn_Bmp84UFs/s200/Vampire_HYDE_by_Jessy_Scarlet.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5171009237667381762" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tato di punggungku berbentuk sayap malaikat, sama persis seperti tato di punggung Hyde. Bedanya, tato milikku masih merah karena baru kemarin tato itu digambar oleh Kai. Aku sengaja memakai kaos hitam tanpa lengan malam ini, supaya ujung sayap di kedua pangkal lenganku terlihat dan aku bisa pamer. Tidak semua hydeist berani memilikinya. Tidak semua punya nyali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak semua seperti aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Kuhadapi cermin. Postur tubuhku kini ceking, hasil diet selama beberapa bulan. Wajahku berubah tirus seperti yang kuinginkan. Daguku menjadi lancip dan tulang pipiku terlihat jelas. Tapi alisku masih terlalu tebal. Seharusnya tidak setebal ini. Kuambil pisau cukur dan kukerik alisku. Mudah. Kurapikan sedikit dengan pinset dan pensil, dan kini aku memiliki alis tipis yang melengkung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menaburkan bedak di wajah. Kutaburkan juga perona pipi. Kupertajam bentuk mataku dengan bayangan hitam di pelupuknya. Kukenakan lipgloss dan kusapukan sedikit gliter. Setelah beberapa kali mencoba, kini aku mahir melakukan semua itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hyde? Vokalis banci dari band Jepang itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia bukan banci, Jo. Punya istri dan anak, gila!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jo tertawa. “Lu tuh yang gila! Hydeist, lu sekarang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hydeist, gue!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara Hyde dan gitar listriknya memenuhi kamarku, berteriak begitu kuat seakan dengan musik dia bisa menghancurkan dunia. Aku berjingkrak-jingkrak seperti orang kerasukan dan memang ruh Hyde sedang merasukiku. Kuraungkan gitar listrik di tangan, mengikuti setiap melodi yang kudengar. Kuteriakkan keras-keras lirik berbahasa Jepang walau dengan nada sumbang. Kutirukan pose dan ekspresi yang biasa Hyde lakukan di atas panggung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anjar! Matikan musik itu! Anjar!” Samar-samar kudengar suara kakak dari luar kamar. Dia menggedor pintuku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anjar! Kamu sudah gila ya? Anjar! Matikan musik itu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak menjawab. Kuletakkan gitarku lalu aku beralih menata rambut. Dulu rambutku ikal dan pendek. Sengaja kini kupanjangkan sebahu dan kuluruskan. Guru-guru kerap memarahiku karenanya. Aku dibawa ke ruangan mereka untuk diintimidasi tapi tidak kupedulikan. Aku justru mengecat coklat rambutku beberapa hari yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu pasang dengan kaos hitam tanpa lenganku, celana panjang jins berwarna sama, syal abu-abu dan topi model derby. Pergelangan tanganku dihiasi gelang-gelang perak. Sebuah cincin bermata besar melingkar di jari tengah tangan kananku. Sebatang rokok menyelip di mulutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hydeist adalah sebutan untuk orang-orang seperti aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mendengarkan musik Hyde setiap saat sampai aku hapal di luar kepala, earphone I-Pod tidak pernah terlepas dari telingaku. Aku mengumpulkan semua album, single dan DVD konser Hyde yang kupesan langsung dari Jepang. Aku memburu majalah-majalah berisi artikel tentang Hyde, tidak satu majalah pun terlewat. Aku membeli suvenir-suvenir berbau Hyde. Aku bermain musik yang dimainkan oleh Hyde dan aku berpenampilan seperti Hyde berpenampilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah sejak kapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anjar! Keluar kamu dari kamar itu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan entah untuk apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anjar! Keluar kamu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mematikan komputer dan musik Hyde berhenti. Sebagai gantinya, kudengar suara orang-orang saling berteriak di luar ruangan. Kubuka pintu kamar, kudapati kakakku berdiri di depan pintu dengan ekspresi marah. Dia berkata, “Gila kamu, Anjar! Sudah gila, kamu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak menjawab. Kuambil kunci mobil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mau kemana kamu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak kutanggapi. Kulangkahkan kaki melintasi ruang keluarga yang berantakan. Sejumlah asesoris rumah pecah, serpihan-serpihannya bertebaran di lantai. Ayah dan Ibu ada di sana. Berdiri berhadapan di tengah ruangan. Mereka tidak melihat aku lewat. Mereka terlalu sibuk bertengkar. Tangan mereka saling menunjuk dan mulut mereka mengeluarkan makian-makian yang tidak pantas dikeluarkan oleh sepasang suami istri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin karena ini dan sejak lama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anjar! Kamu tidak boleh pergi! Keadaan rumah sedang seperti ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakak mengikutiku sampai keluar rumah. Aku menghampiri mobil sedan tua di halaman depan. Kubuka pintu lalu aku duduk di balik kemudi. Kulihat wajah kakak kini ketakutan. Dia hampir menangis. Aku tidak tega melihatnya tapi aku tidak bisa tidak pergi. Aku sudah ditunggu oleh teman-teman satu band-ku. Besok kami tampil di salah satu kafe bergengsi di Kemang, jadi aku tidak bisa bolos latihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tolong, Anjar. Jangan pergi. Kakak takut.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutatap wajah kakak dalam-dalam. Dia menangis di samping jendela mobilku. Kubuka kaca jendela. Kuulurkan tangan untuk mengusap air mata di pipinya. Kuberikan senyum dan kuajak dia pergi. “Ayo, Kak. Ikut gue! Gue tunjukin kafe favorit Hydeist.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauh lebih nyaman daripada di sini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakak terdiam seraya menatapku ragu-ragu. Dia menelan ludah, lalu memutuskan untuk ikut. Malam itu, kami lari sejenak dari dunia, menghindar dan mencari sosok pengganti untuk kami idolakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu, kami menyebut diri kami Hydeist.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 25 Februari 2008&lt;br /&gt;untuk Hydeist&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;Catatan: Hydeist adalah sebutan untuk kelompok pemuja Hyde, penyanyi Jepang beraliran rock. Hyde bertubuh kurus, pendek dan kerap berdandan cantik. Selain menyanyi, dia juga bermain gitar, mencipta lagu dan menulis lirik. Dia tergabung dalam sebuah band bernama L'Arc-en-Ciel.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/636522176026931424-4216633732320052060?l=miss-worm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miss-worm.blogspot.com/feeds/4216633732320052060/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=636522176026931424&amp;postID=4216633732320052060&amp;isPopup=true' title='8 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/4216633732320052060'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/4216633732320052060'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miss-worm.blogspot.com/2008/02/hydeist.html' title='(Draft) Hydeist'/><author><name>windry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13072319767836551821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R85FBcecQ6I/AAAAAAAAAXw/dACfoIQUsWA/S220/she_was_buried_alive__by_cryptorchid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R8MdgSVtggI/AAAAAAAAAXU/Wn_Bmp84UFs/s72-c/Vampire_HYDE_by_Jessy_Scarlet.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-636522176026931424.post-1865043736226472812</id><published>2008-02-24T16:53:00.005+07:00</published><updated>2008-03-16T14:04:44.207+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of drafts'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of words'/><title type='text'>(Draft) Foyer</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R8E_VSVtgeI/AAAAAAAAAXE/KxvQGJG01zg/s1600-h/foyer_by_bunkmate4.jpg"&gt;&lt;img src="http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R8E_VSVtgeI/AAAAAAAAAXE/KxvQGJG01zg/s200/foyer_by_bunkmate4.jpg" style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R8E_VSVtgeI/AAAAAAAAAXE/KxvQGJG01zg/s200/foyer_by_bunkmate4.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5170483482130743778" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Silakan Anda menunggu di foyer, Pak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya selalu menunggu di foyer, sejak saya pertama kali datang ke rumah itu, dan saya belum pernah masuk lebih jauh lagi. Art, si kepala pelayan selalu menyambut dengan senyum ramah. Dia menanyakan kabar saya, kabar istri saya dan kabar anak saya. Dia sendiri yang mengantar saya ke foyer lalu mempersilakan saya duduk di salah satu kursi yang ada di sana. Dia menyuruh pelayan membawakan secangkir coklat panas dan sepiring kue kering untuk saya. Dan terkadang dia menemani saya mengobrol selama saya menunggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;“Istri saya yang memasak kue kering ini, Pak. Ini resep baru,”&lt;br /&gt;Kata Art.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Istri Sampeyan kerja di mana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Istri saya bekerja di rumah ini juga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya baru tahu itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Art mengangguk sambil tersenyum. Dia tidak seperti pelayan-pelayan di rumah besar lainnya yang kaku dan jarang tersenyum. Art selalu berusaha keras membuat saya merasa nyaman walaupun saya harus menunggu lama di foyer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sampeyan jujur sama saya. Menurut Sampeyan, apakah hari ini saya bisa bertemu dengan tuan Sampeyan?” Saya bertanya padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Art kembali tersenyum. Jawabnya, “Saya tidak bisa memastikan, Pak. Kalau tuan sudah masuk ke dalam ruang kerja, bahkan nyonya tidak akan bisa memaksanya keluar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Begitu ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, seperti itu kira-kira.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya terdiam dan berpikir. Ini sudah kelima kalinya saya mencoba bertemu dengan pemilik rumah itu. Setiap kalinya saya selalu gagal. Ada saja hal yang membuat pemilik rumah itu tidak dapat menemui saya. Maka selama lima kali itu saya selalu menunggu di foyer dan pulang tanpa hasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana kalau Anda titipkan saja surat itu pada saya, Pak?” tanya Art.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menggeleng. “Tidak, Art. Maaf. Bukan saya meragukan Sampeyan, tetapi saya harus menyerahkan surat ini pada tuan Sampeyan sendiri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya mengerti, Pak. Tidak apa-apa jika Anda berpendirian begitu. Saya hanya tidak tega melihat Anda datang setiap beberapa hari sekali tapi terpaksa pulang tanpa hasil.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya. Itu resiko.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tambah coklat panasnya, Pak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Boleh. Coklat panas ini buatan istrimu juga? Jika ya, katakan padanya, coklat ini enak sekali.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Art tidak menjawab. Dia hanya tersenyum lalu saya membiarkannya mengambil gelas kosong saya dan dia membawa gelas itu ke dapur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Art pergi, bel pintu depan rumah itu berbunyi. Art sedang sibuk mengambilkan coklat panas, maka saya berinisiatif membukakan pintu. Seorang lelaki muda menyapa di balik pintu dengan senyum lebar. Dia memakai jas dan dasi. Tangannya menenteng tas kerja dari kulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya dari kantor pengacara. Bisa saya bertemu dengan pemilik rumah ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, silakan masuk. Saya juga sedang menunggu pemilik rumah ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah pemilik rumah ini sedang pergi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak. Dia ada di dalam. Saya sedang menunggu untuk dipersilakan bertemu dengannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mempersilakan lelaki muda itu masuk. Kami berdua duduk di foyer, berkenalan, lalu mengobrol sambil menikmati sepiring kue kering buatan istri Art. Dari penjelasannya saya tahu, dia sudah sering datang ke rumah itu untuk bertemu sang pemilik, tetapi nasibnya tidak jauh berbeda dengan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini sudah yang keempat kalinya,” kata lelaki muda itu. “Saya datang untuk mengantarkan beberapa berkas. Berkas-berkas penting yang harus segera dia tanda tangani.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tampaknya pemilik rumah ini sibuk sekali, Dik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya. Sepertinya begitu, Pak. Bapak dari perusahaan mana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya hanya mengantarkan surat pribadi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki muda itu mengangguk-angguk. “Omong-omong, kue kering ini enak sekali.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Istri Art yang membuat kue itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Art?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kepala pelayan rumah ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, jadi dia bernama Art.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Art tidak kunjung kembali. Sudah lewat dari tiga puluh menit. Tiga puluh menit terlalu lama untuk membuat secangkir coklat panas. Art juga tidak muncul tadi saat lelaki muda dari kantor pengacara itu membunyikan bel. Tidak biasanya tapi mungkin dia sedang sibuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, hampir jam empat.” Kata lelaki muda di sebelah saya tiba-tiba. “Saya harus mengantarkan berkas lain, beberapa blok dari sini. Saya akan kembali begitu saya selesai mengantarkan berkas itu. Ini kartu nama saya. Sementara saya pergi, bisakah Bapak menghubungi saya jika pemilik rumah ini bisa ditemui?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya tidak janji tapi saya akan memberitahu Sampeyan jika memang pemilik rumah ini sudah bisa ditemui.” Saya berkata sambil menerima kartu namanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki muda itu keluar rumah dengan terburu-buru. Saya perhatikan, dia tidak membawa kendaraan, maka dia harus berlari sejauh beberapa blok. Seharusnya dia tidak perlu terburu-buru. Pemilik rumah belum tentu bersedia menemui kami berdua hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lama setelah lelaki muda itu pergi, bel pintu kembali berbunyi. Lagi-lagi Art tidak muncul, maka saya kembali berinisiatif membukakan pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selamat sore, saya ingin bertemu dengan pemilik rumah ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang wanita setengah baya berdiri di luar. Model pakaiannya kuno. Rok panjang motif bunga-bunga dan mantel rajutan warna coklat. Dia mengenakan sebuah pin bundar bertuliskan propaganda penghijauan bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya dari Yayasan Peduli Bumi,” kata wanita itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memberitahu wanita itu bahwa dia harus menunggu seperti saya dan seorang lelaki muda yang baru saja pergi. Saya beritahu juga bahwa tidak ada jaminan pemilik rumah akan menemuinya bahkan sampai hari berakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya akan menunggu.” Wanita itu tidak keberatan, maka saya bawa dia masuk dan saya persilakan dia duduk di dalam foyer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah Saudara juga berasal dari yayasan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, bukan. Saya hanya mengantar surat pribadi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh. Apakah Saudara kenal dengan pemilik rumah ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak. Saya tidak begitu kenal dengannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia orang yang pemurah. Pemilik rumah ini. Beberapa hari yang lalu, kami bertemu di gereja dan dia berjanji akan memberi donasi yang sangat besar pada yayasan kami. Betul-betul besar. Dengan donasi sebesar itu, yayasan kami bisa melakukan banyak hal untuk penghijauan bumi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, saya rasa itu tidak sulit bagi pemilik rumah ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benar. Sudah berapa lama menunggu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sejak tadi pagi. Jam sepuluh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh!” Wanita itu tampak terkejut mendengar ucapan saya. “Apakah pemilik rumah ini sedang sibuk?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tampaknya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Art memasuki foyer setelah satu jam. Wajahnya memperlihatkan penyesalan. Kepala pelayan itu menatap saya sambil mengulas senyum masam. “Maaf, Pak. Tuan tidak bisa menemui Anda hari ini,” kata Art.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya merasa lemas mendengar itu. Surat yang saya bawa tidak bisa menunggu terlalu lama. Surat itu harus segera saya sampaikan pada pemilik rumah ini. Saya mencoba mendesak Art, “Apakah Sampeyan tidak bisa membantu saya? Surat yang harus saya sampaikan ini penting sekali.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anda bisa menitipkan surat itu pada saya, Pak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak. Harus saya serahkan sendiri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau begitu, coba datang lagi besok. Tuan tidak bisa menemui Anda hari ini,” kata Art.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana dengan saya, Pak? Saya dari Yayasan Peduli Bumi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibu juga boleh datang lagi besok. Saya minta maaf tapi tuan sedang sangat sibuk.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berdua pasrah. Art mengantar kami meninggalkan foyer. Dia membukakan pintu depan. Di waktu yang bersamaan, lelaki muda tadi memasuki halaman rumah. Nafasnya terengah-engah dan saya tidak tega melihat ekspresi wajahnya saat dia mengerti bahwa pemilik rumah tidak bisa menemui kami hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekali lagi saya minta maaf. Silakan datang lagi. Besok, mungkin tuan bisa menemui kalian.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 24 Februari 2008&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/636522176026931424-1865043736226472812?l=miss-worm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miss-worm.blogspot.com/feeds/1865043736226472812/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=636522176026931424&amp;postID=1865043736226472812&amp;isPopup=true' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/1865043736226472812'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/1865043736226472812'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miss-worm.blogspot.com/2008/02/foyer.html' title='(Draft) Foyer'/><author><name>windry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13072319767836551821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R85FBcecQ6I/AAAAAAAAAXw/dACfoIQUsWA/S220/she_was_buried_alive__by_cryptorchid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R8E_VSVtgeI/AAAAAAAAAXE/KxvQGJG01zg/s72-c/foyer_by_bunkmate4.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-636522176026931424.post-5315336452842396153</id><published>2008-02-23T10:22:00.005+07:00</published><updated>2008-03-16T14:05:46.931+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of drafts'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of words'/><title type='text'>(Draft) Gadis Kecil</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R7-VayVtgdI/AAAAAAAAAW8/MkCbsJN0p_0/s1600-h/thought_like_a_child_by_leggz.jpg"&gt;&lt;img src="http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R7-VayVtgdI/AAAAAAAAAW8/MkCbsJN0p_0/s200/thought_like_a_child_by_leggz.jpg" style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R7-VayVtgdI/AAAAAAAAAW8/MkCbsJN0p_0/s200/thought_like_a_child_by_leggz.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5170015184666591698" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku ingin mengejar gadis kecil itu. Akan kubawa dia pulang begitu kudapatkan. Akan kubersihkan dan kupakaikan daster merah muda. Akan kuberi hadiah boneka lalu kupeluk erat-erat di tempat tidur sambil kubacakan dongeng anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia duduk sendiri di sudut bis tua. Tidak memakai alas kaki. Pakaiannya hijau tosca yang sudah kusam dan penuh noda tanah. Kulitnya menghitam, mungkin karena terbakar matahari atau justru karena daki. Kuku-kuku jarinya panjang dan kotor, tidak terawat, seperti rambut ikalnya yang memerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Gadis kecil itu membuang pandangannya keluar jendela, mencoba mengasingkan diri dari penumpang-penumpang lain yang memperhatikannya. Dia menaikkan kedua kakinya ke atas kursi, menekuk kedua lututnya, dan memeluknya dengan kedua tangan. Dia tidak membayar. Kondektur juga tidak menagihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pernah melihatnya di perempatan jalan besar, di kolong fly over bersama beberapa temannya dan pedagang-pedagang asongan. Dia mengejar seorang anak lelaki yang sebaya. Mereka berlarian di tepi jalan raya yang ramai, berebut beberapa lembar uang kecil. Mulut mereka mengeluarkan kata-kata kasar. Mereka saling memaki lewat teriakan seperti bukan anak kecil. Tangan saling terjulur, menjambak rambut dan memukuli kepala lawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Duit gue! Balikin, sialan!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gue yang nyanyi, lo cuma ngecrek duit. Bagian gue lebih besar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Asem nih anak!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis kecil itu mengambil sebongkah batu besar, entah dari mana. Diancamnya anak laki-laki itu sambil mengacung-acungkan senjata. “Gue bunuh, lo! Gue pecahin kepala lo!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sini! Gue ngga takut.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali mereka berlarian melintasi jalan. Mobil-mobil mengerem mendadak. Klakson-klakson dibunyikan. Kaca jendela-kaca jendela dibuka dan pengendara-pengendara menyumpahi mereka karena kesal. Polisi pengatur lalu lintas di perempatan jalan melihat itu tapi hanya diam. Dia tidak melakukan apa-apa. Mungkin tubuhnya terlalu berat untuk digerakkan atau itu sudah terlampau biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin membawa gadis kecil itu pulang. Akan kuberikan dia susu hangat dan semangkuk sereal. Akan kududukkan dia di ruang keluarga dan kutemani menonton televisi, lalu kuajak dia bermain jenga sampai tengah malam, sampai kami tertidur karena capai bersenang-senang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segerombolan anak sekolah memasuki bis. Anak-anak itu berebut tempat duduk sambil ramai tertawa dan mengobrol. Yang perempuan memakai pita rambut. Yang laki-laki memakai topi. Mereka bersepatu dan memanggul tas bergambar hewan-hewan lucu atau pahlawan pembela kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis kecil memperhatikan anak-anak itu dengan kesal. Dia menurunkan kakinya, bangkit berdiri lalu melompat keluar bis yang sedang berhenti di halte. Lewat jendela kuperhatikan, dia berjongkok di tepi jalan. Mengeluarkan lembaran ribuan dari saku bajunya lalu mulai menghitung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ngapain lo turun, Nyuk? Ngga  jadi numpang bis gue?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, bis lo berisik. Gue naik yang belakang aja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Banyak bener duit lo.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masih kurang nih. Kalau dipotong si abang, ngga cukup buat bertiga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Makanya, suruh adek lo cari duit juga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Adek gue masih orok, Kunyuk!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondektur tertawa. Dia berdiri di pintu belakang bis. Berteriak memanggil penumpang sambil membunyikan koin lima ratusan di kaca jendela. Beberapa orang naik lalu bis kembali berjalan, meninggalkan gadis kecil di halte.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat gadis kecil itu di lain hari, di dalam bis berjurusan sama dengan sebelumnya. Dia berdua dengan seorang anak laki-laki. Temannya memetik okulele dan dia bernyanyi sumbang. Pakaian yang dikenakannya masih hijau tosca. Rambutnya yang kusut dikuncir kuda. Telinganya ditindik dan dia memakai anting kecil dari besi buatan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menyodorkan plastik bekas permen ke hadapanku. Sejumlah uang receh berdenting di dalamnya. Aku merogoh saku tasku dan memasukkan beberapa permen mint ke dalam plastik itu. Gadis kecil itu tertawa mengejek tapi tidak berkata apa-apa lalu dia turun dari bis bersama temannya setelah urusannya selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dapat berapa kita?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dapat permen.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih sempat kudengar tawa mereka sebelum bis kembali berlalu. Aku punya banyak persediaan permen untuk anak-anak seperti gadis kecil itu di dalam tasku. Selalu kupastikan persediaanku cukup, setiap pagi sebelum berangkat bekerja. Dan keesokan-keesokan harinya saat kami bertemu lagi, gadis kecil itu belajar terbiasa menerima beberapa bungkus permen mint.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bu. Ibu pelit atau ngga punya uang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah di satu sore kami menunggu bis di halte yang sama. Gadis kecil itu sendiri tanpa teman laki-lakinya. Pakaiannya masih hijau tosca. Kakinya masih telanjang. Aku menatap padanya sambil tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kok bertanya begitu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Soalnya Ibu selalu ngasih permen, bukan uang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu tidak suka?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Permen ngga bisa disetor, Bu. Adek saya juga belum bisa makan permen.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Permen itu buat kamu. Kamu saja yang makan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia terdiam setelah mendengus. Pembicaraan kami berhenti. Aku tidak ingin menanyakan hal basa-basi yang sudah kuketahui jawabannya seperti, apakah dia sekolah? atau kenapa dia tidak sekolah? atau apakah pekerjaan ibu dan bapaknya? atau yang semacam itu. Aku tidak ingin bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin memeluknya erat-erat di tempat tidur sambil membacakannya dongeng anak-anak. Akan kuajak dia bersepeda di pagi hari. Akan kupakaikan dia seragam dan kuantar ke sekolah. Akan kutemani dia ke toko buku lalu kubelikan alat gambar dan buku mewarnai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan turun deras beberapa hari. Aku keluar dari rumah membawa plastik hitam berisi satu set pakaian kering dan sebuah payung. Kucari gadis kecil itu di perempatan jalan yang biasa. Kutanyakan keberadaannya pada anak laki-laki pemain okulele yang selalu bersamanya. Kutunggu dia di bawah jembatan. Sampai sore habis dan malam hampir keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah bis berhenti di seberang jalan raya. Gadis kecil itu turun sambil memaki-maki. Tangannya mengacung-acungkan jari. Suaranya tertelan bisikan hujan. Bis itu berlalu dan dia berdiri kehujanan di tepi jalan. Pakaian hijau tosca-nya basah. Hujan melunturkan noda-noda tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lampu lalu lintas berganti merah. Kendaraan-kendaraan berhenti hampir serempak di belakang garis penyeberangan jalan. Aku berlari menghampiri gadis kecil itu. Kupayungi tubuhnya agar tidak semakin basah. Kuberikan plastik hitam berisi pakaian kering yang kubawa dari rumah padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ganti bajumu, ya. Bawa payung ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak berkata banyak. Payung satu-satunya yang kubawa sudah kuberikan. Kuhentikan taksi yang lewat. Kubuka pintu dan aku masuk cepat-cepat. Kuberitahu arah tujuanku pada supir lalu taksi itu kembali melaju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat kaca spion, kulihat gadis kecil itu berlari mengejar. Tangannya melambai-lambai memanggilku, tetapi jalanan terlalu padat dan dia berhenti saat taksi semakin menjauh. Aku menengok ke belakang, sempat kulihat dia menghapus tangis di wajahnya sambil menggenggam erat payung di tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin memiliki gadis kecil itu. Akan kunamakan dia Putri. Akan kupanjangkan rambutnya agar bisa dikepang. Akan kuberikan kamar penuh warna pastel di sebelah kamarku. Akan kurawat dia baik-baik dan kulimpahkan cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan kujadikan dia pengganti gadis kecilku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 22 Februari 2008&lt;br /&gt;dari musikalisasi puisi Sapardi Djoko Damono dengan judul sama, dinyanyikan oleh Dua Ibu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/636522176026931424-5315336452842396153?l=miss-worm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miss-worm.blogspot.com/feeds/5315336452842396153/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=636522176026931424&amp;postID=5315336452842396153&amp;isPopup=true' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/5315336452842396153'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/636522176026931424/posts/default/5315336452842396153'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miss-worm.blogspot.com/2008/02/gadis-kecil.html' title='(Draft) Gadis Kecil'/><author><name>windry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13072319767836551821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R85FBcecQ6I/AAAAAAAAAXw/dACfoIQUsWA/S220/she_was_buried_alive__by_cryptorchid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R7-VayVtgdI/AAAAAAAAAW8/MkCbsJN0p_0/s72-c/thought_like_a_child_by_leggz.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-636522176026931424.post-8381665339868130475</id><published>2008-02-21T10:11:00.004+07:00</published><updated>2008-03-16T14:06:23.111+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of drafts'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='piece of words'/><title type='text'>(Draft) Penulis dan Sunyi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R7zunSVtgcI/AAAAAAAAAW0/y6ocfI83FVE/s1600-h/The_little_writer_by_Raccoon_with_a_cigar.jpg"&gt;&lt;img src="http://bp0.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R7zunSVtgcI/AAAAAAAAAW0/y6ocfI83FVE/s200/The_little_writer_by_Raccoon_with_a_cigar.jpg" style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp0.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R7zunSVtgcI/AAAAAAAAAW0/y6ocfI83FVE/s200/The_little_writer_by_Raccoon_with_a_cigar.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5169268831019696578" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya selalu sendiri, saat malam mengunyah waktu pelan-pelan, dan terjaga.  Suara tipis ketikan tuts komputer menemani saya, bersama dengkuran Si Hitam yang tidur di pangkuan. Selebihnya, sunyi. Sunyi yang membaca tulisan-tulisan saya, berdecak mengejek dan berkomentar pedas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tulisan apa itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menyebutnya cerpen, teman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;“Cerpen-mu buruk.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buruk?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menyedihkan. Penulis sekaliber dirimu menghasilkan cerpen seperti itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang salah dengan cerpenku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Banyak. Semua salah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang sunyi adalah teman yang menyenangkan. Dia menelan suara televisi, dering telpon, deru dan klakson mobil, derap langkah kaki, denting jam, dan menyumpal mulut semua orang. Membantu saya memuntahkan kata demi kata ke dalam layar komputer dengan lebih mudah. Tapi kadang sunyi bisa menjadi pengganggu yang menyebalkan. Bermulut nyinyir dan ketus. Mengungkapkan kebenaran yang menggusarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Penulis sekaliber dirimu tidak menulis hal sepele seperti yang sedang kamu lakukan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menulis tentan
