Wednesday, October 7, 2009

Metropolis in Khatulistiwa Literary Award 2009

[text in bahasa]

Khatulistiwa Literary Award kembali diselenggarakan. Setelah tahun lalu Orange menjadi finalis dalam kategori Penulis Muda Berbakat, kali ini, Metropolis masuk dalam longlist kategori Prosa.

detail lebih lanjut, silakan main ke sini.

Read More...

Monday, June 22, 2009

Koto dan Setumpuk Kartu Tahun Baru (ver 5.0)


Aku menggunakan garpu makan berujung tumpul.

Kurobek nadi di pergelangan tanganku, cepat dan tanpa pikir panjang. Darah memercik, merintik-rintik seperti hamburan butir-butir salju pada akhir Desember, membasahi baju tidur bercorak bunga matahari yang kukenakan, mengotori lantai tatami di bawah kakiku, dan berkubang di sana.

Garpu makan itu kukembalikan ke tempatnya semula, bersama nasi kare yang tidak kuhabiskan, piring bundar tanpa gambar, dan sendok pasangannya yang tergeletak di pojok kamar. Dari sudut yang sama aku menarik kursi ke samping jendela, lalu duduk di atasnya seraya menyandarkan wajah pada permukaan kaca yang sedingin es.

Ada setumpuk kartu tahun baru di pangkuanku, setiap lembarnya terlihat usang. Kuambil satu dan kubaca isinya dalam diam:

Selamat Tahun Baru!
Mari berlibur bersama lagi pada musim panas berikutnya.

Permukaan kartu itu bergambar kembang api dengan latar belakang langit malam yang biru, dilukis menggunakan cat air dengan detail yang rapi. Aku sangat menyukai kartu tahun baru itu. Seorang teman di sekolah yang mengirimkannya tapi aku lupa siapa. Nama pengirimnya sudah tertutup oleh bercak darah yang mengering dan berubah warna menjadi cokelat.

Kuletakkan kartu itu di bibir jendela membelakangi langit berkabut di luar ruangan, kemudian aku memeriksa kartu-kartu yang lain satu persatu. Beberapa yang kusukai kupisahkan dari tumpukan dan kupajang seperti kartu bergambar kembang api tadi. Kukumpulkan sisanya yang berserakan di pangkuanku dan di lantai, kusatukan, kuikat dengan sehelai pita putih, kemudian kusimpan kembali ke dalam kotak sepatu di bawah tempat tidur, di mana selalu kusembunyikan semua barang berharga milikku.

Kini aku duduk menghadap jendela, memandangi kartu-kartu kesukaanku seperti yang sudah-sudah, menunggu waktu yang melangkah tertatih.

Lambat sekali.

Ah.



Aku ingin mati saja.



“Apa kartu-kartu ini tidak salah kirim?”

Petugas pos itu berdiri di luar pagar kayu rumah kami, di sebelah sepeda tua miliknya; berseragam biru, bertopi, dan berjaket tebal. Pada saat saya bertanya tadi, dia hanya tersenyum dan membiarkan saya memeriksa sendiri tumpukan kartu tahun baru di tangan saya. Kartu-kartu itu ditujukan untuk adik saya, Koto, karenanya dahi saya berkerut. Sudah lama sekali sejak terakhir kali petugas pos mengantarkan kartu tahun baru untuk Koto, bertahun-tahun yang lalu, sebelum Koto berhenti sekolah dan mengurung diri di kamar.

“Bagaimana kabar Koto?”

Saya memerhatikan petugas pos itu dan baru menyadari ini kali pertama saya melihatnya. Dia bukan petugas yang biasa mengantarkan surat dari kantor pos, dia juga bukan salah satu warga yang tinggal di lingkungan kami, tetapi petugas itu bertanya seolah-olah dia mengenal dan mengetahui kondisi Koto.

“Kamu kenal Koto?”

Petugas pos itu mengangguk. Dia melepas topi yang dikenakannya. “Mungkin Koto tidak mengingat saya,” katanya, “tapi dulu kami berada di kelas yang sama,” kemudian dia menyebutkan namanya: Yuji.

Ada jeda yang cukup panjang setelah itu. Saya terbawa perasaan sentimentil yang tiba-tiba saja muncul, lalu hanyut dalam nostalgia pahit. Di sekeliling saya, salju pertama tahun ini turun memenuhi udara pagi.



Dingin.



Udara awal tahun membuatku menggigil pada saat matahari menghilang di balik deretan rumah bertingkat dua yang hampir seragam. Lampu-lampu di dalam rumah-rumah itu menyala satu persatu, begitu juga lampu-lampu yang berbaris di pinggir jalan. Orang-orang dewasa yang baru pulang bekerja melangkah dengan tergesa-gesa, anak-anak berlarian meninggalkan tempat bermain mereka, sementara aku memanyunkan mulut. Saat ini aku berjongkok di depan rumah, basah kuyub. Kakak belum pulang dan kunci yang biasa kubawa hilang bersama sebagian isi tasku.

Bukan salahku kunci itu hilang.



Apa yang harus kukatakan kepada kakak?



Koto berkata, “Aku terjatuh dan hampir hanyut di sungai belakang sekolah.”
Saya masih ingat, pada suatu sore di awal tahun, Koto pulang dengan tubuh basah kuyub. Seragamnya penuh lumpur dan dia kehilangan sebelah sepatunya. Dia juga kehilangan sebagian isi tasnya, beberapa buku dan alat tulis, serta satu set kunci rumah yang saya berikan kepadanya.

“Tidak bisakah kamu berhati-hati?”

Waktu itu saya memarahi Koto karena saya terpaksa harus membelikannya sepasang sepatu baru, padahal kami tidak punya banyak uang. Kedua orangtua kami sudah tidak ada, meninggalkan kami yang belum selesai sekolah dan rumah kecil yang cicilannya belum lunas. Koto kelihatan menyesal dan hampir menangis; matanya berkaca-kaca, hidungnya juga basah, dan dia tidak berkata apa-apa untuk membantah. Saya yakin betul, dia pasti jera.

Akan tetapi, selang beberapa hari kemudian dia kehilangan jam tangannya.

“Aku tidak tahu bagaimana bisa terjadi, tapi sepertinya seseorang menjambretku di kereta,” kata Koto.

“Kenapa kamu ceroboh sekali sih? Jam itu pemberian ayah kan?”

Koto tidak menjawab, sama seperti sebelumnya, tapi kali kedua itu dia menangis, sehingga omelan panjang yang sudah saya siapkan untuk anak itu terpaksa saya telan kembali.

Seolah berpola, kejadian serupa terus berulang setelah itu. Pernah satu kali Koto kehilangan buku sketsanya. Dia bilang anjing penjaga sekolah merebut dan membawa pergi buku itu. Dia mencoba mengejar anjing itu tapi buku sketsanya tidak bisa diselamatkan. Lain waktu dia kehilangan seragam olahraganya dan berdalih pakaian itu diterbangkan angin saat sedang dijemur di atap sekolah. Dia mengaku sudah mencari ke mana-mana tapi setelan kaos dan celana itu tidak ditemukan juga. Barang yang paling sering Koto hilangkan adalah kotak bekalnya. Alasan yang dia kemukakan bermacam-macam: kotak itu tertinggal di kelas, terbawa oleh teman saat mereka saling bertukar bekal, atau dia berikan kepada anak penjaga sekolah karena kasihan. Bahkan dia pernah bersikeras sudah membawa pulang peralatan makannya, padahal belum, dan malah mengatai saya pikun. “Kalau tidak percaya, ya sudah! Cuma kotak begitu saja, aku bisa ganti dengan uang jajanku,” begitu racaunya.

Kebiasaan baru Koto menghilangkan barang lama-kelamaan membuat saya kesal. Saya tahu Koto mengada-ada seperti remaja-remaja seusianya yang suka memberontak dan mencari perhatian dengan berbagai macam cara, termasuk saat dia meminta uang sakunya dinaikkan dua kali lipat.

“Apakah uang sakumu selama ini tidak cukup?”

“Banyak yang harus kubeli.”

“Apa yang harus kamu beli?”

Koto tidak langsung menjawab. Dia tampak berpikir sejenak sambil menghindari tatapan mata saya, kemudian berkata dengan ragu-ragu, “Banyak sekali. Tidak bisa kusebutkan satu-satu. Pokoknya semua itu kebutuhan sekolah.”

Lagi-lagi dia mengada-ada. Semua kebutuhan sekolahnya sudah saya siapkan: seragam, buku teks, alat tulis, les tambahan, studi wisata; semua. Karena itu, tidak saya berikan apa yang dia minta dan ekspresi yang muncul pada wajah Koto kemudian bukanlah kesal, kecewa, atau ekspresi remaja yang gagal mendapat uang tambahan untuk –misalnya– membeli aksesoris rambut yang sedang tren.

Koto terlihat bingung dan takut.

Ada yang mengganjal di hati saya kala saya melihat ekspresi Koto tersebut dan rupanya itu bukan firasat belaka. Beberapa hari kemudian pihak sekolah menghubungi saya, memberitahu bahwa Koto belum menyerahkan uang iuran studi wisata yang sesungguhnya sudah saya berikan kepadanya sejak lama. Malamnya kami bertengkar hebat karena masalah ini. Saya marah besar, sementara Koto menangis meraung-raung dan tidak mau memberitahu untuk apa uang tersebut dia pergunakan.

Dia menjadi malas-malasan ke sekolah setelah kejadian itu. Awalnya dia berpura-pura sakit. Dalam seminggu, dia tidak masuk sekolah tiga sampai empat kali banyaknya. Senin dia bilang kepalanya pusing, mungkin dia anemia. Rabu dia sakit perut karena malam sebelumnya –akunya– dia salah makan. Kamis dia dehidrasi lantaran Rabu dia bolak-balik buang air. Dan begitu seterusnya selama beberapa minggu sampai kesabaran saya habis.

Saya paksa Koto kembali pergi ke sekolah. Di luar dugaan, dia menolak dengan keras. Dia kembali meraung-raung. “Aku tidak mau sekolah! Aku tidak mau sekolah!” teriaknya, tetapi tidak saya gubris dan, setelah saya ancam dengan sedikit bentakan, keesokan paginya Koto berangkat sekolah. Langkahnya berat saat meninggalkan rumah. Matanya menatap saya dengan sorot penuh kemarahan seolah-olah saya sudah melakukan kejahatan besar terhadap dirinya.



Aku benci kakak!



Aku capai menangis sampai air mataku kering dan suaraku habis, tetapi kakak tidak mengerti juga. Sudah kukatakan aku tidak ingin pergi ke sekolah, tetapi dia malah membentakku. Hari ini dia membuang selimutku dan menyeretku ke kamar mandi. Aku sempat meronta tapi badanku lebih kecil dari badan kakak. Sudah pasti aku kalah tenaga dan gara-gara itu kakiku terantuk daun pintu, betisku lebam dan nyeri.
Tidak kusentuh sarapanku sebagai balasannya. Bekal makan siangku juga kubiarkan tertinggal di rumah. Biar saja nasi kepal itu basi! Aku tidak mau makan apapun yang dibuat oleh kakak. Kupelototi dia saat aku berangkat tadi dan aku tidak menyesali sikapku. Untuk apa menyesal? Aku mengalami kesialan yang sama di sekolah hari ini seperti hari-hari sebelumnya.

Kali ini gara-gara kakak!



Dia tidak mengerti!



Sikap Koto semakin sulit untuk saya pahami. Dia berubah susah diatur. Adik saya itu sepenuh hati melakoni perannya sebagai remaja-remaja seusianya yang suka memberontak dan mencari perhatian, seolah-olah dia sedang melancarkan serangan balasan kepada saya. Atas dasar apa dia melakukan itu, saya tidak tahu.

Saya sibuk bertanya-tanya sendiri sampai pada satu saat saya teringat bahwa Koto memiliki buku harian. Sejak lancar menulis hiragana, dia rajin membuat jurnal. Saya mencari buku harian tersebut –atau tulisan-tulisan lain yang serupa– secara diam-diam. Buku itu saya temukan di dalam kotak sepatu miliknya yang dia sembunyikan di bawah tempat tidur.

Di salah satu halaman dia menulis: Kenapa senpai-senpai melakukan semua ini?

Saya membaca halaman-halaman selanjutnya. Koto menulis: Bagaimana agar mereka berhenti menggangguku? Saya membaca ini juga: Mungkin aku harus pura-pura sakit agar tidak perlu datang ke sekolah. Mungkin aku harus berhenti sekolah. Aku benci senpai-senpai. Pada halaman berikutnya dia menulis: Aku benci kakak. Dia tidak mengerti.
Dan yang terakhir Koto tulis adalah:



Aku ingin mati saja.



Kami duduk di beranda, saya dan Yuji, ditemani satu kotak kue mochi dan dua cangkir ocha hangat di hadapan kami. Wajah Yuji tertunduk. Petugas pos itu menatap kepulan uap panas dari cangkir miliknya. Ekspresinya sendu.

Dia berkata, “Di sekolah, tidak perlu melakukan kesalahan untuk dikurung di dalam WC. Tidak perlu punya alasan untuk menenggelamkan temanmu di sungai. Itu yang terjadi.”

“Para guru?”

“Guru tahu tapi diam saja,” Yuji berhenti sebentar, kemudian menambahkan, “Saya juga diam.” Kalimat terakhir itu diucapkannya dengan suara pelan yang menyiratkan penyesalan.

Saya menanggapi Yuji hanya dengan seulas senyum pahit. Saya tidak ingin menyalahkannya. Siapa pun bisa menjadi penakut saat berhadapan dengan senpai-senpai mereka di sekolah. Mau bagaimana lagi? Mereka bisa bernasib sama jika berani mencoba menjadi pahlawan.

“Saya membaca di internet tentang siswi bernama Komori,” kata Yuji lagi setelah hening yang cukup lama.

Kasumi Komori. Saya juga membaca kisahnya. Dulu sekali. Di banyak surat kabar. Apa yang dialami olehnya mirip dengan apa yang dialami oleh Koto.

Saya jadi kembali teringat, pada hari yang sama dengan hari saat saya mencuri baca buku harian Koto, adik saya itu membawa pulang luka-luka di lutut, siku, dan keningnya. Saya segera menghambur memeluknya begitu dia memasuki rumah, masih sambil memegang buku harian tersebut. Saya tidak tahu apakah luka-luka itu adalah akibat Koto dikerjai teman-temannya di sekolah atau hasil usahanya bunuh diri seperti yang saya takutkan. Yang jelas, pada hari berikutnya, saya tidak berani memaksa Koto berangkat ke sekolah.

“Itu kamar Koto.”

Saya menunjuk sebuah pintu berwarna pastel di ujung selasar rumah kami, memberitahu Yuji. “Dua tahun Koto mengurung diri di dalam sana, duduk di tepi jendela sepanjang waktu, sambil membaca tumpukan kartu pos lama,” kata saya.

Lambat laun Koto berubah seolah dirinya mengalami gangguan psikologis.

Itu tidak saya katakan.

“Saya takut apa yang menimpa Komori akan menimpa Koto juga, karenanya saya dan teman-teman di sekolah mengumpulkan kartu tahun baru. Kami berharap kartu-kartu itu bisa menyemangati Koto agar kembali ke sekolah.” Yuji memberi penjelasan.

Saya kembali tersenyum. Kartu-kartu yang dimaksud oleh Yuji masih berada di tangan saya. Saya lepaskan pita yang mengikatnya. Saya baca kartu-kartu itu satu persatu. Pesan-pesan yang tertulis di permukaannya menghangatkan dada dan senyuman di bibir saya mengembang karena itu.

Kamar Koto sudah lama kosong.

Itu juga tidak saya katakan.

Saya mengucapkan terima kasih kepada Yuji dan berkata akan meletakkan kartu-kartu itu di depan pintu kamar Koto agar pada saat dia keluar dari ruangan itu, untuk pergi ke ruang makan atau ke kamar mandi, dia akan menemukan dan membacanya. Saya juga berkata kepada Yuji, Koto pasti akan segera kembali ke sekolah, lalu kami menghabiskan ocha dalam cangkir kami masing-masing dan salju turun semakin lebat.

Read More...

Sakura (ver 2.0)


‘Ne ... Rayyi, apakah kau masih mengingatku?’


Surat Chizuru tiba pada awal April, bersama serpihan-serpihan kenangan yang hingga saat ini masih kusimpan rapi dalam ruang khusus di benakku. Aku membaca surat itu sambil berimpitan dalam bus yang mengantarku bermagang setiap hari, yang pada hari itu kutinggalkan sebelum mencapai tujuannya demi bertolak ke Tokyo dengan seluruh tabungan yang aku punya.

Kini aku berdiri di tengah lobi Narita; termangu menatap keramaian dan kemewahan negeri pemakan ikan mentah, tanah kelahiran Chizuru; berbekal sebuah ransel berisi beberapa pakaian, kamera Nikon F5 kesayanganku, dan surat yang hampir tidak pernah kulepaskan sejak pertama kuterima. Ratusan orang berkulit kuning yang berlalu-lalang dalam ruang gigantik bandara membuatku menelan ludah karena merasa terasing. Pintu keluar yang transparan berada di balik maha arus itu, berkilauan karena membiaskan cahaya yang menyerbu dari luar bangunan, membangkitkan emosi lembut dari dasar hatiku.



‘O genki desu ka? Kau pasti terkejut menerima surat ini. Sudah lama sekali, ya, sejak kita berpisah.’


Aku disambut oleh udara pagi Tokyo yang dingin begitu mencapai teras luar bandara. Di sebelah timur matahari baru setengah muncul, masih menyisakan semburat-semburat Jingga di langit kota yang biru muda. Sebuah taksi berhenti di hadapanku dan aku mengulurkan tangan untuk membuka pintu.

“Ohaiyo! ”

Laki-laki Jepang berusia lanjut menyapaku dengan sopan dari balik kemudi. Kedua mata laki-laki itu nyaris terpejam saat dia memberiku seulas senyum.

Aku membalas sapaannya seraya memasuki kendaraan, kemudian memberitahu tempat tujuanku dengan bahasa Jepangku yang seadanya. “Taito-ku, onegaishimasu .” Taksi tersebut melaju segera setelah itu, menyusuri jalan Tokyo yang bersih dan lapang, melewati bangunan-bangunan bernuansa kelabu satu persatu.


‘Dua tahun berlalu. Apa yang sedang kau lakukan saat ini? Apa kau masih memotret? Pasti masih kan? Atau mungkin sekarang impianmu sudah terwujud?’


Di sepanjang jalan menuju Taito-ku, pikiranku sibuk mengingat ulang setiap kenangan yang pernah kulalui bersama Chizuru. Kami bertemu di sebuah pameran foto di Jakarta. Chizuru adalah salah satu fotografer profesional yang sejumlah karyanya diikutsertakan dalam pameran tersebut, sementara aku cuma mahasiswa fotografi yang baru belajar menggunakan F5.

Aku masih ingat foto-foto milik Chizuru. Foto-foto sakura.


‘Rayyi, bukankah dulu kau berkata ingin melihat Sakura? Tidak lama lagi April tiba. Sakura bermekaran pada bulan itu. Bagaimana kalau sekali-kali kau mengunjungiku dan kita bisa menghabiskan waktu berdua seperti dulu?’


Waktu yang kuhabiskan bersama Chizuru dulu tidaklah panjang, tetapi tidak satu detik pun kami sia-siakan. Hampir seluruhnya kami isi dengan berburu foto, bepergian dari satu tempat ke tempat lain untuk mencari gambar terbaik yang bisa kami temukan, atau berkutat berjam-jam dengan cairan developer di kamar gelap.

Bagiku, Chizuru adalah seorang guru, sahabat, dan juga kekasih yang sangat kucintai.

“Mengunjungi kenalan di Taito-ku?” pengemudi taksi di depanku tiba-tiba bertanya, membuyarkan lamunanku.

Aku mengangguk. “Ya,” jawabku. Bibirku mengulas senyum tipis. “Teman lama.”

Taksi yang kutumpangi berhenti beberapa waktu kemudian di depan salah satu perumahan di daerah Taito-ku. Aku turun dan menatap sebuah jalan di hadapanku yang tidak terlalu lebar, semacam gang, yang diapit dua baris rumah Jepang semi tradisional ukuran kecil bertingkat dua. Kebanyakan dari lantai bawah rumah-rumah tersebut digunakan untuk berjualan oleh pemilik-pemiliknya dan dihiasi berbagai spanduk bertulisan kanji dari bahan kain atau kayu tipis.

Aku mengeluarkan surat kiriman Chizuru dari saku jaketku. Kucari alamat yang tertera di permukaan bagian belakang amplop.



‘Sekalian nanti kau bisa berkenalan dengan kedua orangtuaku. Kau pernah bertanya seperti apa mereka. Ibuku adalah perempuan sederhana yang menghabiskan hampir seluruh waktunya untuk menjaga toko keluarga, duduk berjam-jam menunggu pembeli tanpa mengeluh, sambil mengenakan celemek dan tutup kepala.’


Seorang perempuan setengah baya yang persis seperti gambaran Chizuru dalam suratnya–perempuan sederhana yang mengenakan blus biru gelap bercorak bunga kecil, penutup kepala, dan celemek putih–terlihat di salah satu toko, di alamat yang kudatangi. Perempuan itu bertubuh pendek dan agak gemuk. Rambutnya dikuncir kuda dan garis wajahnya mirip dengan milik Chizuru.

“Sumimasen ,” sapaku kepada perempuan itu. “Apakah ini rumah Enomoto-san?”

“Hai, desu yo ,” perempuan itu menjawab.

Bibirku segera mengulas senyum lebar. “Saya Rayyi, teman Chizuru dari Jakarta,” aku memperkenalkan diri sambil membungkukkan badanku.

“Ah!” Perempuan itu berseru sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Sepasang mata kecilnya terbelalak menatapku. “Honto ni Rayyi-kun ka?”

Aku mengangguk, mengiyakan pertanyaan itu, dan rona wajah perempuan itu–yang kini kuyakini sebagai Nyonya Enomoto–berubah merah.

“Cho... chotto! ” Dia berlari masuk ke rumah. Lamat-lamat suara seraknya terdengar olehku dari arah luar, memanggil sang suami dengan gaduh, “A... anata! Anata !”


‘Dan ayahku? Ayahku hanya seorang pegawai negeri biasa yang tidak lama lagi pensiun.’


Tidak lama berselang, Nyonya Enomoto kembali. Suami perempuan itu, laki-laki seusianya yang bertubuh gempal dan berkepala pitak menyusul di belakang. Walau ini adalah pertemuan pertamaku dengan mereka, keduanya menyambutku dengan ramah–mereka menyalamiku serta memelukku–dan tiba-tiba saja dadaku merasa hangat sekaligus penuh kerinduan.


‘Ne... Rayyi, tahukah kau apa arti sakura?’


Tuan Enomoto menuangkan segelas sake ke dalam gelas kecil di hadapanku, sementara istrinya menyuguhkan sepiring kue mochi yang dibungkus daun sakura. Kami bertiga duduk di atas tatami, mengelilingi sebuah meja pendek persegi empat yang terbuat dari kayu dan saling berbagi keramahan yang terbentuk begitu mudah, semudah Chizuru pergi meninggalkanku.

“Maaf. Kami belum sempat berterima kasih atas apa yang kau lakukan untuk Chizuru di Jakarta,” kata Tuan Enomoto.

Aku tersenyum, kemudian menggelengkan kepala. “Justru saya yang harus minta maaf karena terlambat memberi kabar.”

“Sama sekali tidak terlambat,” Nyonya Enomoto ganti angkat bicara, “Kalau bukan karena Rayyi-kun, kami tidak bisa menemani Chizuru pada saat-saat terakhirnya.”
Ucapan Nyonya Enomoto itu membuatku terdiam. Chizuru sakit. Karena itu dia harus kembali ke Jepang setelah baru beberapa bulan tinggal di Jakarta. Akulah yang kala itu menghubungi keluarga Chizuru dan menyiapkan segala keperluannya untuk kembali.


‘Sakura mengekspresikan ikatan antarmanusia. Seperti ikatan keluarga atau ikatan persahabatan, atau seperti ikatan yang muncul di antara kita, juga seperti ikatan yang kau dan orangtuaku ciptakan tanpa sengaja.’


“Apakah surat Chizuru membuatmu terkejut?” Suara Nyonya Enomoto berubah pelan dan penuh kehati-hatian kala mengungkapkan pertanyaan itu.

Aku tidak menjawab, hanya mengangguk sambil tersenyum. Surat yang membawaku ke Tokyo tiba dua tahun setelah kepulangan Chizuru, satu tahun setelah dia meninggal. Tuan Enomoto ikut mengulas senyum, bukan senyum sedih seperti yang kuperlihatkan, melainkan senyum lembut, seolah-olah dia sedang mengenang masa lalu yang indah.

“Chizuru menulis surat itu pada hari-hari terakhirnya. ‘Hadiah perpisahan untuk Rayyi-kun,’ katanya,” jelas laki-laki tua itu seraya melepaskan tawa renyah yang senada dengan senyum yang tadi dia perlihatkan. “Tapi, entah kenapa dia meminta kami menunggu satu tahun untuk mengirimkan surat itu kepadamu.”

Lagi-lagi aku tidak menjawab. Hanya senyumku saja yang kurasakan sendiri mengembang dan kusadari diriku semakin terhanyut dalam kerinduan.


‘Pergilah melihat sakura, Rayyi. Bawalah sebotol sake dan sekotak mochi. Bawa serta juga semua kenangan yang selama ini masih kau simpan.’


Kuterima ajakan Tuan dan Nyonya Enomoto untuk mengunjungi Taman Ueno di dekat perumahan mereka, sebuah taman umum yang luasnya melebihi perumahan itu sendiri. Membawa sebotol sake dan sekotak kue mochi buatan sendiri, kami menggelar kain di salah satu sudut taman, di bawah pohon sakura yang sedang berbunga lebat dan mengisi udara di sekeliling kami dengan kelopak-kelopak putihnya.


‘Pohon sakura berbunga setahun sekali. Kuncupnya mulai terlihat sejak awal tahun tapi baru akan mekar pada awal April. Dia tidak punya waktu cukup lama saat mekar. Keindahannya hanya sebentar tapi karena itulah sakura begitu berharga.’


Aku menyapu pemandangan di sekelilingku. Entah ada berapa banyak orang yang berkumpul di Taman Ueno ini. Ada keluarga yang berkumpul bersama pada sedikit waktu luang mereka, kelompok sahabat yang sedang menguntai kenangan pada masa muda, pasangan kekasih yang masih saling memiliki, dan orang yang menghibur diri dalam kesendirian; masing-masing tertangkap menarik oleh mataku dan aku tergerak untuk mengeluarkan kamera.

Aku berdiri. Nikon F5 milikku siap di genggaman. Kubuka penutup lensa kamera tersebut, lalu aku mulai memotret.


‘Ne... Rayyi, apakah kau melihat apa yang kulihat melalui lensa kameraku?’


Satu frame. Dua frame. Tiga frame. Setelah itu pandanganku mulai kabur. Mataku basah kala air mata keluar mewakili perasaanku.


‘Sakura adalah ciri kehidupan yang tidak abadi.’


Aku tidak sanggup lagi mengambil gambar. Kedua kakiku terpaku di tempatku berdiri. Kudapati kemudian diriku menangis sesunggukkan, sementara kelopak-kelopak sakura yang berjatuhan di sekitarku mengerubungi kepala dan pundakku.


‘Karena itu, Rayyi, kenangan yang kau bawa serta bersama sebotol sake dan sekotak mochi tadi sudah saatnya kau lepaskan. Perlu waktu memang. Karena itu aku kirimkan surat ini setelah beberapa lama.

Kemudian, kalau tangisanmu sudah berubah kembali menjadi senyuman, datanglah lagi mengunjungiku dan kita bisa melihat sakura bersama.’



catatan penulis: cerpen asli ditulis pada 2007, menggunakan sudut pandang orang ketiga.

Read More...

Friday, June 5, 2009

Perkosakata 2009 Book Club

“…kau mencariku bukan untuk sindikat 12… kau melakukan ini untuk dirimu sendiri. Karena, aku membunuh ayahmu. Karena, kau adalah seorang Saada.” (Metropolis, hal.126)

Kamu peserta lomba Ulas Buku Perkosakata 2009? Penasaran siapa yang menang?
Atau kamu sudah selesai membaca “Metropolis” dan “Perasaan-perasaan yang Menyusun Sendiri Petualangannya”, tapi ada hal yang masih menjadi pertanyaan?

Temukan jawabannya di acara ini!

Hadiri acara Bedah Buku “Metropolis” (Windry Ramadhina) dan “Perasaan-perasaan yang Menyusun Sendiri Petualangannya” (Gunawan Maryanto) yang bertempat di:

MP Book Point
Jl. Puri Mutiara Raya 72, Jeruk Purut, Jakarta Selatan
Minggu, 7 Juni 2009
Mulai pukul 09.00 WIB

Bersama:
Sapardi Djoko Damono
Yusi A. Pareanom

Acara ini GRATIS dan TERBUKA UNTUK UMUM.

Sampai berjumpa di sana!

“di tempat ini kau tak perlu jam tangan
hanya ingatan. sedikit ingatan”
("Jarak", hal.15 – Perasaan-perasaan yang Menyusun Sendiri Petualangannya)

Read More...

Sunday, May 3, 2009

Invitation


click and enlarge the picture to see the invitation

Read More...

Monday, April 27, 2009

Metropolis in Perkosakata 2009 Book Review Competition

[text in bahasa]

Suka mengkritik buku yang kamu baca? Ayo tuangkan penilaianmu atas novel terbaru Windry Ramadhina, Metropolis, dalam bentuk resensi! Bekerja sama dengan Grasindo, Perkosakata 2009 mengadakan lomba ulas buku. Kesempatan ini terbuka luas dan dapat diikuti oleh siapa saja.

Ketentuan Umum:
1.Resensi harus karya asli, bukan bukan saduran atau jiplakan.
2.Resensi ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik.
3.Panjang resensi minimal 500 kata.
4.Resensi mencantumkan keterangan umum maupun khusus tentang buku bersangkutan yang kamu ketahui dari sumber mana pun (yang wajib disebutkan demi kredibilitas) dan kamu anggap penting.
Di samping itu kamu diharapkan mampu mengungkapkan pemahaman pribadi kamu, apa yang kamu dapatkan dari hasil membaca, yang dianggap tepat untuk mendeskripsikan inti buku tersebut.
Kamu boleh berkomentar mengenai nilai-nilai positif dan negatif yang dimiliki buku tersebut sebagai sebuah karya tulis berdasarkan standar pribadi yang tidak bertentangan dengan kaidah berbahasa Indonesia yang baik.

Ketentuan Khusus:
1Kamu harus punya blog.
2.Resensi harus memuat gambar sampul buku dan banner Perkosakata 2009 yang dapat kamu peroleh dari blog Perkosakata 2009.
3.Resensi diunggah di blog, lalu ditautkan dengan blog Perkosakata 2009.
4.Begitu resensi dipublikasikan, kamu harus mendaftarkan diri dengan cara mengirim e-mail ke Perkosakata (perkosakata@gmail.com) dengan judul “Lomba Ulas Buku” dengan format sebagai berikut:
•Nama lengkap:
•Alamat surat menyurat:
•Nomor telepon:
•URL resensi di blog kamu:
•Resensi dilampirkan dalam bentuk data Microsoft Word.
5.Batas akhir pengunggahan adalah 31 Mei 2009 pukul 23:59 WIB.

Hadiah:
Resensi terbaik akan mendapatkan hadiah paket buku dari Grasindo serta souvenir Kemudian.com

Juri:
Mira Rainayati (Grasindo)

Lain-lain:
1.Resensi-resensi Unggulan akan diumumkan melalui blog Perkosakata 2009, kemudian.com, dan e-mail pada 3 Juni 2009.
2.Resensi terbaik akan diumumkan dalam acara Bedah Buku Perkosakata 2009 yang diselenggarakan pada 7 Juni 2009 di Jakarta.
3.Hasil penjurian tidak dapat diganggu gugat.
4.Lomba ini tertutup bagi panitia Perkosakata 2009.

Read More...

Tuesday, April 21, 2009

(News) Metropolis is Now Available at Online Bookstore

click one of the links below to grab my second novel from

Buka Buku
Ini Buku
Perkosakata 2009

Read More...

Monday, April 6, 2009

(Issue) Metropolis is Coming Out Soon

release date:
April 27, 2009
click here for further information

Read More...

Monday, March 30, 2009

(Review) Cerpen Satu Ketika

[text ini bahasa]

Resensi untuk Kurasa, Tidak Ada Cinta yang Lebih Besar dari Milikku
oleh Lisa Febriyanti
dari Perkosakata 2009

Saya menyebutnya cerpen satu ketika. Ini karena penulis merangkai kisah yang terjadi pada satu momen yang pendek, bukan rentetan peristiwa panjang dengan awal dan akhir. Cerpen jenis ini kadang tak berawal, kadang membiarkan akhir lewat begitu saja tak terduga. Ia hanya punya momentum yang ingin dibagi kepada pembacanya. Sepanjang pengetahuan saya, Dewi ”Dee” Lestari piawai bermain dengan cerpen jenis ini.

Selain plot yang meliuk namun kokoh, kekuatan cerpen berdurasi pendek ini terletak pada settingnya. Deskripsi yang mengalir tentang kondisi saat itu, kelebatan yang menguar dari kepala si tokoh serta renik-renik lainnya yang melatari momentum, menjadi kekuatan agar pembaca terpaku dan tak cepat berpindah ke karya lainnya. Kekuatan visualisasi lewat kata harus mampu mencengkeram pikiran pembaca. Gaya bercerita monolog memang sangat pas untuk cerpen jenis ini.

Saya mulai melihat kekuatan itu di cerpen berjudul Kurasa, Tidak Ada Cinta yang Lebih Besar dari Milikku. Ide ceritanya sederhana, berlandaskan kekuatan cinta yang sangat posesif. Sang tokoh adalah laki-laki yang dengan cintanya, memberikan kehidupan baru bagi seorang gadis kecil. Di tangannya, gadis itu disulap menjadi perempuan berkilap bintang. Di tangannya, perempuan itu menjadi seorang selebritis (biduanita, demikian penulis menyebutnya). Lelaki itu, dengan rasanya mengantar pembaca pada batas tipis benci dan cinta, hingga terpikir berbagai opsi untuk membunuh sang perempuan. Penulis kelihatannya sengaja membiarkan tokohnya anonim, demi memusatkan perhatian pembaca pada kisah, bukan pada nama.

Sederhana, dan banyak menjadi latar belakang kisah yang lain, namun cara bertutur penulis membuat karya ini menjadi renyah dan memiliki kesan mendalam. Salah satu hal yang membuat narasi menjadi kuat adalah keberanian penulis menggunakan perbandingan-perbandingan peristiwa, seperti di bawah ini:

”Jika kau tidak bunuh diri di kamar mandi hotel murahan, maka akan kusewa pembunuh bayaran untuk menembak mati dirimu. Seperti kematian John Lennon, kematianmu akan kureka sempurna. Akan kusiapkan konser besar untukmu di Sarbini atau Senayan. Disiarkan langsung oleh stasiun-stasiun televisi dan dihadiri ribuan penggemarmu. Di puncak acara, kau akan menyanyikan lagu hit-mu yang terkenal dan saat itu lah penembakan itu terjadi.”

Beberapa kali penulis menggunakan metode perbandingan dalam karya ini. Menurut saya, ini dibutuhkan cukup keberanian dan kejelian, karena harus mencari dan memilih perbandingan yang sejenis untuk menguatkan peristiwa. Perbandingan yang kurang tepat bisa menjerumuskan pembaca pada gambaran yang berbeda.

Di akhir cerita, penulis berhasil menghenyak pembaca dengan penutup yang tak terduga. Dengan deskripsi yang penuh atas keinginan sang tokoh lelaki untuk menghabisi nyawa sang perempuan, namun ternyata dengan senyum dan racunnya, justru sang perempuan yang berhasil membunuh sang tokoh laki-laki. Bum! Begitu saja, tanpa diduga. Manis sekali menggiring pembaca terpusat pada sang lelaki, tetapi lakon utama justru muncul di akhir, sang perempuan.

Menurut saya, karya ini akan makin kental mengeram di benak pembaca apabila setting tempat dan gambaran tokoh digambarkan dengan lebih detail. Demi untuk mengiring pembaca memiliki imaji niat pembunuhan dalam kepala laki-laki. Meski satu ketika, namun pembaca harus tetap didudukkan, seakan ada dan melihat kisah yang dituturkan.

Saya pribadi menyukai cerpen jenis satu ketika ini. Ringan dan tak perlu berpanjang-panjang dalam peristiwa. Kekuatan narasi dan permainan kata-kata menjadi penyedot utama saat menikmati cerpen jenis ini.

=======================================

Lisa Febriyanti, lebih suka disebut road warrior. Mengukir jalanan sebagai penulis independen dan Communication Specialist & Brand Activation di Otak Indonesia, sebuah lembaga yang disemai bersama rekan-rekannya. Kilas katanya bisa dilihat di http://ladangkata.com

Read More...

Monday, March 16, 2009

(Review) Resensi 'Gadis Kecil'

[text ini bahasa]

Resensi untuk Gadis Kecil
oleh Calvin Michel Sidjaja
dari Perkosakata 2009

Tema cerita ini adalah realitas sosial yang ada di sekitar kita. Fenomena anak-anak jalanan yang dieksploitasi oleh orang tua mereka untuk mendapatkan simpati dari orang lain bukanlah hal baru, cerpen ini mengetuk lagi pembaca tentang mereka.

Alur cerita mengalir lancar dengan dialog yang singkat dan tidak ribet, seperti sebuah refleksi. Suasana cerita juga terbangun dengan rapi karena penggunaan kalimat-kalimat yang membantu penciptaan ruang visual di kepala seperti yang diperlihatkan pada kalimat ini: “Dia duduk sendiri di sudut bis tua. Tidak memakai alas kaki. Pakaiannya hijau tosca yang sudah kusam dan penuh noda tanah. Kulitnya menghitam, mungkin karena terbakar matahari atau justru karena daki. Kuku-kuku jarinya panjang dan kotor, tidak terawat, seperti rambut ikalnya yang memerah.”

Karakterisasi pemeran utama juga diperlihatkan dengan baik, antara sebuah ironi atau sebuah refleksi. Sang pemeran utama diperlihatkan akhirnya cuma bisa berpikir “andaikan”, sama sekali tidak bisa menolong secara riil. Penulis memperlihatkan rasa kasihan dan rasa simpati hanya berakhir sebagai perasaan, bukan tindakan. Realitanya, tidak sedikit orang merasa jijik atau merasa bersyukur mereka tidak hidup melarat seperti itu, sehingga perasaan kasihan hanya berakhir sebagai janji muluk-muluk. Sama saja jika melihat orang melihat orang lain terkena kecelakaan, kata-kata pertama adalah “kasihan ya”, bukannya dibantu.

Pada akhir cerita, penulis sudah berhasil menyampaikan pendapatnya pada kita. Konsistensi cerita berjalan dengan baik, tidak melenceng dari awal, di mana pemeran utama diperlihatkan hanya berakhir dengan mengasihani si anak kecil yang sama-sama anonim dengan dirinya. Ini kejadian yang terjadi setiap hari, karena banyaknya jumlah orang miskin yang kita temui tiap hari, kita tidak perduli mereka bernama siapa, mereka suka apa, mereka mau jadi apa. Ini adalah cerita sebuah kumpulan orang yang tidak lebih dari statistik: cerita tentang seorang anonim dan bertemu dengan anonim lain, hari ini terlupakan, lalu besok lupa.

Dialog berjalan dengan lancar, tidak kaku, hal ini membuat cerita enak dibaca. Walau dalam percakapan sering kali tidak ada keterangan subyek adalah siapa, penulis telah membuat karakter-karakter dalam cerpen ini memiliki kepribadian walau tidak memiliki nama panggilan. Pembaca bisa membedakan subyek walau tidak disertai keterangan.

Secara keseluruhan, penulis memiliki potensi yang sangat baik untuk membuat cerita yang lebih panjang lagi dan tidak terbatas pada cerpen. Gaya penulisan yang mengalir lancar dan cukup visualistik tidak dimiliki semua orang, sehingga akan sangat baik kalau penulis mengembangkan teknik penulisannya jauh lebih lagi.

***

Calvin Michel Sidjaja lahir di Makassar, 3 Maret 1986. Alumnus jurusan Hubungan Internasional Fakultas ilmu Sosial Politik Universitas Katolik Parahyangan, Bandung.

Pada tahun 2006, novelnya yang berjudul Jukstaposisi menjadi juara tiga Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta, yang kemudian diterbitkan oleh Gagas Media tahun 2007, dan menjadi finalis dalam Khatulistiwa Literary Awards 2008 untuk kategori penulis muda berbakat. Selain novel, dia juga menulis cerpen yang bisa dibaca di blog pribadinya.

Read More...

Friday, March 6, 2009

(Issue) Official Site of Metropolis The Novel


Click here to visit the site. It contains all about my up coming novel: Metropolis.

Read More...

Monday, January 19, 2009

(Excerpt) Metropolis

First Chapter

Kematian Leo Saada

Hari ini Leo Saada dikembalikan ke bumi. Jasadnya yang digosongkan api disembunyikan di dalam peti kayu, lalu diarak dari sebuah gereja kecil di daerah pinggiran Jakarta ke permakaman pribadi milik keluarga Saada. Pemakaman Leo dipimpin oleh seorang pastor tua yang pantas dikuburkan lebih dahulu. Seluruh keluarganya yang tamak menyaksikan, begitu pula teman-teman terdekatnya yang gemar berutang, relasi-relasi bisnis, dan anggota geng yang Leo pimpin sebelum mati.

Di sekitar lokasi pemakaman berjaga sejumlah polisi. Mobil-mobil mereka berbaris di pinggir tanah luas yang dipagari kamboja kuning dan tersaput rumput hijau yang terpangkas rapi. Bram yang memimpin polisi-polisi tersebut. Ia berdiri bersandar pada mobil dinasnya. Matanya memerhatikan kumpulan orang berpakaian serba hitam yang sedang berdoa di tengah permakaman. Di antara kumpulan itu ia mengenali Ferry, anak tunggal Leo. Ferry berdiri paling dekat dengan peti mati ayahnya dan laki-laki muda berdarah Sulawesi itu tampak sangat terpukul.

“Aku tidak pernah melihat pemakaman. Ini yang pertama.”

Suara lirih Erik terdengar tiba-tiba, membuat perhatian Bram teralih. Polisi wanita yang memiliki nama maskulin berkat keeksentrikan orang tuanya itu berdiri di sebelahnya sambil menunjukkan raut sedih dengan cara feminin, sementara mata perempuan itu menatap pemandangan yang sama dengan yang ia lihat barusan. Bram tidak heran jika apa yang dikatakan oleh Erik itu benar. Erik terhitung baru di kesatuan mereka dan sebelum ini dia lebih banyak mengerjakan tugas administratif.

“Kalau begitu, kau beruntung,” Bram memberi tanggapan seraya mengeluarkan sebungkus sahabat dari saku, “karena ini bukan pemakaman biasa. Ini pemakaman Leo Saada, penguasa wilayah 10.”

Ia menyulut satu batang rokok. Orang-orang di tengah permakaman masih sibuk berpura-pura khusyuk dengan wajah tertunduk dan tangan menghapus air mata buatan. Mereka bisa menipu Ferry dengan cara seperti itu. Terkadang Ferry bisa menjadi sangat naif. Tapi, Bram seorang polisi. Ia dilatih untuk selalu berprasangka buruk, termasuk mencurigai alasan orang-orang tersebut menghadiri pemakaman Leo, dan ia sangat terlatih.

Saat ditemukan meninggal, usia Leo Saada tidak jauh dari 57 tahun. Sebagai salah satu pemimpin mafia narkotika di Jakarta, Leo sangat diperhitungkan. Wilayah yang dia miliki adalah wilayah terbesar dan terbaik. Bisnis yang dia kelola selama dua puluh tahun ini berkembang menjadi sangat besar. Leo memiliki jaringan yang luas: Bangkok, Hong Kong, dan Laos. Selain itu, organisasinya didukung oleh sistem pengelolaan keuangan yang rapi, terpercaya, dan tidak terlacak.

“Orang-orang itu, Erik, mereka datang bukan untuk menghadiri pemakaman.”

“Bukan untuk menghadiri pemakaman?”

Bram mengangguk. “Begitulah kira-kira,” jawabnya.

Ia mengisap rokok di tangannya. Tidak sengaja, matanya menangkap sosok perempuan di kejauhan yang berdiri terpisah dari Geng Saada. Perempuan itu bertubuh tinggi, kurus, dan berkulit agak gelap seperti warna kulit yang terlalu sering menantang matahari. Wajahnya cukup cantik, tetapi bukan itu yang membuat Bram tertarik, melainkan dia yang sedang ikut memerhatikan pemakaman Leo dengan sikap sembunyi-sembunyi saat Bram pergoki.

Bram mengerutkan alis. Ia tidak mengenali perempuan itu.

“Bram,” Erik memanggilnya sambil menunjuk ke arah dua mobil kapsul yang berhenti di tepi permakaman.

Bram melihat sejumlah orang keluar dari mobil-mobil tersebut, sekitar tujuh atau delapan orang. Ia mengenali mereka, orang-orang dari Geng Gilli, dan menyadari harus ada yang mencegah geng itu memasuki permakaman atau akan terjadi pertumpahan darah.

Geng Gilli, atau biasa dikenal sebagai geng wilayah 11, sama seperti Geng Saada. Mereka baru saja kehilangan pemimpin. Maulana Gilli mati dibunuh penembak misterius satu bulan yang lalu. Kepalanya pecah dan pelaku penembakan itu belum tertangkap. Buruknya hubungan antara kedua geng menimbulkan kecurigaan di masing-masing kubu. Rumor beredar, Geng Saada terlibat dalam penembakan Maulana Gilli, dan kini rumor itu berbalik saat Leo Saada mati terpanggang dalam sebuah kecelakaan mobil.

“Mundur, Gilli. Sedang ada pemakaman di sini.”

Bram menghadang gerombolan yang baru datang itu sebelum mereka memasuki tanah milik keluarga Saada. Pasukan kecil polisi yang ia pimpin berjaga tidak jauh darinya.

Pemimpin baru Gilli tertawa. Suaranya serak seperti orang yang sedang sakit tenggorokan. Laki-laki itu memiliki perawakan kurus kering. Penampilannya seperti aktor-aktor dalam film Mandarin keluaran tahun 90-an; necis dengan kemeja warna mencolok dan celana berbahan licin, klimis oleh minyak rambut, serta sanggup membuat orang menolak bernapas berkat wangi parfumnya. Kroco-kroco yang mengekor di belakangnya berpenampilan serupa sehingga mereka seperti gerombolan penggemar berat Andy Lau yang sedang melakukan pesta kostum.

“Oh ya, aku tahu. Justru untuk itu aku datang,” kata Gilli, “Tapi jangan khawatir, Pak Polisi. Aku tidak akan bikin keributan.”

Bram mendengus. Omong kosong, pikirnya. Terakhir kali Geng Gilli dan Geng Saada bertemu, terjadi baku hantam yang menjatuhkan banyak korban dari masing-masing kubu. Geng Saada harus menyewa pikap untuk mengangkut saudara-saudara mereka yang mati, lalu mereka membunuh sekalian orang yang menyewakan pikap itu agar tidak ada yang bicara. Geng Gilli lebih berengsek lagi. Mayat orang-orang mereka malah dibiarkan begitu saja di jalanan sementara mereka kabur sehingga pada akhirnya polisi yang harus membereskan itu semua.

Sebenarnya sudah terlambat untuk meminta Gilli angkat kaki dari permakaman itu. Ferry Saada telanjur mengetahui keberadaan Gilli dan kini anak satu-satunya Leo itu menghampiri tamu tak diundangnya bersama empat orang anggota Geng Saada yang bertubuh besar dan tegap. Mereka seperti petinju yang siap naik ring, tangan terkepal dan mata menatap tajam ke arah lawan.

“Mau apa kau?” ucap Ferry kepada Gilli begitu mereka bertemu.

Gilli tersenyum menyambut kedatangan Ferry. “Tenang, Ferry. Aku datang untuk berkabung, balasan atas kunjunganmu pada pemakaman kakakku bulan lalu,” ejeknya.

“Puki!” Ferry menatap lawan bicaranya dengan curiga. “Katakan dengan jelas! Apa kalian yang bertanggung jawab atas kematian ayahku?” tanyanya.

Gilli menjawab, “Sekarang skor kita satu sama.”

Wajah Ferry berubah merah padam. Laki-laki itu mengeluarkan pistol dari balik baju. Dia menodongkan senjata itu ke muka Gilli, lalu dengan sigap orang-orang di belakang Gilli balas mengacungkan senjata, begitu juga dengan kelompoknya sendiri. Sejurus kemudian suasana di tepi permakaman itu berubah tegang. Kedua geng siap baku tembak, tetapi mereka masih menahan diri agar tidak menarik picu pistol mereka.

Ada Bram dan pasukan kecil polisi di sekeliling mereka.

“Turunkan senjata kalian!”

Ferry dan Gilli mengalihkan perhatian kepada Bram. Sekilas keduanya terlihat ragu, tetapi kemudian mereka menuruti perintah Bram dan anak buah mereka mengikuti.

“Seperti biasa, kau tidak suka melihat keributan, Pak Polisi?” ledek Gilli.

“Pulanglah dan bawa gerombolanmu, Gilli, atau kubuat kau menginap di Polda malam ini,” ancam Bram.

Gilli menurut walau sambil berlagak. Sebagai polisi yang menyimpan banyak kartu as, Bram memang ditakuti oleh banyak mafia narkotika, termasuk Gilli dan Saada. “Yah, aku juga sudah cukup berkabung,” kata Gilli. Lalu, laki-laki itu beranjak pergi dari lokasi pemakaman Leo Saada bersama semua anak buahnya.

Sepeninggal Gilli, Bram berkata kepada Ferry, “Aku yang tangani kasus ayahmu. Kurasa Gilli tidak terlibat dalam masalah ini.”

Ferry menolak ide itu mentah-mentah. “Omong kosong, Bram. Kalau ada yang diuntungkan dengan kematian ayahku, itu pasti Gilli.”

Bram mengenal Ferry bukan baru satu atau dua hari. Ia mengenal Ferry hampir selama masa bertugasnya di Sat Reserse Narkotika. Ia hafal sifat laki-laki itu dan ia tahu tidak ada gunanya berdebat saat penyakit keras kepala Ferry sedang kambuh. “Pemakaman ayahmu belum selesai. Lanjutkan sana,” kata Bram. Ia menambahkan, “Oh, ya. Aku menemukan petunjuk tentang penyelundupan yang kau lakukan di pelabuhan. Kali ini kau tidak akan lolos.”

Ferry tampak terkejut saat mendengar ucapan Bram yang terakhir, tetapi tidak berkata apa-apa untuk menanggapi itu. Laki-laki itu hanya menepuk bahu Bram, lalu melangkah kembali ke tengah permakaman untuk meneruskan pemakaman ayahnya.

Bram kerap merasa aneh saat menilai sendiri hubungannya dengan Ferry. Ia tidak tahu apakah mereka kawan atau lawan, tetapi ia paling senang berurusan dengan orang-orang Saada. Tidak seperti pengedar-pengedar narkotika yang lain, orang-orang Saada tidak suka menggunakan cara licik. Mereka berperang secara terbuka dan Bram menghargai itu.

Pemakaman Leo dilanjutkan dan berakhir tidak lama kemudian. Selain keributan kecil yang ditimbulkan Geng Gilli, hanya batuk berkepanjangan sang pastor yang sempat mengganggu jalannya pemakaman tersebut. Sebelum Bram meninggalkan lokasi, ia sempat mencari-cari perempuan cantik berkulit gelap yang ia lihat tadi. Perempuan misterius itu sudah pergi dan untuk sementara Bram tidak ingin ambil pusing. Ia masuk ke dalam mobilnya, lalu meminta kepada Erik yang sudah siap di balik kemudi untuk membawa mereka kembali ke kantor.


AJUN Komisaris Besar Polisi Moris Greand pensiun pada hari yang sama. Bram baru ingat saat ia tiba di rumah malam itu dan menerima pesan suara yang Moris tinggalkan lewat telepon. Dalam pesannya Moris berkata, “Bagaimana pemakaman Leo? Terjadi sesuatu? Curut itu hidup lagi atau semacamnya? Ha ha ha. Aku tunggu sampai siang, tapi kau tidak juga kembali ke kantor. Hari ini aku pensiun, Anak Muda.”

Bram tersenyum mendengar pesan Moris. Moris adalah atasannya di Sat Reserse Narkotika selama enam tahun dan sudah seperti ayahnya sendiri. Laki-laki itulah yang membimbingnya serta mendukung kariernya di kepolisian sampai ia menjadi seperti sekarang. Bram sangat menyayangkan Moris harus pensiun, tetapi Moris memang sudah tua dan mulai besok ia tidak akan menemukan laki-laki itu lagi di kantor mereka.

“Oh, ya. Aku punya berita buruk untukmu. Penggantiku nanti adalah Burhan dari Reskrimsus.” Moris melepaskan tawa lagi. “Siap-siap saja, Anak Muda. Dia akan membuat perjalanan kariermu ke depan lebih berat. Dan satu lagi. Cepat kau bereskan kasus penyelundupan yang dilakukan Ferry. Sampai kapan kau akan menahan bukti itu?” Setelah itu pesan Moris berakhir.

Bram meninggalkan pesawat telepon. Ia melangkah menuju dapur untuk mengambil satu botol air mineral dari dalam kulkas. Ditenggaknya air itu sementara ia memikirkan perkataan Moris. Ia bukan tidak ingin menangkap Ferry, tetapi ia yakin bahwa kartu as yang sedang ia simpan ini akan berguna saat dibutuhkan. Selama ini Ferry telah menjadi lawan transaksi yang menguntungkan baginya. Laki-laki itu sering menawarkan informasi berharga kepadanya dan Bram harus selalu siap dengan sesuatu di genggaman untuk ditukar.

Ferry sangat dikenal di kalangan pelaku bisnis gelap Jakarta. Di dunia mafia Eropa, orang seperti Ferry biasa dijuluki Ginnetti, laki-laki flamboyan dengan koneksi tersebar luas. Ferry menjalani gaya hidup tinggi; memakai pakaian mahal dan mengendarai mobil mewah, beredar dari satu klub malam ke klub malam lainnya, dikelilingi perempuan-perempuan cantik; dan mengenal banyak orang. Akan tetapi, Ferry tidak bisa berbisnis sebaik Leo dan itu sangat disayangkan oleh banyak pihak di kalangan mafia.

Leo mengalami kecelakaan mobil di salah satu tol dalam kota. Mobilnya terbakar habis. Leo mati di tempat bersama sopir dan dua orang anggota kelompoknya. Tim forensik kepolisian menemukan peluru di sekitar lokasi kejadian maka dengan mudah Bram mengambil kesimpulan: kematian Leo bukan kecelakaan. Tidak ada keraguan mengenai hal itu. Awalnya Bram menyangka kematian Leo adalah dampak dari perseteruan yang biasa terjadi antarmafia narkotika, tetapi kemudian ia mendapati fakta bahwa—selain Saada dan Gilli—ada lima orang pemimpin geng lain yang mati dalam satu tahun belakangan ini. Jumlah itu terlalu besar bagi Bram maka ia mulai menduga kasus yang sedang ia tangani ini tidak sesederhana yang ia pikirkan.

Bram kembali ke ruang tengah setelah selesai dengan satu botol air mineralnya. Ia membuka jendela di salah satu sisi ruangan dan membiarkan udara malam yang dingin masuk bersama suara kendaraan yang terdengar lamat-lamat. Diambilnya asbak dari atas meja, lalu ia duduk di bibir jendela, menyulut sebatang rokok, dan membiarkan dirinya larut dalam lamunan.
Ia teringat kembali kepada perempuan misterius di permakaman.

Siapa perempuan itu?

Read More...

Friday, January 16, 2009

(Issue) Metropolis' Chapter List


[text in bahasa]

Yang bisa kalian lihat dengan mengklik 'read more' di bawah ini adalah daftar bab naskah buku kedua saya. Buku tersebut (sampai saat ini) masih bertajuk Metropolis, sebuah novel drama kriminologi (yang jelas jauh berbeda dengan Orange).

Setelah mengalami penyuntingan habis-habisan selama tiga bulan, Metropolis mengalami penambahan jumlah bab sebanyak enam, dari tujuhbelas menjadi duapuluh tiga (tadinya akan dibuat menjadi duapuluh empat tapi di akhir penyuntingan saya memutuskan untuk membuang salah satu bab). Tidak seperti Orange, dalam Metropolis saya menghilangkan pemakaian bahasa Inggris dan itu juga terlihat dari penamaan bab-bab yang ada.

Dalam waktu dekat saya akan menampilkan petilan dari salah satu bab tersebut.

1. Kematian Leo Saada
2. Bram
3. 12
4. Empat Orang yang Tersisa
5. Petunjuk
6. Miaa
7. Sebuah Nama
8. Perempuan yang Mengetahui Sesuatu
9. Johan
10. Juli 1991
11. Seorang Saada
12. Melarikan Diri
13. Sekutu
14. Celah
15. Indira
16. Menyapa Lawan
17. Laki-laki Tanpa Nama
18. Orang yang Menarik Pelatuk (I)
19. Orang yang Menarik Pelatuk (II)
20. tantowi_yahya13
21. Kartu-kartu di Balik Meja
22. 0-0
23. Sebagian Petunjuk Datang Terlambat, Sebagian Lainnya Tidak Muncul Sama Sekali

Read More...

Monday, January 5, 2009

(Issue) Perkosakata 2009

on March - July 2009


programs:

Opening (offline)
Berani diResensi (online)
Gauli Buku (online and offline)
Workshop: Travel Writing (offline)
Talk Show (offline)
Writers Gathering (offline)


by KEMUDIAN

visit perkosakata 2008 for brief information about this program

Read More...

Saturday, November 1, 2008

(Report) Orange in KLA 2008


[text in bahasa]

Berikut ini adalah daftar judul yang lolos seleksi untuk Kategori Penulis Muda Berbakat Khatulistiwa Literary Award 2008 (disusun secara acak sehingga tak mencerminkan peringkat):

Let’s Party
Fadil Timorindo
Gramedia Pustaka Utama, Maret 2008

Orange
Windry Ramadhina
GagasMedia, Juni 2008


Cari Aku di Canti
Wa Ode Wulan Ratna
Lingkar Pena, Juni 2008

Perempuan Lain
Kristy Nelwan
Grasindo, Juli 2007

Enthirea: Pertempuran Dua Dunia
Aulya Elyassa
Jagad Media, Mei 2008

Knitting Club
Dessy Yasmita
GagasMedia, Maret 2008

A Very Yuppy Wedding
Ika Natassa
Gramedia Pustaka Utama, November 2007

Un Homme et Une Femme
Stanley Dirgapradja
Gramedia Pustaka Utama, Desember 2007

Jukstaposisi
Calvin Michel Sidjaja
GagasMedia, September 2007

Scrapbook
Astari Nur Alina
GagasMedia, November 2007


Malam Penganugerahan akan diadakan pada tanggal 13 November 2008 di Atrium Plaza Senayan.


*from KLA 2008 on Oktober 31, 2008 at 9:56 am

Read More...